
Dev kembali melangkahkan kakinya ke dalam kamarnya dengan langkah panjang, pandangannya mengedar ke sekelilingnya, mencari keberadaan Agya yang sudah tidak berada di atas tempat tidur.
"Apa dia berada di kamar mandi?" gumamnya, melanjutkan langkah kakinya ke arah kamar mandi.
Dev berdehem pelan seraya menghela napas panjang, ia harus bersikap lembut sekarang walaupun Agya menunjukan sikap sebaliknya, ia juga harus berusaha menahan emosinya agar istrinya itu tidak ketakutan seperti tadi.
"Sa-sayang, apa kau di dalam?" Dev mengetuk pintu kamar mandi seraya mendekatkan telinganya ke pintu tersebut. Berusaha mencari cela suara dari dalam kamar mandi tersebut.
"Sayang, kau di dalam? Jawab aku jika kau benar di dalam." suara Dev terdengar melunak, benar-benar ingin bersikap lembut. Padahal aslinya ia sudah ingin marah karena Agya tidak menyahutinya.
Ceklek.
Suara handle pintu yang terputar langsung dimanfaatkan Dev untuk menyelonong masuk ke dalam sana, dilihatnya Agya yang tengah memakai handuk dengan rambut yang tampak basah.
Dev menelan salivanya dengan kasar, menatap manik mata dan juga tubuh seksi Agya, tidak berkedip sedikitpun. Tubuh wanita itu benar-benar membuatnya tergoda, apalagi bibir tipis berwarna merah jambu itu, rasanya ia ingin mencicipinya namun tertahan karena tidak ingin membuat Agya semakin takut padanya. Padahal biasanya ia akan langsung melakukan serangan dadakannya.
"Kenapa kau tidak menjawabku hem?"
Kini giliran Agya yang menelan salivanya, ucapan lembut Dev malah semakin membuatnya ketakutan, "Maaf, a-aku tidak mendengarnya." Menundukan kepalanya, tidak berani menatap mata Dev.
"Tidak perlu minta maaf, segeralah berganti pakaian. Aku mau mandi." ujar Dev.
"Tuan mau mandi? Aku akan menyiapkan air hangat untukmu." Agya hendak melangkah ke arah bath up namun Dev langsung mencegahnya.
"Tidak usah, aku akan menyiapkannya sendiri. Keluar dan ganti pakaianmu." Agya mengangguk, lebih baik menurut dari pada membantah ucapan pria itu.
"Tunggu." Dev menarik tangan Agya saat istrinya itu hendak melangkah keluar dari kamar mandi.
"A-ada apa tuan?"
Lagi-lagi Dev berdecak kecil tatkala Agya memanggilnya tuan, padahal ia ingin sekali mendengar kata sayang keluar dari mulut istrinya itu, seperti yang sudah ia lakukan pada Agya. Tapi sudahlah, ia tidak ingin mengekang Agya sekarang.
"Apa kau senang tinggal di sini? Apa tempat ini membuatmu nyaman?"
Agya menggeleng, bukan tempatnya yang membuatnya tidak nyaman tapi perlakuan Dev padanya.
"Kau tidak suka?" Mulut Agya terkatup rapat bingung harus menjawab apa, sungguh ia terlihat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan ucapannya.
"Jika kau tidak suka, kita akan pindah ke apartemenku."
"Kita? Maksudnya aku dan dia?"
Agya mengangguk menurut, tidak berani melakukan aksi protes, padahal ia ingin sekali kembali ke apartemennya tinggal di sana tanpa Dev, namun ia kembali disadarkan jika pria yang ada di hadapannya ini adalah suaminya, sudah seharusnya ia mengikuti semua ucapan dan keinginan pria itu.
"Segera gantilah pakaianmu. Bi Noam sudah meletakan pakaianmu di ruang ganti." ucap Dev dan Agya langsung menurut, membawa tubuhnya keluar dari kamar mandi tersebut tanpa meninggalkan sepata kata apapun.
Sepeninggalan Agya, Dev langsung mengunci pintu kamar mandi. Memposisikan tubuhnya di depan cermin kaca kamar mandi tersebut, sikap dingin dan penurut yang ditunjukan Agya barusan padanya benar-benar membuat Dev menarik kesimpulan jika istrinya itu sangat takut padanya. Biasanya Agya akan selalu melawan dan melakukan aksi protesnya tapi sekarang tidak dilakukannya lagi.
"Apa aku sekejam itu?" gumamnya memerhatikan alisnya yang menaut tajam. "Hah sial." dengus Dev merogoh ponselnya yang berada di dalam sakunya. Membuka googl* lalu mengetikan sesuatu di mesin pencarian itu.
