Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Cemburu



"Selamat pagi tuan Dev, nyonya Agya." Sekertaris Kim yang sedari tadi berdiri di depan pintu apartemen Dev segera menyapa dan membungkukan badannya saat melihat tuan dan juga nyonya mudanya keluar dari apartemen.


"Selamat pagi tuan Kim." Agya membalas sapaan sekertaris Kim dengan begitu ramah, mengulaskan senyuman hangat di bibirnya tanpa menghiraukan Dev yang sudah menatapnya dengan kedua alis yang menaut tajam.


"Tundukan pandanganmu sekertaris Kim." dengus Dev, menatap kesal sekertarisnya tersebut yang hendak membalas senyuman Agya. Ia sangat tidak suka dengan Agya yang merespon sekertaris Kim dengan begitu ramah, takut Agya benar-benar menyukai sekertaris Kim, apalagi pria yang sudah bertahun-tahun menjadi sekertarisnya tersebut lumayan tampan, tapi masih kalah tampan dengan dirinya.


"Maaf tuan " Dengan segera sekertaris Kim menundukan kepalanya seraya melangkah menjauh.


Sedangkan Dev, ia langsung melangkah ke hadapan Agya, menangkup kedua bahu istrinya itu, dan menatapnya dengan tatapan tak terbaca, "Kau tidak boleh tersenyum padanya karena dia tidak tahu cara membalas senyumanmu. Dia hanyalah pantung yang diberi nyawa." cetusnya.


"Tersenyumlah padaku, aku akan membalasnya dengan sebuah kecupan hangat di sini." Dev tersenyum, mengusap bibir ranum Agya dengan ibu jarinya.


"Kau cemburu dengan sekertaris Kim?" ledek Agya menahan tawanya.


"Tidak, siapa yang cemburu? Hatiku cuma panas saja saat kau tersenyum seperti tadi padanya." sangkalnya memalingkan wajahnya.


Kedua sudut bibir Agya langsung mengembang lebar, ia menggerakan tangan kanannya di dada Dev lalu mengusapnya dengan lembut, "Perlu ku kecup agar kembali dingin?" tanyanya mendongakan kepalanya.


"Ehm, tidak perlu." Dev berdehem, menangkap tangan nakal Agya yang sudah menjalar kemana-mana.


"Aku yang akan membalasnya besok malam." bisiknya tepat di telinga Agya, hembusan napas Dev yang menyapu kulit leher Agya membuat wanita itu menelan salivanya dengan kasar.


Cup


"Kita berangkat sekarang." ujar Dev menarik bibirnya dari pipi Agya yang memerah padam, lalu menggandeng tangan istrinya itu dengan begitu eratnya.


"Sekertaris Kim, ikut kami berbelanja."


"Baik tuan. Tapi saya ingin memberitahu tuan tentang tuan Andhi--."


"Jangan merusak hariku sekertaris Kim, aku tidak ingin kau membahasnya apalagi menyebut namanya dihadapanku." cetusnya kesal, memotong ucapan sekertaris Kim yang sudah ia tebak akan menjurus ke arah mana.


"Maaf tuan."


"Hah menyebalkan." Dev kembali mendengus, melanjutkan langkah kakinya menuju lift. Wajahnya yang semula sumringah kini berubah menjadi kesal. Pun Agya yang harus menjadi sasaran rasa kesal Dev yang tak menentu.


"Kenapa kau ikut masuk? Cari lift lain, aku ingin berduaan dengan istriku." cetus Dev menghunuskan tatapan tajam pada sekertaris Kim yang baru saja melangkah masuk ke dalam lift.


Suara cetus Dev yang menggelegar, membuat sekertaris Kim terhenyak ia langsung meminta maaf dan membungkukan badannya lalu keluar dari lift tersebut dengan langkah panjang sambil mengelus dadanya.


"Sayang, kenapa kau terus memarahi sekertaris Kim?"


"Kau membelanya? Dia sudah membuatku kesal!" sungut Dev.


Agya menghela napas, lalu memeluk tubuh suaminya itu, "Kau membuatku takut. Ku mohon untuk tidak marah-marah lagi pada siapapun." ucapnya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dev seraya mengusap-usap lembut punggung kekar suaminya.


Dev mematung, memejamkan matanya singkat untuk menguapkan rasa kesal yang masih memenuhi kepalanya.


