Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Melarikan diri?



Di belahan bumi lain, tepatnya di pusat kota Tokyo. Tampak Dev yang baru saja menyudahi pertemuannya dengan rekan bisnisnya setelah hampir dua jam mereka mengobrol dengan sangat serius membahas tender besar yang tentunya sangat menguntungkan untuk keduanya jika dimenangkan.


"Terima kasih tuan Kenshin." ucap Dev beranjak dari duduknya, menjabat tangan tuan Kenshin seraya mengulaskan senyuman hangat.


"Sama-sama tuan Dev. Semoga perusahaan kita bisa memenangkan tender besar ini besok."


"Amin, aku sangat mengharapkan hal itu. Baiklah tuan Kenshin, saya permisi dulu."


"Iyaa, silahkan tuan Dev." ucap tuan Kenshin, membungkukan badannya singkat, lalu menatap punggung belakang Dev yang melangkah meninggalkan restoran tempat pertemuan mereka. Di susul oleh sekertaris Kim di belakangnya.


"Apa masih ada jadwal meetingku siang ini?" tanya Dev memakai kaca mata hitamnya, menghindari sinar matahari yang mencoba menjamah matanya.


"Masih ada tuan. Pertemuan dengan tuan Akihiro sekaligus makan siang di restoran miliknya."


"Baiklah, kita akan segera ke sana." ujar Dev mendaratkan tubuhnya di kursi mobil sesaat setelah sekertaris Kim membukakan pintu mobil itu untuknya.


"Baik tuan." Sekertaris Kim membungkukan kepalanya singkat, menutup pintu mobil lalu ikut masuk ke dalam sana.


Mobil yang dikemudi oleh sekertaris Kim melaju dengan kecepatan sedang, membelah keramaian kota tokyo di siang itu menuju restoran milik tuan Akihiro yang terletak di Sugamo, Toshima.


"Apa yang sedang dia lakukan sekarang Kim?" tanya Dev, menatap punggung belakang sekertaris Kim yang tengah fokus akan kemudinya.


"Maksud tuan, nona Agya?" sekertaris Kim kembali bertanya untuk memastikan pertanyaan ambigu tuannya.


"Siapa lagi?!" seru Dev.


"Ehm, nona Agya baru saja keluar bersama sahabatnya. Sepertinya mereka akan jalan-jalan."


"Pastikan dia tidak bertemu dengan pria brengsek itu."


"Baik tuan." jawab sekertaris Kim mengangguk pelan.


"Huh, nona Agya kau benar-benar keras kepala." batin sekertaris Kim, belum lama ia menerima laporan dari mata-matanya jika Agya dan Della pergi ke sebuah tempat dan menemui seorang pria yang tak lain adalah Darrel.


***


Beberapa jam kemudian...


Kini matahari terlihat malu-malu kembali ke peraduannya, meninggalkan senja berwarna jingga, mengakhiri aktifitas sebagian orang-orang di sore itu.


Perlahan langit jingga itu berganti dengan malam yang sangat gelap nan pekat. Lampu-lampu rumah, dan gedung mulai menyala, menyinari orang-orang yang masih sibuk dengan aktifitasnya. Tak terkecuali Mr.Dev, pria itu kini tengah sibuk memeriksa laporan perkembangan perusahaannya yang berada di kota Tokyo tersebut. Merasa sangat lelah dan letih karena seharian bekerja, belum lagi gangguan dari Alena yang semakin membuat Dev benar-benar kelelahan dan ingin segera rehat, namun pekerjaannya masih terlihat begitu banyak.


"Apa Agya sudah kembali ke apartemennya?" Dev mengalihkan perhatiannya dari layar i-padnya, menatap sekertaris Kim yang berdiri di sampingnya dengan kepala tertunduk.


Sekertaris Kim tidak langsung menjawab, pria itu menghela napas singkat lalu menghembuskannya dengan kasar. Sangat siap menerima amukan Dev setelah mendengar informasi terbaru yang ia terima tentang Agya.


"Kenapa kau tidak menjawabku?!" cetus Dev memelotokan matanya.


"Maaf tuan." Mengawali dengan permintaan maaf akan lebih baik, dari pada langsung berbicara ke intinya.


"Di mana Agya?!" Dev beranjak dari duduknya, mulai merasa ada yang tidak beres dengan sekertaris Kim.


"Katakan Kim!!" Kedua bola mata Dev semakin memelotot tajam, mencengkram kerak kemeja sekertaris Kim yang masih diam mematung di tempatnya.


