
Tak terasa waktu berputar lebih cepat, dan hari ini hari dimana Agya dan Dev melangsungkan pernikahan mereka. Tepatnya satu jam yang lalu Agya sudah resmi menjadi istri dari Deva Andriano Wilantara, seorang CEO dari Wilantara Grub, pemilik perusahaan terbesar di kota Seoul. Euforia pernikahan itu terlihat menggema, memenuhi isi aula gedung hotel bintang lima yang ada di Jakarta Selatan.
Terlihat senyuman para tamu yang mengembang dengan sangat lebarnya diiringin dengan tepukan tangan saat melihat Agya dan Dev yang bergandengan melangkah menuju altar. Gaun pernikahan berwarna putih yang dipakai Agya benar-benar membuatnya terlihat sangat anggun di tambah lagi dengan mahkota kecil yang membingkai di kepala wanita itu. Pun Dev yang takkala tampannya, tuxedo biru navy yang membungkus tubuh kekar pria itu semakin membuatnya terlihat tampan dan mempesona hingga membuat para tamu tak berhenti memuji pasangan pengantin baru itu.
Tak terkecuali Mama Inaya dan juga Papa Darwin, kedua orang tua mempelai wanita itu merasa sangat bahagia sekaligus terharu melepas anak semata wayang mereka. Tidak menyangkah, anak gadis yang masih mereka anggap sebagai anak kecil telah menikah, memiliki suami bahkan keluarga sendiri. Namun ada kecemasan dan kebingungan yang lahir di benak papa Darwin, sejak awal rangkaian pernikahan itu, ia selalu bertanya-tanya akan keluarga Dev yang sama sekali tidak hadir di sana. Hanya paman dari Dev saja yang hadir dan menjadi wali nikah pria itu.
Mendengar pujian orang-orang terhadap kecantikan Agya membuat Dev tersenyum tipisnya. Saat pertama kali melihat Agya memakai gaun pernikahannya, Dev langsung tertegun dan menelan salivanya. Sangat terkejut melihat istrinya yang sangat cantik, sungguh pria itu juga terpesona namun sebisanya ia bersikap biasa saja dan menunjukan raut wajah datarnya.
"Apa kau bisa melangkah lebih cepat?" cetusnya kesal pada Agya yang melangkah seperti siput hingga mereka begitu lama sampai di atas altar.
"Kau pikir semudah itu, gaunku sangat panjang dan berat." Menjawab dengan tatkala cetusnya, tetapi bibirnya masih mengulaskan senyuman. Sungguh Agya mulai merasa lelah dengan drama yang mereka buat sekarang, berpura-pura terlihat bahagia atas pernikahan mereka, padahal dari lubuk hati yang paling dalam ia sama sekali tidak bahagia.
Entah bagaimana dengan perasaan yang dirasakan Dev, sejauh ini pria itu terlihat bahagia. Tepatnya merasa bangga karena telah berhasil menikahi Agya dan sebentar lagi ia akan jadi pengendali hidup wanita itu. Satu langkah dari rencananya telah berhasil tinggal melakukan rencana lainnya, membuat wanita itu jatuh cinta padanya setelah itu ia akan meninggalkannya.
*
Matahari mulai condong ke arah barat kota Jakarta, para tamu mulai terlihat semakin padat dan memenuhi Swiss hotel. Pun Agya yang terlihat kelelahan karena harus berpura-pura tersenyum terus sepanjang acara tersebut. Begitu juga dengan Dev, ia merasa lelah bersalam dengan para tamu yang tidak sedikit jumlahnya. Merasa sangat kesal dengan wanita-wanita yang terus memandangi wajahnya dan memuji ketampananya.
Sungguh Dev merasa bosan dengan pujian yang sudah sering ia dengarkan keluar dari mulut para wanita-wanita itu kecuali Agya. Ya Agya, sampai saat ini wanita yang telah resmi menjadi istrinya itu tidak pernah memandangi ataupun menatap wajah tampannya. Bahkan untuk tersenyum padanya saja tidak.
"Ini sangat melelahkan." ucap Agya beranjak dari duduknya, menyambut rekan bisnis papanya yang baru saja menghampirinya. Begitu juga dengan Dev, pria itu merapikan tuxedo berwarna biru navy yang dipakainnya. Lalu menjabat tangan rekan bisnis mertuanya yang terlihat 3 tahun lebih muda darinya.
"Happy Wedding Gya." pria itu mengulaskan senyuman hangat namun ada setitik kesedihan yang terlihat begitu jelas di wajahnya.
"Terima kasih kak Sean. Terima kasih sudah hadir juga." Agya ikut menerbitkan senyuman hangat dari bibirnya hendak menjabat tangan pria itu yang sudah menggantung di udara, namun Dev langsung mencegahnya, menyuruh Agya untuk meniup matanya yang tiba-tiba kelilipan, padahal ia hanya berpura-pura agar Agya tidak menyentuh tangan pria yang ia yakini memiliki perasaan lebih pada istrinya tersebut.
"Apa masih sakit?" tanya Agya menatap Dev yang sibuk mengucek-ngucek matanya.
