
"Apa semuanya sudah siap?" tanya Dev sesaat setelah sekertaris Kim menjawab panggilan telponnya.
"Sudah siap tuan. Beberapa pengawal sudah berjaga di sana sejak pagi tadi."
"Bagus. Bagaimana dengan tuan Robert?"
"Tuan Robert akan datang satu jam sebelum tuan Alden tiba."
"Baiklah. Jemput aku sekarang."
"Baik tuan." ucap sekertaris Kim sebelum Dev mengakhiri panggilan telponnya.
Kini Dev memandangi pantulan wajahnya pada cermin kaca yang ada di hadapannya. Kedua tangannya menggepal kuat hingga terlihat jelas buku-buku jarinya, namun tak dapat di pungkiri jika dari hati kecilnya tersirat ketakutan. Takut misi untuk menghancurkan tuan Alden yang akan ia jalani hari ini akan gagal.
"Kau sudah selesai bersiap-siap?" Dari arah pintu Agya berjalan masuk ke dalam kamar dengan senyum manis yang merekah di bibir tipisnya.
Dev memutar tubuhnya, "Ehm, seperti yang kau lihat." menunjukan tubuh kekarnya yang sudah terbalut pakaian serba hitam.
"Aku membuatkanmu susu hangat dan juga pancake."
"Apa ini akan menjadi hidangan terakhirku darimu?" Dev berjalan ke arah sofa, menghampiri Agya yang baru saja meletakan nampan berisi segelas susu dan juga pancake buatannya.
"Tentu saja tidak."
"Kau terlihat sangat bahagia pagi ini."
"Lalu aku harus terlihat seperti apa?" cetus Agya menatap Dev kini, "Bukankah aku harus berbahagia? Hari ini kau akan menjalankan misi terbesarmu. Aku yakin ini akan berhasil, aku yakin Tuan Alden akan merasakan hukuman terberatnya setelah bertahun-tahun pria itu menyandra keluargamu."
"Seyakin itu?" Dev menaikan salah satu alisnya, merasa aneh dengan Agya. Ia tak menyangka Agya akan setegar ini, oh apa wanita ini sedang berpura-pura terlihat tegar?
"Yaa." jawab Agya memalingkan pandangannya saat Dev mencoba menatapnya lebih dalam, "Kau terlalu banyak bicara. Ayo duduk dan makanlah, kau membutuhkan banyak energi untuk melawan tuan Alden."
Dev bergeming cukup lama, sebelum kemudian ia mendaratkan tubuhnya di sofa tepat di samping Agya. "Kau tak takut?"
"Takut? Untuk apa?"
"Kau tak takut jika rencana suamimu akan gagal."
"Hei dengarkan aku baik-baik." Agya kembali menatap Dev kini, lalu menangkup wajah prianya itu. "Suamiku seorang macan gila, dia seorang Deva Wilantara yang terkenal dengan kelihaiannya dalam segala hal, rencananya tak akan pernah gagal. Ehm, ya walau beberapa ada yang gagal namun kali ini aku sangat yakin dan percaya jika dia tak akan gagal lagi."
Seketika Dev langsung tersenyum, senyum yang nyaris tak terlihat, "Aku mencintaimu." ucapnya menarik wajah Agya dan mencium dan meluma* bibir ranum istrinya itu.
"Ehm.. Dev." Agya menjauhkan wajahnya lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. Sial, ia hampir kehilangan napasnya akibat ciuman ganas Dev.
"Aku mau makan sekarang. Sebentar lagi sekertaris Kim akan datang menjemputku." Seolah tak berdosa, Dev langsung meraih pancake yang tersaji di hadapannya.
"Ah, ya. Makanlah." ujar Agya merapikan rambutnya yang sedikit berantakan.
*
"Kau yakin semuanya sudah beres? Jam berapa tuan Alden akan ke gedung tua itu." tanya Dev pada sekertaris Kim yang baru saja tiba di apartemennya.
"Semuanya sudah beres tuan. Tuan Alden akan datang jam 2 siang nanti."
"Bagus. Tunggulah di luar, aku ingin berbicara sebentar dengan istriku."
