Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Saranghae (사랑해)



"Aku sungguh mencintaimu Mr. Dev." Agya kembali berucap saat Dev tak menunjukan reaksi apapun. Pria itu masih bergeming di tempatnya dengan senyum yang menggembang lebar, hatinya berbunga-bunga kini. Pun detak jantungnya yang terasa berdebar 5x lebih cepat. Oh seperti ini kah rasanya saat perasaanmu di balas?


"Gyaa-." Dev hendak melepas pelukan Agya yang melingkar di perutnya, namun wanita itu malah menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.


"Aku tidak mau melepaskanmu, aku tidak mau kau pergi. Aku sudah berkata jujur tentang perasaanku. Ke-kenapa kau masih ingin pergi?" Sayup-sayup terdengar isakan Agya di telinga Dev hingga membuat pria itu segera memutar tubuhnya.


"Hei sayang, kenapa kau menangis?"


"Kau yang membuatku menangis!" celetuk Agya menyeka air matanya yang hampir membasahi pipinya.


"Aku menyuruhmu melepas pelukanmu agar aku bisa memutar tubuhku dan memelukmu seperti ini." Dev menarik tubuh mungil Agya ke dalam pelukannya, mengecup puncak kepala wanita itu lalu mendekapnya dengan sangat erat.


"Aku juga sangat mencintaimu Agya Wardana." ucapnya lembut mendaratkan kecupan-kecupan hangat di kepala dan juga pundak wanitanya itu.


"De-Dev kau mendekapku terlalu erat, aku kesulitan bernapas."


"Biarkan saja."


"Kau mau aku mati karena kehabisan napas?"


"Aku akan memberikan napasku untukmu, sebanyak yang kau mau." Dev melepas pelukannya, ia menangkup wajah Agya, menatapnya lekat seraya menyeka sisa-sisa air mata istrinya itu dengan kedua ibu jarinya.


"사랑해." (Saranghae) Tak ada kata kata lain lagi yang bisa diucapkan Dev, selain kata-kata cinta. Kepalanya hanya di penuhi kata-kata itu sekarang.


"나도 사랑 해." (Nado, saranghae) ucap Agya, ia menatap lekat kedua manik mata Dev, membuka sedikit mulutnya, menerima ciuman hangat Dev yang baru saja mendarat di bibir ranumnya.


Ditengah-tengah ciuman lembut itu, tak terasa air mata Agya menetes. Matanya terpejam, merasakan jantungnyan yang berdebar. Oh inikah cinta yang sesungguhnya, cinta tulus seorang Mr. Dev. Ia tak pernah merasakan cinta sedasyat ini sebelumnya.


"Kenapa kau menangis hm?" Dev melepas tautan bibir mereka. Berganti dengan tangannya yang membelai lembut kedua pipi Agya yang memerah.


Sementara Agya, ia segera mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak-banyaknya sebelum Dev kembali menyerangnya.


"Sekarang?"


Agya mengangguk, ia paham apa yang diinginkan suaminya sekarang. Dan ia juga menginginkannya.


"Dengan senang hati." Dev mengukirkan senyuman tipis di bibirnya sebelum kemudian ia kembali menangkup wajah Agya dan meluma* bibir ranum istrinya itu dengan begitu rakus.


Agya tak tinggal diam, ia ikut membalas ciuman Dev. Meluma* dan mengorek kenikmatan dari bibir tipis Dev yang memabukkan.


"Dev-- ah." Agya tiba-tiba melengu* saat Dev meninggalkan kissmark di lehernya. Pria itu mengangkat tubuh Agya dan membawanya ke atas tempat tidur.


"Bukankah kau bilang kita akan melakukannya di rumah?" tanya Agya tatkala Dev hendak menurunkan dressnya.


Seketika Dev langsung menghentikan aktifitasnya, ia hampir saja melepaskan tawanya. Polos sekali istrinya ini.


"Apa bedanya?"


"Ya-yaa, tak ada bedanya."


"Sama-sama nikmat? Apa kau suka?"


Agya mengangguk malu-malu, entah sudah semerah apa wajahnya sekarang.


"Aku juga sangat menyukainya." Senyum di bibir Dev berubah menjadi senyum maniak. Tanpa basa basi, ia kembali menyerang bibir Agya, berpindah ke telinga, leher dan, juga dada wanita itu. Pun tangannya yang tak tinggal diam, perlahan ia menarik turun dress Agya hingga dua gundukan sintal milik wanita itu menyembul di hadapannya.


