Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Ingin pulang



Dev tak main-main dengan segala usahanya untuk menyembuhkan Agya dari penyakitnya.


Setelah berdiskusi panjang dengan orang tua Agya dan juga orang tuanya. Kedua keluarga tersebut memutuskan untuk melakukan tindakan transplantasi sumsum tulang belakang dan tuan Darwin sebagai pendonornya.


Tak hanya itu, Dev dan keluarganya juga membawa Agya ke rumah sakit terbaik di dunia, rumah sakit yang terletak di Rochester, Amerika Serikat.


Namun, setibanya di sana. Agya tak langsung menerima tindakan transplantasi sumsum tulang belakang karena banyak prosedur yang harus dilalui Agya, salah satunya perbaikan kondisi wanita itu.


Sampai saat ini Agya masih belum siuman. Padahal sudah hampir satu bulan mereka berada di Amerika. Frustasi? Yaa, tentu saja Dev sangat frustasi, setiap hari bahkan setiap detiknya ia terus menunggu istrinya itu siuman.


"Apa kau tak merindukanku?" Dev mengenggam tangan Agya, mengecup tangan wanita itu hingga tanpa sadar air matanya kembali menetes.


"Kau bahkan belum melihat wajah anak-anak kita. Mereka sangat menggemaskan sepertimu, tapi takkala tampan dariku." seperti biasa Dev akan memuji dirinya, yaa walaupun suasana sedih masih melingkupinya.


"Bangunlah sayang. Apa kau tak lelah berada di kasur sempit ini? Kau tahu, kita sedang berada di Amerika, kita bisa jalan-jalan kemanapun kau mau. Ke New Nork? Berpesta di Las Vegas? Sayang, aku akan menuruti semua keinginanmu. Ku mohon bangunlah. Kau akan segera sembuh." ujar Dev, menggerakan tangannya untuk mengusap wajah Agya yang begitu teduh.


Dan hari itu dilalui dengan sangat berat oleh Dev, tak ada sedikit tanda-tanda Agya akan siuman.


***


Pagi menyambut, suara kicauan burung dan terik matahati pagi perlahan menelisik masuk melalui sela-sela jendela yang tak tertutup rapat.


Terlihat Dev yang tengah tertidur pulas di kursi yang berada di samping ranjang Agya, genggaman tangannya tak sedikitpun terlepas dari tangan Agya.


"Eum." Dev bergumam, merasakan sentuhan lembut di puncak kepalanya, turun ke pipi dan sekarang di bibirnya.


Merasa terganggu, Dev langsung membuka kedua bola matanya seraya menangkap tangan nakal yang sedari tadi menggelitik di wajahnya.


"Dev." seulas senyuman hangat menyambutnya kini, namun Dev tak menunjukan reaksi apapun. Tatapan matanya terlihat begitu dalam dan menelisik manik mata coklat milik Agya.


"Dev." Sekali lagi, Agya membuka mulutnya seraya mengukirkan senyuman hangat di bibirnya.


"Sayang. Ka-kau sudah siuman?" Dev yang terkejut langsung beranjak dari duduknya, ia mencoba memejamkan matanya, takut jika apa yang dilihatnya saat ini hanyalah mimpi.


"Dev--, kau tak mau memelukku?" bibir kering Agya mengerucut, menatap kesal Dev yang masih mematung di tempatnya.


"Tu-tunggu sebentar. Aku akan memanggilkan dokter untukmu." Tak ada yang menyuruhnya memanggil dokter, pria itu langsung berlari keluar untuk mencari dokter sekaligus memberitahu keluarganya jika Agya telah siuman.


Sementara Agya, ia kembali memejamkan matanya, kepalanya terasa berat dan berkabut. Pun tangannya yang bergerak mengusap perutnya, namun betapa terkejutnya dirinya saat merasakan perutnya yang sudah rata.


