
19+
Mohon bijak dalam membaca :)
.
.
Saat hendak mencapai pintu, Agya langsung menghentikan langkah kakinya, mengela napas panjang seraya menyeka air matanya. Mulai sekarang ia harus terlihat tegar tidak akan ada air mata lagi, pernikahan ini terjadi atas kemauannya sendiri, atas keputusan mendadak yang telah ia ambil.
"Huhh." Agya kembali menghembuskan napas beratnya ke udara, menekan tombol pintu kamar hotel, memasukan kode kamar itu satu persatu. Lalu membawa masuk tubuhnya ke dalam sana, menyorong gaunnya yang panjang dan sangat berat.
Sesaat setalah berada di dalam kamar, Agya mengerutkan dahinya, pandangannya mengedar ke sekelilingnya mencari keberadaan suaminya. Namun suara kucuran air yang berasal dari kamar mandi, membuat sorot mata wanita itu tertuju pada pintu kamar mandi tersebut.
"Dia pasti sedang mandi." gumamnya, memanfaatkan kesempatan itu untuk melepas gaunnya yang sedari tadi membuatnya gerah dan tidak nyaman. Hingga kini tubuh wanita itu menjadi polos, kulit putih dan mulusnya terpampang begitu jelas.
"Aakhpp." Agya terlonjat dengan kedua bola mata yang melebar, bulu kuduknya langsung merinding saat tiba-tiba sebuah telapak tangan kekar seseorang menyentuh pinggangnya dari belakang.
"Kau sengaja ingin menggodaku." suara berat Dev terdengar jelas di telinga Agya. Napasnya yang berembus mengenai kulit leher dan telinga Agya membuat tubuh wanita itu meremang.
"Ti-tidak." ucap Agya terbata-bata bersamaan dengan matanya yang terpejam saat merasakan sentuhan lembut Dev yang mulai menjalar ke mana-mana. Pun tubuh tegap dan lebar pria itu yang mengunci tubuhnya pada dinding.
"Ja-jangan melakukan sesuatu yang lebih." ujar Agya ketakutan, namun Dev tidak menghiraukannya. Pria itu mendekatkan peni*nya yang terbalut juba mandi tepat di boko** Agya. pun kedua tangannya yang berusaha mengais kenikmatan di balik b* yang dipakai wanita itu.
Agya terhenyak, jantungnya berdegup kecang pun darahnya yang mengalir deras. "Ja-jangan tuan Dev. Jangan melakukan hal ini." pintanya terbata-bata dan memohon.
"Kau menolakku lagi?!" Perlahan tangan Dev mengangsur dari tubuh Agya. Menjauhkan tubuhnya dari wanita itu bersamaan dengan wajahnya yang memerah menahan amarahnya.
"Ti-tidak." Agya langsung berbalik, meraih handuk yang tersampir di atas kursi lalu memakainnya.
"A-aku--."
"Diamlah. Aku tidak akan melakukan hal itu lagi, aku juga tidak berselera dengan tubuhmu." cetusnya, melangkah ke arah tempat tidur, meraih ponselnya lalu keluar dari kamar hotel itu meninggalkan Agya yang berdiri mematung di tempatnya.
"Ke-kanapa jadi seperti ini?" gumam Agya mengatur napasnya yang saling memburuh, "A-apa dia memilih menikahiku dan menjadikanku sebagai tebusan hutang hanya untuk melakukan semua ini? Me-menjadi pemuas napsunya? La-lalu apa bedanya aku dengan pelacu*?" Tubuh Agya langsung terhuyung ke lantai, dadanya tiba-tiba terasa sesak. Sungguh jika mereka menikah atas dasar cinta seperti pasangan lainnya tentu Agya tidak akan menolak. Tapi kali ini ia tidak bisa melakukan hubungan sejauh itu, ia sama sekali belum siap.
***
"Atur jadwal keberangkatanku ke Korea sekarang." pinta Dev pada sekertaris Kim yang berdiri di hadapannya. Masih tersulut kobaran amarah di wajah pria itu.
"Tuan." sekertaris Kim mengangkat kepalanya menatap wajah tuan mudanya tersebut. "Apa nona Agya membuat tuan kesal?" tanyanya. Apa lagi yang membuat Dev kesal seperti ini jika bukan karena Agya. Ah wanita itu benar-benar telah berhasil mengacak-ngacak hati Dev bahkan mematahkan moto pria itu yang tidak akan pernah tertarik pada wanita manapun.
