
Dengan sisa-sisa tenaganya, Dev membuka gerbang rumah mertuanya dan melangkah masuk, meninggalkan anak buah tuan Darwin yang sudah tergeletak di atas tanah dengan tubuh dan wajah yang dipenuhi darah.
"Agyaa." teriak Dev seraya mengyeka darah yang terus mengalir dari pelipisnya.
Suara teriakan itu berhasil menyita perhatian Agya dan kedua orang tuanya yang tengah sibuk menyantap sarapan mereka.
"Dev." Agya beranjak dari duduknya, ia hendak berlari keluar untuk menemui suaminya itu namun tuan Darwin langsung mencegahnya.
"Lanjutkan makanmu! Biar papa yang menemuinya."
"Tapi pa, Dev--."
"Kau mau membantah papa!" seru tuan Darwin menghunuskan tatapan tajam. Ia yang semula terlihat tenang, kini menjadi berapi-api, sekelebat amarah memenuhi kepalanya setelah mendengar suara menantunya.
"Sayang, biar---."
"Temani Agya makan!" Tuan Darwin memotong ucapan lembut istrinya, sebelum kemudian ia meninggalkan ruang makan tersebut dengan langkah panjang, pun tangannya yang sudah terkepal.
Sementara Dev, ia sudah berdiri di depan pintu rumah mertuanya seraya mengatur napasya yang saling memburuh. Kini kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan akan alasan yang membuat anak buah tuan Darwin menyerangnya hingga seperti ini. Apa tuan Darwin yang memerintah mereka? Kenapa?
"Pa." Dev membuyarkan lamunannya tatkala melihat papa mertuanya yang baru saja muncul di balik pintu.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tuan Darwin melontakan pertanyaan dengan wajah datarnya, ia tak terkejut ataupun perduli dengan wajah menantunya yang sudah berlumuran darah.
"Aku ingin menemuiku istriku."
"Istri?" tuan Darwin tersenyum sinis, "Dia tak ada disini."
"Pa, aku tahu istriku ada di rumah ini. Izinkan aku untuk menemuinya Pa, aku sangat merindukannya." Dev memelaskan wajahnya, menatap mertuanya dengan penuh permohonan. Sampai detik ini, ia masih bingung dengan sikap dingin yang ditunjukan oleh mertunya itu.
"Kau merindukannya? Hahaha." tuan Darwin tegelak, sebelum kemudian tawanya terhenti berganti dengan tatapan tajam.
"Dimana kau saat Agya menyiapkan makan malam untukmu? Dimana kau saat anakku jatuh pingsan?!" serunya. "Kau bahkan tak memberitahuku saat Agya menghilang! Dan sekarang kau baru menemuiku? Kau benar-benar suami yang tak bertanggung jawab Dev."
"Aku--."
"Tak perlu menjelaskan apapun, aku tak akan percaya padamu Dev Wilantara. Aku akan mengambil alih hidup anakku!"
Deg
Dev mengangkat kepalanya, menatap tuan Darwin dengan tatapan tak terbaca.
"Pergilah, aku tak akan mengizinkanmu bertemu anakku!"
"Tapi Pa, aku suaminya. Aku berhak atas dirinya."
"Hak? Kau membicaran hak? Apa kau tak malu Dev? Selama 5 bulan anakku menderita karenamu. Dia harus mengurus kandungannya seorang diri karenamu." Tatapan mata tuan Darwin semakin menajam, ia benar-benar membenci pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Aku tahu aku bersalah Pa, aku mengakui kesalahanku. Tapi apakah aku tak memiliki kesempatan untuk dimaafkan? Aku mencintai Agya, aku sangat mencintainya Pa. Aku menyesali semua perbuatanku."
"Pergilah."
"Pa." Dev menjatuhkan kedua lututnya di lantai saat tuan Darwin hendak masuk ke dalam rumah. Ia akan melakukan berbagai cara untuk merebut kembali hati mertuanya tersebut, termaksud berlutut seperti ini.
