
21+
Mohon bijak dalam membaca :)
.
.
Tak butuh waktu lama Dev tiba di apartemennya. Pria itu langsung menarik tubuh Agya keluar dari dalam mobil tanpa menghiraukan ocehan dan makian yang keluar dari bibir mungil istrinya itu. Pengaruh alkohol benar-benar telah membuat Agya kehilangan akal, ia lupa pada siapa ia mengoceh sekarang.
"Lepaskan aku!! Berani sekali kau menarikku dengan kasar seperti ini!!" celetuk Agya menyipitkan matanya seraya menepis cengkaram tangan Dev di sela-sela jarinya.
"Kau siapa ha?" Kini Agya menaruh kedua tangannya di pinggangnya, bersedekap dengan gaya menantang, ia terlihat begitu berani, nyalinya berkobar tanpa takut padam.
"Ah, apa kau Mr. Dev? Pria tak tau diri yang hanya mementingkan harga diri dan juga ketampanannya? Kau tahu dia pria yang sangat aku benci, beraninya dia mempermainkan perasaanku." rancau Agya seraya menggaruk kepalanya. Rambutnya terlihat begitu berantakan namun ia masih terlihat cantik di mata Dev. Mata yang sudah menanjam bak elang sedari tadi.
"Masih ada yang ingin kau katakan tentang Mr. Dev?"
"Masih sangat banyakk, apa kau ingin mendengarnya? Dia pria terburuk yang pernah aku kenal. Dia seperti malaikat pencabut nyawa yang tiba-tiba datang di dalam hidupku, dia merusak semua yang kumiliki. Merusak karirku, pendidikanku, dan sekarang dia berhasil mengobrak-abrik hatiku. Dia banyak berbohong padaku, dia selalu mengatakan jika dia sangat mencintaiku namun semua ucapannya hanyalah omong kosong. Oh tidak hanya itu dia bahkan sering bercinta dengan kekasihnya di belakangku. Entah sudah sebanyak apa pelacu* yang telah ia tiduri." Seloroh Agya sambil memegang kepalanya yang terasa pening. Mendadak pikirannya dipenuhi akan video syur Dev yang ditunjukan oleh Alenaa di Bar tadi.
Video yang berhasil membuat amarah Agya semakin meledak-ledak hingga tak segan ia meneguk wine yang diberikan Alena.
"Meniduri pelacu*? Siapa yang kau maksud?"
"Kau!! Mr. Dev yang terhormat, aku pikir kau tak serendah itu. Tapi kau tak lebih dari seorang gigol*." Agya benar-benar sudah kehilangan akal, entah dari mana keberanian itu berasal hingga ia tak segan mengatai Dev sebagai gigol* (Pria yang melayani wanita hidung belang).
Seketika Dev langsung mengedarkan pandangannya kesekelilingnya. Jangan lupa jika mereka masih berada di basement, untung saja basement itu terlihat sepi hingga teriakan dan rancauan Agya tak di dengar oleh siapapun kecuali dirinya.
"Kau sudah terlalu banyak mengoceh hal-hal yang tidak jelas." ketus Dev dengan wajah yang memerah, tanpa aba-aba ia menggendong tubuh Agya bak karung beras dan membawanya masuk ke dalam apartemennya. Istrinya itu sudah terlalu banyak bicara hingga membuat kepalanya pusing.
Setibanya di dalam kamarnya, Dev langsung melempar tubuh Agya di atas ranjang dengan kasar hingga membuat wanita itu terperangah di sisa-sisa kesadarannya.
"A-apa yang akan kau lakukan?" tanya Agya seraya menelan salivanya saat Dev melucuti pakaiannya sendiri dengan tatapan yang menggelap.
"Kau baru saja mengataiku gigol* bukan. Bagaimana jika kau ikut merasakan tubuhku, hm?" Dev menarik sudut bibirnya, ia segera merangkak naik ke atas tempat tidur dengan tubuh yang tidak terbalut sehelai benang lagi. Mata elangnya tampak menusuk tajam hingga membuat Agya meringsut ketakutan, namun sekali lagi wanita itu kembali tersenyum tipis dengan raut wajah menantang.
"Siapa takut? Kau pikir aku takut dengan ancamanmu?"
Reaksi tak terduga itu membuat Dev terdiam sesaat. Pengaruh alkohol benar benar merubah sikap lugu Agya.
"Kau pikir ini adalah ancaman? Kau telah salah besar, honey." ujar Dev, tanpa permisi ia menarik kedua kaki Agya yang semula tertekuk hingga membuat wanita itu terjerambah dengan posisi terlentang.
Sesegera mungkin Dev menindih tubuh wanita itu dengan tubuh besar nan kekarnya hingga membuat Agya tak berkutik.