"Baik tuan." Sekertaris Kim membungkuk singkat pada Dev dan juga Agya lalu melangkahh keluar dari apartemen tuannya tersebut.
"Kau tak ingin mengatakan sesuatu padaku?" tanya Dev menatap Agya serius.
"Ehm, aku? Apa yang harus aku katakan?"
"Shitt. Kau tak ingin mengatakan jika kau mencintaiku begitu? Atau memberiku satu kecupan hangat lagi agar aku bersemangat dalam menjalankan misiku? Aku menunggu itu dari tadi, tak peka sekali." Sungut Dev.
"Hehe. Haruskah aku melakukan itu?"
"Tentu saja."
"Baik-baiklah. Aku sangat mencintaimu Deva Wilantara, sekarang ataupun nanti aku akan selalu mencintaimu." ucap Agya membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Dev saat air matanya hendak terjatuh. Tidak, air matanya tak boleh terjatuh sekarang, kepura-puraannya akan sia-sia jika Dev melihatnya menangis. Sebenarnya ia sangat takut, ia takut rencana Dev gagal, takut Dev kenapa-napa, takut Dev terluka dan tak kembali lagi. Namun, ia harus berusaha untuk terlihat tegar di hadapan Dev bukan agar pria itu tak semakin terbebani dengan misinya.
"Aku juga sangat mencintaimu." Dev mengepratkan pelukannya, mengendus dan mengecup puncak kepala istrinya itu.
Diperlakukan seperti ini membuat air mata Agya tak terbendung lagi, buru-buru ia menyeka air matanya saat Dev melepas pelukannya dan menatapnya kini.
"Jangan memberitahu siapapun misi yang tengah ku jalani ini termaksud papa dan mamiku. Aku tak ingin mereka mencemaskanku."
"Aku tak akan memberitahu mereka."
"Anak pintar. Ah dan ingatlah satu hal, jika sampai jam 4 sore berita penangkapan tuan Alden tak muncul di media. Itu artinya aku kalah."
"Dev." Agya menggeleng, "Tidak, kau tak boleh kalah. Kau harus menemuiku di jam 4 nanti, kau harus pulang dalam keadaan baik-baik saja."
"Aku tak bisa berjanji. Aku tak tahu hari sialku, terjadi di hari apa saja, dan mungkin akan terjadi di hari ini."
"Dev sialan. Tak ada hari sial." cetus Agya kesal, memukul kuat dada bidang Dev hingga membuat pria itu menjerit, "Aku tak mau tahu, kau harus pulang dan menemuiku."
"I hope so too." ujarnya mengusap lembut puncak kepala Agya dengan kedua tangannya, "Aku berangkat sekarang. Jangan kemana-mana, okey."
Agya mengangguk seraya memejamkan matanya, merasakan kecupan hangat dipuncak kepalanya.
"Aku tak takut."
"Baiklah. Aku berangkat sekarang, jaga dirimu." ucap Dev, meraih topi dan juga memakai jaket kulit miliknya. Sebelum kemudian ia meraih tas besar berwarna hitam lalu pergi dari sana, namun saat hendak mencapai pintu, Agya tiba-tiba memanggilnya, wanita itu berlari ke arahnya, memeluknya cukup lama dan memberinya kecupan singkat di bibir tipisnya. Demi apapun, Dev merasa energinya semakin bertambah, ia berjanji akan menghancurkan tuan Alden dan kembali menemui Agya dalam kondisi baik.
***
Butuh waktu 2 jam Dev dan sekertaris Kim untuk sampai di Beltroom, gedung tua yang dijadikan sebagai tempat transaksi jual beli senjata Ilegal milik tuan Alden. Tempat kumuh yang berada di tengah hutan, sungguh tempat yang tak pernah terjamah oleh tangan manusia. Entah siapa yang membangun gedung itu, namun siapapun itu Dev ingin berterima kasih, mana tau gedung ini akan menjadi tempat bersejarah bagi Dev dan juga tuan Alden.
"Dimana tuan Robert?"
