Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Langit Jingga



"Ambillah." ujar Dev menyodorkam es kelapa ke arah istrinya yang tengah sibuk membuat istana pasir.


Agya mendongakan kepalanya, lalu tersenyum, "Ah terima kasih, aku sangat haus sekali." meraih es kelapa tersebut lalu meneguknya hingga habis tak tersisa.


"Kalau kau haus, kenapa kau tidak meminum air laut saja." Dev ikut mendudukan tubuhnya di atas pasir tepat di samping istrinya tersebut.


"Hiss jahat sekali." cebik Agya mengerucutkan bibirnya seraya memincingkan matanya.


"Aku hanya bercanda." Mencubit pipi Agya gemas lalu mengusap wajah wanita itu yang tampak di penuhi pasir di beberapa sudut wajahnya. "Kau suka tempat ini?"


Agya mengangguk, "Sangat suka, terima kasih. Tapi tumben sekali kau mengajakku ke sini." Menolehkan kepalanya, menatap suaminya itu dengan tatapan penuh selidik.


"Ehm." Dev berdehem seraya melepas jas yang masih membalut tubuhnya, menyisahkan kemeja berwarna putih, "Aku juga membutuhkan tempat ini untuk refreshing." ucapnya memandang lurus ke depan, menyaksikan matahari yang mulai terbenam, menyisahkan langit jingga yang terlihat begitu indah dan teduh.


"Oh." Agya mengangguk-angguk paham, seraya mencuri-curi pandang. Sedikit tertarik dengan sikap Dev yang entah kenapa mulai menghangat, tidak seperti dua jam yang lalu.


"Kau ingin bermain air? Aku ingin sekali bermain air tapi aku tidak memiliki teman." Agya berucap setelah beberapa saat keheningan melingkupi keduanya, berusaha mencairkan suasana yang terasa kaku baginya.


"Kau belum bermain air?" Dev megalihkan pandangannya, menatap wajah istrinya yang tampak memerah.


Agya menggeleng polos, "Belum, kau mau bermain denganku?" tanyanya penuh harap.


Seulas senyuman tampak terbit di bibir Dev, ia suka dengan Agya yang cerewet seperti ini, ya walaupun kadang sedikit menyebalkan.


"Aku alergi air laut."


"Ah benarkah?" Wajah Agya yang semula sumringah kini berubah cemberut.


"Kemarilah." Dev merentangkan tangannya kanannya, menyambut Agya ke dalam pelukannya. Pun Agya yang langsung menurut masuk ke dalam pelukan suaminya itu.


"Kau masih takut padaku?" Tidak perduli dengan ketampanan maupun harga dirinya atau semacamnya, Dev hanya ingin tahu tentang ketakutan Agya padanya.


Sesaat Agya terdiam, menatap lekat manik mata berwarna coklat milik Dev, manik mata yang terlihat begitu teduh. "Sedikit." jawabnya.


"Apa karena aku sangat kejam padamu?" Agya tertegun, begitu terkejut dengan pertanyaan yang diberikan oleh suaminya itu, sebelum kemudian ia mengangguk pelan, seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain. Jantungnya tiba-tiba berdebar tak karuan, merasakan sesuatu hadir dalam dirinya, entah perasaan seperti apa ia tidak tahu.


"Tadi ibumu menelponmu, tapi aku yang menjawabnya."


"Ha?" Agya langsung menoleh, "Di ponselku? Ke-kenapa kau tidak memanggilku? Lalu apa yang dikatakan ibuku?" tanyanya berunut.


"Ibumu hanya menanyakan kabarmu saja." ucapnya tanpa menatap wajah istrinya itu, takut ketahuan berbohong.


"Ohh, aku pikir Mama ingin menyampaikan sesuatu. Bagaimana dengan kabar mama dan papaku? Apa mereka baik-baik saja?"


