
"Kenapa parkiran terlihat ramai? Tidak biasanya." ucap Della, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya.
"Entahlah. Jam berapa kau pulang? Sepertinya aku tak bisa menjemputmu."
"Mungkin sore. Tidak apa-apa, aku akan pulang naik taksi."
"Baiklah, masuklah." ujar Jio mengusap puncak kepala Della lembut sebelum kemudian ia mengecupnya, "Aku sangat mencintaimu."
"Hem." Della mengangguk, lalu ia membenamkan tubuhnya ke dalam pelukan Jio, "Berhati-hatilah."
"Kau juga. Aku berangkat sekarang ya, aku akan ke rumahmu nanti malam." Jio kembali berpamitan, mengecup bibir Della singkat sebelum kemudian ia masuk ke dalam mobilnya. Melajukan mobil tersebut dengan kecepatan maksimal, ia terlihat sangat buru-buru kali ini karena sudah memiliki janji dengan Alenaa. Kekasihnya itu pasti sudah menunggunya di hotel dan mungkin sedang menggerutu sekarang karena dirinya terlambat datang.
"Yura, apa kau melihat Agya?" tanya Della ditengah-tengah kerumunan para wanita yang belum membubarkan diri mereka dari parkiran.
"Tadi aku bertemu dengannya di depan ruangan jurusan. Mungkin dia masih di sana."
"Oh baiklah. Anyway, kenapa banyak sekali orang yang berkerumun di sini? Apa terjadi sesuatu?"
"Iyaaa. Kau tahu, tadi Mr. Dev ke sini."
"Mr. Dev?" Della mengulangi sedikit ucapan Yura, mulutnya menganga lebar.
"Iyaa, dia baru saja ke fakultas, entahlah apa yang dia lakukan di sana."
"Lalu di mana Mr. Dev sekarang?"
"Dia baru saja meninggalkan kampus 10 menit yang lalu."
"Seorang diri?"
"Tidak, dia bersama sekertarisnya."
"Oh baiklah, aku pikir dia membawa Agya pergi."
"Agya?" Yura mengerutkan dahinya, menatap Della dengan tatapan tak terbaca, "Kenapa Mr. Dev harus membawa Agya pergi?"
"Eh, tidak kenapa-napa. Aku pergi menemui Agya dulu." ucap Della gelapan, lalu ia beranjak pergi dari sana dengan langkah panjang.
"Aneh sekali."
**
"Apa Mr. Dev suamimu? Bagaimana kau bisa menikah dengannya?"
Pertanyaan macam apa ini? Agya menghela napas panjang, Dev benar-benar sudah memberitahu semua staf jurusan bahkan Mrs. Belinda juga.
"Iyaa dia suamiku. Aku menikah dengannya karena kami saling mencintai, bukankah hal yang wajar jika pasangan kekasih yang sudah saling mencintai mengikat hubungan mereka dengan ikatan pernikahan?"
"Ehm." Mrs. Belinda berdehem seraya mengusap punggung belakangnya.
"Tunjukan proposal yang telah kau buat, aku mau memeriksanya."
"Baik Mrs." Agya langsung meletakan lembaran proposalnya ke atas meja, lalu menyodorkannya pada Mrs. Belinda. Jantungnya berdegub kencang kini, mulutnya tak behemti memanjatkan doa, berharap proposalnya yang sudah ia susun dengan rapi tak di tolak lagi.
"Kau mengambil jenis penelitian kuantitatif."
"Iyaa Mrs."
Mrs. Belinda terus membaca dan membuka lembar demi lembar proposal tersebut, sesekali ia melirik ke arah Agya.
"Menarik, tapi kau harus merubah tempat penelitianmu. Wardana company tak cocok menjadi tempat penelitianmu. Apa itu perusahaan milik ayahmu?"
Agyaa mengangguk, "Iyaa Mrs. Aku memilih Wardana Company karena aku pikir sistem administrasi yang menjadi object penelitianku bisa di kembangkan di sana."
"Tapi kau tak boleh meneliti di luar negara ini. Banyak perusahaan yang cocok untuk sistem administrasi yang akan kau kembangkan di sini. Aku sudah merundingkan hal ini dengan Mr. Aberto sebagai penasihat akademikmu. Tempat penelitianmu kami ganti, dan kau harus meneliti di Wilantara Group."
"Apa? Wilantara Group?"
"Iyaa, kanapa kau terkejut?"
"Mrs. Belinda. Wilantara Group adalah perusahan yang sudah sangat maju dan berkembang, sistem administrasi di sana sudah sangat berkembang dan tidak dapat diragukan lagi. Aku tak mungkin mencoba sistem baru yang ada di proposalku ini."
"Kau bisa mencobanya bukan."
"Tapi---."
"Eh, ma-maaf Mrs. A-aku akan mencoba meneliti di Wilantara Group."
"Bagus. Lakukanlah dengan baik, jangan mengecewakan suamimu."