"Aku mohon. Aku ingin bertemu istriku, aku sangat merindukannya." kedua tangan Dev terkatup di depan dadanya, ia memohon dengan sangat, mencoba mendobrak ego papa mertuanya tersebut.
Namun yang dilakukannya benar-benar tak mengetuk hati tuan Darwin sedikitpun.
"Pergilah." ujar pria paru baya itu, memutar tubuhnya dan berlalu masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Dev.
"Tuan, sebaiknya kita bersihkan luka tuan dulu."
"Tidak! Luka ini tak ada apa-apanya bagiku. Aku akan menunggu disini sampai Agya keluar. Aku sangat merindukannya."
"Tapi tuan---." sekertaris Kim tak melanjutlan ucapannya, ia melangkah mundur saat pintu rumah tuan Darwin kembali terbuka.
Dilihatnya Agya yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah tak terbaca.
"Sayang--." Menyadari kehadiran istrinya, Dev langsung menatap penuh wajah wanita itu, bibirnya bergetar, pun air matanya yang tiba-tiba mengalir dari kedua pelupuk matanya, bercampur dengan darah yang terus menetes dari pelipisnya. Ia tak percaya dengan apa yang dilihatnya saat ini.
Sedangkan Agya, ia masih tak menunjukan reaksi apapun, kedua manik matanya sibuk menatap wajah Dev yang dipenuhi darah. Ia tak mampu mengeluarkan sepata kata apapun dari mulutnya akibat keterkejutannya.
"Maafkan aku." Tanpa pikir panjang, Dev langsung melangkah menghampiri istrinya itu dan berlutut di hadapan wanita itu.
"Maafkan aku Agya." ujarnya mengatupkan kedua tangannya. "Ku mohon maafkan aku, aku mengakui kesalahanku. Aku salah, seharusnya aku langsung pulang dan menemuimu malam itu, tapi aku malah---."
"Dev." Agya menggeleng, ia meraih tubuh Dev dan memeluknya.
"Maafkan aku sayang. Maafkan aku." ucap Dev mengeratkan pelukannya seraya mengecup pundak Agya berkali-kali. Ia tak akan melepaskan wanita ini lagi, sampai kapanpun ia tak akan melepaskannya.
"Dev."
"Ku mohon tetaplah seperti ini, aku sangat merindukanmu." pelukan ditubuh Agya semakin terasa erat, pria itu seakan tak mau melepaskannya.
"Kau menindih bayi kita."
Deg
Seketika Dev melepas pelukannya, kini tatapannya beralih pada perut Agya yang semakin membesar.
"Apa mereka baik-baik saja?" tanyanya mengusap lembut perut Agya dan mengecupnya.
"Hm." Agya menjawab singkat, ia menggerakan tangannya untuk menangkup wajah Dev.
"Luka ini pasti sangat sakit. Masuklah, aku akan membersihkan wajahmu."
"Ada yang lebih sakit dari luka ini." Dev memegang dadanya, tempat hatinya berada. "Kau berhasil membuatku gila dan memutus hatiku."
Glek
Agya langsung terdiam, ia mengalihkan tatapannya ke arah lain seraya memejamkan matanya singkat. Seterpuruk itukah Dev tanpanya? Bagaimana nanti jika dirinya sudah tiada? Apa Dev akan jauh lebih terpuruk?
"Ehm, ma-masuklah. Sepertinya pelipismu sobek, aku akan meminta mama untuk menjahit lukamu." ucap Agya mengalihkan pembicaraan mereka. "Sekertaris Kim, masuklah juga."
"Baik nyonya." sekertaris Kim mengangguk, lalu melangkah mengikuti langkah kaki Dev yang berjalan di depannya. Pandangannya kini mengedar ke sekelilingnya, mencari keberadaan tuan Darwin. Bukankah pria paru baya itu menyuruh Dev pergi dan menutup rapat pintu rumahnya? Tapi kenapa tiba-tiba Agya bisa keluar dan menemui Dev? Apa tuan Darwin hanya menguji seberapa besar Dev mencintai anaknya?
.
.
.
.
Bersambung....