
21+
Mohon bijak dalam membaca..
.
.
.
Satu jam berlalu, kini Agya duduk di atas tempat tidur seraya memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup rapat. Sedari tadi ia tidak mendengar sedikitpun suara atau percikan air dari dalam sana.
"Apa yang dia lakukan di kamar mandi selama ini? Apa dia tidur di dalam sana?" gumamnya beranjak dari duduknya. Memberanikan diri untuk menghampiri pintu kamar mandi dan memeriksa keadaan suaminya.
"Apa yang kau lakukan?!" Dev tiba-tiba keluar dengan tubuh dan rambut yang tampak basah. Kedua bola matanya, menatap tajam ke arah Agya yang sedang mendekatkan kupingnya pada pintu kamar mandi.
Agya terlonjat, buru-buru ia menjauhkan tubuhnya. "Ti-tidak ada." jawabnya terbata-bata.
"Benarkah? Kau tidak sedang mengintipku kan?" Menutup pintu kamar mandi seraya melangkah kakinya ke arah Agya. Bibirnya mengulaskan senyuman menyeringai, senyum yang terlihat menakutkan.
"I-iyaa. Aku--." ucapan Agya terhenti tatkala tubuhnya membentur ranjang. Wajahnya semakin terlihat ketakutan saat tubuh kekar Dev tiba-tiba menghimpitnya.
Agya tertegun, menutup rapat kedua matanya, sangat terkejut melihat Dev yang baru saja menarik handuk yang menutupi tubuhnya.
"Tu-tuan Dev. A-apa yang ingin kau lakukan?" Berusaha menjauhkan tubuhnya namun Dev semakin menghimpit dan menguncinya hingga membuatnya tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Kenapa hm? Kau tidak mau? Bukankah kita sudah sah menjadi suami istri sekarang? Apa kita tidak boleh melakukan hal ini?" Menyelipkan anak rambut Agya ke belakang telinganya, seraya tersenyum tipis.
Agya terhenyak, seketika matanya langsung terbuka lebar, "Kau sedang mabuk!" cetusnya dengan mata yang memelotot tajam.
"Tidak." Dev menjawab dengan napas yang terengah, matanya terlihat memerah.
"Tu-tuan Dev." Agya memalingkan wajahnya, menjauhkan bibirnya dari Dev saat pria itu hendak menciumnya.
"Kenapa? Apa kau tidak ingin melakulan ini denganku? Apa kau tidak tertarik sedikitpun padaku?!" Seru Dev, terlihat kemarahan yang mulai memenuhi wajahnya.
"I-ini tidak benar tuan. Ka-kau sedang mabuk" lirih Agya. Namun Dev tidak mendengarkan lirihan itu, kedua tangannya bergerak menangkup wajah Agya, menatapnya dengan tatapan senduh sebelum kemudian ia mendaratkan sebuah ciuman di bibir tipis istrinya itu. Mencium dan meluma*nya dengan kasar, meraup kenikmatan di dalam sana.
"Tu-tuan Dev." Agya menjauhkan tubuhnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, tidak membenarkan apa yang sedang terjadi pada dirinya dan Dev. Apalagi pria itu sedang dalam keadaan mabuk.
Sejenak Dev menghentikan aktifitasnya, kini matanya menatap lekat kedua manik mata milik Agya, manik mata yang terlihat berkaca-kaca. Namun lagi, Dev tidak memperdulikan hal itu, tubuhnya telah dikuasi oleh napsu birah*nya.
Dev kembali mengecup bibir Agya, menggendong tubuh mungil wanita itu dan memindahkannya ke atas tempat tidur yang berukuran kecil.
"Tuan Dev." Agya melirih kecil, berusaha menjangkau selimut untuk menutupi tubuhnya yang sudah tidak tertutupi sehelai benang. Tubuh polos yang sedang dipandang oleh Dev dengan tatapan kelaparan.
"Aku hanya akan melakukannya satu kali." Dev merancau, seulas senyuman tipis kembali tersemat di bibirnya. Apa dengan cara ini Agya akan tertarik padanya? Apapun itu Dev akan melakukannya. Ia akan menaklukan hati dan tubuh wanita yang saat ini berada di bawah kungkungannya. Tidak akan membiarkan wanita yang tengah dekat dengannya mengkhianatinya lagi, seperti Alena dan Diandara. Dua wanita yang telah merusak cinta dan kepercayaannya.
Saat ini hati Dev sedang terluka, pertunangannya dengan Alena yang terjadi beberapa jam yang lalu kembali membangkitkan ingatannya akan penghianatan wanita itu, ditambah dengan bayang-bayang perselingkuhan Diandra di masa lalu. Hal itu benar-benar membuat Dev sangat marah, apalagi setelah mendengar permohonan Agya pada sekertaris Kim tadi sore, tidak hanya itu Dev sangat marah setelah mengetahui Agya membawa masuk Darrel ke dalam apartemennya.
