
Melihat mobil Lamborghini Aventador S berwarna hitam milik Dev yang baru saja memasuki halaman Wilantara Group, para wartawan langsung mengerumuni mobil tersebut.
"Dev, ada apa ini? Kenapa banyak wartawan?"
"Tidak terjadi apa-apa. Kau tunggulah di sini, aku akan keluar sebentar untuk memastikannya." Dev tersenyum tenang, mengusap lembut puncak kepala Agya lalu mengecupnya singkat. Ia hendak membuka pintu mobilnya namun dering panggilan telpon menggagalkan niatnya.
"Nona Alenaa telah mengumumkan pada publik tentang hubungannya dengan tuan."
Glek
Dev terdiam sesaat, mencobanya mengendalikan amarahnya yang tiba-tiba membuncah. Sialan, Alenaa bergerak selangkah lebih cepat darinya.
"Sekarang opini publik berhasil digiring oleh nona Alenaa, banyak knetz yang memuji dan mendukungnya, tidak seperti dugaanku. Jika tuan tetap membawa nona Agya ke Wilantara Group sekarang, keselamatan nona Agya akan terancam begitu juga dengan reputasi tuan dan Wilantara Group. Tuan, publik sedang panas-panasnya sekarang, timeline yang tertulis di setiap portal berita benar-benar menggiring opini publik."
"Sial!" Dev menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi seraya mengusap kasar wajahnyanya.
"Dev, ada apa?" tanya Agya khawatir.
"Tidak apa-apa sayang." Dev tersenyum seraya mengusap kembali puncak kepala Agya, ia berusaha untuk terlihat tenang.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Dev, melanjutkan panggilan teleponnya.
"Masuklah ke dalam Wilantara Group, di luar sudah ada bodyguard yang akan mengawal tuan. Tinggalkan nona Agya di dalam mobil, jangan membawanya keluar."
"Kau gila?"
"Tuan, aku akan membawa nona Agya pergi setelah ini. Wajah nona Agya tidak boleh terjamah oleh publik. Keluarlah dengan hati-hati agar tidak seorangpun yang melihat tuan sedang bersama wanita di dalam mobil."
"Shittt, kenapa semuanya jadi serumit ini?!" dengus Dev dalam hati.
"Kau di mana? Kau harus ikut mengawalku. Aku tak akan menjawab satupun pertanyaan yang diajukan para wartawan itu apalagi mengkonfirmasi hubunganku."
"Saya berada di belakang mobil tuan." Dev segera menoleh, dan benar saja mobil yang di kemudi oleh sekertaris Kim terparkir di belakangnya.
"Aku akan keluar dalam 5 menit. Segeralah ke sini."
"Baik tuan."
Dev memutuskan sambungan teleponnya bersamaan dengan hembusan napas berat yang keluar dari mulutnya. Kini ia menoleh ke arah Agya, menatap wajah cemas istrinya itu dengan tatapan teduh.
"Sayang." belaian lembut dirasakan Agya di pipinya, wajahnya semakin cemas dengan sikap Dev yang seperti ini.
"Bisakah kau bekerja sama denganku?Tetaplah di dalam mobil dan jangan pernah keluar."
"Kenapa? Aku harus segera menemui ketua administrasi, Dev. Aku sudah sangat terlambat. Bagaimana jika--."
"Bisakah kau menurutiku sekali saja tanpa berceloteh seperti ini hm? Aku menyuruhmu untuk tetap tinggal di dalam mobil, jadi tetaplah di sini dan jangan memancing amarahku. Kau mengerti!"
Deg
Agya terdiam, mulutnya terkatup rapat kini. Dev baru saja membentaknya? Pria itu menunjukan sikap tempramennya lagi.
"Kemarikan ponselmu." Dev menyambar ponsel yang berada di tangan kiri Agya dengan kasar, ia tak ingin istrinya itu memegang ponsel dan melihat artikel yang berseliweran tentangnya hari ini, "Tunggulah di sini, sekertaris Kim akan membawamu pergi." ucapnya yang hanya di jawab anggukan oleh Agya.
"Kenapa Dev bersikap kasar seperti ini? Apa ada yang membuatnya marah? Sikapnya sangat menyakitiku."
Mata Agya terpejam bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari kelopak matanya. Ia tak tahu apa yang terjadi sebenarnya tapi bentakan Dev barusan benar-benar menyakitinya.
Dev keluar dari dalam mobil dengan kaca mata hitam yang membingkai di matanya, wajahnya terlihat begitu tenang.
"Silahkan tuan Dev." Sekertaris Kim memberikan jalan pada tuan mudanya begitu juga dengan para bodyguard yang segera menghalau wartawan yang mencoba mendekat ke arah Dev.
"Mr. Dev, apakah benar nona Alenaa adalah kekasih anda? Dia baru saja mengumumkan hubungan kalian."
"Sudah berapa lama tuan Dev menjalin hubungan dengan nona Alenaa?"
"Kabarnya anda dan nona Alenaa akan menikah dalam waktu dekat?"
Dev tak menjawab, pria itu tetap berjalan dengan kepala yang terangkat. Dibalik kaca mata hitamnya, terdapat tatapan mata yang sudah menajam, amarahnya berkobar.
