Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Salah paham



Setibanya di acara pernikahan kakaknya Darrel yang diadakan di salah satu hotel bintang 5 di pusat kota Seoul. Agya hanya dianggap sebagai patung bernyawa, bahkan sangat dikucilkan di sana karena tidak ada satupun yang mengenalnya kecuali Darrel. Namun pria itu baru saja meninggalkannya karena harus menjemput adiknya di rumah.


Semakin berjalannya waktu, acara pernikahan tersebut semakin ramai. Banyak artis-artis papan atas dan para CEO dari perusahaan-perusahaan ternama yang berdatangan. Kedatangan orang-orang penting itu membuat Agya berpindah dari posisinya, ia memilih untuk berdiri di sudut Aula hotel itu.


Dentuman musik, dan keramaian yang tercipta di sana membuat Agya merasa tidak nyaman dan tidak betah berada di sana, apalagi setelah melihat seorang pria yang menatapnya dengan tatapan maniak.


"Darrel, kau di mana?" gumam Agya, meremas baju yang dipakainya, tangannya terasa dingin dan berkeringat, benar-benar ketakutan sekaligus merasa risih dengan tatapan pria yang tidak dikenalinya itu.


"Hai, aku baru melihatmu. Apa kau dari keluarga pengantin pria?" tanya pria tersebut, pria yang memiliki tubuh sekitar 180an centi meter, tubuhnya terlihat tegap dan berisi, memiliki brewok yang cukup panjang dan lebat hingga membuat Agya ketakutan melihatnya.


"Aku Karen, tapi kau bisa memanggilku Honey, kau terlihat sangat cantik sekali." ujar pria tersebut tersenyum tipis.


"Siapa namamu gadis cantik? Apa aku boleh memanggilmu dengan panggilan Baby?" Demi apapun, bulu kuduk Agya langsung merinding setelah mendengar ucapan pria itu. Pria yang mencoba menggodanya.


"Darrel kau di mana? Akuu takut." batin Agya, rasanya ia ingin menangis, tidak ada seorangpun yang ia kenal untuk meminta bantuan agar dijauhkan dari pria yang saat ini tengah menatapnya dengan tatapan penuh dambah.


"Apa kau ingin minum anggur? Aku akan mengambilkannya untukmu, tapi di sini bukanlah tempat yang bagus. Bagaimana jika kita ke kamarku? Kamar nomor 110 yang berada di lantai ini. Mari kita abiskan malam bersama." Bisiknya tepat di dekat telinga Agya, aroma tubuh wanita itu membuatnya ingin menerkamnya saat itu juga, namun ia sadar sedang berada di keramaian.


Hembusan napas pria itu yang mengenai telinga dan wajah Agya, membuat tubuhnya meremang, sontak ia langsung mendendang ************ pria itu dan berlari dari sana.


"Aghgtt shiittt." umpat pria tersebut memegangi titik kelemahannya yang terasa sakit. Matanya menatap punggung belakang Agya yang berlari keluar dari Aula hotel itu.


"Kau mau lari kemana gadis cantik, aku tidak akan melepaskanmu sebelum kau menjawab rasa penasaranku terhadap tubuhmu." gumam pria itu, ikut melangkah kakinya keluar dari Aula untuk mengejar Agya. Wanita yang telah menarik perhatiannya sejak pertama kali ia melihatnya.


"Derrel tolong akuu." Agya terus berlari menyusuri lorong yang berada di hotel tersebut seraya menyeka air matanya. Ia benar-benar sangat ketakutan.


"Jangan larii gadis cantik." Tedengar suara pria itu menggema di lorong hotel tersebut hingga membuat Agya tertegun, matanya mengedar ke sekelilingnya, mencari tempat persembunyian.


*


"Dellaa, aku takutt. Aku menyesal datang ke sini." gumam Agya, bersembunyi di bawah meja yang berada di salah satu kamar hotel tersebut. Entah kamar miliki siapa yang pintunya tidak tertutup rapat dan menyisahkan cela hingga Agya bisa masuk ke dalam dan bersembunyi di kamar itu.


Tubuh Agya gemetar hebat, peluh di dahinya terus bercucuran. Wanita itu memeluk erat kedua lututnya, bibirnya tidak berhenti bergumam, meminta dan berharap pria maniak itu tidak menemukannya di sana.


Ceklek, suara handle pintu yang tengah diputar membuat Agya semakin ketakutan, pikirannya mulai menerka-nerka, ia takut jika yang membuka pintu itu adalah pria maniak yang mengajaknya tidur tadi.


Agya terhenyak bersamaan dengan matanya yang membulat, "A-apa kamar ini adalah kamar bernomor 110?" gumamnya menutup kedua mulutnya, samar-samar ia mendengar suara dua orang pria yang tengah bercakap-cakap di depan pintu kamar tersebut.


Mata Agya kembali membulat dengan sangat lebar, melihat sepasang kaki tengah masuk ke dalam kamar tersebut.


"Tuhaan tolong selamatkan aku." Agya terus berdoa, ketakutan semakin memenuhi wajahnya, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.


"Ahhh shiittt. Bajuku jadi kotor seperti ini." ucap pemilik sepasang kaki itu. Melepas jas dan juga kemeja yang di pakainya.


