Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Membenci Takdir



Masih di AMC Hospital namun di kamar yang berbeda. Della yang baru saja menerima kabar kematian Alena dibuat ketakutan. Jio benar-benar pria yang sangat bejad, dia membunuh semua wanita yang pernah berhubungan dengannya.


"Ba-bagaimana jika dia tahu aku masih hidup? Apa dia akan datang dan membunuhku. Tidak, dia tidak boleh tahu keberadaanku. Tidak!" Teriak Della meringkuk memeluk lututnya. Ketakutan menyerangnya kini, bayangan-banyang dirinya yang diperkosa oleh Jio dengan sangat brutal kembali memenuhi kepalanya. Kejadian yang membuat Della trauma, bahkan kejadian itu selalu muncul di mimpi wanita itu.


"Tidak, tidak. Aku tidak mau!" teriaknya histeris.


Tiba-tiba ia merasakan tangan kekar seseorang melingkar di tubuhnya, memeluknya dengan sangar erat. "Tidak, aku tidak mau. Lepaskan akuu, aku tak mauu." Della semakin histeris, ia bahkan melakukan pemberontakan, namun kekuatannya tak bernialai apa-apa saat tubuh mungilnya semakin di dekap erat.


"Della, tenanglah." bisiknya.


Deg,


Della langsung terdiam, ia segera memutar tubuhnya dan melihat siapa yang memeluknya kini.


Sekertaris Kim, ya pria itu. Pria yang selalu mendekapnya dengan sangat erat setiap kali ia bermimpi buruk, pria yang selalu datang menemui dan merawatnya meskipun berkali-kali ia usir. Pria yang menyelamatkannya dari kematian.


"Je-Jeha." Della langsung membalas pelukan sekertaris Kim dan menangis sejadi-jadinya. "A-aku takut." ucapnya disela-sela tangisnya.


"Aku akan selalu ada disini untuk melindungimu."


"Ba-bagaimana jika dia tahu keberadaanku? Di-dia pasti akan membunuhku. Aku takut."


"Ssttt, tenanglah." ucap sekertaris Kim, ia semakin mengeratkan pelukannya seraya mengusap-usap punggung belakang Della. Ah entalah, ia merasa sangat menyayangi wanita ini dan ingin terus berada di sampingnya.


Beberapa saat kemudian, isakan tangis Della tiba-tiba terhenti, hembusan napasnya pun terdengar beraturan.


"Dia tertidur?" sekertaris Kim melonggarkan pelukannya, menatap wajah teduh Della yang tampak berkeringat bercampur dengan sisa-sisa air matanya.


Dengan sangat hati-hati, sekertaris Kim memindahkan kepala wanita itu ke atas bantal, sebelum kemudian ia mengusap lembut wajah Della, menyingkirkan sisa-sisa air mata yang menutupi kecantikan wajah wanita itu.


"Kenapa kau harus bertemu dengan pria brengsek seperti Jio?" gumamnya, "Dia bahkan menanamkan trauma mendalam di hidupmu. Bukankah aku sudah sering memberitahumu tentang keburukannya tapi kau tak percaya padaku dan malah memlih pria brengsek itu. Pria itu sama sekali tak pantas dicintai oleh gadis baik sepertimu." Sekertaris Kim terus berceloteh. Ah ia benar-benar membenci situasi ini, ia membenci takdir yang mempertemukan Della dan Jio lebih dulu ketimbang dirinya.


Yaa, walaupun awal pertemuannya dengan Della sangat buruk, namun entah kenapa ia langsung tertarik dengan wanita itu. Wanita pemarah, bodoh, dan keras kepala. Ah wanita yang berhasil meluluh lantahkan hati dan perasannya.


Dritt...Dritt..


Suara dering ponsel yang bersumber dari saku sekertaris Kim, memutuskan perhatian pria itu pada Della. Dengan segera ia beranjak turun dari ranjang dan merogoh ponselnnya.


"Kau dimana? Segera temui aku di lobby."


"Baik tuan, saya akan segera ke sana." ucap sekertaris Kim mengkahiri panggilan telponnya.


"Huffttt." Hembusan napas berat keluar dari mulut sekertaris Kim, ia kembali memusatkan perhatiannya pada Della seraya mengusap puncak kepala wanita itu.


"Aku berjanji akan selalu menjaga dan melindungimu." ucapnya pelan seraya tersenyum hangat. Senyum yang tidak pernah dijumpai oleh siapapun, kecuali Della di waktu tidur.


"Temani nona Della di ruangannya, jangan pernah meninggalkannya seorang diri." ucap sekertaris Kim pada perawat pribadi Della, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana untuk menemui Dev yang sudah menunggunya di Lobby.


