Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Akan menikah



"Menikahlah denganku." ucapan yang keluar dari mulut Dev barusan membuat Agya mengangkat kepalanya bersamaan dengan kedua bola matanya yang melebar.


"Me-menikah?"


"Iyaa menikah, kau ingin hutangmu lunas bukan? Jadi kau harus menikah denganku." ujar Dev menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman yang nyaris tak terlihat.


"A-aku tidak bisa." lagi Agya menundukan kepalanya menatap kedua lututnya yang terlipat. Tangannya terlihat gemetar dan bekeringat, tidak menduga Mr.Dev akan meminta hal seberat ini.


Mendengar penolakan Agya membuat kedua alis Dev menaut tajam, pria itu langsung bengun dari duduknya. "Bisa-bisanya dia menolakku untuk kedua kalinya." batin Dev.


"Baiklah jika kau tidak mau. Kau hanya memiliki 2 pilihan sekarang, menikah denganku atau mendekam di penjara?" Dev melangkah mendekat ke arah Agya yang baru saja beranjak berdiri, memasukan kedua tangannya di dalam saku celananya. Sorot matanya menatap tajam wajah Agya yang masih tertunduk.


"Aku memberimu kesempatan untuk memikirkan tawaranku kembali. Pikirkanlah dalam 3 detik mulai dari sekarang." ujarnya.


"3." Mulai menghitung mundur


"2, sepertinya kau memang ingin mendekam di penjara." Dev kembali berucap saat Agya tidak menunjukan reaksi apapun.


"Sa---."


"Aku mau." ucap Agya tegas seraya mengangkat kepalanya, menatap wajah Mr.Dev yang hanya berjarak 30 centimeter darinya. "A-aku mau." ucapnya lagi memperjelas. Tidak perduli dengan keputusannya yang mendadak dan tanpa pikir panjang. Memilih untuk menikah dengan Mr.Dev dibanding mendekam di penjara, setidaknya Papanya tidak akan kenapa-napa karena dirinya tidak benar-benar di penjara.


"Hahaha." Seketika suara tawa Mr.Dev memecah keheningan di restoran tersebut, tawa yang terdengar menggelegar dan menakutkan bagi Agya.


"Ternyata kau sama saja dengan wanita lain di luar sana. Aku pikir kau akan gigih dan tetap mempertahankan keputusanmu dengan menolak menikah denganku, tapi ternyata kau menerima tawaranku. Hahah, lucu sekali kau ini." Dev semakin melangkah maju hingga posisinya dengan Agya terlihat begitu intim. Sedangkan Agya, tubuhnya sudah membentur dinding dan tidak dapat menghindari Dev lagi.


"Apa kau menerima tawaranku karena aku seorang CEO yang berwajah tampan?" bisiknya tepat di telinga Agya, hingga hembusan napasnya menyapu kulit wajah wanita itu.


"Ti-tidak." Agya menjawab dengan bibir yang gemetar, matanya terpejam saat sekelebat ingatan akan ciuman mereka di hotel saat itu kembali memenuhi ingatannya.


Dev mendengus dalam hati, tangannya menggepal kuat saat mendengar ucapan Agya barusan. Agya menjadi orang sekaligus wanita pertama yang tidak mengakui ketampanan dan kehebatan Mr.Dev hingga membuat pria itu benar-benar merasa sangat kesal.


"Sekertaris Kim, kemarilah." Dev menekan earphonenya kembali, memanggil sekertarisnya untuk segera masuk ke dalam restoran.


"Siapkan semua keperluan pernikahan kami, 3 hari lagi kami akan menikah." Menoleh ke arah sekertaris Kim yang baru saja datang menghampirinya.


"Tuan." Sekertaris Kim langsung tertegun, ternyata tuan mudanya itu bersungguh-sungguh dengan ucapannya semalam, ia benar-benar ingin menikahi Agya hanya karena wanita itu tidak mengakui ketampanan dan menolaknya berkali-kali. Menikahinya karena penasaran sekaligus ingin membalaskan dendamnya.


"Ti-tiga hari?" Agya berucap dengan mata yang membola. Sungguh pria yang ada di hadapannya saat ini sudah tidak waras, memutuskan suatu hal yang besar hanya dalam hitungan detik.


"Bersiap-siaplah, 3 hari ke depan kita akan bertemu dan menikah. Jangan berani menghianatiku atau kabur dariku, jika kau melakukan semua itu, aku tidak akan segan menghancurkan hidupmu bahkan hidup keluargamu." ucapnya penuh penekanan.


