Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Hamil



Sejak pagi Wilantara Group terus dipadati para reporter. Kesaksian yang diberikan oleh Tuan Andhito semakin mengguncang publik. Perlakuan kotor tuan Alden benar-benar mengejutkan khalayak.


Jadi selama ini, tuan Andhito dibelenggu oleh kekuasaan tuan Alden?


Kasihan tuan Andhito, dia yang memiliki Wilantara Group, namun perusahannya tak dapat ia kendalikan sepenuhnya karena Tuan Alden.


Tuan Alden benar-benar pria yang sangat bejad, ia tak dapat dimaafkan.


Ini sangat mengejutkan, berarti hubungan Mr. Dev dan Alenaa hanyalah rekayasa semata. Mereka tak benar-benar saling mencintai.


Aku merasa kasihan dengan Dev, selama 5 tahun ia harus berhubungan dengan wanita yang sama sekali tak ia cintai.


Dev pasti sangat tertekan, dia banyak melewati masa-masa sulitnya.


Kemana perginya Alenaa sekarang? Aku yakin dia akan sangat malu muncul ke hadapan publik.


Keluarga Danendra selalu penuh dengan kontroversi


Keluarga yang sangat bejad, semoga kita tak bertemu dengan keluarga mereka dikehidupan selanjutnya.


Beragam macam komentar netizen memenuhi media sosial, mereka mengkritik habis-habisan tuan Alden dan keluarganya. Bahkan saat ini, keberadaan nyonya Helena tak diketahui oleh siapapun. Pun tuan Alden yang kini mendekam di dalam tahanan marinir.


"Tuan Dev." dari arah lift tampak sekertaris Kim yang berjalan tergesah-gesah ke arah ruangan Dev.


"Ada apa?" tanya Dev mengangkat salah satu alisnya, memerhatikan sekertarisnya yang kini telah berdiri di depan meja kerjanya.


"Tuan, Mr. Aksena baru saja menghubungiku, anak buahnya telah menemukan Alenaa. Namun wanita itu telah meninggal dunia."


"Apa?" Dev terlonjak dengan mata yang melebar, pria itu langsung beranjak dari duduknya.


"Alena meninggal?" tanyanya kembali.


"Iyaa tuan. 2 jam yang lalu, seorang cleaning service yang bekerja di Wuild Hotel menemukan Alenaa dalam kondisi tak bernyawa di salah satu kamar hotel."


"Siapa yang membunuhnya?"


"Berdasarkan olah TKP dan hasil cctv yang ada di hotel tersebut pelaku yang membunuh Alenaa adalah Jio, mereka check in di hotel itu kemarin pagi menggunakan nama samaran."


"Shittt Jioo." Dev mengumpat, lagi-lagi Jio telah menghancurkan hidup banyak wanita.


"Alenaa yang malang." Ya, meskipun ia membenci Alenaa namun ia merasa kasih dengan nasib tragis yang menimpa wanita itu, namun tak sepenuhnya. Wanita itu menerima karma buruk dari hasil perbuatannya sendiri.


"Apa papaku sudah mengetahuinya?"


"Sudah tuan, saya sudah memberitahu tuan Andhito."


"Lalu apa reaksi papa?"


"Tuan Andhito sangat terkejut dan sekarang tuan sedang dalam perjalanan menuju rumah duka."


"Siapkan mobil kita akan ke sana sekarang." ujar Dev meraih jasnya yang tersampir di kursi kerjanya sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana diikuti oleh sekertaris Kim.


***


Di apartemen Hannam the Hill.


Agya yang tengah berbincang-bincang dengan nyonya Valerie tiba-tiba beranjak dari duduknya dan berlari ke arah toilet saat merasa perutnya yang terasa di aduk-aduk.


Hoek...


"Mami. Hoekk..." Agya bergidik saat cairan kuning bercampur lendi* keluar dari mulutnya, cairan yang terasa begitu pahit.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" dengan telaten nyonya Valerie membantu membersihkan mulut Agya.


"Aku baik-baik saja Ma." ucapnya tersenyum lalu membasuh wajahnya. Sejenak ia memejamkan matanya, kepalanya terasa perih dan berkunang-kunang.


"Sayang. Kau benar-benar baik-baik saja?" Nyonya Valerie semakin khawatir, namun sejurus kemudian wanita itu langsung tersenyum.


"Sayang ayo kita kembali ke sofa." ucapnya yang hanya dibalas anggukan oleh Agya.


