
Sepanjang jalan menuju kamar, Dev terus memandangi wajah cantik Agya, seulas senyuman tipis ikut tersampir di bibir pria itu. Entahlah, seiring bertambahnya usia pernikahan mereka, ia merasa cintanya semakin bertambah.
"Apa kau tak tahu ini hari apa?" tanya Dev mendaratkan tubuhnya dan tubuh Agya di atas tempat tidur. Pria itu mengusap lembut wajah dan bibir tipis Agya sebelum kemudian ia mendaratkan kecupan hangat di sana.
"Hari selasa." jawab Agya singkat, menatap wajah Dev yang terlihat sumringah.
"Iyaa, aku tahu hari selasa. Tapi apa kau tak mengingat apapun di hari ini?"
"Tidak." Seketika senyum di bibir Dev langsung memudar, kedua alisnya pun saling bertaut dalam. Sial, pantas saja ia tak mendengar ucapan manis apapun dari bibir istrinya tersebut sejak pagi, ternyata dia sama sekali tak mengingatnya.
"Memangnya ada apa dengan hari ini? Apa ada yang spesial?"
"Lupakan saja." Dev bangkit dari atas tempat tidur dengan wajah yang terlihat begitu masam. Ia pikir Agya akan antusias menyambutnya pulang, dan mengucapkan kalimat terindah yang ingin ia dengar namun apa yang ia temukan sekarang?
"Eh, sayang kau mau apa?" Kedua bola mata Agya membelalak tak kala Dev menanggalkan pakaiannya satu persatu dan kembali naik ke atas tempat tidur.
"Memberimu hukuman." ucapnya tersenyum penuh maksud.
"Hukuman?"
"Yaa, kau tak mengingat hari ulang tahunku. Kau bahkan tak mengucapkan selamat atas bertambahnya usiaku. Kau juga..."
"Oh astaga, jadi hari ini kau berulang tahun?" tanya Agya pura-pura terkejut.
"Kau sama sekali tak tahu?" Wajah Dev semakin terlihat kesal.
"Ahh, maafkan aku. Aku tak mengingatnya." ucap Agya memelaskan wajahnya, namun sebenarnya ia ingin sekali menertawai suaminya tersebut.
"Ahh shittt. Aku sangat membenci ini." dengusnya kesal, dengan sekali gerakan ia berhasil menarik tubuh Agya ke atas tubuhnya.
"De-Dev, kau mau apa?"
"Memberimu hukuman. Kau harus memuaskanku sebagai hadiah ulang tahunku."
"Itu saja yang kau inginkan?"
"Hm."
"Dasar pria mesum."
"Yaa, aku memang pria mesum. Tapi tak salahkan jika aku melakukan ini dengan istriku. Apa aku harus mencari---."
"Dev." Agya langsung menutup mulut Dev dengan kedua telapak tangannya. "Jangan macam-macam, awas saja jika kau berani jajan diluar." cetusnya menghunuskan tatapan tajamnya. Sontak Dev langsung terbahak.
"Hahahah, mana mungkin."
"Awas saja!"
"Tidak akan sayang." Dev memutar tubuhnya, hingga kini Agya berada di bawah kungkungannya.
"Apa kita sudah bisa memulainya, hm?" tanyanya, menyampirkan anak rambut Agya ke belakang telinga wanita itu.
"Ehm, Dev. Bisakah kau melakukannya dengan lembut."
"Dengan lembut? Ah, itu bukan permainanku."
"Dev." Agya memelaskan wajahnya, ia takut terjadi sesuatu dengan bayinya.
"Baiklah-baiklah, aku akan melakukannya dengan lembut." ucapnya, tanpa basa basi Dev langsung melucuti pakaian istrinya tersebut, mengecup kening, hidung dan berakhir di bibir Agya.
Pertempuran ganaspun tak dapat dihindari, Dev bahkan melupakan ucapannya sendiri karena kenikmatan tubuh Agya. Ia terus mengoyak tubuh bawah istrinya dengan senjatanya, hingga membuat Agya melenguh dan berteriak nikmat.
"Dev... Ahhhh." Agya melekungkan tubuhnya saat semburan cairan hangat masuk ke dalam intinya. Pun Dev yang semakin mengeratkan pelukannya, tidak ingin Agya terlepas dari kendalinya.
"Aku mencintaimu." ucap Dev mengakhiri pergumulan panas mereka. Ia mengecup singkat kening Agya lalu menyeka peluh yang bercucuran di wajah wanita itu.
Pun Agya yang hanya bisa tersenyum, tubuhnya terasa lelah dan sakit.
"Happy birthday my handsome husband." ucapnya mengusap lembut wajah Dev, sebelum kemudian ia membenamkan kecupan hangat di bibir suaminya.
"Terima kasih sayang." Dev tersenyum, hatinya kembali berbunga-bunga. Tak ada amarah lagi seperti beberapa jam yang lalu.
