
Hampir delapan jam Agya menempuh perjalan udara, akhirnya ia sampai juga di Bandara Internasional yang berada di Jakarta. Terlihat langit yang sudah berwarna biru kehitaman, banyak bintang-bintang kecil yang bertebaran di atas sana, ditambah dengan bulan sabit yang memancarkan cahayanya, menggoda orang-orang untuk memandanginya.
Agya menghela napas panjang seraya merenggangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Memandang ke sekelilingnya yang terlihat begitu ramai.
"Silahkan masuk nona Agya." ujar sekertaris Kim, membukakan pintu mobil untuk calon nona mudanya tersebut.
"Terima kasih." Bibir Agya mengulaskan senyuman hangat, namun tidak dengan sekertaris Kim yang tetap memasang raut wajah datar khas miliknya.
Setelah memastikan Agya masuk ke dalam mobil, sekertaris Kim ikut masuk ke dalam mobil itu juga namun duduk di samping kursi kemudi.
Agya melempar pandangannya keluar jendela, tiba-tiba ia merasa sesak dan sedih. Mengingat kepulangannya di tanah kelahirannya itu bukan untuk berlibur, bertemu orang tuanya dan melepas rindu, tetapi untuk bertemu dengan pria yang akan menikahinya, pria yang sama sekali tidak ia cintai.
Terpaksa menikah untuk menebus hutangnya, rela membohongi kedua orang tuanya dan tetap memilih untuk merahasiakan masalah yang dihadapinya saat ini. Padahal jika ia meminta uang pada papanya untuk menebus hutangnya sebanyak 189 juta won atau setara dengan 2 miliar rupiah lebih, tentu saja papanya akan bisa membayarnya. Namun yang menjadi permasalahan Agya saat ini, bagaimana caranya ia menjelaskan masalahnya pada papanya, yang tidak membuat papanya tersebut syok berat ataupun terkena serangan jantung.
"Nona Agya, kita sudah sampai." ucapan sekertaris Kim yang dibarengi dengan suara pintu mobil yang terbuka membuyarkan lamunan Agya. Wanita itu langsung menoleh seraya menyeka air matanya lalu berdehem dan keluar dari dalam mobil.
"A-apa Mr.Dev masih ada di rumahku?" tanya Agya menatap sekertaris Kim yang berdiri di sampingnya.
"Iyaa nona. Tuan Dev masih menunggu nona di dalam."
"Baiklah." Agya menghela napas singkat, memperbaiki pakaian dan rambutnya lalu melangkah masuk ke dalam rumahnya dengan langkah panjang.
Langkah kaki Agya tiba-tiba terhenti, wajahnya berubah menjadi sangat kesal ketika melihat Mr.Dev duduk di sofa ruang tamu dengan salah satu kaki yang terlipat di atas pahanya. Pria itu hendak tersenyum namun terurungkan tatkala Agya kembali melanjutkan langkah kakinya masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukannya.
"Dia benar-benar membuatku penasaran. Mari kita lihat sampai kapan dia mengacuhkanku seperti itu." gumamnya tersenyum tipis seraya menoleh ke arah Agya yang hampir mencapai pintu ruang keluarga.
"Selamat malam tuan." sapa sekertaris Kim membungkukan badannya singkat.
"Apa dia menyusahkanmu?" tanya Mr.Dev, menatap sekertaris Kim yang berdiri tidak jauh darinya.
"Tidak tuan." jawabnya.
"Baguslah. Apa kau sudah menyelesaikan pekerjaanmu yang ku perintahkan semalam?"
"Sudah tuan. Gedung yang akan dipakai untuk pernikahan tuan sudah seratus persen siap, begitu juga dengan gaun pengantin nona Agya." Bak mendapat angin surga kedua sudut bibir Dev langsung mengembang lebar, tidak salah ia mengandalkan sekertaris Kim untuk mengatur semua keperluan pernikahannya.
**
"Mama." ucap Agya, menatap ibunya yang tengah sibuk menyiapkan makan malam, dibantu oleh Bi Ela.
"Sayang kau sudah sampai." Mama Inaya menoleh, lalu tersenyum dan menyambut tubuh anak sulungnya tersebut ke dalam pelukannya.
"Aku sangat merindukan Mama." Agya melepas pelukannya, matanya kembali berkaca-kaca.
"Mama juga sangat merindukanmu." Membelai rambut Agya, bibir wanita itu masih merekah dengan sangat lebarnya. Tidak menyangkah anak semata wayangnya yang masih ia anggap sebagai anak kecil akan segera menikah dan memiliki keluarga sendiri.
