Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menginginkan anak



Sorot mata tajam Dev yang menghunus tajam ke arahnya benar-benar sangat menakutkan bagi Agya hingga membuatnya membeku dan tidak berani bergerak sedikitpun.


"Kenapa dia terlihat sangat marah? Ahhh, aku harus bagaimana sekarang? Apa aku pura-pura mati saja?" gumamnya dalam hati. "Kenapa perutku tidak sakit lagi? Aku tidak memiliki alasan untuk menghindari amarahnya." Agya hendak menarik selimut untuk menutup wajahnya dan menghindari tatapan tajam Dev, namun Dev langsung menarik selimut tersebut dan membuangnya ke atas lantai.


"Kapan kau mulai mengonsumsi pil kontrasespsi itu?! Kenapa kau mengonsumsinya?!" cetus Dev menatap Agya yang duduk di atas ranjang dengan kepala yang tertunduk dalam.


Agya tidak menjawab, mulutnya terasa berat untuk berucap, tepatnya takut salah ucap yang akan membuat tuan Dev semakin marah padanya.


"Jawab!! Apa kau tuli?!" sentak Dev dengan suara yang meninggi hingga membuat Agya terlonjat kaget.


"Dua hari yang lalu. Aku baru mengonsumsinya dua hari yang lalu." jawabnya spontan.


"Dua hari yang lalu." Dev mengulangi ucapan Agya seraya tersenyum masam, mengingat kembali kejadian di malam itu, kejadian yang terjadi tiga hari lalu saat dirinya memutuskan untuk meniduri Agya, dengan harapan Agya bisa segera hamil agar kehamilan tersebut dapat membantunya untuk meyakinkan kedua orang tuanya jika dirinya sama sekali tidak mencintai Alenaa.


"Sebegitu tidak inginnya kau memiliki anak dariku hingga kau berani menelan pil bulsh*it itu?!" seru Dev dengan kedua tangan yang menggepal kuat.


"Anak?" Agya membelalak namun sejurus kemudian ia langsung terbahak, merasa lucu dengan ucapan Dev yang terdengar sangat menjengkelkan.


"Ya, aku sama sekali tidak menginginkan anak darimu. Tuan Dev, apa kau lupa dengan ucapanmu sendiri? Pernikahan ini hanya sebatas nikah kontrak. Kau menikahiku hanya untuk menjadikanku kacungmu! Kau bahkan menyuruhku untuk tidak berharap statusku berubah menjadi istrimu sekalipun kita sudah menikah. Lalu kenapa kau menginginkan anak dari pernikahan kontrak ini." ketus Agya penuh penekanan saat mengatakan 'pernikahan kontrak'.


"Dan sekarang kau sangat marah karena aku meminum pil kontrasepsi? Kau sangat lucu sekali tuan Dev." Lagi Agya kembali terbahak, padahal sebenarnya jantungnya sudah ingin berpindah tempat karena rasa takutnya pada Mr. Dev, namun tidak ada yang bisa ia lakukan lagi selain meluapkan isi hatinya seperti ini. Merasa lelah dengan konflik yang terjadi pada drama pernikahan kontranya dengan Mr. Dev.


Dev yang tidak terima dengan perkataan Agya, langsung menghampiri wanita itu dan mencengkram salah satu lengannya. Kedua alisnya menaut tajam, pun sorotnya matanya yang terlihat semakin menakutkan, "Walaupun pernikahan ini hanyalah pernikahan kontrak tapi kau harus mempunyai anak dariku!!" serunya tepat ditelinga Agya.


"Untuk apa tuan Dev? Untuk apa kau menginginkan anak dariku? Apa untuk menyiksaku lebih jauh lagi? Sampai kapan kau akan membuatku menderita seperti ini, Tuan Dev?" Agya terisak, tidak dapat membendung air matanya yang sudah menganak sungai.


"Kenapa kau melakukan semua bentuk penyiksaan ini padaku? Apa karena aku merusak reputasimu sebagai Mr. Dev? Apa karena kau sangat membenciku? Lalu kenapa kau tidak membunuhku saja agar kau tidak melihatku lagi hidup di dunia ini? Kenapa tuan Dev? Kenapa?" seru Agya dengan air mata yang semakin menetes deras. Menatap kedua manik mata Dev yang masih terlihat begitu tajam.


"Bunuh aku tuan Dev. Bunuh aku sekarang!!" teriaknya mencengkram kemeja putih yang dipakai Dev.


Gleg,


Dev tertegun, cengkraman tangannya di lengan Agya perlahan terlepas.


"Kau ingin aku membunuhmu? Baiklah, aku akan mewujudkannya sekarang." ucap Dev menepis kedua lengan Agya dari kemejanya lalu melangkah menuju sofa, mengambil pisau buah yang tertancap pada tumpukan buah apel.


