Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Mr. Dev (CEO of Seoul)



Usai menjalani perawatan berbulan-bulan lamanya, kini Agya dan Dev telah kembali ke Korea meninggalkan kota Rochester yang telah banyak membantunya. Wanita itu telah dinyatakan pulih dari kanker yang dideritanya, namun dibalik itu ia harus menerima kenyataan pahit akibat efek samping dari transplantasi sumsum tulang belakangnya.


"Apa yang kau pikirkan hm?" Dev meletakan tubuh Kairen di atas kursi bermainnya sebelum kemudian ia beralih menangkup wajah Agya, menatap lekat kedua manik mata wanita itu.


"Ehm, ta-tak ada." Agya memalingkan pandangannya ke arah lain, tak ingin kesedihannya dilihat oleh Dev.


"Kau masih memikirkan efek samping dari transplantasi itu?"


Agya mengangguk, "Aku mandul Dev, aku tak bisa hamil lagi."


"Gyaa, harus berapa kali aku mengatakan padamu? Kehadiran Kairen dan Kyara sudah sangat cukup bagiku. Aku hanya ingin bersamamu, ada atau tidak adanya anak, aku akan tetap mencintaimu."


"Kau yakin?"


"Hm. Aku tak ingin menambah lagi, dua anak ini saja sudah membuatku kerepotan." celoteh Dev menatap dua bayinya yang tengah duduk di kursi bermain mereka sembari tersenyum.



"Kita harus segera bersiap untuk menghadiri pernikahan Jeha dan Della."


"Astaga, aku lupa. Aku belum membeli gaun, dan melakukan perawatan rambut."


"Aku sudah membelikannya untukmu. Dan rambutmu, biar aku yang melakukan perawatannya."


"Tidak-tidak, yang ada kau malah semakin merusaknya."


"Kau meragukan kemampuanku?"


"Hum. Aku sama sekali tak yakin denganmu."


"Kita belum mencobanya. Aku bisa melakukan apapun untukmu." ujar Dev, "Kita mulai dari mana? Memandikanmu dulu."


"Eh, aku akan mandi sendiri. Jagalah Kairen dan Kyara, sebentar lagi Mami akan datang."


"Tapi Gyaa, aku ingin mandi bersamamu." Dev memelaskan wajahnya, berusaha untuk menarik simpati istrinya tersebut.


"Jika kita mandi bersama lalu siapa yang akan menjaga Kairen dan Kyara?"


"Ah dua bayi rubah ini bisa menjaga diri mereka."


"Dev! Jangan macam-macam. Mereka masih sangat kecil!" seru Agya menghunuskan tatapan tajam hingga mau tidak mau Dev mengurungkan niatnya.


"Baiklah, aku akan menjaga mereka."


"Daddy yang baik." ucap Agya mengecup singkat bibir Dev lalu secepat kilat ia masuk ke kamar mandi, takut Dev menyerangnya.


*


"Cucu-cucuku sudah selesai bersiap untuk pergi ke pesta." nyonya Valerie meraih tubuh Kairen dan Kyara ke dalam gendongannya. Wanita setengah baya tersebut terlihat begitu girang, ia terus mendaratkan kecupan-kecupan hangat di wajah kedua cucunya.


"Ma, berikan Kairen padaku." Tuan Andhito mengambil alih tubuh Kairen, ia juga ingin bermain dengan salah satau cucunya tersebut.


Sementara Dev dan Agya, sepasang suami istri tersebut tengah sibuk bersiap di dalam kamar mereka.


"Dev, apa kau bisa membantu menaikan resleting bajuku?"


"Tentu saja sayang, tunggu sebentar." ujar Dev melingkarkan jam tangan di pergelangan tangannya, seraya melangkah ke arah istrinya.


Dev menggerakan tangannya, menaikan resleting tersebut untuk menutupi punggung istrinya, sebuah kecupan hangatpun tak lupa ia sematkan di punggung leher Agya.


"Sudah."


"Terima kasih." ucap Agya memutar tubuhnya, hingga kini tatapan keduanya saling bertemu.


"Apa aku sudah terlihat cantik?"