"Pantai? Wanita suka dengan pantai? Apa Agya juga suka dengan pantai?" ucapnya menatap penuh layar ponselnya yang menunjukan tempat-tempat yang disukai wanita.
"Baiklah, aku akan membawanya ke pantai." Meletakan ponselnya ke sembarang arah lalu bergegas untuk membersihkan tubuhnya yang terasa begitu lengket.
Seusai mandi, Dev langsung melangkahkan kakinya ke arah ruang ganti dengan handuk putih yang melingkar di pinggangnya.
"Kau belum bersiap?"
Suara Dev membuyarkan lamunan Agya, wanita itu segera berdiri dari duduknya kemudian menggeleng kepalanya pelan, masih terpancar raut ketakutan di wajahnya.
"Kenapa? Dev melangkah mendekat, menghampiri istrinya tersebut.
"Ehm, i-itu, a-anu." ucap Agya terbata-bata, bibir dan tubuhnya mendadak gemetar, tatkala tubuh tegap Dev yang setengah telanjang terpampang jelas di hadapannya.
"Ada apa?" Dev hampir hilang kendali, sifat emosiannya sudah mendarah daging hingga membuatnya kesulitan untuk menghilangkannya.
"I-itu pembalut yang kau belikan tadi pagi tertinggal di rumah nenek Gamri. Maaf." Agya langsung menundukan kepalanya, takut Dev memarahinya.
"Hanya itu?" tanyanya menatap wajah istrinya itu.
"Iyaa."
"Aku akan membelikannya lagi untukmu. Kau tunggulah di sini."
Agya mengangguk, perlahan ia mengangkat kepalanya. "Dia tidak memarahi kecerobohanku? Ah syukurlah." Mengelus dadanya, tempat di mana jantungnya berdebar kencang. Menatap Dev yang sibuk memakai pakaiannya.
***
Satu jam berlalu, kini Agya sudah siap dengan pakaian simplenya, kaos putih dan juga celana kain berwarna hijau army, rambutnya ia biarkan tergerai lurus di belakangnya. Memakai make up tipis dan juga lipblam di bibirnya.
Sedangkan Dev, pria itu tengah duduk di sofa yang berada di kamarnya dengan salah satu kaki yang diletakan di atas pahanya. Tatapan matanya tengah menyoroti tubuh Agya yang berdiri di hadapannya.
"Hah, kenapa sekertaris Kim harus membawa pakaian kampungan itu ke sini." dengusnya dalam hati. Ingin mengomentari pakaian yang dipakai istrinya itu secara langsung namun tidak ia lakukan.
"Kau sudah siap?" Beranjak dari duduknya.
Agya mengangguk, ia sudah siap dari 30 menit yang lalu, tetapi Dev hanya diam saja dan sibuk menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
"Kita pergi sekarang." ujarnya meraih tangan Agya, merekatkan jarinya di sela-sela jari istrinya itu.
*
"Selamat sore tuan." sapa Bi Noam selaku kepala pelayan di rumah itu, membungkukan kepalanya singkat begitu juga dengan pelayan-pelayan lainnya.
"Selamat sore." jawab Dev dengan raut wajah khas dingin miliknya.
"Selamat sore nyonya." Bi Noam beralih menyapa Agya yang berdiri di samping tuan mudanya.
"Selamat sore." Agya menjawab kikuk, tidak terbiasa diperlakukan demikian.
"Baik tuan." para pelayan itu menjawab secara bersamaan.
"Satu lagi, aku tidak ingin mendengar satu katapun yang keluar dari mulut kalian tentangnya. Cukup lihat dan tutup mulut kalian." tegas Dev.
"Baik tuan."
"Sudah bubarlah." pintanya, seketika para pelayan yang berjumlah sekitar 15 orang itu langsung berlalu pergi dari sana, kembali melakukan aktifitas mereka yang sempat tertunda.
"Bi Noam, bibi tidak perlu menyiapkan makan malam untuk kami karena aku dan istriku akan makan di luar."
"Baik tuan." jawab Bi Noam, membungkukan badannya, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana.
"Makan malam di luar?" Agya langsung memerhatikan pakaian yang terlihat tidak pantas berdampingan dengan Dev yang tampak rapi dengan jas hitamnya.
"Tu-tuan Dev, a-aku--."
"Tidak perlu, pakai itu saja." ujar Dev seakan tahu apa yang akan di katakan istrinya tersebut.
"Selamat sore tuan." sapa para bodyguard yang berjaga di luar rumah, namun sapaan itu hanya di balas oleh Agya dengan senyuman hangat seraya membungkukan badannya singkat.
"Tidak perlu seperti itu. Kau tidak harus senyum pada mereka apalagi membungkuk." dengus Dev, menarik tubuh Agya agar lebih dekat dengannya, matanya menghunus tajam ke arah bodyguard yang begitu berani memandang wajah istrinya.
