Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Rencana tuan Andhito



"Agghtttt."


Brakk


Barang-barang yang semula tertata rapi di atas meja kerja kini jatuh berhamburan di lantai, vas bunga berbahan keramikpun tak luput dari amarah Dev. Pria itu mengusap wajahnya, menarik rambutnya ke belakang dengan kasar, ia tak tahu harus berbuat apa sekarang, semuanya berjalan begitu cepat, ia tak tahu Alenaa dan orang tuanya akan melakukan rencana selicik ini dan dirinya tak pernah mengantisipasinya.


"Sialan kau Alenaaa." lagi Dev kembali berteriak seraya menggeprak meja, wajahnya memerah bak kobaran api yang siap membakar siapapun.


"Dev." suara yang tak asing di pendengaran Dev membuat pria itu menoleh ke arah pintu ruang kerjanya yang tak tertutup.


"Apa yang kau lakukan di sini?" seru Dev tatkala melihat papanya yang bergerak mendekat ke arahnya, terlihat sangat jelas rahangnya mengeras, rasanya ia ingin membunuh papanya yang juga ikut andil dalam kekacauan pada publik pagi ini.


"Papa ingin berbicara denganmu nak."


"Berbicara? Untuk apa lagi? Semuanya sudah sangat jelas. Kau pria egois dan keras kepala, kau tak berubah."


"Papa terpaksa melakukan semua ini. Papa mengerti perasaanmu."


"Tahu apa kau tentang perasaan ha?!" cetus Dev dengan tatapan tak ramah, amarahnya semakin tak terkendali, "Tidak seharunya aku percaya dengan sikapmu semalam, kau benar-benar seekor bunglon, kau berhasil mengelabuiku dengan sikap ramahmu."


"Dev, dengarkan papa dulu."


"Untuk apa Pa?! Semuanya sudah terjadi, tak ada yang perlu dijelaskan, hatiku terluka Pa. Hari ini aku baru akan memberitahu publik tentang Agya, aku ingin publik tahu jika Agya adalah istriku, wanitaku, satu-satunya wanita yang aku cintai di dunia ini. Tapi apa yang terjadi pagi ini? Alenaa mendahuluiku, dan Papa orang pertama yang mendukungnya. Aku benar-benar kecewa pada Papa."


Dev menghela napasnya seraya mengerjab-ngerjabkan matanya, mencoba untuk menghalau cairan bening yang hendak jatuh dari kedua pelupuk matanya. Hatinya sungguh sakit, lalu bagaimana dengan Agya? Wanita itu pasti akan jauh lebih sakit jika mengetahui kabar buruk tentang Alenaa yang berhasil mengganti posisinya.


Oh mungkin sekarang Agya belum tahu apa yang terjadi pagi ini karena wanita itu tak memegang ponselnya, tapi bagaimana jika dia melihat kabar buruk ini melalui media lain?


"Tuan Alden mengancam Papa, dia memiliki rekaman CCTV kekerasan Mamimu terhadap Alenaa saat di rumah sakit."


Glek.


Kekerasan? Kekerasan apa? Oh astaga, Dev mengingatnya kini, ia telah membuat kesalahan fatal lagi. Rekaman CCTV di depan ruang rawat Papanya tak sempat ia hapus.


"Tuan Alden mengancam Papa akan menuntut Mamimu dan memenjarakannya jika kau tak kembali pada Alenaa. Papa tak memiliki pilihan lain nak, jika Papa tak menuruti keinginan tuan Alden, Mamimu akan mendekam di penjara dan Papa juga masih membutuhkan tuan Alden untuk pemilihanmu sebagai presidir."


"Masih saja? Aku tak membutuhkan posisi itu Pa, aku tak ingin menjadi seorang presidir jika kehidupanku selalu terusik! Aku ingin hidup dengan nyaman bersama istriku, membuatnya bahagia dengan kehadiran anak-anakku. Aku ingin merasakan kebahagiaan itu Pa, tapi semuanya hanyalah hayalanku, hidupku selalu terusik karena keegoisan Papa. Kenapa harus aku pa? Papa masih memiliki anak lain, dia putra sulung Papa. Bukankah dia yang seharusnya mengganti posisi Papa?"


"Daven? Dia bukan anak kandung Papa, dia anak kecil yang papa ambil dari panti asuhan."


Jleb.


Dev tertegun, perhatiannya terpusat ke arah papanya kini.