Mata Agya terpejam, bersamaan dengan cairan bening yang berhasil lolos dari kedua pelupuk matanya. Memasrahkan tubuhnya dijamah oleh pria yang memang telah menjadi suaminya. Tapi cara yang dilakukan Dev saat ini sangat melukai hatinya.
Agya semakin memejamkan matanya saat Dev membenamkan ciuman di atas bibirnya, ciuman yang sangat ganas dan lapar. Dev terus mengore*nya, meluma*nya dengan ritme kasar dan lembut secara bergantian, menggoda Agya untuk membalasnya. Dan benar saja, perlahan Agya mulai terbuai, menikmati permain bibir Dev ditengah-tengah kebingungannya.
"Aahh." desa* Agya tak sengaja. Mendengar desaha* nikmat keluar dari mulut istrinya membuat Dev tersenyum tipis, sentuhan dan ciumannya semakin terasa buas dan tak terkendali.
Dev bernapas terengah, ia melepas tubuh Agya seraya mengatur napasnya. Matanya menatap nanar kedua manik mata Agya yang juga sedang menatapnya.
"Apa kau menikmatinya?" tanyanya tersenyum tipis, senyum yang terkesan mengejek.
Agya tidak menjawab, ia memalingkan wajahnya yang memerah padam. Ah, bagaimana bisa ia memasarkahkan tubuhnya seperti ini dan terlihat seolah-olah tak berdaya. Padahal bisa saja ia menghindar.
Lagi Dev kembali tersenyum, merasa jika Agya tidak melakukan penolakan atas tindakan liar mereka saat ini. Perlahan pria itu mulai memposisikan tubuhnya di bawah tubuh Agya, meminta persetujuan wanita itu untuk melakukan penyatuan tubuh mereka.
Agya terdiam, matanya menatap lekat manik mata milik Dev, seolah sedang mencari sesuatu di dalam sana. Tanpa sadar kepalanya mengangguk pelan, benar-benar memasrahkan tubuhnya sepenuhnya pada Dev.
Seakan mendapatkan angin surga, Dev langsung melancarkan aksinya. Melakukan penyatuan tubuh mereka dengan hati-hati dan penuh kelembutan seraya mencium dan meluma* kembali bibir Agya dengan sangat buasnya. Entah masih berada dalam pengaruh alkohol atau tidak, kali ini Dev benar-benar terlihat berbeda.
Sreg!
"Aahh." Agya memekik, merasakan sakit luar biasa pada tubuh bawahnya, menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakitnya.
Dev menghentikan aksinya sejenak, ia mengecup pelan kening Agya. Menatap wajah wanita itu cukup lama, seolah berusaha menenangkannya.
Setelah merasa Agya mulai tenang, Dev kembali melanjutkan aksinya, mendorong pinggulnya dengan ritme pelan dan berakhir cepat hingga membuat Agya kembali merintih. Wanita itu memberikan melingkarkan tangannya di punggung Dev mencakaranya dengan kuat, melampiaskan rasa sakit dan kenikmatannya yang ia rasakan di malam itu. Malam yang begitu hening dengan udara dinginnya, namun terasa panas bagi Agya dan Dev.
Seprai yang semula terlihat sangat rapi, kini berantakan dan terus dikoyak oleh Agya. Pertarungan yang sangat liar dan melelahkan. Pun punggung belakang Dev yang sudah di penuhi dengan garis-garis berwarna kemerahan.
Tiba-tiba Agya merasakan pelukan erat diperutnya, napas Dev terengah di punggungnya. Pria itu tampak mengatur napasnya setelah melakukan pelepasan beberapa menit yang lalu.
"Siapa Darrel?" tanyanya tepat di telinga Agya, hembusan napasnya menyapu kulit leher Agya hingga bulu kuduk wanita itu dibuat merinding.
"Apa dia kekasihmu?" Dev masih mencecerkan pertanyaan, merasa penasaran akan hubungan Darrel dengan Agya. Hingga Agya begitu berani membawa masuk pria itu ke dalam apartemennya, bahkan makan malam bersama juga di sana.
"Kenapa kau tidak menjawabku?!"
"Bu-bukan, Darrel bukan kekasihku, dia--."
"Jauhi dia!!" serunya, melepas pelukannya dari Agya, menarik selimut untuk menutupi tubuh polos keduanya. Sebelum kemudian, ia mengubah posisinya hingga saling memunggungi dengan Agya. Memejamkan matanya, merasa sangat lelah dan ingin segera mengistrahatkan tubuhnya.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Mayan panas yaa :)