"Hm. Rambutmu tumbuh dengan baik." jawabnya membelai lembut rambut Agya yang sudah kembali panjang.


"Baiklah. Kau juga sudah terlihat sangat tampan."


"Aku selalu tampan dimanapun dan kapanpun."


"Huh, selalu saja. Ayo kita berangkat sekarang. Aku sudah tak sabar melihat Della dan sekertaris Kim."


"Tunggu." Dev menarik pinggang Agya hingga tubuh wanita itu terhimpit dengan tubuhnya.


"De-Dev kau mau apa?"


"Hanya mengambil apa yang sudah menjadi milikku." jawabnya, membenamkan bibirnya di bibir ranum Agya.


***


Mobil sedan berwarna hitam yang dikemudi Dev berhenti tepat di parkiran Cluis Hotel, tempat dimana pernikahan Della dan Jeha berlangsung.


Dengan segera Dev membukakan pintu untuk Agya, mengambil alih Kyara dari gendongan istrinya tersebut. Sedangkan Kairen digendong oleh nyonya Valerie.


Saat memasuki ballroom hotel tersebut, Agya dibuat terkesima dengan penampilan Della yang sangat cantik dengan gaun pernikahan berwarna putih.


"Happy Wedding Della." Agya melompat girang, memeluk tubuh sabahatnya tersebut dengan begitu erat.


"Terima kasih Gyaa. Terima kasih sudah hadir di hari bahagiaku. Aku benar-benar tak menyangka semua ini akan terjadi." Della melepas pelukannya, mata wanita itu tampak berkaca-kaca.


"Aku sangat bahagia atas pernikahanmu, akhirnya kau bisa menemukan pria yang tepat."


"Hm, dia sangat mencintaiku."


"Benarkah? Aku tak yakin." Agya menoleh ke arah sekertaris Kim menatap pria berwajah dingin itu dengan tatapan menyelidik. "Awas jika kau menyakiti sahabatku!" serunya.


"Aku tak akan pernah melakukan itu nyonya."


"Yaa, aku akan memegang ucapanmu."


"Baru menemukan cintanya? Itu artinya, Della cinta pertamanya?" tanyanya.


Dev mengangkat kedua bahunya, "Mungkin."


"Jangan membuat keributan Mrs. dan Mr. Dev. Silahkan nikmati hidangan pesta ini." ujar sekertaris Kim.


Agya dan Dev tak langsung pergi dari altar pernikahan tersebut. Keduanya begitu asik mengerjai sekertaris Kim hingga pesta tersebut berakhir.


"De-Dev, kau mau membawaku ke mana?" Agya terhenyak tatkala Dev tiba-tiba menggendongnya dan membawanya masuk ke dalam lift.


"Malam ini, malam pertama Della dan sekertaris Kim. Bagaimana jika kita membuat malam pertama kita juga?" ucapnya tersenyum tipis.


"Malam pertama? Dev, kita sudah memiliki 2 anak."


"Tak ada salahnya bukan. Sudah hampir 5 bulan kita tak bercinta. Dan malam ini, kita akan merayakannya sebagai malam pertama kita."


"Di hotel? Dev bagaimana dengan Kairen dan Kyara?"


"Ada mama dan papa yang akan menjaga mereka. Aku sudah menitipkan mereka pada mama tadi."


"Jadi kau sudah merencanakan ini sebelumnya?"


"Hm." Dev meletakan tubuh Agya di atas tempat tidur saat mereka tiba di VIP room yang berada di lantai 17 hotel tersebut.


Suasana yang semula dingin, kini berubah menjadi panas tatkala Dev mulai melucuti pakaian istrinya tersebut. Pun bibirnya yang sudah basah akibat ciuman panas yang baru saja terjadi.


"Tak perlu menggunakan pengaman, aku tak akan bisa hamil lagi." ujar Agya saat Dev hendak memakai pengaman yang entah sejak kapan sudah berada di tangannya.


"Maaf." Dev melempar pengaman tersebut ke sembarang arah, sebelum kemudian ia kembali membelai lembut wajah Agya, mengecup kening, hidung dan berakhir di bibir ranum istrinya.


