
"Nona Agyaa." Sekertaris Kim berlari menghampiri Agya yang hampir masuk ke dalam sebuah taksi. Dengan sigap ia menahan pintu taksi yang hendak ditutup oleh nyonya mudanya itu.
"Tunggu nona, bukankah tuan Dev menyuruh nona untuk menunggu di mobil? Jangan membuat tuan Dev marah karena nona tidak menurutinya."
"Aku tidak perduli." cetus Agya menghunuskan tatapan tajamnya, "Berhenti mengikutiku dan biarkan aku pergi."
"Jalan pak." pinta Agya pada supir taksi tersebut.
"Baik nona."
"Nona Agya, tunggu. Hah shittt." dengus sekertaris Kim, menendang udara yang ada di hadapannya saat taksi yang ditumpangi Agya melaju dengan kecepatan maksimal sesuai dengan perintah Agya beberapa saat lalu.
Dengan langkah panjang sekertaris Kim menghampiri mobilnya hendak mengejar Agya namun suara samar Dev yang memanggilnya membuat niat pria itu terurungkan.
"Ada apa?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Dev yang dibarengi dengan kedua alis yang tertaut membuat sekertaris Kim menelan salivanya dengar kasar, kepalanya tertunduk dalam. Apa yang harus ia katakan sekarang? Mengatakan yang sejujurnya akan membangkitkan amarah Dev dan dirinyalah yang akan menjadi sasaran amukan pria itu karena tidak dapat mencegah Agya pergi.
"Ehm." Sekertaris Kim berdehem perlahan ia mengangkat kepalanya, "Tuan, nona Agya baru saja pergi. Saya hendak mengejarnya namun tuan sudah memanggilku lebih dulu."
"Tidak perlu mengejarnya. Biarkan dia pergi." Ujar Dev dengan raut wajah dinginnya seraya masuk ke dalam mobil.
Reaksi dingin Dev membuat sekertaris Kim tercengang, sebelum kemudian ia ikut masuk ke dalam mobil saat tuan mudanya itu kembali bersuara.
"Antar aku ke Itaewon."
"Baik tuan." Jawab sekertaris Kim seraya mengangguk, lalu ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang membela jalan kota yang sudah dipenuhi lampu temaram yang mengusir gelapnya malam.
Mobil terus melaju, sesekali sekertaris Kim melirik ke arah kaca spion, memerhatikan wajah tuan mudanya yang masih tampak dingin.
"Tuan tidak ingin mencari nona Agya? Bagaimana jika nona Agya kabur lagi?" tanya sekertaris Kim membuka suara.
"Itu yang dia inginkan." Jawaban singkat padat dan jelas.
Dev memalingkan wajahnya ke luar jendela, mendadak hatinya berkecamuk. Melepaskan Agya adalah keputusan yang sudah sangat benar, toh pernikahannya dengan Agya hanyalah siasat agar ia bisa keluar dari dark relatioship dengan Alena, dan sekarang hal itu sudah terjadi, kedok Alenaa sudah diketahui oleh kedua orang tuanya. Hubungannya dengan Alenaa pun sudah selesai, Ia tak membutuhkan Agya lagi?
Oh jangan hanya menyalahkannya atas keputusan besar ini, salahkan Agya yang juga ingin pergi darinya.
"Cinta? Hahaha." tiba-tiba Dev tertawa disela-sela lamunannya, "Tak seharusnya aku mencintai gadis bodoh itu." gumamnya masih diselingi dengan tawa bak orang gila.
"Urus surat perceraian kami Kim."
Deg.
Sekertaris Kim langsung menoleh dengan kelopak mata yang melebar.
"Tuan, apa tuan tidak---."
"Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku, lakukan itu sekarang. Aku dan gadis bodoh itu bahkan tak pernah memiliki hubungan. Dia hanya bagian dari rencanaku, kau ingat jika statusnya sama sekali tak berubah menjadi istriku. Pernikahanku hanyalah sebuah pernikahan kontrak yang tak seharusnya kutaburi cinta."
"Tapi tuan--."
"Mencintai seseorang yang tak mencintaimu adalah seni menyakiti diri sendiri. Entah sudah sebesar apa aku memberikan cintaku padanya tapi dia sama sekali tak membalasnya. Dia tak mencintaiku, lalu apa yang aku harapkan lagi darinya." Dev menyunggingkan senyum masam dari sudut bibirnya, pun raut keputus asaan yang memenuhi wajahnya.
"Anda bukanlah Mr. Dev yang saya kenal." ujar sekertaris Kim seraya menepikan mobilnya di parkiran bar milik Dev yang berada di Itaewon.
"Aku tak memerdulikan itu." seru Dev membuka pintu mobilnya lalu melangkah masuk ke dalam bar, meninggalkan sekertaris Kim yang masih duduk di kursi kemudi seraya memerhatikan ponselnya yang beberapa kali berkedip. GPS yang berada di ponsel Agya terhubung dekat dengannya.