"Papa membesarkannya dengan penuh kasih sayang, papa bahkan tak pernah membeda-bedakannya denganmu. Memberinya fasilitas yang mewah untuk kehidupannya, tapi balasan apa yang papa terima? Dia menghancurkan Wilantara Group yang Papa dan kakekmu bangun dengan susah payah. Dia lebih memilih wanita itu dari pada Papa. Dan sekarang? Dengan tak tahu malunya, dia menerima tawaran pamanmu untuk menjadi seorang presidir di Wilantara Group." Tuan Andhito tersenyum miring, ia yakin Kim dan Daven sedang berupaya untuk mengambil alih Wilantara Group dari tangannya.


Dev terdiam dengan mulut yang menganga lebar, ia sangat terkejut dengan kebenaran ini.


"Kita tak memiliki pilihan lain nak, kita harus mengorbankan beberapa orang termaksud Agya untuk mempertahankanmu sebagai calon presidir dan untuk menyelamatkan Mamimu."


"Apa papa sudah gila? Agya istriku, kenapa harus dia yang dijadikan tumbal dalam politik kotormu?!"


"Kau masih terlalu polos nak." tuan Andhito membenarkan jas yang dipakai Dev lalu menepuk kedua pundak anaknya tersebut.


"Lakukan saja apa yang papa rencanakan. Semuanya akan berjalan dengan baik, kau dan Agya akan hidup bahagia setelah kau diangkat menjadi presidir."


"Apa maksud papa?"


"Temui papa di rumah setelah pekerjaan kantormu selesai. Di sini begitu banyak mata-mata, tak ada yang bisa dipercaya selain dirimu sendiri." ujar tuan Andhito kembali menepuk bahu Dev sebelum kemudian ia meninggalkan ruang kerja anak bungsunya tersebut.


"Apa yang direncanakan papa?"


***


Beberapa jam berlalu, hari sudah terlihat begitu gelap, beberapa cahaya redup lampu tamara telah memenuhi trotoar ikut menyaksikan laju mobil yang tengah dikemudi oleh Dev dengan kecepatan tinggi menuju apartemennya. Pria itu terlihat memijat-mijat kepalanya dengan tangan kirinya, pikirannya benar-benar kacau, ia merasa papanya adalah pria tak berperasaan. Bagaimana bisa ia menyusun rencana buruk itu? Menyuruhnya untuk meninggalkan Agya walaupun hanya sementara waktu? Apa papanya tidak tahu akan segila apa Dev tanpa wanitanya. Apa papanya tidak tahu jika dirinya tidak bisa jauh dari Agya walaupun sedetik saja? Dan sekarang, papanya menyuruhnya untuk meninggalkan Agya dan melarangnya bertemu untuk beberapa bulan kedepan sampai dirinya dilantik menjadi presidir Wilantara Group.


"Shitt." Dev memukul kemudinya lalu menepikan mobilnya di tepi jalan. Cobaan berat apalagi yang dihadapinya sekarang? Ia dan Agya baru saja merasakan cinta yang sesungguhnya namun mereka harus berpisah karena keadaan.


Sungguh Dev tak bisa melakukan apapun, tubuhnya seakan lumpuh pun otaknya yang ia rasa tak berfungsi dengan baik. Ia kehabisan ide untuk mengatasi masalah ini, dan mungkin ia akan mengikuti rencana papanya? Entahlah, ia tak ingin memikirkan itu sekarang.


Dev kembali memacu mobilnya, ia ingin segera pulang dan memeluk istrinya sepanjang malam. Ah apa yang dilakukan wanita itu sekarang? Apa dia sudah melihat berita trending hari ini? Apakah dia sedang menangis di atas kasur dengan tubuh yang ditutupi selimut karena melihat berita buruk itu?


"Cari tahu tentang rekaman CCTV yang ada di tangan tuan Alden." ucap Dev saat panggilan teleponnya terhubung dengan seseorang yang tak lain ada sekertaris Kim.


"Rekaman CCTV?"


"Yaa, rakaman CCTV saat Mamiku mencekik Alenaa di rumah sakit beberapa waktu lalu."


"Saya sudah menghapusnya di hari itu, tuan."


"Sial, apa ada yang mengambil rekaman CCTV itu sebelum aku menghapusnya?" batin sekertaris Kim.


"Baik tuan saya akan mencari tahu rekaman CCTV itu."


"Bagaimana dengan Agya? Apa kau mengantarnya pulang dengan baik? Apa dia telah melihat berita tentangku hari ini?"


"Saya rasa nona Agya sudah tahu tuan, dia tampak terdiam sepanjang jalan saat saya mengantarnya pulang."


"Shittt. Apa kau yakin sekertaris Kim? Lalu apa yang dilakukan istriku sekarang?


"Yakin tuan. Ehm, nona Agya belum keluar kamar sejak pagi." ucap sekertaris Kim, memerhatikan komputer yang menayangkan hasil rekaman CCTV yang berada di depan kamar tuannya.