"Hari ini aku tidak ingin mendengar suara cetus ataupun amarah. Kita akan menghabiskan satu hari full dengan senyuman dan kebahagiaan. Kau mengerti!" ujar Agya penuh penekanan di kata terakhirnya seraya melepas pelukannya itu.


Seakan terkena sihir akan ucapan Agya, Dev langsung mengangguk paham.


"Tersenyumlah." ujar Agya lagi, menyematkan senyuman hangat di bibirnya hingga membuat Dev ikut tersenyum.


"Aku tahu." jawab Agya melebarkan senyumannya, lalu ia menjinjitkan kakinya untuk mengecup bibir Dev.


Niatnya mengecup singkat namun malah berbuntut panjang karena Dev tidak mau melepaskan Agya begitu saja, ia membalas kecupan itu dengan lumata* kasar yang membuat istrinya itu kehabisan napas.


***


Beberapa menit kemudian, setibanya di Big Mall yang ada di tengah-tengah kota Seoul. Dev langsung menghubungi direktur mall tersebut, menyuruhnya untuk mengosongkan mall yang terlihat begitu ramai dan padat akan pengunjung.


"Dev tidak perlu. Kau sangat berlebihan sekali!!" cetus Agya kesal.


"Tidak ada yang berlebihan sayang, aku melakukan ini untuk kenyamanan kita. Wanita-wanita yang ada di sini pasti masih mengenali wajah tampanku sekalipun aku memakai topi."


"Iyaa aku tahu mereka akan tetap mengenalimu, tapi kau bisa memakai masker untuk menutupi wajah tampanmu ini." celetuknya mengusap lembut wajah Dev sebelum kemudian ia mengalihkan tatapannya ke arah gadis kecil yang berusia kurang lebih 2 tahun yang tengah sibuk berlompat-lombat dengan tawa di bibirnya.


"Lihatlah Dev, anak kecil itu begitu girang berada di tempat ini tapi kau malah mau mengusirnya." Dev ikut menolehkan tatapannya ke arah anak kecil itu, gadis kecil yang begitu menggemaskan.


"Hah baiklah." ucap Dev mengalah, mematikan panggilan telponnya yang belum sempat terhubung dengan direktur mall tersebut.


"Aku sudah menurutimu, sekarang kau juga harus menurutiku." ujarnya melangkah ke hadapan Agya, menutupi wajah istrinya itu dengan tubuh kekarnya saat sekelompok pria yang baru saja masuk ke dalam mall tersebut menatap Agya dengan tatapan penuh kekaguman, bahkan ia sempat mendengar salah satu pria itu memuji kecantikan Agya.


"Apa?" tanya Agya mengerutkan dahinya.


"Kau harus memakai topi dan juga masker untuk menutupi wajah jelekmu ini."


"Jelek? Hah terserah." cebik Agya.


"Sekertaris Kim, berikan topi dan maskernya." pinta Dev tanpa menoleh ke arah sekertaris Kim.


"Ini tuan." sekertaris Kim menyodorkan topi berwarna pink dan juga dua masker yang baru saja ia beli ke tangan Dev, sebelum kemudian ia melangkah mundur untuk menjaga jarak dengan Tuan dan juga Nyonya mudanya tersebut.


"Satu lagi, kau tidak boleh melepas tanganku." ujar Dev sesaat setelah ia memakaikan topi di kepala Agya. Merekatkan tangannya di sela-sela jari Agya seraya tersenyum.


"Iyaa sayangkuh. Cerewet sekali." celoteh Agya, mengikuti langkah kaki Dev yang mulai melangkah lebih jauh ke dalam mall.


"Pilihlah pakaian yang kau suka, ingat tidak boleh ada rok mini apalagi baju dengan minim kain." ucap Dev penuh peringatan saat dirinya sudah berada di salah satu butik yang berada di mall tersebut.


"Iyaa, apa kau bisa melepaskan tanganku dulu tuan? Aku mau memilih baju."


"Ya sudah pergilah." Dev melepaskan tangan Agya dengan penuh keterpaksaan, mendaratkan tubuhnya di sofa yang tersedia di butik tersebut seraya memerhatikan gerak gerik istrinya yang mulai memilih-milih pakaian.


.


.


.


Bersambung..


Jangan lupa untuk like disetiap bab yaa kaks