"Kau tak memberiku hadiah?"
"Ehm, kau mau hadiah apa?"
"Tak ada, aku hanya ingin kau selalu berada di sampingku seperti ini. Kau harus selalu menemaniku hingga aku tua dan beruban."
"Beruban? Ah, kau pasti tidak tampan lagi di hari itu."
"Jadi kau tidak menyukaiku lagi jika aku tua?" Wajah Dev kembali terlihat masam.
"Hahaha sayang. Tentu saja aku akan selalu menyukaimu. Sampai kapanpun aku akan tetap mencintaimu."
"Me too. I love you so much baby."
"I love you too."
Agya mengkahiri ucapannya dengan membenamkan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut seraya memejamkan matanya. Begitu juga dengan Dev, ia ikut memejamkan matanya dan mengeratkan pelukannya.
Setelah mendengar tuan Alden yang telah diringkus tentara marinir dan kabar kematian Alenaa. Agya sangat berharap tidak ada lagi orang-orang jahat yang mencoba mengusik keluarga Dev. Ia ingin hidup normal bersama Dev tanpa diganggu oleh siapapun. Yaa, semoga saja.
***
Dritt... Dritt.. Drit...
Suara notif pesan yang masuk di ponsel Dev membuat pemilik ponsel tersebut terbangun. Pria itu segera meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Matanya masih terpejam, rasanya ia tak ingin terbangun dan ingin tertidur lebih lama bersama Agya. Ah namun, ia baru tersadar jika sisi tempat tidurnya sudah lapang, tak ada siapapun lagi di atas tempat tidur itu kecuali dirinya.
"Tumben sekali dia mengirimkanku pesan?" gumam Dev takkala dirinya membaca pesan masuk dari istrinya.
Sayang, apa kau sudah bangun? Ah, tentu saja kau sudah bangun dan membaca pesan ini.
Bangun dan bersiap-siaplah, aku sudah menyiapkan pakaiannmu dan menyimpannya di atas sofa.
Ayoo segeralah bergerak, jangan berdiam di atas kasur seperti itu, dasar lamban. Agya membubuhi tiga emot tertawa di akhir pesannya, hingga membuat Dev tersenyum.
Aku menunggumu di paviliun, segeralah kemari dalam 30 menit, awas jika kau terlambat.
"Ah menggemaskan sekali. Aku akan segera bersiap dan menemuimu sayang." gumam Dev melempar ponselnya ke sembarang arah seraya menyingkap selimut yang menutupi tubuh polosnya.
30 menit berlalu, Dev telah selesai bersiap, pria itu kini memandang pantulan wajahnya pada cermin kaca. Beberapa kali, ia merubah model sisiran rambutnya. Ah, kenapa ia jadi tak percaya diri seperti ini. Jantungnya juga terasa berdetak dua kali lebih kencang.
"Ah yaa, walaupun baju ini tidak cocok untukku, tapi bisa tertutupi karena ketampanan wajahku. Agya pasti akan terpesona dengan ketampananku ini." ucapnya penuh percaya diri. Pria itu menyisir singkat rambutnya menggunakan tangannya lalu melangkah keluar kamar seraya bersiul kecil.
"Selamat malam tuan." sapa sekertaris Kim yang berdiri di depan pintu paviliun.
"Oh kau juga di sini. Apa yang kau lakukan?"
"Ikut merayakan hari kelahiran tuan." ucap sekertaris Kim.
"Ah, aku tak butuh kehadiranmu." cetus Dev, sebelum kemudian ia menyuruh sekertarisnya tersebut untuk membukakannya pintu.
Dan kejutaaannn..
"Selamat ulang tahun sayang." Agya menyambut Dev dengan seulas senyuman lebar, di tangannya terdapat cake ulang tahun berwarna putih dengan dua lilin berangkakan 30. Pun tuan Andhito dan Nyonya Valerie yang bernyanyi seraya menepuk-nepuk tangan mereka.
"Tiup lilinnya-tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang jugaa-sekarang jugaaa. Sekarang jugaaa~~."
"Ayoo tiup lilinnya Dev." pinta Agya menatap Dev yang masih setengah terkejut.
"Astagaa. Kenapa mereka merayakan hari kelahiranku seperti anak kecil." gumam Dev dalam hati. Ia sangat terkejut dengan perayaan hari kelahirannya yang tidak seperti biasanya. Ah, bahkan untuk pertama kalinya diumur 30 tahun, ia baru merasakan bagaimana perayaan ulang tahun. Biasanya tak ada yang merayakannya bahkan mengingatnya.
"Sayang, ayoo tiup." Agya kembali berbicara saat Dev tak memberinya respon.