"Tak keluar kamar?"


Tut.. tut.. tut..


Dev langsung memutuskan sambungan teleponnya, dengan sangat tergesah-gesah ia keluar dari dalam mobilnya yang sudah terparkir di basement sejak beberapa menit yang lalu.


Setibanya di dalam lift, Dev segera menekan tombol 22 untuk sampai di unit apartemennya. Jantungnya berdebar tidak karuan, ia takut mendapati Agya menangis di dalam sana, sungguh ia tak sanggup jika melihat Agya menangis lagi karenanya. Atau wanita itu mungkin telah jatuh pingsan karena seharian menangis? Tidak! Dev menghapus pikiran buruknya, ia segera melangkah ke dalam apartemennya tatkala pintu lift yang terhubung langsung ke apartemennya terbuka. Lift yang jarang sekali ia gunakan selain dalam keadaan darurat.


Dev hendak melangkah menuju kamarnya namun suara kebisingan yang bersumber dari dapur mengalihkan perhatian pria itu.


"Sayang kau sudah pulang." Dev terpaku, wajahnya tampak tercengang. Istrinya menyambutnya dengan wajah ceria? Sungguh diluar dugaan.


"Ehm, seperti yang kau lihat." ucapnya tersenyum, sebelum kemudian ia meletakan jasnya di atas meja makan lalu melangkah menghampiri Agya dan langsung mendekap tubuh mungil istrinya itu dengan sangat erat.


"Kau tidak sedih atau marah?"


"Marah? Untuk apa?"


"Kau pasti sudah melihat berita tentangku hari ini."


"Eum ya, aku sudah melihatnya."


"Dan kau tak marah?" Agya menggeleng, "Aku tak berhak marah, aku percaya padamu Dev. Aku yakin semua ini terjadi diluar rencanamu, aku hanya tak habis pikir dengan sikap licik Alenaa dan keganjenannya."


"Kau melihat fot--."


"Yaa, aku sudah melihatnya. Dia mencium bibirmu, sebenarnya aku sangat cemburu." Wajah Agya langsung tertekuk, tangannya bergerak mengusap bibir tipis suaminya.


"Aku sudah membersihkan bibirku."


"Kau yakin? Aku rasa belum sepenuhnya bersih." Agya kembali mengusap bibir Dev sebelum kemudian ia berjinjit dan membenamkan bibirnya di bibir Dev. Meluma* bibir suaminya itu dengan begitu posesif, menghapus jejak ciuman wanita tak tau malu itu.


Sementara Dev, ia tampak terkejut dengan serangan mendadak yang diberikan Agya padanya. Namun, ia membiarkan bibirnya diluma* habis-habisan oleh istrinya itu. Oh betapa menggemaskannya wanita mungil ini, dia berubah menjadi rubah kelaparan karena terbakar api cemburu.


"Agyaa. Masakanmu."


"Astaga." Agya melepas tautan bibirnya, kini aroma gosong yang bersumber dari atas kompor menyeruak di indera penciumannya.


"Ahhh, gosong. Semua ini gara-gara kau, jika saja kau tak menggodaku." gerutunya segera mematikan kompornya dan menatap nanar sup rumput laut yang sudah sangat kering dan menghitam.


"Jadi aku yang salah?" Dev tersenyum tipis seraya berjalan mendekat ke arah Agya lalu memeluk istrinya itu dari belakang. Mengecup ceruk lehernya dan membenmakan kepalanya di sana.


"Aku mencintaimu." gumamnya pelan.


"Yaa, aku tahu. Tapi kata-kata itu tak akan membuat kita kenyang. Aku membuat sup rumput laut kesukaanmu, tapi jadi gosong seperti ini." Agya memutar tubunya, kini mereka saling berhadapan.


"Kenapa kau sedih hm? Kita akan memesan makanan dari luar. Kau tak perlu menghabiskan banyak waktu untuk memasak seperti ini, kau hanya perlu menghabiskan semua waktumu untukku." Setelah mengucapkan kalimat itu, Dev langsung terdiam, tiba-tiba dadanya terasa sesak, mengingat kembali rencana papanya.


"Ehm, baiklah. Aku tak keberatan, aku akan menghabiskan semua waktuku untukmu." ucap Agya mengukirkan senyuman di bibirnya, senyuman yang membuat Dev semakin sesak.


"Aku ingin memelukmu lagi."


"Kemarilah." Agya kembali merentangkan kedua tangannya lalu menyambut Dev ke dalam pelukannya. Ia tahu suaminya sedang menghadapi masalah yang sangat besar, memberinya pelukan hangat seperti ini mungkin bisa menenangkannya. Semoga saja.


.


.


.


.


Bersambung...