"Bayiku? Di mana bayiku?" Agya beranjak dari tidurnya, seraya meraba-raba perutnya. Pikiran negatif kini memenuhi kepalanya. "Dimana bayiku? Apa mereka menggugurkan bayiku? Dev----." teriaknya histeris.


Tak berselang lama Dev kembali diikuti oleh dokter Axel dan tuan Darwin di belakangnya. Ketiga pria itu sangat terkejut mendapati Agya yang menangis di atas ranjang.


"Sayang ada apa?" Dev segera mendekati Agya, memeluk wanitanya itu dengan raut wajah yang begitu panik. "Apa ada yang sakit? Dimana sayang?"


Agya menggeleng, "Dev, di-dimana bayiku? Kenapa mereka tak ada lagi di perutku. Aapa kalian mengugurkannya setelah tahu penyakitku?"


"Sayang." Dev melepas pelukannya, menangkup wajah Agya kini. "Bayi kita sudah lahir. Mereka menunggumu di rumah mama."


"Su-sudah lahir?"


"Iyaa sayang." kali ini tuan Darwin yang menjawab, pria paru baya itu melangkah menghampiri Agya.


"Aku mau melihat mereka."


"Kau akan melihatnya nanti setelah dokter Axel memeriksamu."


Agya mengangguk penuh semangat. Sudah tak sabar untuk melihat dua bayinya. Ah bagaimana ia tak tahu jika dirinya sudah melahirkan, apa dirinya sudah begitu lama tertidur hingga tak merasakan apapun?


Namun hal itu tak masalah, beberapa obat diberikan kepada Agya untuk mengurangi gejala yang akan timbul karena penyakitnya.


"Sejak kapan kita berada di sini? Apa aku tidur begitu lama?" Agya menanyakan apa yang sedari tadi menganggu pikirannya.


"Kau bahkan hampir tiada sayang." Ingin sekali Dev mengatakan hal itu tapi tak ia lakukan.


"Sebulan yang lalu, tepatnya setelah kau melahirkan. Setelah itu kau tidur begitu panjang dan membuatku hampir gila karena menunggumu."


"Satu bulan? Kenapa kalian tak membangunkanku?"


Oh pertanyaan apa ini, rasanya Dev ingin menyentil dahi istrinya itu. Ia merasa begitu gemas dengan pertanyaan Agya yang tidak masuk akal.


Kini wajah kedua bayi Agya dan Dev memenuhi layar ponsel yang berada di tangan Agya, mata wanita itu langsung berkaca-kaca melihat kedua bayinya yang sudah sebesar ini? Tak menyangka jika dirinya akan berhasil melahirkan kedua bayinya dengan selamat.



"Kyara dan Kairen." ucap Dev memberitahu nama dua bayinya seraya mengusap lembut puncak kepala Agya.


"Nama yang bagus. Mereka sangat menggemaskan, aku ingin segera pulang untuk memeluk dan menggendong mereka."


"Kita akan pulang setelah kau sembuh."


Agya mengangguk, "Apa aku masih bisa sembuh Dev?"


"Tentu saja, minggu depan jadwal transplantasi sumsum tulang belakang untukmu. Kemarin, papamu sudah diperiksa dan sumsum tulang belakangnya sangat cocok denganmu."


"Benarkah?"


"Hm, kau harus makan, tidur, dan beristirahat dengan teratur agar kondisi tubuhmu segera pulih."


"Aku akan melakukan semua itu dengan baik."


"Apa tak ada lagi selain itu?" tanya Agya lagi.


"Ada."


"Apa?"


"Kau harus mengecup bibirku setiap saat."


"Selalu saja menggombal."


"Aku sungguh-sungguh."


"Baiklah, itu pekerjaan mudah. Seperti ini bukan." Agya mendaratkan kecupan singkat di bibir Dev seraya tersenyum.


"Aku sangat mencintaimu Gyaa."


"Aku juga sangat mencintai Deva Wilantara."


.


.


.


Bersambungg...