
Hari demi hari dilalui Agya dengan sangat berat. Kini identitasnya mulai tersebar di beberapa akun sosial media. Tidak hanya itu, selama tiga hari terakhir ini ia selalu mendapatkan teror dari orang yang tak dikenal, tepatnya setelah dirinya di antar pulang oleh Darrel tempo hari. Hal itu tentunya membuat Agya takut hingga selama tiga hari itu ia memilih untuk tidak keluar dan mengurung diri di apartemennya. Hanya Della yang selalu datang mengunjunginya, membawakan makanan untuknya, bahkan Della juga meminta Agya tinggal di rumahnya untuk sementara waktu namun Agya menolak karena tidak ingin keluarga Della ikut mendapatkan teror dari orang-orang tak di kenal itu.
Selama tiga hari itu juga, Agya tidak mendapatkan kabar apapun tentang pernikahan yang direncanakan oleh Mr. Dev. Ia juga belum memberitahu orang tuanya ataupun Della terkait rencana tersebut, karena tidak tahu harus menjelaskan dari mana.
"Huh." Setelah membersihkan apatemennya, Agya langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa, meraih ponselnya untuk memeriksa pesan singkat yang baru saja masuk.
"JAUHI ANAKKU!!" tulis seseorang, menyertakan gambar seekor burung merpati yang kepalanya terpenggal.
Melihat gambar tersebut membuat Agya bergidik ngeri, bersamaan dengan matanya yang langsung terpejam. Mengingat tadi pagi ia baru saja di kirimkan bingkisan berisi dua burung merpati tanpa kepala yang masih berdarah-darah, bahkan darah tersebut sampai mengotori sebuah kertas yang bertuliskan namanya.
"Siapa yang harus aku jauhi? Aku tidak dekat dengan siapapun. Tapi kenapa orang-orang ini selalu menerorku seperti ini." Agya berucap seraya menyeka air matanya, dadanya terasa sesak, merasa lelah dengan nasip sial yang selalu menerpanya.
Hembusan napas berat keluar dari mulut Agya, wanita itu hendak beranjak bangun namun terurungkan tatkala ponselnya berdering tanda panggilan masuk.
"Mama." gumam Agya mengerutkan dahinya, tidak biasanya ibunya yang berprofesi sebagai seorang dokter menelponnya di jam kerja seperti ini.
"Hallo Ma, ada apa?" tanyanya sesaat setelah menjawab panggilan telepon tersebut.
"Sayang, kau di mana? Apa kau sedang di kampus nak?"
"Ehm, ti-tidak. Aku sedang berada di rumah. Ada apa Ma?"
"Sayang, mama ingin menanyakan sesuatu hal yang penting padamu."
"Hal penting?" Dahi Agya semakin berkerut dalam, pikirannya langsung menerka-nerka.
"Iyaa sayang." jawab Mama Inaya, "Sayang, apa kau memiliki kekasih?"
Jleb, pertanyaan yang dilontarkan oleh Mama Inaya baru saja langsung membuat Agya tertegun, ia menelan salivanya dengan kasar.
"Ke-kenapa Mama tiba-tiba menyakan hal itu?"
"Sayang, ada seorang pria yang datang ke rumah menemui Mama dan Papa, dia datang untuk melamar dan ingin menikahimu nak."
"Apa?" Agya terlonjat, matanya langsung membola bahkan hampir lepas dari tempatnya.
"Iyaa sayang, dia mengaku sebagai kekasihmu."
"Dimana dia Ma?"
"Di ruang tamu, dia sedang berbincang-bincang dengan Papa membahas tentang pernikahan kalian. Sayang, apa dia bukan kekasihmu?" tanya Mama Inaya merasa aneh dengan reaksi anak semata wayangnya tersebut.
Agya terdiam, bagaimana ia menjelaskan semuanya pada orang tuanya? Apa pria itu adalah Mr.Dev? Jika benar dirinya, kenapa dia bisa tahu alamat rumahnya? Kenapa dia tidak membahas hal ini dulu sebelumnya?
"Sayang. Apa dia bukan kekasihmu?" tanya Mama Inaya lagi saat Agya tidak menjawab pertanyannya sebelumnya.
"Eh, di-dia kekasihku." Agya menjawab dengan terbata-bata, hatinya bergumam meminta maaf karena harus berbohong.
"Oh astaga sayang, kau hampir membuat jantung Mama berhenti berdetak. Mama dan Papa sangat terkejut tadi saat pria itu tiba-tiba datang melamarmu."
