
Usai melakukan pergumulan singkat, kini Dev begitu sibuk dengan aktivitas barunya, entah sejak kapan pria itu sudah berada di depan perut Agya yang tak tertutupi benang sehelaipun. Bibirnya terus mengecup kulit perut wanita itu yang membusung ke wajahnya.
"Maafkan aku." sudah tak terhitung Dev mengucapkan kalimat permintaan maaf itu, masih terlihat penyesalan di wajahnya, seharunya dirinya yang menemani dan menyaksikan pertumbuhan janin yang ada di rahim istrinya, bukan Sean Luxor.
"Tak perlu meminta maaf Dev." Agya mengusap lembut puncak kepala Dev, menyadari jika suaminya tak sepenuhnya salah.
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku Gyaa. Aku sangat mencintaimu dan juga kedua bayi ini." ucapnya tanpa mengalihkan pandangannya dari perut Agya. Ia kembali melingkarkan tangannya di pinggang Agya seraya mengecup perut wanita itu berkali-kali.
Sementara Agya, tangannya yang semula berada di puncak kepala Dev, perlahan terlepas. Pun bibirnya yang langsung terkatup rapat. Ia sama sekali tak bisa mewujudkan keinginan suaminya itu.
"Berjanjilah." Dev mendongakan kepalanya, menatap penuh wajah istrinya. "Apa kau tak bisa berjanji? Kenapa? Apa kau belum memaafkanku?"
"Bu-bukan seperti itu Dev."
"Lalu? Apa sesulit itu untuk berjanji? Gyaa, aku tak tahu akan seburuk apa lagi hidupku jika kau meninggalkanku."
Deg
Agya langsung terdiam, hal ini yang membuat dirinya begitu berat untuk menceritakan penyakitnya, ia tak bisa membayangkan reaksi Dev nanti.
"A-aku berjanji." ucap Agya, seketika semburan kebahagian terpancar di wajah Dev.
Pria itu segera memperbaiki posisi tidurnya dan memeluk Agya kini, "Aku berjanji tak akan mengecewakanmu lagi." ucapnya membenamkan kecupan hangat di kening Agya seraya mengeratkan pelukannya.
Pun Agya yang ikut membenamkan wajahnya di dada bidang Dev, mengendus aroma mint yang ada ditubuh pria itu. Bisakah tuhan memberinya waktu yang lebih lama? Ia ingin merasakan cinta yang hebat dari suaminya, dan menyaksikan anak-anaknya nanti tumbuh dewasa.
"Dev.."
"Hm."
"Bagaimana hidupmu selama 5 bulan terakhir ini? Apa kau menemukan dasimu dan bisa memasangnya sendiri? Apa semua pekerjaanmu berjalan lancar?"
"Hm." jawab Dev singkat dengan mata yang terpejam, ia tak ingin Agya tahu betapa terpuruknya dirinya saat wanitanya itu tak ada di sisinya.
"Apa kau masih menyukai jus alpukat? Bagaimana dengan sekertaris----."
"Tak usah membahasnya."
"Aku hanya ingin tahu saja." celetuk Agya dengan bibir yang mengerucut tajam, "Kenapa bisa kau tiba-tiba menyukai jus alpukat? Padahal sebelum-sebelumnya kau tak menyukainya. Kau tahu, aku sangat cemburu dengan Ter--."
"Jangan menyebut namanya!"
"Ehm, ma-maksudku sekertaris Papa. Kenapa dia bisa tahu apa yang kau suka dan tidak sukai?"
"Dia hanya sok tahu. Kau tak perlu memikirkannya."
"Tetap saja. Aku---."
"Gyaa."
Agya tak melanjutkan ucapannya saat Dev menatapnya dengan tatapan tajam.
"Hoaam. Aku sangat mengantuk." ucapnya segera menenggelamkan wajahnya di dada bidang Dev, mencoba lari dari tatapan suaminya yang menakutkan itu.
Dev tersenyum, ia kembali mengeratkan pelukannya seraya memejamkan matanya. Akhirnya Agya kembali menjadi wanita cerewet lagi, ah ia sangat merindukan ini.
***
Beberapa jam berlalu, Agya terbangun saat cairan berwarna merah tiba-tiba memenuhi hidungnya. Ia tak terkejut sama sekali karena ini bukan kali pertamanya hidungnya mengelurkan cairan merah itu.