"Lumayan tajam. Pisau ini dapat mengakhiri hidupmu dalam sekali tusukan. Kemarilah." ujarnya tersenyum menyeringai seraya mengusap ujung pisau tersebut.


Agya tertegun seraya menelan salivanya dengan kasar, "Di-dia benar ingin membunuhku?" gumamnya bergidik ngeri melihat pisau tersebut yang begitu mengkilap.


"Kemarilah. Bukankah kau menyuruhku untuk membunuhmu?" Dev kembali berucap, menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman tipis yang terkesan sinis dan menantang.


"A-aku hanya bercanda tadi, a-aku tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupku." ucap Agya gelagapan, kedua bola matanya melebar, pun sisa-sisa air matanya yang masih melekat di sana.


"Tapi aku sudah menganggapnya serius. Kemarilah." pintanya, sontak Agya langsung menggeleng kepalanya, "Tidak, a-aku tidak mau mati dulu."


"Kemarilah. Aku akan menghitungnya sampai 3, jika kau masih belum ke sini, aku akan melemparkan pisau ini tepat di kepalamu? Ah tidak akan sakit jika di kepala. Bagaimana jika di perutmu saja?" ujar Dev, senyum licik di bibirnya semakin mengembang lebar. Senyum yang terlihat menakutkan hingga meruntuhkan pertahan Agya yang semula berpura-pura tegar dan tidak takut.


"Ti---."


"Aku sudah di sini." Agya memotong ucapan Dev, wanita itu sudah berdiri di depan Dev dengan kedua lutut yang gemetar, pun bibirnya yang terlihat pucat. Sangat ketakutan jika Dev benar-benar membunuhnya.


"Lebih mendekat lagi." ujar Dev namun Agya langsung menggeleng, "A-aku minta maaf, a-aku benar-benar tidak ingin mati dulu."


"Mendekatlah!!" sentak Dev meninggikan suaranya hingga memenuhi seisi kamar tersebut.


Pletak,


"Awww." ringis Agya mengusap-usap dahinya yang baru saja disentil oleh Dev.


"Kau sudah terlalu banyak bicara!" cetus Dev menarik tubuh Agya ke dalam dekapannya, sontak Agya langsung melongo, kedua bola matanya melebar, sangat terkejut mendapatkan perlakuan itu dari suaminya.


"Tu-tuan Dev, Ka-kau tidak jadi membunuhku?" tanyanya.


"Tentu saja jadi."


"La-lalu kenapa kau memelukku?"


Dev tidak menjawab, ia mengeratkan pelukannya di tubuh Agya seraya menenggelamkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu, menghirup aroma tubuh Agya yang terasa memabukan dengan mata yang terpejam.


"Aku memelukmu sebagai ucapan perpisahan sebelum kau tiada, jadi tetaplah seperti ini dan jangan berani melepaskannya." seru Dev semakin mengeratkan pelukannya.


"Ahhh, jahat sekali. Dia bahkan mengambil kesempatan terakhirnya dulu sebelum aku mati." gumam Agya dalam hati.


"Tu-tuan Dev, aku kesulitan bernapas, kau memelukku terlalu erat." ucap Agya.


"Biarkan saja." Dev mendengus, semakin mengeratkan pelukannya menenggelamkan wajah Agya di dada bidangnya, lalu mengecup puncak kepala istrinya itu secara diam-diam.


"Apa kau yakin ingin mengakhiri hidupmu? Aku memberimu satu kesempatan."


"Tidak." jawab Agya mendongak seraya menggeleng-geleng kepalanya pelan, menatap Dev dengan tatapan memelas.


"Baiklah, aku memberimu satu kesempatan tapi dengan satu syarat." Dev melonggarkan pelukannya, mengulaskan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat. Akhirnya ia bisa melunakan hati Agya lagi, walaupun harus menguras banyak emosi.


"Apa?"


"Hari ini kita akan pulang ke Seoul dan kau harus tinggal di rumahku."


"Ha? Ta--. Ehm, ba-baiklah." Agya langsung menurut tatkala Dev memelotokan matanya.


"Anak pintar." Dev mengusap puncak kepala Agya, sebelum kemudian ia mengusap hidung istrinya itu yang tampak berair.


"Hapus dulu ingu*mu. Kau hampir memakannya." ucapnya tersenyum, seketika wajah Agya langsung memerah malu.


"Gyaa, menijikan sekali!" dengus Dev saat Agya menggunakan lengan kemejanya untuk menghapus ingu*nya.


"Kau yang menyuruhku, ya sudah aku pakai saja lengan bajumu." Agya tersenyum hingga menampakan giginya, sebelum kemudian ia kembali membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan suaminya itu.


Kau adalah luka sekaligus obat untukku Mr. Dev. ~Agyaa Wardana


.


.


.


.


Bersambung...