Lumata* kasar terus menyerang bibir Agya, pun Agya yang membalas tatkala kasar. Keduanya terlihat begitu haus akan hasrat yang sudah lama terpendam.


"Devhhh." Agya mendesah dengan pingang yang terangkat tatkala Dev terus mengentak-hentak miliknya.


"Ahh.. Ahh." ******* keduanya beradu, memenuhi seisi VIP room tersebut mengalahkan derasnya hujan diluar sana.


"Aku mencintaimu." bisik Dev melepas tautan tubuhnya dari tubuh Agya usai keduanya mencapai klimaksnya beberapa menit yang lalu. Ia mendekap tubuh istrinya seraya mendaratkan kecupan di kening wanita itu.


Sementara Agya, napasnya tersengal, ia merasa kelelahan melayani hasrat Dev yang begitu besar.


"Dev."


"Hm."


"Kau tahu, dulu saat di awal pernikahan kita. Aku selalu merasa jika mengenalmu adalah sebuah kesialan bagiku, namun seiring berjalannya waktu, seiring cinta itu hadir di tengah-tengah kita. Aku merasa menjadi wanita paling beruntung di dunia karena bisa mengenal pria sepertimu."


"Lalu hukuman apa yang pantas kau dapatkan untuk kekurang ajarmu ini hm?"


"Hukuman?" Agya menengadahkan wajahnya, menatap Dev dengan dahi yang berkerut dalam.


"Yaa hukuman. Bisa-bisanya kau menganggapku sebuah kesialan!" gerutunya.


"Lalu aku harus menyembutnya apa? Apa kau tak mengingat perlakuanmu dulu terhadapku? Kau bahkan menjebakku di hotel dan menciumku malam itu padahal kita tak saling mengenal. Dan parahnya lagi kau menyuruhku untuk memandikanmu. Kau---." ucapan Agya terhenti tatkala melihat tatapan Dev yang sudah menghunus tajam, bak elang yang siap menerkam mangsanya.


"Hahaha, Mr. Dev, CEO of Seoul. Bukankah begitu kau di kenal masyarakat? Lihatlah pria dingin, keras kepala dan kejam ini telah menjadi suamiku." Agya terbahak berusaha mengusir rasa takut yang sudah melingkupinya.


"Terus saja mengataiku."


"Ah tapi dibalik sikapnya itu, dia sangat mencintaiku."


"Ya."


"Dia juga merawatku dengan sangat baik. Apakah aku harus memberinya hadiah?"


"Ya."


"Hadiah seperti apa yang kau inginkan dariku Dev? Aku akan memberikan apapun yang kau mau."


"Eum." Dev tampak berpikir keras, sebelum kemudian pria itu memperbaiki posisinya dan menatap Agya dengan tatapan yang begitu dalam.


"Aku sudah memiliki segalanya, harta jabatan, anak dan istri yang sangat mencintaiku. Tapi, aku mempunyai keinginan kecil yang belum terwujud. Aku ingin istriku mempercayaiku sepenuhnya, mau berbagi masalahnya denganku dan tidak meninggalkanku lagi."


Deg


Bibir Agya terkatup rapat, merasa tertampar dengan ucapan Dev barusan.


"Apa kau bisa mewujudkan semua itu untukku Gya?"


Agya mengangguk, "Aku akan melakukan semua itu mulai detik ini. Maafkan aku Dev, aku belum bisa menjadi istri yang baik untukmu."


"Tak perlu meminta maaf sayang." ujar Dev mengusap lembut wajah Agya, "Maukah kau membuka lembaran baru denganku? Aku berjanji akan menaburi banyak cinta di kehidupan kita setelah ini."


Agya kembali mengangguk, "Aku mau Mr. Dev."


.


.


TAMAT


Hai kak Readersss, cerita ini berakhir sampai di sini yaaa. Terima kasih sudah menemani kisah cinta Dev dan Agya ❤


Oh iyaa, author mau minta tolong sama kak readers boleh gak? Boleh yaa pleaseee.


Tolong di rate ya novel ini, jangan lupa vote juga hehe. Makasihhh banyakk, i love you guyss so muchh ❤❤❤