Dengan hati-hati ia melepas pelukan Dev dari tubuhnya, turun dari ranjang dan segera melangkah ke kamar mandi sebelum Dev memergokinya.
Suara kucuran air kini memenuhi kamar mandi, cairan merah yang tak lain adalah darah itu masih tak berhenti mengalir dari hidung Agya, sekalipun ia menyumbatnya menggunakan tissue.
"Apa penyakitku semakin parah?" gumamnya menatap pantulan wajahnya di cermin seraya menyeka darah yang memenuhi hidung dan bibirnya. Ia terlihat begitu menyedihkan.
"Sayang, apa kau di dalam?"
Deg
Suara Dev yang dibarengi dengan ketukan dipintu kamar mandi membuat Agya kalang kabut.
"Apa kau baik-baik saja? Kenapa kau mengunci pintunya?"
"Aku baik-baik saja Dev." Agya mengeraskan suaranya, berharap Dev mendengarnya dan segera pergi dari depan kamar mandi.
"Aku ingin masuk." Dev tersebut memutar knop pintu hingga membuat Agya semakin panik. Ia segera membersihkan darah di hidungnya dan membuang tissue yang sudah dipenuhi darah ke tempat sampah.
"Kenapa lama sekali?" Dahi Dev mengerut dalam, menatap Agya yang berdiri di belakang pintu dengan tatapan tak terbaca.
"Ta-tadi aku buang air."
"Benarkah? Lalu kenapa kau terlihat panik seperti ini?"
"Ehm---." Agya memejamkan matanya, merasakan usapan lembut tangan Dev di wajahnya.
"Kau tak menyembunyikan sesuatu dariku hm?"
"Ti-tidak ada." ucapnya menggeleng cepat. "Kenapa kau bangun begitu cepat? Bagaimana dengan lukamu? Apa masih terasa perih?"
"Tidak." Dev menjawab singkat, pandangannya mengedar ke sekelilingnya. Ia merasa jika Agya sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tapi apa?
"Mau mandi bersama?" tatapan Dev beralih ke wajah Agya kini. Ia kembali mengusap wajah istrinya yang terlihat pucat.
Agya mengangguk seraya mengulaskan senyuman hangat, berusaha meredam kepanikannya.
***
"Kau bisa memakai baju papa untuk sementara waktu." ujar Agya menyodorkan baju kaos dan juga celana jogger yang baru saja ia ambil dari kamar papanya.
"Apa Papa tak marah aku memakai pakaiannya?"
"Tentu saja tidak. Ambillah."
"Kau tak mau membantu memakaikannya untukku?"
"Tidak! Jangan macam-macam Dev." seru Agya memelototkan matanya.
"Macam-macam? Bukankah ini sudah sering kau lakukan? Kau tak kasihan padaku? Lenganku masih sangat sakit." Menunjukan lengannya yang memar dengan wajah yang memelas.
"Huh baiklah." Agya meraih kembali pakaian yang sudah berada di tangan Dev, dan mulai memakaikan pakaian pria itu.
"Seperti bayi saja." celotehnya.
"Hm, bukankah aku harus memanfaatkan kesempatan ini sebelum dua bayi rubah kita lahir. Mereka pasti akan sangat merepotkanmu dan tak membiarkanmu menghabiskan waktu denganku."
"Bayi rubah?
"Yaa, apa kau tak ingat jika kau adalah rubah malam? Kau yang lebih dulu menggodaku waktu itu hingga aku tergoda dan membuat dua bayi rubah ini."
"Aku yang menggodamu? Bukankah sebaliknya Mr. Dev? Kau yang selalu tergila-gila padaku dan kau terus menginginkanku setiap saat."
"Tapi kau menikmatinya bukan? Ah, aku bahkan masih mengingat dengan sangat jelas suara desa**, Ahhh--- Gyaa." Ringis Dev saat Agya tiba-tiba menggigit lengannya.
"Rasakan!" celetuk Agya memincingkan matanya, "Yang jelas kau yang menginginkanku lebih dulu, dan aku sama sekali tak pernah menggodamu!"
"Oh jadi kau tak mau mengakui keganasanmu di atas ranjang." Dev menarik sudut bibirnya membentuk senyuman yang nyaris tak terlihat. Ia segera memeluk pinggang Agya saat wanita itu hendak melarikan diri dari sana.
"Menualah bersamaku Agya, aku berjanji akan terus mencintaimu."
.
.
.
.
Bersambung....