Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Pembunuh



"Berita penangkapan tuan Andhito semakin gencar di bahas oleh publik, mereka juga menanyakan hubunganmu dengan Alenaa." tutur tuan Andhito menoleh ke arah Dev yang tengah fokus dengan kemudinya. Saat ini mereka tengah menempuh perjalan menuju markas marinir.


"Kebusukan tuan Alden dan keluarganya akan terbongkar secara perlahan. Publik akan tahu sifat asli Alenaa, dan mereka akan tahu dengan sendirinya alasan aku mengakhiri hubunganku dengan wanita jalan* itu."


"Kau tak takut reputasimu ikut rusak?"


"Kenapa aku harus takut Pa? Aku tak melakukan tindak kejahatan, aku memang salah karena pernah memiliki hubungan dengan wanita itu, tapi bukankah aku melakukannya atas kemauan mama dan Papa? Reputasiku tak akan rusak, aku yakin publik akan merasa kasihan padaku bahkan mereka akan menyanjungiku karena telah berhasil membongkar kebusukan tuan Alden dan keluarganya." Dev tersenyum, pria itu terlihat sangat bangga dengan kerja kerasnya.


"Ehm, yaa. Papa juga yakin publik akan mendukung keluarga kita." ucap tuan Andhito.


"Saat ini Alenaa sedang menjadi buronan polisi." Dev kembali berucap setelah terjadi keheningan beberapa saat.


"Buronan?" Tuan Andhito menoleh, kedua bola matanya melebar akan keterkejutannya.


"Ya, Alenaa dan kekasihnya melakukan pembunuhan terhadap nyonya Belinda kemarin malam."


Glek, betapa terkejutnya tuan Andhito kini hingga ia tak dapat mengeluarkan sepata kata dari mulutnya. Bukankah kemarin malam Alenaa masuk rumah sakit akibat benturan di kepalanya? Lalu kenapa wanita itu tiba-tiba membunuh seseorang?"


"Aku tak tahu persis bagaimana kejadian itu terjadi. Sebenarnya aku juga tak perduli dengan apa yang wanita itu lakukan, tapi berkat kejadian itu aku semakin mendapat bukti kuat untuk menjatuhkan tuan Alden."


"Bukti apa?"


"Alenaa membunuh Nyonya Belinda dengan melakukan tembakan di kepalanya. Senjata api yang dia gunakan adalah senjata ilegal, tim penyidik mencurigai jika Alenaa memperoleh senjata itu dari ayahnya. Dan seperti yang papa lihat sekarang, aku bisa membuktikan jika kecurigaan tim penyidik itu benar adanya."


"Anak tuan Alden juga seorang pembunuh." dari semua penuturan Dev, tuan Andhito hanya dapat menggaris bawahi kalimat itu. Ia masih tak menduga keluarganya berhubungan dengan orang-orang kotor.


"Kenapa mereka bisa lolos?"


"Entahlah, kemarin pagi sekertaris Kim tiba-tiba menghubungiku dan mengatakan padaku jika Alena dan kekasihnya menjadi buronan polisi. Setelah membunuh nyonya Belinda, mereka memutilas* jasadnya dan menaruhnya di bak sampah yang berada di belakang Land Apartemen. Sepertinya saat itu mereka sedang katakutan hingga beberapa barang bukti tak sempat mereka lenyapkan, termaksud senjata dan rekaman cctv."


"Astaga." Tuan Andhito menggeleng-geleng kepalanya, tak menyangka Alenaa akan sekeji itu. "Lalu bagaimana perkembangan kasus itu sekarang?"


"Polisi masih menanganinya. Kemungkinan mereka masih bersembunyi di sekitaran Seoul karena akses keluar Seoul telah ditutup."


"Semoga Alena dan kekasihnya segera ditangkap."


"Aku juga berharap begitu. Aku takut Alenaa melakukan hal yang sama pada istriku." Paranoid Dev belum menghilang, itu sebabnya ia menambah jumlah bodyguardnya untuk berjaga di apartemen miliknya, takut Alenaa tiba-tiba muncul dan melukai Agya. Meskipun terdengar mustahil namun itu bisa saja terjadi.


"Papa akan menggerakkan tim papa untuk mencari keberadaan Alenaa. Alenaa harus segera ditangkap, dia sangat berbahaya untuk keluarga kita."


"Yaa, aku juga sudah menyuruh sekertaris Kim untuk selalu memantau keberadaan Alenaa. Namun untuk saat ini kita masih fokus dengan tuan Alden."