"Heheh maafkan kekasih Gyaa ya Ma. Gyaa lupa mengabari Mama jika kekasih Gyaa akan datang ke rumah."
"Iyaa tidak apa-apa sayang. Kau mau berbicara dengannya?"
"Baiklah, mama tutup teleponnya dulu ya nak."
"Iyaa Ma." jawab Gyaa, menjatuhkan ponselnya ke atas lantai saat panggilan telponnya dengan mamanya baru saja terputus.
"Ahhh, pria itu benar-benar sudah tidak waras. Bagaimana bisa dia datang ke rumah secara tiba-tiba tanpa meminta persetujuanku?" gerutunya mengusap kasar wajahnya, rasanya ia ingin menangis. "Agghttt, kenapa aku harus bertemu dan berurusan dengannya?!" Mengacak-acak rambutnya, merasa begitu kacau.
Perhatian Agya kembali teralihkan pada ponselnya yang berdering tanda panggilan telpon dari nomor yang tidak di kenal.
"Siapa lagi?" Demi apapun Agya merasa sangat lelah, hampir setiap hari ia terus dihubungi oleh nomor yang tidak kenal. Rasanya ia enggan menjawab panggilan telepon tersebut, takut jika yang menghubunginya itu adalah penerornya selama ini. Namun saat sebuah notif pesan singkat muncul, buru-buru Agya langsung menjawab panggilan telepon tersebut.
"Nona Agya, saya sedang berada di depan apartemen nona." ucap si penelpon tersebut yang tak lain adalah sekertaris Kim.
"Di depan?"
"Iyaa nona. Apa nona sudah bersiap-siap? Satu jam lagi jadwal keberangkatan nona ke Indonesia."
"Ha apaaa??" Agya terhenyak, matanya membulat dengan sangat lebarnya.
"Sa-satu jam lagi? Bagaimana bisa tuan Kim? Kenapa kau tidak memberitahuku sebelumnya atau dari jauh-jauh hari? Kau dan tuanmu sama-sama pria aneh. Kenapa kalian suka sekali memutuskan sesuatu secara mendadak?!" Celetuk Agya namun celetukannya tersebut sama sekali tidak di dengar oleh sekertaris Kim, karena pria itu telah memutuskan sambungan teleponnya terlebih dulu.
"Hushh, sial." Agya melempar ponselnya ke atas ranjang, lalu menghentakan kakinya dengan kasar di lantai, melangkah keluar dari kamarnya menuju ruang tamu.
"Selamat siang nona Agya." Sapa sekertaris Kim dengan wajah datarnya. Menggeleng-gelengkan kepalanya melihat penampilan Agya yang acak-acakan.
"Silahkan masuk." Agya membukakan pintu dengan sangat lebarnya lalu melangkah masuk ke dalam kamarnya, meninggalkan pria yang memakai setelan jas berwarna hitam tersebut di ruang tamu.
**
Satu jam kemudian, kini Agya sudah duduk di sebuah kursi dari jet pribadi milik Mr.Dev. Pandangan wanita itu mengarah ke arah luar jendela. "Apa jendela ini bisa terbuka? Rasanya aku ingin terjun bebas dari sini. Tapi apakah aku akan merasakan sakitnya dulu sebelum dinyatakan meninggal?" gumamnya mengetuk-ngetuk kaca jendela pesawat yang sedang mengudara tersebut. Wajahnya terlihat begitu senduh dan tertekan.
Mr.Dev benar-benar pria yang sama sekali tidak bisa dimengerti, kemarin ia tiba-tiba meminta royalti atas kerugiannya, lalu meminta menggantinya dengan pernikahan saat Agya tidak bisa membayar hutangnya, memutuskan akan melaksanan pernikahan dalam tiga hari. Lalu menghilang tanpa kabar selama berhari-hari, dan sekarang pria itu tiba-tiba sudah berada di Indonesia dan menemui keluarga Agya. Ah, sungguh sangat gila.
"Nona Agya. Apa yang kau lakukan?" Agya menoleh, menatap kesal sekertaris Kim yang sedari tadi berdiri di sampingnya dan selalu memantau aktifitasnya.
"Mencari jalan untuk terjun dari sini." celetuknya, masih menghunuskan tatapan kesalnya.
"Jangan macam-macam nona." sekertaris Kim berucap, menatap Agya dengan sangat dinginnya hingga membuat wanita itu membeku dan langsung mengalihkan perhatiannya ke arah luar jendela lagi.
.
.
.
.
.
Bersambung...