Dengan penuh hati-hati nyonya Valerie menuntun Agya keluar dari kamar mandi lalu mendudukan kembali tubuh menantunya tersebut di sofa.


Agya terlonjat kaget saat tiba-tiba nyonya Valerie memeluknya, terlihat cairan bening membahasai wajah mertuanya tersebut.


"Nak, sejak kapan kau mual seperti ini? Apa bulan ini kau sudah datang bulan? Kapan terkahir kau datang bulan hm?" tanyanya mengusap wajah Agya hingga membuat wanita itu semakin kebingungan.


"Ehm, a-aku tak ingat sejak kapan aku mual tapi akhir-akhir ini aku selalu merasa mual. Dan biasanya aku selalu menstruasi di awal bulan tapi sudah lewat 2 minggu aku belum datang bulan juga."


"Sayang, apa kau sama sekali tidak tahu? Kau sedang hamil." Nyonya Valerie mengusap wajah Agya, ia terlihat sangat bahagia dan begitu antusias. "Apa yang kau rasakan sekarang adalah gejala awal kehamilan. Apa kau belum memeriksanya melalui testpack? Kau bisa melihat hasilnya dengan menggunakan testpack sayang."


Agya menggeleng tak percaya, "A-aku hamil?"


"Iyaa sayang. Tunggu sebentar, mama akan menghubungi Dokter Chyntia untuk datang memeriksamu."


"Ma." Agya menarik tangan nyonya Valerie seraya menggeleng kecil, "Apa mama yakin? Bagaimana jika ternyata aku tidak hamil? Aku tak ingin mengecewakan mama."


"Sayang, tidak ada salahnya untuk memeriksanya. Apapun hasilnya mama akan menerimanya." ucap nyonya Valerie mengusap lembut puncak kepala Agya, berusaha meyakinkan menantunya tersebut.


"Tunggulah di sini, mama mau mengambil ponsel mama dulu di kamar."


Agya menghela napas singkat lalu memerhatikan ibu mertuanya yang berjalan ke arah kamarnya dengan langkah panjang.


"Apa aku benar-benar hamil?" gumamnya mengusap lembut perutnya yang masih tampak rata. Seulas senyuman tipis merekah di bibir tipisnya. Namun sesaat kemudian senyumannya menyurut, pikiran-pikiran buruk mulai menghantuinya. Bagaimana jika ia tak hamil? Bagaimana jika yang ia rasakan saat ini hanyalah sakit biasa? Melihat sikap antusias Nyonya Valerie membuat Agya sedih, ia takut menggecewakan ibu mertuanya tersebut.


"Sayang, sebentar lagi Dokter Chyntia akan ke sini. Mama sudah tidak sabar mendengar hasilnya." Nyonya Valerie kembali menghampiri Agya dengan senyum yang menggembang lebar di bibirnya.


Beberapa saat kemudian, kedatangan dokter Chyntia membuat jantung Agya berdebar dua kali lebih cepat. Tubuhnya berkeringat di tambah lagi dengan bibirnya yang memucat.


"Silahkan berbaring nona Agya." ucap dokter Chyntia tersenyum hangat.


"Kau tidak perlu takut nona Agya . Berdasarkan penuturan Nyonya Valerie tentang gejala yang nona alami, sudah sangat meyakinkan jika nona Agya sedang hamil. Namun tidak ada salahnya untuk membuktikan keakuratannya. Aku akan memeriksa nona Agya sekarang." Agya mengangguk, ia memerhatikan gerak gerik dokter Chyntia yang mulai memeriksa tekanan darah, denyut jantung, laju pernapasan, dan suhu tubuh. Doktee Chyntia juga melakukan pemeriksaan fisik dan kandungan, termasuk pemeriksaan Leopold.


Seusai memeriksa Agya, dokter Chyntia merapikan semua peralatan yang dipakainya, sebelum kemudian ia menatap Agya dan juga nyonya Valerie secara bergantian dengan senyum yang mengembang lebar. Sedangkan Agya, jantungnya semakin berdebar kencang, ia tak sabar mendengar hasil pemeriksaan dokter Chyntia. Sungguh ia sangat menginginkan kabar baik dari dokter cantik itu.


"Selamat nona Agya, nona benar-benar sedang hamil. Usia kandungan nona sudah 8 minggu. Sekali lagi, selamat nona, nona akan menjadi seorang ibu."


.


.


.


.


.


Bersambung...