Agya mengangguk, bibirnya langsung terkatup rapat, ancaman Mr.Dev benar-benar sangat menakutkan.


"Berikan ponselnya." ujar Mr.Dev pada sekertaris Kim, sebelum kemudian ia memakai kaca mata hitamnya kembali, dan berlalu pergi dari sana.


Sekertaris Kim berdehem, ia merogoh saku celananya, mengambil ponsel Agya yang terletak di dalam sakunya tersebut.


"Bersiap-siaplah nona Agya. Mr.Dev tidak pernah bermain-main dengan ucapannya." Menyodorkan ponsel Agya.


"Tu-tuan Kim. A-apa tiga hari tidak terlalu cepat? Bagaimana bisa aku tiba-tiba mengabari keluargaku jika aku akan menikah dalam tiga hari ke depan? Mereka pasti akan sangat terkejut." ucap Agya menatap Sekertaris Kim yang berdiri tidak jauh darinya.


Agya meraih ponselnya dari tangan sekertaris Kim. Lalu meletakannya ke dalam tasnya, hendak mengajukan pertanyaan lagi terkait tasnya yang berisi ktp, atm, dan kartu penting lainnya yang hilang bersama-sama ponselnya namun sekertaris Kim sudah berlalu pergi dari sana tanpa meninggalkan sepata kata apapun lagi, kecuali meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja.


"Huh." Agya menghela napas panjang lalu mengembuskannya dengan kasar, menyeka sisa-sisa air matanya lalu ikut meninggalkan restoran tersebut, tidak mengambil uang yang ditinggalkan oleh sekertaris Kim. Padahal sebenarnya ia membutuhkan uang tersebut untuk sewa taksi pulangnya.


Agya merasa tubuhnya begitu lemas, kakinya seakan berat untuk melangkah, pun pikirannya yang sangat kacau. Bagaimana ia bisa memutuskan pernikahan itu tanpa berpikir panjang dulu? Bagaimana ia menjelaskan pada keluarganya jika dirinya akan menikah beberapa hari lagi? Pasti orang tuanya akan sangat terkejut mendengarnya, secara dirinya tidak memiliki kekasih tetapi tiba-tiba memutuskan untuk menikah.


Menikah karena terpaksa, menikah hanya untuk menebus hutangnya. Menikah dengan pria yang tidak dicintainya dan begitu sangat ia benci.


"Gyaa." suara seseorang yang berasal dari seberang jalan mengalihkan perhatian Agya, wanita itu menyipitkan matanya menatap seorang pria yang sedang melambai-lambaikan tangan ke arahanya.


"Da-Darrel." gumamnya, setelah memastikan pria yang tengah melangkah ke arahnya itu adalah Darrel.


"Gyaa, apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kau berjalan kaki?"


"Ehm, tidak. A-aku hanya ingin berjalan kaki saja." Agya mengulaskan sebuah senyuman hangat di bibirnya.


"Benarkah? Apa kau mau kembali ke apartemenmu? Kenapa lenganmu terluka seperti ini?"


"Eh, ti-tidak apa-apa. Hanya luka kecil." Menjauhkan tubuhnya dari jangkauan Darrel.


"Tapi lukami bisa saja infeksi, ayo ikut denganku. Aku akan mengantarmu ke apotek."


"Eh, ti-tidak perlu Darrel. Aku tidak ingin merepotkanmu." tolaknya lembut.


"Gyaa, ayolah. Izinkan aku melakukan semua ini sebagai tanda permintaan maafku." Darrel memelaskan wajahnya, berharap Agya menerima tawarannya.


Merasa tak tega dengan permohonan Darrel akhirnya Agya menerima ajakan pria tersebut.


"Terima kasih Gyaa. Ayo kita pergi dari sini." Hendak menggandeng tangan Agya namun wanita itu langsung menjauhkan tangan dan tubuhnya.


"Ah baiklah. Ayo." ujar Darrel lagi tersenyum masam, merasa Agya mulai menjaga jarak lagi dengannya.


Tanpa keduanya sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi menatap mereka dengan tatapan kesal, sepasang mata milik seorang gadis cantik yang tengah duduk di dalam mobil sedan berwarna kuning.


"Wanita Jalan* itu benar-benar tidak merasa kapok, dia terus menggoda dan mendekati Darrel. Harus dengan cara apa lagi aku menjauhkan wanita itu dari Darrel?" cetusnya, memakai kaca mata hitamnya lalu melajukan mobilnya, mengikuti mobil Darrel yang berada di depannya.


.


.


.


.


.


Bersambung...