"Jangan pernah lengah Dev, Alenaa bisa mencari cela untuk membelaskan dendamnya. Dia pasti sudah menerima kabar penangkapan papanya."


"Aku tak akan lengah Pa. Agya akan selalu aman bersamaku." ucap Dev memutar kemudi mobilnya, masuk ke parkiran markas marinir. Terlihat Sekertaris Kim yang berlari ke arah mereka.


"Selamat malam tuan Andhito." sapa sekertaris Kim sesaat setelah ia membuka pintu mobil tuannya tersebut.


"Selamat malam." Tuan Andhito tersenyum singkat lalu keluar dari dalam mobil begitu juga dengan Dev. Sebelum kemudian ketiga pria itu bergegas masuk ke dalam markas marinir.


***


"Ayahmu ditangkap oleh kepala marinir." Jio yang baru saja menerima kabar melalui ponselnya segera menyerahkan ponselnya tersebut kepada Alenaa yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya.


"Papa? Kenapa bisa?" Alenaa menyambar ponsel Jio dengan kasar, kini tatapan matanya memerhatikan timeline berita yang bertebaran di beranda ponselnya.


Alden Danendra pengusaha asal Jepang kini tertangkap atas dugaan kepemilikan senjata Ilegal.


Setelah 10 tahun, pelaku pembunuh Huen Familly berhasil ditangkap.


Alden Danedra seorang pembunuh? Sungguh ini sangat mengejutkan.


Wah dia memiliki backingan yang sangat luar biasa, setelah 10 tahun berlalu pembunuhan Huen Familly baru diketahui pelakunya.


Dia sangat pandai menyembunyikan kejahatan. Aku pikir dia orang yang berwibawa namun dia tak lebih dari seorang binatan* buas.


*Bukankah Alden Danendra calon mertua Mr. Dev? Kenapa keluarga Wilantara mau berhubungan dengan pria bejad sepertinya?


Pantas saja dia dijuluki miliarder ternyata sumber penghasilannya berasal dari penjualan senjata Ilegal.


Dia harus di hukum mati, dia tak pantas untuk hidup dan mengotori kota ini*.


Ah, apa selain menjual senjata ilegal dia juga pernah menjual anak dan istrinya?


Alena mencengkram kuat ponsel Jio, hingga ponsel pria itu retak di tangan Alenaa. Ia tak terima dengan komentar netizen yang berseliveran di media sosial.


"Ahhh brengsek!!" Teriak Alenaa, matanya terlihat memerah penuh amarah.


Prakk, dengan amarah yang membara Alenaa membanting ponsel Jio ke lantai. Terlihat sangat jelas rahang wanita itu mengeras.


"Kenapa papaku bisa tertangkap? Selama ini papaku bisa lolos tapi kenapa sekarang dia--."


"Dev dan tuan Robertlah yang menjebak papamu."


"Dev." Dahi Alenaa berkerut dalam, kini tatapan tajamnya mengarah ke arah Jio.


"Yaa. Dev Wilantara, dia menyamar menjadi calon pembeli senjata ilegal milik papamu untuk menjebaknya."


"Shittt Dev." umpat Alenaa, ia menyambar jaketnya yang tersampir di atas kasur, lalu memakainya dengan buru-buru.


"Hei, kau mau kemana?" Melihat Alena yang hendak keluar dari kamar, Jio langsung mecekal tubuh kekasihnya itu.


"Lepaskan aku Jio. Aku mau menemui Papaku." Alena memberontak, berusaha melepas cekalan tangan Jio, namun Jio langsung menamparnya.


"Apa kau sudah gila? Kau lupa dengan statusmu sekarang? Kau adalah buronan polisi, bagaimana bisa kau mau menampakan dirimu di luar sana."


"Aku tak perduli, lepaskan aku."


"Hei!!" Teriak Jio, mencengkram dagu Alenaa dengan keras, emosinya kini semakin tak terkendali "Aku tak perduli jika kau ditangkap polisi dan membusuk di penjara, tapi aku tak ingin kau menyeretku."


"Huh." Alenaa tersenyum masam, "Tak seharusnya aku memiliki kekasih sepertimu."


"Aku tak memintanya. Kau yang datang sendiri padaku bitc*."


"Brengsek kau!" Dengan kasar Alenaa mendorong tubuh Jio hingga pria itu jatuh tersungkur ke lantai.


.


.


.


.


.


Bersambung.....