
Di depan ruang dekan tampak Della yang berdiri sambil menggigit-gigit kuku ibu jarinya, menunggu Agya yang hampir satu jam berada di dalam ruangan tersebut. Perasaannya begitu campur aduk, benar-benar mengkhawatirkan nasib Agya karena masalah ini.
"Della." panggil Agya berdiri di pintu ruangan dekan, air matanya kembali menetes dengan sangat derasnya hingga membasahi seluruh wajahnya. Masih terngiang-ngiang sanksi yang diberikan padanya.
"Gyaa, gimana?" Della langsung menghampiri Agya, mengusap kedua lengan sahabatnya itu. Matanya ikut berkaca-kaca, menatap Agya dengan tatapan iba.
"Huhuh, Del."
"Ada apa Gya?"
"A-aku diskorsing dari kampus selama satu bulan, be-beasiswaku dicabut dan a-aku harus mengganti uang semesterku selama 2 setengah tahun ini."
"Astaga." Della membelalak, sangat terkejut mendengar sanksi yang diberikan pihak univeristas.
"Del." Agya semakin tak kuasa menahan tangisnya, rasanya ia benar-benar ingin menghilang dari bumi.
"Ayo kita pulang sekarang, tidak baik bercerita di sini. Kita akan mencari solusi untuk mengganti uang semestermu." ujarnya, menenangkan sahabatnya yang menangis sesegukan.
Belum cukup satu minggu Agya kembali ke Korea namun ia harus mendapatkan masalah sebesar ini dalam hidupannya. Sungguh pertemuannya dengan Mr.Dev di bandara waktu itu benar-benar sebuah kesialan untuknya.
***
"Minumlah dulu." ujar Della meyodorkan segelas air putih kepada Agya yang tengah duduk di sofa. "Gyaa, air matamu hampir habis karena menangis seharian. Aku tahu kau sangat sedih, tapi menangis bukanlah solusinya."
"Ta-tapi Del, hanya ini yang bisa aku lakukan." Mengangkat kepalanya, menatap Della yang berdiri di hadapannya, masih memegang gelas berisi air.
"Huh, minumlah dulu." ujar Della mendudukan tubuhnya di samping Agya, meletakan gelas yang di pegangnya ke atas meja, kemudian beralih mengusap punggung belakang sahabatnya itu.
"Del, se-sebenarnya aku bisa saja meminta uang ke papaku untuk mengganti uang semesterku selama ini. Tapi, aku bingung bagaimana caraku menjelaskan semuanya pada papaku."
"Tapi kau harus menceritakan semua ini kepada kedua orangtuamu. Masalah yang kau hadapi saat ini bukanlah masalah kecil Gya, kau tidak bisa menyelesaikannya seorang diri." Della menghela napas sebelum kemudian ia melanjutkan ucapannya, "24 juta won bukanlah nominal yang sedikit. Aku bahkan hanya bisa membantumu membayar seperempatnya saja."
Ucapan Della membuat Agya terdiam bersamaan dengan kepalanya yang menunduk dalam, "Papaku memiliki riwayat penyakit jantung, aku takut penyakit papa kembali kambuh saat mendengar semua masalah yang kuhadapi di sini." Lagi air mata Agya kembali menetes, tidak sanggup memberitahu kedua orang tuanya terkait masalahnya saat ini.
"A-aku menyayangi kedua orang tuaku, mereka sangat bangga padaku saat aku menerima beasiswa itu. A-aku tidak ingin merusak kebahagiaan mereka hanya karena masalah ini."
"Gyaa." Della meraih tubuh rapuh itu, lalu memeluknya erat. Merasakan dilema yang dihadapi Agya.
"Della, a-aku tidak tahu lagi harus berbuat apa sekarang. Hidupku benar-benar hancur. Del, a-aku menyesal pergi ke pesta pernikahan itu. A-aku sangat menyesal Del."
"Gyaa, maafkan aku." Seketika air mata Della ikut mengalir dari kedua pelupuk matanya, "Semua ini gara-gara aku, a-aku yang memaksamu untuk pergi ke acara pernikahan kakaknya Darrel. Maafkan aku Gyaa." Memeluk Agya erat, merasa sangat bersalah. Kedua sahabat itu langsung saling berpelukan saling mencurahkan, dan menyalurkan kesedihan satu sama lain.
Suara bel pintu bersamaan dengan ketukan, mengalihkan perhatian kedua wanita yang baru saja melepas pelukan mereka. "Siapa?" tanya Della.
"A-aku tidak tahu." Agya hendak beranjak dari duduknya namun Della langsung mencegahnya, menyuruh sahabatnya itu untuk tetap duduk di tempatnya, ia yang akan pergi mengecek orang yang bertamu di sore itu.
*
"Selamat sore nona." sapa seorang pria bertubuh tegap, memakai setelan jas berwarna hitam yang terlihat sangat rapi.
Della yang baru saja membuka pintu, tidak langsung menjawab sapaan dari pria itu. Kedua bola matanya menyipit, menatap wajah pria tersebut dengan seksama, wajah yang sangat familiar di ingatannya.
"Kau." Mata Della langsung memelotot tajam, "Kau mau apa ke sini? Pergi!" serunya menatap pria itu dengan tatapan tak rama, lalu mendorongnya namun tak membuat pria yang tak lain sekertaris Kim bergeming bahkan tidak berpindah posisi sedikitpun.