"Ehm, baiklah." Dev hendak meniup lilin tersebut namun tiba-tiba Agya mencegahnya. "Eh, make a wish dulu sayang." pintanya. Seketika Dev langsung tersenyum, ia mengatupkan kedua tangannya seraya memejamkan matanya, membuat beberapa harapan untuk kehidupannya. Lalu dengan penuh suka cita ia meniup lilin tersebut bersamaan dengan semburan kebahagiaan yang terpancar di wajahnya.
"Selamat ulang tahun sayang." ucap tuan Andhito dan nyonya Valerie bersamaan, keduanya bergerak menghampiri Dev dan langsung memeluknya, terlihat perasaan bersalah tumbuh dalam diri nyonya Valerie dan tuan Andhito. Selama 29 tahun belakangan ini, tak terpintas sedikitpun dipikiran mereka untuk merayakan hari kelahiran anaknya, ah bakhkan untuk sekedar ucapanpun tak sama sekali mereka lakukan.
"Terima kasih Ma, Pa." ucap Dev tersenyum, buru-buru ia menyeka air matanya yang hampir menetes. Hampir saja ketampanannya memudar karena air mata sialan itu.
"Sekarang waktunya potong kue." Agya kembali bersuara, berusaha untuk mencairkan susasana.
"Tidakkah itu terlihat seperti anak-anak?" tanya Dev, ia terlihat enggan untuk melakukannya.
"Tentu saja tidak, orang dewasa juga akan melakukannya. Ayoo potong kuenya, da berikan potongan pertama untuk orang spesial."
"Ayo Dev." Nyonya Valerie ikut menimpali saat melihat Dev yang masih berdiri di tempatnya.
"Baiklah." Dev meraih pisau, lalu memotong kue dengan potongan sedang. Tanpa basa basi, ia langsung memberikan potongan kue pertamanya tersebut kepada sekertaris Kim.
"Ambillah."
"Untukku?" sekertaris Kim meraih potongan kue tersebut dari tangan tuan mudanya.
"Iya, makanlah."
"Kau tak memberi kepada istrimu Dev?" tanya nyonya Valerie terkejut. Ia mengambil alih kue yang dipegang oleh Agya.
"Agya tak membutuhkan potongan itu, kan sayang." ucap Dev menatap Agya dengan senyuman tipis yang nyaris tak terlihat.
"Aku akan memberikannya tubuhku setelah ini."
"Dev." Tatapan mata Agya langsung menajam, bersamaan dengan wajahnya yang memerah padam.
"Hahaha, kau sangat cerdas Dev." ucap tuan Andhito terbahak. Sedangkan nyonya Valerie hanya bisa menggeleng kepalanya, melihat sikap anak dan suaminya yang sama sama mesum.
"Kau cantik sekali malam ini sayang." bisik Dev tepat ditelinga Agya, seraya mengecupnya singkat.
"Ehm, a-aku tak akan tergoda dengan rayuanmu."
"Kau marah karena aku tidak memberimu potongan kue itu?"
"Tidak."
"Ah benarkah? Jangan menekuk wajahmu seperti ini. Rasanya aku ingin memakanmu sekarang." ucap Dev menarik pinggang Agya hingga wanita itu masuk ke dalam pelukannya.
"Dev, jangan sekarang. Ada Mama dan Papa di sini."
"Aku tak perduli."
"Ehm." Tuan Andhito berdehem, seketika Agya langsung melepaskan tubuhnya dari Dev.
"Waktunya untuk berdansa." ucap nyonya Valerie, ia menarik tangan Dev dan mengajaknya berdansa saat alunan melodi mulai memenuhi paviliun tersebut.
Sedangkan Agya, wanita itu segera mendaratkan tubuhnya di atas kursi saat perutnya tiba-tiba terasa sakit.
"Ahhw." ringisnya memejamkan matanya.
"Dev, mami perutkuhh.."
"Nak, ada apa?" melihat Agya yang kesakitan, Tuan Andhito langsung menghampiri menantunya, begitu juga dengan Dev dan nyonya Valerie. Alunan melodi yang semula berdenging, kini langsung lenyap di tengah jeritan Agya.
"Perutku sangat sakit, Dev."
"Sayang, apa yang terjadi?" Wajah Dev terlihat panik kini, ia segera berlutut di depan Agya dan memegang sumber rasa sakit istrinya tersebut.
"Dev, kita harus segera membawa Agya ke rumah sakit. Mama tidak ingin bayinya kenapa-napa." pinta nyonya Valerie.
"Bayi?"
"Ya. Agya sedang hamil. Ayo Dev, bawa Agya sekarang!"
Ditengah-tengah kebingungan dan kepanikannya, Dev langsung meraih tubuh Agya ke dalam gendonganya.
"Sekertaris Kim, cepat siapkan mobil."
"Baik tuan." Seketika kepanikan melanda semua orang yang ada di sana, pesta yang semula penuh suka cita kini berakhir seperti ini.
.
.
.
.
Bersambung....