"Tuhaann." Tubuh Agya semakin gemetar melihat pria yang ia sangka sebagai pria maniak itu tengah melepas pakaiannya hingga menampakan dada bidang dan juga perut sixpacknya, namun ia tidak melihat wajahnya, karena terhalang oleh meja. "A-apa dia sudah mengetahui keberadaanku?" gumam Agya menelan salivanya seraya memejamkan matanya, menundukan kepalanya di antara kedua lututnya, saat menyadari pria tersebut tengah melangkah ke arahnya.


"Aaa, maafkan akuu. Ku mohon lepaskan akuu." ucap Agya terhenyak, kepalanya semakin tertunduk dalam tatkala pria itu memindahkan meja yang dipakainya untuk bersembunyi.


"Siapa kau?! Kenapa kau bisa berada di dalam kamarku?!" seru pria itu. Tatapan matanya menghunus tajam ke arah wanita yang tiba-tiba berada di kamar hotel yang disediakan untuknya.


Agya mengangkat kepalanya, matanya langsung membola bahkan hampir lepas dari tempatnya saat melihat siapa yang ada di hadapannya saat ini.


"Kau!!" Kedua bola mata Dev memelotot tajam, menyadari wanita yang berada di kamarnya saat ini adalah wanita yang menendangnya di bandara beberapa hari yang lalu.


"Apa yang kau lakukan di kamarku? Kenapa kau bisa masuk ke dalam kamarku? Apa kau masuk dengan sembunyi-sembunyi untuk menggodaku?" cetusnya.


"Tidak." Agya beranjak berdiri, "A-aku tidak berniat menggodamu. A-aku tidak tahu jika kamar ini adalah kamarmu. Maafkan aku!" ucapnya memelaskan wajahnya.


"Cuihhh." Dev menyunggingnya senyuman tipis yang menakutkan, "Kau tidak tahu jika ini kamarku? Mana mungkin, apa kau tidak melihat papan namaku yang tertera dengan lebarnya di pintu itu?" serunya.


"Ah, apa kau seorang wanita penggoda? Kau dibayar oleh siapa untuk menggodaku? Aku pikir kau wanita polos, tapi ternyata kau tidak lebih dari seorang wanita penggoda." Senyum sinis di bibir Dev semakin mengembang lebar, menatap Agya dengan tatapan tak terbaca.


"Aku bukan wanita penggoda!" seru Agya tidak terima dengan ucapan Dev barusan. Ucapan yang sangat merendahkan dan menjatuhkan harga dirinya.


"Benarkah?" Dev melangkah mendekat, menghimpit dan mengunci tubuh wanita itu pada dinding, hingga membuat Agya tak berkutik, hanya air mata saja yang mewakili rasa takut, kecewa, dan sakitnya.


"Kau pikir aku percaya dengan ucapan dari wanita sepertimu? Sudah banyak wanita yang datang menggodaku dan berucap sepertimu. Aku yakin kau bagian dari mereka." ucap Dev, senyuman tipis yang sangat sinis masih merekah di bibirnya.


"Aku bukan wanita penggoda!! Lepaskan aku!" seru Agya, berusaha melepaskan tubuhnya dari kekangan Dev, namun pria itu malah semakin menghimpit tubuh Agya. Matanya menatap lekat mata senduh wanita itu. Hingga tanpa sadar, Dev membenamkan bibirnya ke bibir wanita itu, meluma*nya dengan lembut. Ciuman lembut yang membuat Agya terbuai, hingga ikut menikmatinya. Namun sejurus kemudian akal sehatnya kembali, ia mendorong tubuh tegap Dev dengan sisa-sisa tenaganya.


"Apa kau sudah gila? Kau berani menciumku." Ketusnya dengan napas yang tersengal-sengal, bersamaan dengan air matanya yang menetes, tidak menyangkah ciuman pertamanya akan direnggut oleh pria asing yang tidak dikenalinya.


"Pria brengsek!" Agya hendak berlalu keluar dari sana namun Dev langsung menarik lengannya.


"Jangan pergi dulu. Maafkan aku, aku tidak sengaja melakukannya." ujar Dev.


"Tidak sengaja?!" Agya tersenyum sinis seraya menyeka air matanya dengan kasar, "Aku tidak menyangkah pria terhormat sepertimu bisa melakukan hal serendah ini. Kau sama saja dengan pria lain di luar sana." cetusnya, berlalu keluar dari kamar Dev.


"Tunggu." Dev ikut keluar dari kamar untuk mengejar Agya, tidak perduli dengan kondisi tubuhnya yang setengah telanjang.


"Tuan Dev." Sekertaris Kim tertegun, sangat terkejut melihat Agya keluar dari kamar Dev dalam kadaan menangis bahkan sangat terkejut lagi melihat tuan mudanya itu bertelanjang dada.


"Sekertaris Kim, kejar wanita itu. Dia telah salah paham padaku." ujarnya.


"Salah paham? Apa yang terjadi di dalam sana tuan? Kenapa wanita itu tiba-tiba berada di kamar tuan muda?"


"Aku tidak tahu. Ahh shitt." dengus Dev mengusap kasar wajahnya. Lalu ia kembali masuk ke dalam kamarnya sebelum ada yang melihatnya di sana. Namun sudah sangat terlambat karena seseorang telah berhasil memotretnya keluar dari dalam kamar hotel bersama seorang wanita, dengan kondisi tubuh yang bertelanjang dada.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Kisah Agyaa dan Mr.Dev kembali update ya kak Readersss. Selamat membacaa. Have fun kakss ❤❤