Dev mengangguk, "Iyaa, mereka baik-baik saja." Berbohong lagi untuk kedua kalinya, sebenarnya ia tidak ingin menyembunyikan apapun dari Agya, namun karena permintaan Mama Inaya yang dibarengi dengan tangisan tadi, membuat Dev tak tega hingga terpaksa menuruti keinginan ibu mertuanya itu untuk menyembunyikan kabar tentang Papa Darwin yang masuk rumah sakit dan sedang dalam keadaan koma sekarang.


Hembusan napas singkat tampak keluar dari mulut Dev, mengeratkan pelukannya di pinggang Agya, menuntun istrinya itu untuk bersandar di bahunya, lalu mengecup puncak kepala Agya diam-diam.


"Kita harus pulang sekarang, sudah hampir malam dan udara di sini sudah semakin dingin." Dev hendak beranjak dari duduknya namun Agya langsung mencegahnya dengan menggeleng-geleng kepalanya.


"Tunggulah sebentar, aku ingin melihat bintang kejora dulu." Memelaskan wajahnya, berharap Dev mengizinkannya untuk tetap tinggal beberapa saat menunggu bintang kejora menampakan wujudnya.


"Baiklah." Dev terlihat melunak, meraih jasnya lalu membalutkannya di tubuh istrinya itu, mengusir udara dingin yang mencoba masuk ke sela-sela baju Agya.


"Terima kasih." Senyum di bibir Agya kembali merekah lebar, ikut mengeratkan pelukannya di pingang suaminya itu seraya memandang langit yang sudah tampak gelap. Suara gemuruh ombak dan desiran air laut ikut menemani dua insan yang tengah duduk di tepi pantai tersebut.


"Apa kau ingin kuliah lagi?"


"Hem?" Agya menoleh, menatap wajah Dev yang tengah menatapnya juga.


"Eum, se-sebenarnya aku ingin sekali kembali kuliah agar studyku cepat selesai sesuai keinginan papa, tapi aku masih diskorsing dari kampus selama satu bulan, ditambah lagi dengan uang finaltyku yang belum aku bayar." terpancar raut sedih di wajah Agya.


Dev terdiam, sedikit merasa bersalah namun tidak sepenuhnya. "Kau bisa kembali kuliah mulai hari senin, aku sudah membayar uang finaltymu."


"Benarkah?" tanya Agya terlihat begitu terkejut.


"Iyaa, tapi kau harus memenuhi beberapa syarat dariku." ujar Dev menatap lekat wajah istrinya itu, "Kau tidak boleh bertemu dengan Darrel. Apa kau bisa melakukan itu untukku?"


Agya mengangguk, "Iyaa, aku tidak akan bertemu dengannya. Janji." ucapnya mengacungkan jari kelingkingnya seraya tersenyum.


Dev ikut tersenyum, senyum tipis yang nyaris tak terlihat, tatapan matanya semakin terlihat dalam dan penuh arti, pun kedua tangannya yang bergerak menangkup wajah istrinya itu.


Menyadari arti tatapan Dev padanya, Agya langsung memejamkan matanya, jantungnya berdegub kencang saat sebuah ciuman hangat mendarat di bibirnya. Merasakan sebuah lumata* kasar dan juga gigitan kecil di bibir tipisnya.


Bulan dan bintang kejora yang ditungguh-tungguh oleh Agya kini mulai menampakan dirinya dengan malu-malu di atas sana, bintang yang terlihat lebih terang dari bintang lainnya itu ikut menyinari dan menyaksikan aksi panas yang dilakukan oleh dua insan manusia yang tengah kasmaran.


krukkk...krukkk..


Suara gemuruh yang berasal dari perut Agya mengentikan ciuman panas itu, pun Dev yang langsung terbahak.


"Kau lapar?" tanyanya menatap lekat wajah Agya, tangannya bergerak mengusap wajah istrinya itu masih dengan tawa kecil di bibirnya.


Agya mengangguk pelan seraya memegang perutnya. Wajahnya memerah bak kepiting rebus karena menahan malu.


"Baiklah, ayo kita cari restoran di sekitar sini." Dev beranjak dari duduknya, lalu menjulurkan tangannya untuk membantu istrinya itu berdiri.


