Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Terpuruk



"Apa kau sudah menemukan kabar tentang istriku?" Dev menyesap rokok yang ada di tangannya, menatap nanar bodyguard yang baru saja masuk ke dalam kamarnya. Wajah pria itu terlihat kusam dan berantakan, bulu-bulu halus kini memenuhi dagu dan pipinya.


Sudah berbulan-bulan Agya menghilang, sejak itu pula Dev tak mengurusi hidupnya lagi, bahkan ia lupa kapan terakhir dirinya tidur dan menyentuh makanan. Di kamarnya yang ada hanya botol-botol wine yang sudah kosong. Pun putung rokok yang berserakan dimana-mana.


"Belum tuan."


"Bodoh! Kenapa kalian tidak bisa menemukan istriku?! Sudah 5 bulan dia pergi, dan tak ada satupun yang menemukannya? Apa yang sebenarnya kalian lakukan selama ini?!" cetus Dev beranjak dari duduknya. Rasaya ia ingin berteriak sekencang-kencangnya, sekecewa inikah Agya padanya hingga wanita itu tak kembali? Dimana dia sekarang? Bagaimana kabar dirinya dan dua bayinya? Apa mereka tumbuh sehat di dalam rahim Agya atau justru sebaliknya?


"Keluarlah!" Teriak Dev frustasi, tak segan ia menarik rambutnya dengan kasar. Saat ini, Dev benar-benar seperti orang yang kehilangan akal. Ia telah melakukan berbagai macam cara termaksud membentuk tim khusus untuk mencari keberadaan istrinya, namun tak ada satupun yang menemukannya. Tak hanya itu, Dev bahkan hampir membunuh Darrel karena mencurigai pria itu sebagai dalang hilangnya Agya.


"Dev." Nyonya Valerie melangkah masuk ke dalam kamar dengan hati-hati sembari membawa nampan berisi makanan. Ia menghembuskan napas singkat saat mencium aroma wine yang memenuhi seisi kamar, kini matanya berkaca-kaca saat melihat kondisi Dev yang begitu berantakan. Tubuh anak semata wayangnya itu terlihat semakin kurus pun rambutnya yang sudah panjang dan tak terurus. Tak ada lagi sosok Mr. Dev yang tampan dan berwibawa.


"Dev, mami membawakanmu makanan. Ayo makanlah nak, sudah 1 minggu kau tak makan." ujarnya meletakkan nampan di atas nakas. Sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur.


"Dev." Nyonya Valerie kembali memanggil anaknya itu seraya mengusap punggung belakangnya.


"Keluarlah Ma, aku tak ingin makan dan menemuimu siapapun!" serunya.


"Tapi kau butuh makan! Sampai kapan kau akan terus seperti ini Dev?"


"Sampai istriku kembali. Ma, aku tak membutuhkan apapun di dunia ini, aku hanya membutuhkan istriku. Aku merindukannya."


"Kenapa kau masih memikirkannya? Dia tak perduli lagi denganmu Dev!"


Deg.


Dev langsung berbalik dan beranjak dari tidurnya. Kini wajah maminya memenuhi manik matanya.


"Apa maksud mami?!"


"Dev, jika Agya masih mencintaimu dan perduli padamu, dia akan kembali dari beberapa bulan yang lalu."


"Tahu apa mam tentang cintanya? Dia masih sangat mencintaiku Ma, dia pergi karena kesalahanku, dia sengaja meninggalkanku untuk menghukumku karena aku telah mengecewakannya. Dan semua ini karena wanita sialan itu." seru Dev menggertakan giginya. Ia kembali mengingat wajah Teressa, wajah wanita yang telah ia pecat secara tidak hormat karena wanita itu sempat bersandiwara dengan membuat pengakuan jika ia telah dilecehkan oleh Dev.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang Ma?!" Lagi, Dev mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar frustasi, pikirannya begitu kalut. Ia hampir gila karena istrinya yang tak kunjung ia temukan.


Semua pekerjaannya menjadi berantakan, bahkan Wilantara Group hampir mengalami kerugian besar akibat Dev yang tidak melanjutkan tender besar yang dimenangkannya kala itu. Dev juga mengundurkan diri sebagai presidir dan menyerahkan jabatan itu kepada Daven, kakak angkatnya. Ia tak membutuhkan jabatan, harta dan segalanya sekarang, yang ia butuhkan saat ini adalah istrinya. Ia sangat membutuhkan wanita yang tengah mengandung dua bayinya itu.