"Tuan Dev, bisakah tuan menjawan kami dan mengkomfirmasi hubungan tuan?" pertanyaan terkahir yang keluar dari mulut seorang wartawan sebelum Dev masuk ke dalam Wilantara Group.
"Segera bawa Agya pergi dari sini." ucap Dev pelan pada sekertaris Kim seraya melepas kaca mata hitamnya. Kini tatapan mata elangnyanya terlihat sangat jelas.
"Honey, kau sudah tiba." Alenaa mengulaskan senyuman di bibir tipisnya, senyum yang terkesan mengejek. Buru-buru ia melangkah menghampiri Dev lalu memeluk tubuh pria itu hingga wartawan yang ada di luar gedung Wilantara Group langsung memotret pemandangan romantis itu. Mereka tampak memerhatikan gerak gerik Dev dan Alenaa dari kaca bening yang menjadi dinding gedung tersebut.
"Bagaimana dengan kejutanku sayang? Apa kau menyukainya? Ah, kau pasti sangat menyukainya." ucap Alenaa menatap wajah Dev.
"Kau!"
"Ssttt. Jangan marah sekarang, citramu akan terlihat buruk di mata publik." Tangan Alenaa bergerak mengusap dada bidang Dev.
Dev menepis tangan Alenaa lalu menarik wanita itu menuju lift dan membawanya ke ruang kerjanya. Meninggalkan tuan Alden dan tuan Andhito yang hendak mengajaknya berbicara.
"Aahhh." Alenaa menjerit saat Dev mendorong tubuhnya ke dalam lift dengan kasar.
"De-Dev apa yang kau lakukan?"
"Membunuhmu!" seru Dev meletakan kedua tangannya di leher Alenaa.
"Membunuhku? Hahaha, lakukanlah sayang. Apa kau tak melihat CCTV yang ada di sudut lift ini? CCTV ini terhubung dengan publik. Jika kau membunuhku sekarang, reputasimu akan hancur. Kau akan berakhir di penjara, dan oh wanita jalan* yang menjadi istrimu itu pasti akan menikah lagi bukan. Untuk apa menunggu pria yang mendekam di penjara selamanya."
"Kau benar-benar licik Alenaa."
"Apa kau baru tahu? Aku pikir kau sudah tahu sejak lama, sejak kau mencurigaiku tidur dengan banyak pria."
Rahang Dev mengeras, rasanya ia ingin membunuh wanita yang ada di hadapannya saat ini, namun tak ia lakukan.
"Hidupmu ada di tanganku sekarang, kau tak bisa berbuat apa-apa."
"Cihh. Aku akan menyebarkan semua video tentangmu."
"Silahkan jika kau ingin reputasimu ikut hancur." Alenaa tersenyum tipis, perlahan ia melepas cekalan tangan Dev dari lehernya, "Kenapa kau sudah sangat bodoh Dev? Kau tidak secerdas yang ku kira." ejeknya, "Jika kau menyebar video-video itu, kau juga yang akan kena imbasnya."
"Kekasih Deva Wilantara gemar meniduri banyak pria? Oh bukankah begitu tanggapan para waga net dan publik, namamu akan ikut tercemar. Sudah ku katakan jika hidupmu ada di tanganku, jadi jangan pernah bermain-main denganku sayang."
"Kau dan ayahmu sama-sama licik, seharunya kami tak berhubungan dengan kalian."
"Hahaha, sudah sangat terlambat untuk menyadarinya Dev sayang. Aku melakukan ini karena aku ingin mendapatkan hakku, mendapatkan pria yang aku cintai kembali."
Ting.
Pintu lift terbuka sontak Alenaa langsung membenamkan bibirnya di bibir Dev, meluma* bibir itu dengan rakus di hadapan para karyawan Wilantara Group.
Melihat kejadian itu, para karyawan yang bekerja di sana langsung tercengang, sebagian dari mereka mengabadikan momen itu dengan memotretnya.
"Alenaa." Dev menjauhkan tubuhnya, amarahnya semakin berkobar kini.
"Ada apa sayang? Bukankah kita sudah sering melakukan hal ini? Kenapa kau sangat terkejut? Lagian mereka sudah tahu jika kita telah bertunangan, dan sebentar lagi kita akan menjadi pasangan suami istri." ucap Alenaa tersenyum tipis.
"Wanita licik." Dev mengusap kasar bibirnya, lalu melangkah menuju ruang kerjanya dengan langkah panjang. Begitu juga dengan para karyawan yang langsung membubarkan diri mereka.
"Aku wanita yang sangat hebat dan cerdas. Semudah ini meruntuhkan kekuatan Deva Wilantara?" gumam Alenaa tersenyum tipis, "Kau sudah memotretnya? Segera sebar pada publik."
**
Ditempat yang berbeda, tampak seorang pria yang berdiri di dekat jendela apartemen dengan rahang yang mengeras, "Ancamannya semalam tak main-main, dia mengumumkan hubungannya dengan pria keparat itu? Dan apa ini mereka berciuman di depan banyak orang?"
"Ahh shitt!! Semua ini gara-gara Della. Kenapa wanita itu harus muncul di hadapan Alenaa dan mengatakan semuanyaa! Aku akan benar-benar membunuhnya." Jio menggertakan giginya dengan tangan yang menggepal penuh amarah hingga ponsel yang berada di genggamannya remuk tak beraturan.
.
.
.
.
Bersambung...
Oh Alenaaa