Tidak jauh dari sana, ada sepasang mata yang tengah menyoroti Agya dan juga Dev. Siapa lagi kalau bukan sekertaris Kim.


"Aku semakin merasa tidak berguna hidup di dunia ini." gumamnya memutar tubuhnya masuk ke dalam mobil, menyandarkan kepalanya di sandaran kursi, merasa lelah menyaksikan adegan romantis yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya.


"Kau sudah tiba?" Dev melangkah ke arah mobil yang dikemudi oleh sekertaris Kim, diikuti oleh Agya di belakangnya.


"Su-sudah tuan." Sekertaris Kim bergegas keluar dari dalam mobilnya lalu membungkukan badannya singkat.


"Segera carikan restoran terenak di sekitar sini, istriku sudah sangat lapar." ujarnya menggandeng pinggang Agya hingga membuat wanita itu tertegun.


"Baik tuan. Saya akan segera mencarinya."


"Oh iya tuan saya sudah membawakan hasil survey terkait--."


"Jangan membahasnya sekarang!" Dev memotong ucapan sekertaris Kim dengan tatapan mata yang melotot tajam. Tidak bisa membayangkan akan semalu apa dirinya jika sekertaris Kim membahas hasil survey itu di hadapan Agya.


"Ehm, ba-baik tuan. Saya permisi dulu." pamit sekertaris Kim, kembali masuk ke dalam mobilnya.


"Tuan Dev, kenapa harus cari restoran? Kita bisa makan street food di sana." tunjuk Agya ke arah seberang jalan yang tersedia berbagai macam jajanan makanan.


"Tidak, tempat itu tidak higenis dan makananya juga pasti tidak sehat." jawab Dev, terlihat begitu enggan untuk menyicipi makanan yang ada di sana. "Kita tunggu sekertaris di dalam mobil." Menarik tangan Agya dan membawanya ke arah mobilnya yang terpakir sekitar 4 meter dari tempatnya mereka berdiri saat ini.


Agya hanya bisa menurut, padahal ia ingin segera makan, perutnya sudah sangat lapar dan terus bergemuruh meminta untuk di isi.


"Sayang."


Tiba-tiba Dev menghentikan langkah kakinya, pria itu langsung menoleh ke arah Agya yang berjalan di belakangnya "Kau memanggilku apa barusan?" tanyanya menatap istrinya itu intens, salah satu sudut bibirnya tampak melengkung membentuk senyuman tipis.


"Ehm, sa-sayang. Aku sudah sangat lapar, aku ingin makan di sana." Agya kembali menunjuk ke arah street food itu seraya memelaskan wajahnya.


Sementara itu, tubuh Dev mendadak kaku, antara terkejut dan juga senang mendengar Agya memanggilnya 'sayang'


"Coba katakan sekali lagi." ujar Dev masih tidak percaya.


"Sayang? Sayangggg." ucap Agya mendayu-dayukan suaranya hingga membuat Dev ingin mengecup mulut nakal itu.


"Baiklah, tapi kau hanya boleh makan satu saja sebagai pengganjal rasa laparmu." Agya mengangguk, tidak apa-apa cuma makan satu asalkan ia bisa makan dan bisa menutupi rasa laparnya.


"Tunggulah di sini, aku akan membelikannya untukmu." Mengusap wajah Agya, lalu berlalu pergi dari sana dengan raut wajah yang tampak bahagia.


"Semudah itu? Baiklah, aku akan selalu memanggilnya sayang agar dia terus menuruti keinginanku, heheh." kekeh Agya merasa lucu dengan tingkah Dev beberapa jam terakhir ini.


"Tapi aku masih sangat bingung dengan perubahan sikapnya? Apa jin kamar mandi nenek Gamri kembali masuk ke dalam tubuhnya hingga dia berubah menjadi baik lagi?" gumamnya melangkah ke arah kursi kayu yang terletak tidak jauh dari mobil Dev. Mengeratkan jas yang dipakainya saat udara dingin menelusuk masuk di pori-porinya.


.


.


.


.


Bersambunggg...