Hal lain yang membuat Dev mundur dari posisinya adalah kenangan yang ditinggalkan Agya di Wilantara Group, tepatnya di ruang kerjanya. Foto yang dipajang wanita itu berhasil membuat Dev menggila. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk tidak menginjakan kakinya lagi di ruangan itu, ruangan presidir Wilantara Group


Setiap hari, Dev selalu diselimuti rasa bersalah seperti saat ini, ia bahkan membenci dirinya sendiri.


***


Sama halnya dengan Dev, tuan Darwin juga mengalami keterpurukan setelah mendengar kabar Agya yang tiba-tiba menghilang. Namun pria paru baya itu selalu berusaha untuk bangkit dan mencari tahu keberadaan anak kesayangannya. Ia juga telah mengerahkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan anak kesayangannya tersebut, namun hasilnya tetap nihil. Tak ada satupun yang menemukan Agya di segala penjuru Korea.


"Kami telah menemukan informasi terkait keberadaan terakhir nona Agya."


"Dimana?" tuan Darwin menyambar ponsel yang berada di tangan nyonya Inayah. "Cepat katakan!!" serunya pada anak buahnya yang baru saja menghubunginya itu.


"Nona Agya melakukan perjalanan dari Berlin ke Canada bersama seorang pria di tanggal 10 juni kemarin tuan."


"Iyaa tuan, ternyata nona Agya sudah meninggalkan Korea 5 bulan yang lalu dan tinggal di Berlin."


"Bagaimana kondisinya? Apa dia baik-baik saja? Dan bayinya--."


"Nona Agya baik-baik saja tuan, saya akan mengirimkan rekaman CCTV yang ada di bandara Flughafen Berlin-Schönefeld."


"Syukurlah. Apa Dev sudah mengetahui hal ini?"


"Belum tuan."


"Tak perlu memberitahunya." pinta tuan Darwin menggepalkan tangannya, ia begitu membenci menantunya itu dan menyalahkannya atas hilangnya Agya.


"Segera pastikan dimana anakku tinggal. Aku dan istriku akan menyusulnya ke Canada."


"Baik tuan."


Tuan Darwin memutuskan sambungan teleponnya, seraya menghembuskan napasnya ke udara. Ia sedikit lebih legah setelah mengetahui kabar anak kesayangannya, ya walaupun masih belum begitu jelas.


Ting,


Sebuah pesan yang baru saja masuk di ponselnya, mengalihkan perhatian tuan Darwin. Ia segera membuka pesan tersebut yang berisi rekaman CCTV.


Dilihatnya Agya yang tengah berjalan bersama seorang pria menuju gate dua untuk melakukan penerbangan. Dan yang menjadi pusat perhatian tuan Darwin dan Nyonya Inayah adalah perut Agya yang sudah membesar yang membuat wanita itu kesulitan berjalan.


"Pa." Nyonya Inayah tak kuasa menahan air matanya, seharusnya Agya bersama mereka disaat usia kandungan anaknya itu semakin tua. Jika dihitung-hitung, usia kandungan Agya sudah menginjak 8 bulan saat ini.


"Kita akan menjemput Agya di Canada. Anak buahku sedang mencari alamat tempat Agya tinggal sekarang"


"Apa kita tidak memberitahu Dev? Dia berhak tahu kebaradaan istrinya."


"Tidak! Tak ada yang boleh memberitahunya."


"Tapi Pa. Dev sama terpuruknya dengan kita, bahkan jauh lebih terpuruk."


"Aku tak perduli dengannya. Sudah cukup dia menyakiti hati anakku. Aku tak akan memberinya kesempatan apapun lagi!" seru tuan Darwin.


"Jangan coba-coba memberitahunya Inayah, aku akan sangat marah padamu." tegasnya. Berlalu pergi dari sana, meninggalkan nyonya Inayah yang masih berdiri mematung di dalam kamarnya.


.


.


.


.


Bersambunggg..


Kira-kira siapa pria yang membawa Agya pergi?🤔