"Iyaa." Dev menjawab dengan senyum tipis yang mengembang di salah satu sudut bibirnya, senyum yang nyaris tak terlihat. Akhirnya Agya memandanginya juga.
"Mendekatlah biar ku tiup kembali." Dev mengangguk lalu mendekatkan wajahnya, pun Agya ikut mendekatkan wajahnya ke arah wajah Dev, meniup salah satu mata suaminya yang katanya sedang sakit dengan penuh hati-hati. Hingga posisi mereka terlihat begitu intim.
Melihat hal itu, membuat Sean mengelus dada, hatinya tiba-tiba terasa sakit dan patah. "Agya. Aku permisi menemui tuan Darwin dulu." ujarnya, melonggarkan dasi yang menggantung di lehernya seraya berdehem pelan.
Agya terhenyak, menyadari keberadaan Sean di tengah-tengah mereka. "Eh. I-iyaa kak." Menjauhkan tubuhnya dari Dev seraya tersenyum kikuk.
"Apa dia kekasihmu?" Dev berucap, memandangi punggung belakang Sean yang melangkah menjauh. Tidak suka dengan pria itu, pria yang menatap Agya dengan tatapan berbeda.
"Eh, bu-bukan."
"Dia menyukaimu." Wajah Dev berubah menjadi dingin, sorot matanya tajamnya masih belum lepas memandangi Sean.
"Tidak mungkin, dia hanya menganggapku sebagai adiknya." jawab Agya singkat, mengakhiri percakapan pasangan baru itu.
Beberapa saat kemudian, Dev merasa sudah sangat lelah dan tidak mampu lagi bertahan di atas altar pernikahan itu hingga akhirnya ia memanggil sekertarisnya untuk naik ke atas altar.
"Apa acara ini belum berakhir? Aku ingin beristirahat!" dengusnya kesal.
"Tuan yang menginginkan acara seperti ini tapi tuan juga yang marah-marah." batinnya, menggeleng-gelengkan kepalanya. Sudah menduga Dev akan bersikap demikian.
"Belum tuan, masih banyak tamu undangan tuan Darwin yang belum hadir."
"Huh. Kalau begitu kau gantikan poisisiku. Aku sudah tidak sanggup berada di sini, aku mau beristitahat." ujarnya sontak Agya langsung menoleh ke arah Dev dan menatapnya dengan tatapan tajam.
"Apa maksudmu? Mana mungkin tuan Kim yang menggantikanmu. Jangan mempermalukan keluargaku tuan Dev." cetusnya kesal.
"Iyaa tuan, tidak mungkin saya menggantikan posisi tuan. Bertahanlah sedikit lagi sampai acara ini benar-benar selesai tuan." imbuh sekertaris Kim.
Dev mendengus. "Huh, baiklah. Pergilah dari sini." Mengangkat tangannya mengusir sekertaris Kim secara halus. Sebelum kemudian ia harus beranjak dari duduknya lagi untuk menyapa dan menyambut tamu yang ingin bersalaman dengan mereka, begitu juga dengan Agya, ia harus mengulaskan senyuman hangat dari bibirnya lagi.
Ternyata pura-pura tersenyum untuk tetap terlihat bahagia dan baik-baik saja itu sangat melelahkan ~ Agya
***
Pukul 8 malam, acara pernikahan itu akhirnya berakhir. Namun tidak dengan kepura-puraan mereka yang masih akan terus berlanjut entah sampai kapan.
"Selamat atas pernikahanmu sayang. Mama dan Papa sangat bahagia sekali. Kau juga terlihat sangat cantik." Mama Inaya kembali menghampiri Agya, memeluk dan mengecup wajah anak semata wayangnya tersebut. Entah sudah berapa kali ia mengucapkan kalimat tersebut.
Begitu juga dengan papa Darwin, pria paru baya itu langsung memeluk tubuh Agya, matanya terlihat berkaca-kaca, ada perasaan bahagia, haru, dan sedih yang bercampur aduk.
"Apa kau bahagia nak?" tanyanya yang langsung di balas anggukan oleh Agya.
"Tentu saja, aku sangat bahagia Pa." Mengulaskan senyuman dari bibirnya, menyakinkan kedua orang tuanya jika dirinya sangat bahagia.
"Syukurlah, papa juga sangat bahagia melihatmu bahagia seperti ini." Mengusap puncak kepala Agya lalu mengecupnya singkat.
Melihat senyum dan semburan kebahagiaan di wajah papanya membuat hati Agya merasa sesak, tidak bisa membayangkan jika suatu hari nanti papanya mengetahui tentang alasan kenapa dirinya menikah dengan Dev.
"Ehm, Pa. Aku mau ke kamar untuk menghampiri Dev." ujarnya, menahan air matanya yang hendak terjatuh.
"Baiklah, Papa dan Mama akan menuggu kalian di restoran hotel untuk makan malam."
"Baik pa." ujarnya berlalu pergi dari sana dengan sedikit buru-buru seraya menyeka air matanya yang baru saja menetes.
.
.
Bersambung ..