"Maaf tuan." Lagi sekertaris Kim kembali meminta maaf seraya menundukan kepalanya, "No-nona Agya belum pulang ke apartemennya sampai sekarang tuan."


Sekertaris Kim menggeleng, "Tidak tuan, bodyguard yang mengawal nona Agya tidak menemukan nona Agya di sana."


"Apa maksudmu?" cetus Dev melepas cengkraman tangannya dari kerak baju sekertaris Kim dengan kasar hingga membuat pria itu hampir tersungkur ke lantai.


Dev mengatur napasnya yang terengah-engah akibat amarahnya yang hampir meledak, melonggarkan dasinya yang masih menggantung di lehernya. Perasaannya mulai tidak enak, "Jangan bilang Agya melarikan diri dariku!" serunya, menghunuskan tatapan tajam pada sekertarisnya tersebut.


"Jawab aku Kim!!" Teriak Dev menggeprak meja kerjanya saat sekertaris Kim tidak menjawabnya. Pria itu masih tetap diam ditempatnya dengan mulut yang terkatup rapat.


"Ahhg shitt." umpatan demi umpatan keluar dari mulut Dev, diamnya sekertaris Kim telah menjawab semua pertanyaannya.


"Beraninya dia melarikan diri dariku." Menggepalkan kedua tangannya, hingga buku-buku jarinya terlihat sangat jelas. Pun rahangnya yang ikut mengeras.


"Kita kembali ke Korea sekarang. Tutup akses jalan ke luar negri maupun ke luar kota. Dia pasti masih berada di sekitaran kota Seoul." ujar Dev berlalu keluar dari ruang kerjanya dengan langkah panjang. Namun langkah kaki Dev tiba-tiba terhenti, matanya menatap Alena yang tengah berdiri di depan sana dengan senyum manis yang mengembang lebar.


"Honey, kau sudah selesai bekerja?" tanya Alena memeluk tubuh tegap Dev.


"Huh."


"Honeyy, ayo kita ke Horito bar. Sudah lama kita tidak ke sana." Alena melepaskan pelukannya, menatap lekat wajah dingin tunangannya tersebut.


"Nanti saja, aku sedang sibuk."


"Sibuk? Bukankah pekerjaanmu baru saja selesai? Ayolahh baby, sangat jarang kita menghabiskan waktu bersama seperti ini."


"Aku tidak bisa!! Aku mau kembali ke Korea sekarang."


"Ha? Tengah malam seperti ini? Yang benar saja Deva, di luar sedang hujan deras, landasan pacu di bandara pasti sedang banjir." ucap Alena, berusaha membujuk Dev agar mau menemaninya minum di bar milik pria itu.


"Sekertaris Kim, cepatlah!" ujar Dev melepaskan genggaman tangan Alena dilengannya dengan kasar, tetap melanjutkan niatnya untuk kembali ke Korea meskipun di luar sana sedang hujat lebat.


"Tuan, apa yang dikatakan nona Alena benar. Landasan pacu bandara sedang banjir, kita tidak bisa melakukan penerbangan malam ini. Saya sudah menghubungi semua bandara maupun transportasi lain untuk menuntup akses jalan keluar negri ataupun ke luar kota sampai besok pagi. Saya sudah menyuruh orang kepercayaan tuan untuk melacak keberadaan nona A---." ucapan sekertaris Kim terhenti tatkala Dev mengangkat salah satu tangannya. Isyarat yang menyatakan agar selertaris Kim tidak melanjutkan ucapannya.


"Alenaa, aku tidak bisa menemanimu malam ini. Aku ingin beristirahat, aku sangat lelah sekali."


"Tapi Dev---."


Melihat tatapan tajam Dev padanya, membuat Alena tidak berani melanjutkan sanggahannya, "Ehm, ba-baiklah. Kalau begitu besok aku akan ikut denganmu kembali ke Korea."


"Terserah." cetus Dev berlalu pergi dari sana, begitu juga dengan sekertaris Kim.


"Siapa wanita yang sedang dibicarakan sekertaris Kim tadi? Dan kenapa Deva menutup akses keluar dari kota Seoul?" gumam Alena, menatap bayang Dev yang baru saja hilang di balik pintu lift.


.


.


.


Bersambung.


Jangan lupa tinggalkan like yah kaks readers. Biar makin semangattt nulisnya ❤🤗