"Sial, nona Agya berada di dalam Bar itu juga." Dengan mata yang membola lebar, sekertaris Kim langsung keluar dari dalam mobil, tubuhnya tiba-tiba terjatuh ke atas tanah saat kakinya tersandung dengan pembatas parkiran.
"Shittt." umpatnya kesal.
Sementara itu, Dev yang sudah lebih dulu masuk ke dalam bar kini berdiri dengan kedua tangan yang terlipat di atas dadanya, Wajahnya terlihat tenang namun begitu dingin memerhatikan wanita yang sangat dikenalinya tengah meliuk-liuk dengan lincahnya di antara para wanita dan pria yang berjoget dengan dentuman musik yang sangat keras. Pun aroma alkohol yang menyeruak di indra penciumannya.
Bug,
Tubuh pria itu langsung terhuyung di lantai saat sebuah bogem keras mendarat di wajahnya.
Seketika, teriakan para wanita yang ada di sana memenuhi Bar tak terkecuali Agya, matanya membola sempurnah dengan mulut yang menganga lebar melihat siapa yang berdiri di hadapannya dengan tatapan yang menghunus tajam bak elang yang siap menerkam mangsanya. Siapa lagi kalau bukan Dev, pria itu terlihat sangat marah, rahangnya mengeras pun tangannya yang terkepal kuat.
"Apa yang kau lakukan di sini?!!" teriak Dev hingga mengalahkan dentuman musik yang masih terputar.
"Kau mencariku? Hahah." Agya terbahak, meskipun kini pandangannya mulai berkabut, kepalanya terasa pening dan sakit. Mungkin sebentar lagi tubuhnya akan ambruk ke lantai.
"Aku tidak mencarimu. Aku mengunjungi Bar ini karena milikku."
"Bar ini milikmu? Ah sungguh sialnya aku, seharusnya aku tak datang ke bar ini tapi ke bar lain saja." rancaunya dengan bibir yang mengerucut, hendak berlalu pergi dari sana namun Dev langsung menahan tubuh istrinya itu dan mencengkram lengannya.
"Kau mabuk?!"
"Tidak, lepaskan aku." Agya memberontak, berusaha menepis tangan Dev yang semakin kuat mencengkram lengannya hingga menimbulkan bekas merah di sana.
"Katakan padaku, kenapa kau menjadi liar seperti ini?! Kenapa kau bisa berada di tempat kotor ini?" seru Dev frustasi, ia tidak bisa membayangkan jika dirinya tidak datang di sana, mungkin para pria brengsek itu sudah menyentuh tubuh Agya, tubuh wanitanya.
Agya tak menjawab, kesadarannya telah hilang dikuasai oleh wine yang beberapa waktu lalu ia teguk. Hanya segelas wine namun sampai meruntuhkan kesadarannya seperti ini.
"Kita pulang sekarang!!" Dengan sangat kasar Dev menarik dan menyeret tubuh Agya keluar dari bar terkutuk itu. Ia berjanji akan menutup bar itu bahkan merobohkannya suatu hari nanti.
Tak jauh dari sana, seorang wanita tampak menyunggingkan senyuman tipis, senyum yang terlihat begitu licik. Ia merasa sangat puas telah berhasil menghasut Agya, mempertontonkan sisi buruk gadis bodoh itu. Oh tidak hanya itu, ia bahkan diberi kejutan dengan hadirnya Dev di sana, dan bisa menyaksikan drama pertengkaran kedua manusia murahan itu. Sungguh rencananya 10 kali lipat berjalan dengan sangat baik.
"Wanita bodoh, hanya butuh usaha kecil untuk menghancurkan hubungan mereka."
*
Sekertaris Kim yang juga menyaksikan kejadian itu tak mampu mengeluarkan sepata kata dari mulutnya. Ia begitu sangat terkejut melihat Agya dalam keadaan seperti ini, sungguh di luar dugaannya.
"Beritahu kak Daven jika aku tidak jadi bertemu dengannya di sini." ujar Dev sebelum pria itu membawa masuk Agya ke dalam mobil. Guratan amarah masih tampak terukir jelas di wajahnya.
"Baik tuan." sekertaris Kim mengangguk, lalu melirik singkat ke arah nona mudanya yang terbaring lemah di atas kursi mobil dengan rancauan-rancauan yang terus keluar dari mulut Agya.
"Aku akan membawa Agya pulang. Urus semua kekacauan yang ada di sini."
"Tuan Dev. Anda terlihat sangat marah, anda tidak akan menyakiti nona---."
"Aku tidak bisa menjanjikan itu. Aku akan menghukumnya atas perbuatan liarnya ini." seru Dev masuk ke dalam mobil tepat di kursi kemudi.
"Bungkam mulut orang-orang yang ada di bar itu. Jangan biarkan satupun dari mereka membeberkan kejadian ini pada media."
.
.
.
.
Bersambung..
Eps berikutnya mengandung konten 21+ jadi blm bisa update sekarang :)