"Kau pria brengsek, tak tau malu. Kau ingin meniduri wanita yang masih terpengaruh alkohol?" Agya kembali memberontak, memukul dada bidang Dev dengan sekuat tenaga. Berusaha melepaskan dirinya namun usahanya sia-sia karena Dev langsung menangkap kedua tangannya, mencengkram dan menempatkannya di atas kepala Agya dengan tangan kanannya.
"Aku tak perduli. Kau memang harus dikasari agar menjadi istri yang penurut."
Dev terus meluma* bibir ranum Agya, menggoda dan mengorek kenikmatan yang berada di sana, mengabsen setiap deretan gigi istrinya itu menggunakan lidahnya. Perlahan ciumannya turun ke leher jenjang Agya terus merangsang istrinya itu dengan kedua tangan yang mulai menyelinap masuk untuk menerobos br* tipis yang dikenakan oleh Agya.
"Ahhh." desa* Agya tak sengaja saat Dev berhasil memelintir lembut puncak payudar*nya dan meremas-remasnya dengan lihai. Kini ia mulai terbuai dengan sentuhan suaminya.
Mendengar desaha* lembut itu membuat Dev semakin menggila dan lepas kendali. Dengan sekali tarikan kasar pria itu berhasil merobek pakaian Agya hingga tubuh mungil itu terpampanh di hadapannya.
Dev bernapas terengah, tatapannya terlihat begitu nanar. Tunggu sebentar, sudah sangat lama ia menantikan hal ini namun baru akan terjadi sekarang? Di saat Agya dalam pengaruh alkohol bahkan mungkin dalam keadaan terpaksa? Namun Dev sama sekali tak perdulikan itu, kepalanya menggelap akan amarah yang terus berkobar. Tak terima dikatai seorang gigol* oleh Agya. Ah, siapa sebenarnya yang telah meracuni pikiran polos istrinya ini?
"Ahhhh." Agya kembali mendesa* dengan mata yang terpejam saat bibir nakal Dev mengecup kulit leher dan juga payudar*nya dengan kasar hingga meninggalkan bekas merah-keunguan di sana. Ciuman itu terus turun hingga ke inti Agya.
Tanpa basa basi, Dev langsung melepas celana dala* Agya, mengecupnya lembut sebelum kemudian ia memposisikan tubuhnya di hadapan wanita itu.
"Hmm ahhh." Agya menjerit keras saat tanpa aba-aba Dev memasukkan ereks*nya ke dalam sana dengan kasar hingga Agya merasakan denyut pada bagian intinya. Sakit dan ngilu luar biasa ia rasakan sekarang.
"Kau menyukainya sayang?" tanya Dev namun Agya tak menjawab pertanyaan bodoh itu. Ia mengigit bibir bawahnya seraya meremas lengan Dev dengan keras untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Be slowly pleasee..." ujar Agya memelas, rasanya ia tak ingin melanjutkan pertempuran ini namun ia mulai merasakan kenikmatan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya saat perlahan Dev menggerakan pinggulnya.
"I can't promise." bisik Dev tepat di telinga Agya, seringai nakal tampak terukir jelas di bibirnya. Ia kembali meluma* bibir ranum Agya dengan sangat buas.
"Your body is so delicious, aku tak dapat menghentikan kegilaan ini."
Dev kembali mendorong pinggulnya ke bawah dan berhasil membuat Agya mengera* nikmat dibawah tindihannya. Pria itu tidak akan banyak bicara sekarang. Dengan perlahan ia mengeluarkan miliknya dan mendorongnya kembali dengan kasar hingga membuat Agya merinti* dengan tubuh yang tersentak-sentak nikmat di atas ranjang akibat perbuatannya.
30 menit berlalu, Dev masih dengan aktifitasnya yang tak kunjung selesai, sedangkan Agya sudah merasa kewalahan melayani napsu birah* Dev, sementara dirinya sudah berkali-kali orga***.
"I will arrive, baby." Dev memejamkan matanya, ia semakin mempercepat tempo gerakan, kembali menyentak pinggulnya dengan kuat hingga kedua manusia itu menyemburkan kepuasan mereka secara bersamaan.
Dev merebahkan tubuhnya di samping Agya seraya mengatur napasnya yang saling memburuh, ia menarik tubuh wanita yang telah terlelap itu ke dalam dekapannya. Menenggelamkan wajah Agya di dada bidangnya yang masih tampak berkeringat akibat pergumulan yang terjadi beberapa waktu lalu.
"Aku melakukan ini karena aku mencintaimu sayang. Kenapa kau tak mengerti dan selalu membuatku marah?" gumam Dev menatap lembut wajah Agya lalu mengecup singkat puncak kepala istrinya. Sebelum kemudian ia ikut terlelap dengan jantung yang masih berdegup kencang.
.
.
.
.
Bersambung....
Panass yaaa.
Takut kena pelanggaran :)