"Tidak!" Jawabnya menghunuskan tatapan tajam pada sekertaris Kim, "Cepat siapkan! 30 menit lagi kita akan meninggalkan kota ini." Beranjak dari duduknya, tangannya menggepal kuat mengingat kembali penolakan Agya tadi.
"Tapi tuan. Bagaimana dengan tanggapan orang tua nona Agya? Tuan baru saja menikahi putri mereka tapi sekarang tuan akan meninggalkannya? Tuan, bersikaplah dengan baik. Walaupun tuan menikahi nona Agya hanya untuk membalas dendam tapi hargai orang tuanya. Jika mereka tahu tujuan tuan, mereka tidak akan melepaskan putri mereka semudah ini." ucap sekertaris Kim, seketika Dev langsung terdiam.
"Kita akan kembali besok pagi." ujarnya.
"Baik tuan." sekertaris Kim mengangguk, "Tuan Darwin sedang menunggu tuan dan nona Agya untuk makan malam di restoran hotel." imbuhnya sebelum Dev berlalu pergi dari sana, namun pria itu malah tidak menghiraukannya lagi.
Hembusan napas berat keluar dari mulut sekertaris Kim, pria itu merogoh saku celananya untuk megambil ponselnya yang baru saja berdering.
"Nyonya Valerie."
"Sekertaris Kim, kau membawa Deva kemana? Kenapa dia tidak ada di rumahnya selama 3 har inii? Ponselnya juga susah di hubungi!" celetuk nyonya Valerie dengan suara yang melengking.
"Kapan Deva akan kembali? Dia tidak lupakan jika besok ulang tahun pernikahan mami dan daddynya."
"Tidak nyonya, tuan Dev tidak mungkin melupakan hal penting itu. Besok pagi tuan Dev akan kembali ke Korea."
"Baiklah." Memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Huh." sekertaris Kim meletakan ponselnya kembali di saku celananya, lalu ikut berlalu pergi dari sana. Mengurus beberapa masalah yang sempat tercipta di acara pernikahan tadi salah satunya mengurus wanita yang diam-diam membawa masuk ponselnya ke dalam aula hotel dan memotret Dev padahal sudah ada peringatan kepada para tamu untuk tidak membawa masuk ponsel mereka.
**
"Papa dan keluargaku memanggil kita untuk makan malam bersama di restoran hotel." Saat ini Agya berdiri di hadapan Dev yang tengah duduk di sofa seraya memainkan i-padnya, membujuk dan memohon pada pria itu agar mau menemui keluarganya.
"Aku sedang sibuk." serunya, tanpa menoleh.
"Apa kau marah karena tadi? A-aku minta maaf."
"Aku tidak akan memaafkanmu. Pergilah kau menggangguku."
"Tuan Dev, papa dan keluargaku telah menunggumu. Ku mohon untuk menemui mereka kali ini saja." Mengatupkan kedua tangannya, memohon dengan sangat.
"Apa kau tidak mendengar? Aku sedang sibuk. Jika kau ingin makan bersama mereka, pergilah. Tidak ada yang melarangmu." seru Dev memelototkan matanya. Masih terdapat sisa-sisa amarah dalam dirinya.
"Baiklah. Maafkan aku." Agya memutar tubuhnya, lalu melangkah ke arah pintu. Wanita itu hanya bisa menghela napas menghadapi Dev yang telah menunjukan sikap aslinya. Ah entahlah baru hitungan jam ia menjadi istri dari pria itu namun ia sudah merasa sesak.
*
"Sayang, di mana suamimu nak?" tanya Papa Darwin beranjak dari duduknya, menyambut kehadiran anaknya dengan senyum yang mengembang lebar.
"Ehm, Dev sudah tidur Pa. Dia sangat kelelahan."
"Oh baiklah. Tidak apa-apa." Terlihat semburan kekecewaan di wajah Papa Darwin. Namun bibirnya masih merekah lebar.
"Ayoo duduk dan makanlah, setelah itu temani suamimu beristirahat." ujar Papa Darwin menarik kursi untuk di duduki oleh putri kesayangannya itu.
"Kau mau makan apa sayang?" tanya Mama Inaya mengambil piring milik Agya.
"Ehm, Gya mau makan udang goreng saja Ma."
"Baiklah. Kau harus makan yang banyak sekarang." ujarnya menyodorkan piring berdisi potongan udang ke arah Agya.
"Terima kasih Ma." Bibir Agya tersenyum, namun tidak dengan matanya yang muali berkaca-kaca, merasa haru dengan perhatian kedua orang tuanya padanya.
.
.
.
.
.
Bersambung....