Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Kejutan?



Mobil yang dikemudi sekertaris Kim terus melaju dengan kecepatan sedang, membela keramaian kota Seoul di sore itu, lampu-lampu tamara mulai menyinari jalan, pun rintik hujan yang perlahan membasahi jalan hingga menciptakan suasana dingin. Lagu Everytime -Chen & Punch menemani syahdunya sore. Entah kenapa Sekertaris Kim memutar lagu itu, mungkin suasana hatinya tergambar dalam lagu tersebut? Entahlah.


"Baik tuan, aku akan segera membawa nona Agya ke sana." ucap sekertaris Kim mengakhiri panggilan teleponnya.


"Apa Dev yang baru saja menelponmu? Apa yang dia katakan? Apa dia benar-benar akan lembur di kantor? Dia tidak pulang ke rumah?"


Sekertaris Kim menghela napas mendengar rentetan pertanyaan nyonya mudanya baru saja. Drama apa lagi yang diciptakan Dev sekarang, dia tak memberitahu Agya tentang rencananya? Oh sepertinya tidak, pria kaku itu akan memberikan kejutan untuk istrinya?


"Sekertatis Kim. Kenapa kau tak menjawab pertanyaanku?!"


"Tanyakan saja pada tuan Dev. Aku tak dapat menjawabnya."


"Aisshh shibal." dengus Agya menyandarkan kembali punggungnya pada sandaran kursi, sorot matanya menatap tajam punggung belakang sekertaris Kim. Rasanya ia ingin menjelma menjadi zombie dan mengigit pria dingin tak berperasaan ini, dia sama saja dengan tuannya, tak jauh beda.


"Ehm." sekertaris Kim berdehem, memerhartikan wajah kesal Agya dari kaca spion, sebelum kemudian ia memberanikan diri untuk membuka suara.


"Nona Agya apa aku boleh bertanya?"


"Tidak boleh. Aku masih kesal padamu."


"Apa semua wanita sama sepertimu?"


"Apa maksudmu?!"


"Sama-sama menyebalkan?!"


"Dari mana kau menyimpulkan hal itu? Kau sudah melakukan riset sebelumnya? Aku rasa tidak, kau hanya memberi kesimpulan yang mengada-ngada. Tak semua wanita menyebalkan. Ya, walaupun aku sendiri sedikit menyebalkan."


"Sama seperti sahabatmu."


"Sahabatku? Della?"


"Ehm bukan. Bukan siapa-siapa nona, lupakan saja." ucap sekertaris Kim gelagapan, kenapa ia harus keceplosan di depan Agya?! Sungguh sangat sial.


"Kau menyukai Della?" tanya Agya menatap sekertaris Kim penuh selidik, "Jika kau menyukainya sebaiknya kau hilangkan saja perasaanmu. Della sudah memiliki kekasih, mungkin tidak lama lagi mereka akan menikah. Aku dengar hari ini keluarganya akan makan malam bersama, kedua keluarga itu pasti akan membahas tentang rencana pernikahan mereka."


"Apa mereka sudah lama bertunangan?" suara sekertaris Kim terdengar melunak kini, hingga membuat Agya mengerutkan dahinya, ia semakin curiga.


"Kau benar-benar menyukai Della?"


"Apa aku mengatakan itu?"


"Ehm, tidak." Agya mengusap tengkuknya seraya bersiul kecil untuk menghilangkan rasa canggungnya, baru saja ia ingin mengakrabkan diri, namun suara dingin sekertaris Kim kembali menyadarkannya, "Lalu kenapa kau bertanya tentang Della kalau kau tidak menyukainya?"


"Aku hanya ingin menyelamatkannya." batin sekertaris Kim. Ya, ia sama sekali tak menyukai Della, ia hanya merasa kasihan saja dengan nasib sial yang menimpa wanita malang itu.


"Oh iya sekertaris Kim, apa kau mengenal kekasih Alenaa?" tanya Agya membuka obrolan baru. Kali ini ia begitu penasaran dengan kekasih Alenaa yang ada di video itu dan juga Jio. Apa mungkin mereka orang yang sama?


"Tidak." jawab sekertaris Kim, lalu ia menepikan mobilnya di sebuah salon kecantikan.


"Sekertaris Kim, kenapa kita ke tempat ini?" tanya Agya saat sekertaris Kim membukakan pintu mobil untuknya.


"Turunlah nona, nona memiliki sedikit keperluan di sini."


"Aku?"