Agya terdiam, mulutnya langsung terkatup rapat, merasa serba salah.
"Silahkan nyonya." salah satu bodyguard membukakan pintu mobil dengan kepala yang tertunduk karena sudah mendapat peringatan dari tuan mudanya beberapa detik yang lalu.
"Masuklah sayang."
"Eh, i-iyaa." Agya memasukan tubuhnya ke dalam mobil tepat di samping kursi kemudi, pun Dev yang juga sudah lebih dulu duduk di kursi kemudi dan siap melajukan mobilnya.
***
Setelah memgemudi hampir dua jam dan menempuh jarak yang tidaklah singkat, akhirnya Dev dan Agya sampai juga di sebuah pantai yang terletak di kota Gangneung.
Pantai Gyeongpo yang merupakan salah satu pantai terpopuler di kota itu. Lokasi pantai itu dianggap istimewa karena memiliki akses ke laut dan juga danau yang hanya dipisahkan oleh jalanan. Belum lagi deretan hutan pinus di sepanjang pantai. Barisan restoran seafood berjejer dengan ragam ikan laut yang segar.
Ada beberapa spot foto yang pastinya instagramable bagi para pengunjung. Beberapa warga juga terlihat mendirikan kemah sambil piknik. Beberapa pasangan bergandengan tangan, orang tua mendorong kereta bayi sambil menikmati senja di sore itu, merasakan angin pantai dan beberapa pengunjung lainnya berjalan-jalan di sekitar pohon pinus.
"Kita sudah sampai, turunlah." ucap Dev melepas seatbeltnya.
Agya tampak tercenung, pandangannya mengedar kesekelilingnya. Pantai? Ah ia sangat menyukai pantai, sudah lama sekali ia tidak menginjakan kakinya di pantai.
Tanpa basa basi Agya langsung melepas seatbeltnya lalu keluar dari dalam mobil, merentangkan kedua tangannya seraya memejamkan matanya, merasakan angin pantai yang begitu segar seraya menghirupnya dalam-dalam. Tidak menghiraukan Dev yang masih berada di dalam mobil.
"Kau suka?" Agya langsung membuka matanya, menoleh ke arah suaminya yang sudah berdiri di sampingnya.
"Iyaa, aku sangat menyukainya. Terima kasih." ucapnya tersenyum, lalu memeluk tubuh Dev dengan begitu girangnya hingga membuat Dev ikut tersenyum.
"Eh, tapi--." Tiba-tiba Agya melepaskan pelukannya memerhatikan pakaiannya dan juga pakaian Dev.
"Apa kita tidak salah kostum? Kenapa kau tidak bilang dulu kalau kita mau ke pantai?" celetuknya mendongakan kepalanya.
"Memangnya jika aku memberitahumu kau akan memakai bikini ke sini?" seru Dev.
"Tidak heheh.." Agya terkekeh seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Apa aku boleh bermain air?" tanyanya kemudian.
"Boleh, pergilah."
"Kau tidak ikut?" Dev menggeleng, begitu enggan menyentuh air laut yang akan membuat kulitnya menjadi gatal-gatal nanti.
"Baiklah, aku titip tas dan juga sendalku." Agya melepas tas selempangnya dari tubuhnya lalu memberikannya kepada Dev, sebelum kemudian ia berlari ke arah pantai.
"Berhati-hatilah."
"Iyaaa." teriak Agya tanpa menoleh.
"Gadis bodoh." Dev menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman, menatap Agya yang sudah berada di bibir pantai, tidak sia-sia ia melakukan perjalan jauh ke sini karena Agya terlihat begitu bahagia dengan keberadaannya sekarang. Wanita itu bahkan sampai memeluknya dan berterima kasih.
"Temui aku di kota Gangneung, jangan lupa untuk membawa hasil survey itu."
"Ha? Tu-tuan di kota Gangneung?" tanya sekertaris Kim, menelan salivanya. Beberapa jam yang lalu tuannya itu bilang akan berkunjung ke apartemennya tapi sekarang ia sudah berada di luar kota.
"Iyaa, apa kau tidak mendengar apa yang barusan ku katakan?"
"Ehm, dengar tuan. Baiklah satu jam lagi saya akan ke san--." ucapan sekertaris Kim terhenti tatkala Dev memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Kini Dev masih berdiri di samping mobilnya, menyandarkan tubuhnya di mobilnya itu seraya melipat kedua tangannya di dadanya, sorot matanya terus mengawasi Agya yang sibuk bermain air. Pun bibirnya yang tidak berhenti mengembangkan senyuman tipis.
.
.
.
.
.
Bersambung...