"Nona." Sekertaris Kim menepis tangan Della yang mencengkram jasnya, lalu merapikan kemejanya tersebut seraya berdehem pelan.
"Saya sekertaris Kim. Sekertaris Mr.Dev. Saya ke sini untuk bertemu nona Agya."
"Aku sudah tahu! Pergilah, aku tidak akan mengizinkanmu bertemu sahabatku. Kau dan tuanmu sama-sama bejad, kalian telah merusak hidup seorang wanita yang sama sekali tidak bersalah." cetusnya menatap sekertaris Kim dengan sorot mata tajamnya.
"Nona, apa yang diterima nona Agya sekarang karena kesalahannya sendiri."
"Bar-bar sekali wanita ini!" batin sekertatis Kim, menatap wajah Della dengan tatapan dingin.
"Pergilah, kenapa kau masih berada di sini?! Oh iya sampai salamku pada Mr.Dev, katakan padanya jika dia telah berhasil merusak hidup orang lain."
"Saya tidak akan pergi sebelum bertemu dengan nona Agya." ujar sekertaris Kim.
Mendengar keributan yang bersumber dari teras apartementnya membuat Agya beranjak berdiri dan meninggalkan tempat duduknya.
"Selamat sore Nona Agya." sapa sekertaris Kim menundukan kepalanya singkat.
"A-ada apa?" Agya menatap Della dan juga sekertaris Kim bergantian, terlihat begitu bingung.
"Ayo kita masuk Agya, jangan hiraukan pria ini." Della meraih tangan Agya hendak menutup pintu apartement namun sekertaris Kim langsung menahan pintu tersebut dengan kakinya.
"Nona Agya, bisakah kau menyuruh sahabatmu ini untuk diam sebentar. Dia sudah membuang-buang waktuku." seru Sekertaris Kim, menatap Della dengan tatapan kesal. Wajahnya terlihat sangat dingin hingga membuat Della langsung membeku dan terdiam.
"Ba-baiklah." Agya mengusap wajahnya, menyeka sisa-sisa air matanya. Menyuruh Della untuk masuk ke dalam rumah agar tidak membuat keributan lagi, hingga menjadi pusat perhatian tetangga mereka.
Sepeninggalan Della, sekertaris Kim langsing menyodorkan sebuah map kepada Agya, "Apa ini?" tanya Agya memerahatikan map yang baru saja berpindah alih ke tangannya.
"Nona Agya, surat itu berisi rincian kerugian yang diterima oleh Mr.Dev atas kasus hari ini."
"Kerugian? Kerugian apa?" Dahi Agya langsung berkerut dalam sama sekali tidak mengerti dengan ucapan pria yang berdiri di hadapannya saat ini, sedikit menjaga jarak, takut androphobianya tiba-tiba muncul.
"Kerugian perusahaan Mr.Dev nona. Karena berita yang tersebar hari ini, saham Wilantara Group menurun drastis hingga mengalami kerugian yang tidaklah sedikit."
"Lalu?" Agya masih tidak paham, apa hubungan perusahaan itu dengan dirinya hingga sekertaris Kim merincikannya seperti ini.
"Nona harus mengganti rugi dan membayar royalti atas foto Mr.Dev yang tersebar ke media."
"Apa? Mengganti rugi?" tanyanya melangkah mundur seraya membuka map tersebut untuk melihat jumlah kerugian yang akan ia ganti.
Demi apapun setelah melihat nominal yang tertera di atas kertas putih itu, mulut Agya langsung menganga lebar bersamaan dengan matanya yang membulat, matanya kembali berkaca-kaca, "189 juta won?"
"Iyaa nona."
"Se-sebanyak itu? A-aku tidak melakukan apa-apa, aku hanya terjebak di dalam kamar Mr.Dev malam itu, aku bahkan tidak tahu siapa yang mengambil dan meyebarkan foto itu. Ta-tapi kenapa aku harus menerima hukuman seberat ini?" Air mata Agya kembali menetes, kepalanya terasa berat.
Sekertaris Kim bergeming, wajahnya terlihat dingin tanpa ekspresi, "Nona, bukan hanya nona yang dirugikan dalam hal ini tapi Mr.Dev juga. Sebaiknya nona segera mempersiapkan ganti ruginya karena besok Mr.Dev mau langsung menerimanya."
Mata Agya langsung terpejam singkat, menarik napas cukup dalam, "A-aku tidak memiliki uang sama sekali. Aku harus membayarnya pakai apa?" tanyanya menatap wajah sekertaris Kim dengan tatapan senduh. Mencari uang sebanyak 2 miliar lebih dalam semalam? Harus mencari di mana?
"Itu bukan urusan saya nona. Segera siapkan uangnya dan temui Mr.Dev di Hunsik Seoul Restarurant pukul 12:00." ucapnya.
"Ingat nona, Mr.Dev sangat disiplin dengan waktu. Datang tepat waktu jika nona tidak ingin menerima konsekuensinya." Sekertaris Kim berucap dengan penuh penekanan, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana.
Agya mengangguk pasrah seraya menyeka air matanya, benar-benar tidak berdaya. Dari mana ia mendapatkan uang sebanyak itu dalam satu malam? Apa besok ia akan tatap menemui Mr.Dev meskipun tidak memiliki uang sepersenpun?
.
.
.
Bersambung...
Akankan Agyaa mengambil jalur ngepet untuk menghasilkan uang sebanyak 2 miliar dalam semalam? Wkwkwk.