"I-iya. Terima kasih banyak Mrs." ucap Agya beranjak dari duduknya, lalu ia menjabat tangan Mrs. Belinda. Ia sangat bahagia kini, namun tak sepenuhnya, ia yakin ada campur tangan Dev lagi dalam hal ini. Sungguh ia tak suka!
"Agyaa. Kau sudah menemui Mrs. Belinda?" Della beranjak dari duduknya lalu menghampiri Agya yang baru saja keluar dari ruang jurusan.
Agya mengangguk lemah, ia terlihat sangat tak bersemangat.
"Proposalku sudah di accept oleh Mrs. Belinda."
"Ah benarkah, congratulation. Seharusnya kau senang bukan? Tapi kenapa kau jadi tak bersemangat seperti ini."
"Della, kau tahu. Dev baru saja ke sini, dia datang menemui Mrs. Belinda, aku tak tahu apa yang mereka bahas. Tapi aku yakin Dev pasti mengancam Mrs. Belinda, hingga Mrs. Belinda mau menyetujui proposalku."
"Heii, kenapa kau malah berpikir negatif pada suamimu. Tidak mungkin Dev melakukan itu, mungkin dia menemui Mrs. Belinda karema hal lain."
"Aku sangat mengetahui sikap suamiku. Dia bisa melakukan apapun yang dia mau. Aku memang sangat senang proposalku di terima tapi lebih senang lagi jika Dev tak ikut campur."
"Gyaaa sayang, dengarkan aku baik-baik. Kau harus percaya pada Mr. Dev, jika dia sudah ikut campur berarti memang ada yang tidak beres dengan Mrs. Belinda. Kau tidak lupa bukan jika anak bimbingan Mrs. Belinda banyak yang tidak selesai, bahkan banyak dari mereka yang memilih mengganti proposal mereka untuk menghindari Mrs. Belinda."
"Ah entalah, aku hanya tak suka saja."
"Kalau kau tak suka, berikan saja Mr. Dev padaku." goda Della mengedipkan matanya seraya menyenggol bahu Agya pelan.
"Enak saja, dia milikku!!"
"Iyaa-iyaa. Mr. Dev milikmu, dia juga tak mungkin menyukaiku, hahah." Tawa Della langsung pecah melihat wajah cemberut Agya.
"Tapi, aku sangat sedih."
"Sedih? Kenapa lagi Agya sayang? Wajahmu terlihat sangat jelek jika di tekuk seperti ini."
"Tadi dia tidak memerdulikanku, dia tidak menyapaku. Tidak hanya itu, dia bahkan tak menatapku. Aku tahu dia marah karena aku tak menuruti perintahnya, tapi apa pantas dia mengabaikan istrinya seperti itu? Dia bahkan tak memberiku kesempatan untuk berbicara."
"Hahah. Jadi kau sedih karena itu? Apa kau sudah mencintainya? Ya, aku rasa kau sudah jatuh cinta padanya."
"Jatuh cinta? Entahlah, aku masih meyakinkan diriku."
"Sudah saatnya kau membuka hatimu Gyaa. Mr. Dev pria yang baik, ya walaupun sedikit kejam, hehe."
"Dia sudah menjadi suamimu, kau harus belajar mencintainya. Bukakah dia sudah mencintaimu juga? Kenapa kau belum membalas cintanya. Apa kau tidak kasihan padanya? Jangan bilang kalau kau masih mencintai Darrel? No! Kau tak boleh mencintainya lagi, kau harus melupakannya!"
"Aku sudah melupakannya. Aku tak mencintainya, bahkan aku merasa jika aku tak pernah mencintainya, aku hanya mengaguminya saja tak lebih dari itu."
"Ya sudah, tunggu apalagi. Terimalah cinta Mr. Dev. Aku yakin kau akan menjadi wanita yang paling bahagia di dunia ini."
"Aku akan mencobanya. Sudahlah, jangan membahasnya lagi, aku lapar."
"Kau ini. Baiklah, ayo kita ke kantin." ajak Della menggandeng lengan Agya.
"Kau tak bertemu Mr. Park?"
"Nanti saja setelah makan siang."
"Agya tidak mencintaiku?" Darrel yang sedari tadi mendengar percakapan Agya dan Della segera keluar dari dinding yang membatasi ruang tunggu dengan sebuah ruangan kecil yang ada di sana. Tatapannya masih tak melepaskan tubuh Agya yang hampir hilang dari pandangannya, dadanya tiba-tiba terasa sesak mendengar pernyataan dari wanita yang amat sangat ia cintai itu.
"Aku tak akan membiarkannya, Agya pasti mencintaiku. Aku akan merebut hatinya lagi." gumam Darrel menggepalkan tangannya, rahangnya mengeras. Ia harus memikirkan cara untuk merebut Agya dari pelukan Dev.
.
.
.
.
Bersambung...
Greget sama Darrel 😬🙂