***


"Sayang kau sudah bangun?" lontaran pertanyaan dan senyuman hangat yang menyabut Agya membuat mata wanita itu langsung terbuka lebar, ia sangat terkejut sekaligus bahagia.


"Mama." Sungguh ia tak menyangka mamanya akan datang menemuinya.


"Bagaimana kabarmu sayang?" tanya Nyonya Inayah mengusap lembut puncak kepala anak semata wayangnya tersebut.


"Aku baik-baik saja." jawabnya, "Papa dimana? Apa papa tidak ikut ke sini?" Agya mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, mencari keberadaan papanya namun tak ada satupun orang di sana kecuali dirinya dan mamanya.


"Papa dan tuan Andhito sedang ke Wilantara Group." ucap nyonya Inanya.


"Ah baiklah, sejak kapan mama berada di sini? Kenapa mama tidak membangunkanku."


"Sejak pagi. Mama tidak membangunkanmu karena kau tertidur sangat nyenyak. Selain itu, suamimu akan sangat marah jika mama dan lainnya membangunkanmu. Dia bahkan melarang kami untuk berbicara dan membuat keributan karena tidak ingin kau terbangun."


"Astaga Dev. Berlebihan sekali."


"Dia sangat mencintaimu, mama bisa merasakan itu."


"Romantis sekali." ucap nyonya Inayah tersenyum.


"Ehm, Ma, aku mau bangun." Agya merentangkan keduanya, seharian tertidur membuat sekujur tubuhnya terasa sakit.


"Tunggu sebentar." Nyonya Inayah beranjak dari duduknya lalu membantu membangunkan anaknya tersebut. Memperbaiki bantal Agya agar wanita itu bisa bersandar.


"Terima kasih Ma."


"Sama-sama sayang. Mama sangat senang mendengar kabar kehamilanmu, semoga cucu mama ini baik-baik saja di dalam sana." Nyonya Inaya mengusap lembut perut Agya.


"Dia akan selalu baik-baik saja, Mommy dan Daddynya menjaganya dengan sangat baik."


"Menjaga tapi hampir membuatnya celaka." celoteh Mama Inayah.


"Hehe maaf, kami tak sengaja. Aku pikir semuanya akan baik-baik saja ternyata diluar kendaliku."


"Jangan meremehkan hal-hal kecil nak, usia kandunganmu baru berjalan 8 minggu, masih sangat lemah dan rentan."


"Maaf Ma, kami tak akan mengulanginya lagi."


"Ya sudah tidak apa-apa." ucap nyonya Inayah, "Apa kau masih merasa mual?"


Agya menggeleng, "Tidak."


"Syukurlah, tadi Dev menitipkan makanan kesukaanmu pada Mami. Katanya kau harus makan dan menghabiskannya sebelum dia datang jika---."


"Jika tidak aku akan dihukum olehnya? Pasti dia berkata begitu bukan." imbuh Agya memotong ucapan mamanya.


"Iyaa. Apa Dev sering menghukummu nak? Apa dia akan memukulmu?"


"Eh, tidak-tidak. Bukan hukuman seperti itu."


"Lalu?" Kening Nyonya Inayah berkerut dalam, menunggu Agya menjawabnya.


Sedangkan Agya, wajahnya sudah memerah padam, "Hukuman yang sangat nikmat Ma. Ah, sangat memalukan jika aku memberitahu mama." gumamnya dalam hati.


"Bukan apa-apa. Dev hanya suka bercanda, dia tidak benar-benar menghukumku."


"Oh, mama pikir dia akan memukulmu. Jika itu terjadi laporkan pada mama, mama akan menghukumnya kembali."


"Haha mana mungkin, dia sangat mencintaiku Ma. Yaa, walaupun dia tidak romantis dan pemarah, tapi dia sangat mencintaiku."


"Mama bisa melihatnya sayang. Dia tak ingin kau kesakitan, dia bahkan bertanya pada mama sampai kapan kau akan mengalami muntah dan mual. Dan kau tahu dia pikir kau akan mengalami ini selama 7 bulan ke depan. Hahaha, mama masih tak bisa berhenti menertawakan wajah frustasinya tadi."


"Dia berkata seperti itu? Ah, aku kasihan padanya. Semalam aku tak sengaja memuntahi pakaiannya. Dia juga tak berhenti mengusap dan mencium perutku sampai aku merasa baik dan tertidur."


"Dia pria yang baik. Mama sangat senang dia menjadi suamimu dan menjagamu dengan baik seperti ini."


"Andai saja mama tahu alasan kami menikah. Pasti mama akan marah besar padanya." batin Agya.


"Ehm, Ma. Aku lapar."


"Oh astaga mama lupa. Tunggu sebentar." Nyonya Inayah meraih nampan berisi makanan yang berada di atas nakas, lalu dengan telaten ia menyuapi anak kesayangannya tersebut.


.


.


.


.


.


Bersambung....