"Masih dalam perjalan ke sini." ucap sekertaris Kim mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Hah baiklah." Dev menghela napas singkat, memakai topengnya dan juga earphone di telinganya. Tak lupa ia meletakan senjata api di saku celana belakangnya.
"Aku tak ingin misi kita gagal."
"Kita tak akan gagal."
"Bagus. Aku akan masuk sekarang, kabari aku jika tuan Alden telah datang."
"Baik tuan." ucap sekertaris Kim, menatap kaca spion untuk memastikan Dev keluar dari dalam mobil. Sebelum kemudian, ia melajukan mobilnya ke arah semak belukar agar tak diketahui keberadaannya oleh tuan Alden.
Tak berselang lama, beberapa mobil sport berwarna hitam masuk ke pelantara gedung tua itu.
"Bersiaplah, tuan Alden telah berada di halaman Beltroom." ucap sekertaris Kim menekan earphonenya.
"Baik tuan Kim." jawab para pengawal yang tersebar di beberapa titik gedung tua itu.
"Tuan Dev. Tuan Alden sedang bergerak ke lantai 3, dia membawa 6 bodyguard."
"Baik, aku telah menunggu kedatangannya."
**
"Selamat datang Mr. Jack." sapa Dev pada tuan Alden yang baru saja masuk ke dalam sebuah ruangan bersama dua bodyguardnya, sedangkan bodyguard lainnya berjaga di luar. Mr. Jack merupakan nama samaran tuan Alden saat berinvestasi dalam bisnis ilegalnya.
"Mr. Grey." Tuan Alden tersenyum tipis, pandangan pria itu tampak mengedar ke sekelilingnya. Memastikan jika kliennya saat ini tak membawa pengawal.
"Senang bisa mengenalmu."
"Tak perlu berbasa basi Mr. Grey." ucap Tuan Alden meletakan koper berisi senjata api di atas meja yang berada di hadapan Dev.
"5 juta USD."
"5 juta? Bukankah ini terlalu murah?" ucapan Dev membuat Tuan Alden mengerutkan dahinya.
"Untuk senjata ilegal seperti ini, bukankah terlalu murah jika dihargai 5 juta USD tuan Alden yang terhormat."
"Shittt. Siapa kau?!" seru tuan Alden, pria itu tampak melangkah mundur.
"Aku?" Tak segan Dev melepas topengnya hingga kini wajahnya terlihat sangat jelas.
"Mr. Dev? Hahaha." Bukannya terkejut, tuan Alden malah menyambut Dev dengan tawa.
"Kau sangat hebat Mr. Dev, hingga aku tak bisa mengenalimu."
"Kau lebih hebat tuan Alden."
"Ya, aku memang hebat. Tangkap dia." pinta Tuan Alden pada pengawalnya.
"Shitt, jangan bergerak." Dev menarik pistolnya dari sakunya, dan langsung mengarahkan ke kepala tuan Alden saat kedua pengawal tuan Alden hendak melangkah ke arahnya.
"Mundur, jika kalian tak ingin tuan kalian mati di tanganku." gertak Dev, namun keenam pengawal tuan Alden malah ikut menyodorkan pistol mereka ke arah Dev.
"Hahaha. Kau mengancamku?" Lagi tuan Alden kembali tertawa. "Lenyapkam diaa."
Plak, duar...
"Ah." Dev meringis dengan kedua bola mata yang membulat. Ia memegangi perutnya yang menyemburkan darah segar, kini ia merasakan rasa sakit dan nyeri di sisi perutnya.
"Gyaahhh." Dev bergumam sebelum tubuhnya terjatuh di atas lantai.
"Tuan Robert." Tuan Alden yang menyadari jika sura tembakan di tubuh bukan berasal dari pistol keenam bodyguardnya segera menoleh ke belakangnya dan betapa terkejutnya ia saat melihat Robert Huen, kepala Marinir yang sangat disegani di kota Seoul.
"Aku datang untuk menolongmu." ucap tuan Robert tersenyum. Seketika Tuan Alden ikut tersenyum, guratan terkejutnya perlahan menghilang dari wajahnya.
.
.
.
.
Bersambung.....