"Di mana papa?"
"Bukankah papa di ruang tamu menemani calon suamimu?" Agya menggeleng, ia tidak melihat papanya di ruang tamu hanya pria berwajah dingin itu.
"Oh, mungkin papa sedang berada di kamar."
"Baiklah, aku mau menemui Papa dulu."
"Iyaa sayang." Mama Inanya mengangguk, ia mengecup singkat kening Agya lalu membiarkannya pergi dari sana.
*
"Papaa, ini Gya. Apa Gya boleh masuk?" tanyanya kembali mengetuk-ngetuk pintu kamar tersebut.
Tak berselang lama, pintu kamar tersebut dibuka. Dan Agya langsung di sambut oleh senyum hangat milik papanya.
"Papa." Agya ikut tersenyum dan langsung menyambar dan memeluk tubuh papanya erat.
"Sayang masuklah, Papa ingin berbicara sebentar denganmu." ujarnya melepas pelukannya lalu mengajak anaknya tersebut untuk masuk ke dalam kamarnya.
"Dev sudah menceritakan banyak hal pada Papa, ternyata kalian sudah lama berpacaran."
"Ah astaga, pria itu berbohong pada papa." gumam Agya dalam hati.
"Apa lagi yang dikatakan tuan Dev pa? Apa dia memberitahu papa kapan kami akan menikah?" tanya Agya menatap kosong ke depan.
Papa Darwin mengerutkan dahinya, merasa sangat aneh dengan pertanyaan Agya barusan, "Nak, bukankah kalian sudah menentukan akan menikah besok lusa? Kenapa kau malah bertanya seperti itu pada Papa?"
Seketika Agya langsung menoleh seraya menutup mulutnya dengan kedua tangannya, "Ah, astaga. Kenapa aku begitu bodoh sekali?!" Mengutuki kebodohannya.
"Eh, ma-maksud Gya. Dev sudah memberitahu papa jika kami akan menikah besok lusa?"
"Oh, iyaa Dev sudah memberitahu Papa tadi." ujar Papa Darwin, "Nak, Dev sangat bersungguh-sungguh untuk menikahimu. Dia sudah menyiapkan semua keperluan pernikahan kalian, termaksud gaun pengantinmu. Papa bisa merasakan jika dia sangat mencintaimu." Mengusap lembut puncak kepala Agya seraya tersenyum bangga, merasa sangat bahagia melihat dan menemukan pria yang sangat tulus mencintai anak semata wayangnya.
Mendengar ucapan papanya membuat Agya ingin menangis, tidak ada cinta seperti yang dikatakan papanya. Pernikahan yang akan dijalaninya ini hanyalah tebusan hutang atau ganti rugi, bukan sebuah ikatan cinta seperti yang dijalani orang-orang pada umumnya.
"Papa sudah menitipkanmu pada Dev, semoga dia bisa menjagamu seperti papa menjagamu selama ini. Nanti ketika penyakit papa sudah semakin parah dan tidak bisa tertolong lagi, papa akan pergi dengan lebih tenang."
"Papa, kenapa papa berbicara seperti ini." Agya langsung memeluk tubuh papanya, air matanya mengalir tak tertahan. "Jangan berbicara seperti ini, Gya tidak akan sanggup hidup tanpa papa. Gya ingin papa yang menjaga Gya." ucapnya sesegukan.
"Jangan berbicara seperti ini lagi, Gya mohon." Melepaskan pelukannya, menatap senduh wajah papanya yang mulai berkeriput.
"Papa hanya bercanda." Papa Darwin terkekeh, mengusap air mata Agya menggunakan kedua ibu jarinya.
Agya mengangguk, masih menangis sesegukan. Ternyata keputusannya untuk tetap menyembunyikan masalahnya adalah langkah yang paling tepat.
"Jangan menangis lagi, ayo kita temui calon suamimu." ujarnya beranjak berdiri.
"Papa deluanlah, Gya mau mencuci wajah Gya dulu."
"Baiklah, papa tunggu di depan ya nak." Mengusap kepala Agya, mengecup singkat puncak kepala anaknya tersebut, sebelum kemudian ia membawa tubuhnya berlalu dari kamar tersebut.
Sepeninggalan Papanya, tangis Agya langsung memecah hingga memenuhi seisi ruangan. Rasanya sangat menyakitkan karena membohongi kedua orang tuanya seperti ini.
.
.
.
Bersambung...