"Iyaa nona."


"Sekertaris Kim, apa kau tidak salah? Aku sama sekali tak memiliki keperluan apapun di sini." Agya masih tampak kebingungan, ia bahkan enggan keluar dari dalam mobil.


Sekertaris Kim kembali menghela napas singkat, "Tuan Dev yang menyuruhku untuk mengantar nona Agya di sini."


"Dev? Di mana dia?" Agya langsung mengedar pandangannya ksekelilingnya, mencari sosok suaminya.


"Selamat malam nyonya Deva Wilantara." sapa seorang wanita cantik, mengulurkan tangannya.


"Saya, Mrs. Adrela pemilik Ws-beauty ini."


"Selamat malam Mrs. Adrela." Agya membalas uluran tangan wanita itu seraya tersenyum hangat.


"Kau sangat cantik sekali nyonya Dev, pantas saja Mr. Dev begitu tergila-gila padamu." pujinya.


"Ehm. Mrs. Adrela, mungkin Mrs. bisa mendandani nona Agya sekarang. Kami tak memiliki waktu yang banyak." ujar sekertaris Kim, wajahnya masih sama. Dingin dan mungkin tak lama lagi akan membeku.


"Oh ya, maaf aku hampir lupa. Silahkan masuk nyonya Dev." Mrs. Adrela mendorong pintu Ws-beauty lalu mempersilahkan Agya untuk masuk ke dalam.


"Sekertaris Kim, untuk apa aku di dandani? Aku hanya akan pulang ke rumah bukan. Lalu untuk apa semua ini?"


"Turuti saja apa yang diinginkan tuan Dev, dia ingin melihat nyonya Agya berpenampilan cantik."


"Memangnya selama ini aku tak cantik?" dengusnya kesal dengan bibir yang mengerucut, sebelum kemudian ia melangkah masuk ke dalam salon dengan langkah gontai.


"Pantas saja Mr. Dev tergila-gila pada Agya, wajahnya sangat menggemaskan saat marah." Sekertaris Kim menggeleng-geleng kepalanya seraya tersenyum tipis.


"Eh, astaga. Apa yang baru saja aku katakan?!"


*


"Mrs. Adrela, apa kau tahu kenapa aku di dandani?" tanya Agya menengadahkan wajahnya. Apa yang terjadi pada dirinya saat ini benar-benar membuatnya kebingungan. Kenapa Dev tiba-tiba menginginkan dirinya di dandani? Bukankah mereka tak akan bertemu karena Dev akan lembur di kantornya.


"Saya juga tidak tahu nyonya. Mr. Dev hanya menyuruhku mendandani nyonya tanpa memberitahu apapun."


"Ah benarkah?" raut kebingungan masih melimuti wajah Agya. Ia menatap pantulan wajahnya kini.


1 jam berlalu, Agya telah siap dengan dandanannya, kini giliran memilih dress yang akan di pakainya.


"Silahkan pilih nona." ujar Mrs. Adrela menunjukan 4 dress berwarna hitam dengan model dan potongan kain yang berbeda-beda.


"Ini saja." Agya meraih dress yang memiliki pita besar yang berada di potongan atas dress tersebut. Tidak terlalu ketat hingga ia rasa akan nyaman memakainya berjam-jam. Ya, walaupun ia tak tahu akan dibawa kemana setelah ini.


Setelah memakai dress tersebut, kini Mrs. Adrela tampak sibuk menata rambut Agya.


"Tidak perlu di ikat. Baju ini tak memiliki tali, aku tak ingin dadaku terlihat, jadi lebih baik di tutupi dengan rambut."


"Baiklah." Mrs. Adrela kembali melanjutkan pekerjaannya. Membiarkan rambut Agya terurai dengan sedikit poni dan menambahkan dua pita kecil sebagai hiasan di rambut wanita itu.


"Sudah siap."


"Wah nyonya Dev, anda terlihat sangat cantik. Mr. Dev pasti akan semakin jatuh cinta padamu." puji Mrs. Adrela menatap penuh kekaguman pantulan wajah Agya di cermin.


Pun Agya yang langsung tersipu, wajahnya memerah padam. Ia juga tak melepas pandangannya dari cermin.


"Apa aku akan bertemu dengan Dev? Apa dia akan memuji penampilanku? Ah, dia selalu mengataiku jelek setiap saat." gumam Agya dalam hati, bibirnya mengerucut kini.


.


.


.


.


Bersambung...