"Dev." Agya menekan kepala Dev agar suaminya itu semakin memperdalam ciumannya.


Drittt... Drittt...


Suara panggilan telpon yang entah bersumber dari ponsel siapa tiba-tiba menggema hingga memecah keheningan di sana dan menghentikan aktifitas panas yang baru akan dimulai.


"Shittt. Siapa yang berani menganggu malamku?!" dengus Dev kesal, ia merogoh saku celananya, meraih ponselnya yang tak berhenti berdering..


"Mommy." Kedua alis Dev berkerut dalam, tumben sekali maminya menghubunginya di tengah malam seperti ini.


"Tunggu sebentar." ucapnya berlalu pergi dari sana, meninggalkan Agya yang masih terbaring di atas tempat tidur dengan tubuh yang setengah telanjang.


"Dev, aissh shibal." Agya beranjak bangun, wajahnya terlihat kesal kini. Ia hampir saja mencapai puncak, tapi Dev malah meninggalkannya di tengah-tengah permainan mereka. Brengsek memang!


Tak lama kemudian, Dev kembali ke kamar dengan langkah panjang, menghampiri Agya yang sudah duduk di tepi ranjang. Pakaiannya masih terlihat acak-acakan.


"Sekarang? Kita tak melanjutka---."


"Nanti saja saat di rumah. Kau tidak apa-apa?"


"Tidak." jawab Agya kesal, ia menaikan bajunya yang masih melorot lalu memperbaiki rambutnya yang sedikit berantakan.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar." ujarnya beranjak berdiri lalu melangkah menuju kamar mandi.


***


Setibanya di rumah sakit, Dev langsung menggandeng erat tangan Agya, membawa istrinya tersebut ke ruang rawat papanya. Ia tak sabar untuk memperkenalkan Agya pada papanya.


"Selamat malam tuan Dev." sapa seorang bodyguard yang berjaga di depan pintu ruangan tuan Andhito seraya membukakan pintu untuk tuan mudanya tersebut.


"Dev." Saat hendak masuk ke dalam, Agya tiba-tiba menghentikan langkah kakinya, kepalanya menggeleng pelan, "Aku tak ingin masuk."


"Kenapa?"


"Aku takut papamu tak menerimaku."


"Hei sayang. Kenapa kau berpikiran buruk seperti ini? Papaku pasti akan menerimamu, percayalah."


"Ehm, a-aku akan menunggu di luar saja. Aku belum siap bertemu papamu."


Dev menghela napas, "Baiklah, tunggulah di sini. Aku akan memanggilmu saat papa menanyakanmu okey." ujarnya mengecup singkat bibir Agya.


"Iyaa." Agya menganggukan kepalanya, lalu ia bergerak mundur dan membawa tubuhnya untuk duduk di kursi tunggu.


"Dev, kau sudah datang." Melihat kehadiran anaknya di tengah-tengah mereka, nyonya Valerie segera menghampiri Dev, memeluk dan mengecup pipi anak bungsunya tersebut. Wajahnya terlihat begitu ceria.


"Kau tak membawa Agya?" tanyanya.


"Agya menunggu di luar, dia tidak berani masuk."


"Tidak berani? Kenapa?"


"Dia takut papa tak menerimanya dan tidak menyetujui hubungan kami."


"Astaga istrimu. Bicaralah dengan papamu, mama mau menghampiri Agya dulu." Dev hanya menjawab dengan anggukan, kini tatapannya mengarah pada papanya yang masih terbaring lemah di atas ranjang.


"Nak." panggil tuan Andhito mengangkat tangannya.


"Ka-kau membawa istrimu?"


"Iyaa Pa." Dev menarik kursi yang ada di samping ranjang papanya itu lalu mendaratkan tubuhnya di sana.


"Ma-maafkan papa nak. Papa tak seharusnya menetang hubunganmu dengan gadis pilihanmu. Papa tidak tahu jika Alena adalah wanita yang jahat dan licik. Papa sangat menyesal telah memaksamu bertunangan dengannya."


"Tidak apa-apa Pa. Aku sudah memaafkan papa. Tapi, aku belum memutuskan hubunganku dengan Alenaa secara langsung. Aku baru akan memutuskannya setelah papa siuman, aku ingin papa turut andil dalam hal ini, aku tidak ingin tuan Alden salah paham dengan keluarga kita."


"Papa akan membicarkan hal ini dengan tuan Alden."


"Terima kasih pa."


"Bagaimana kabar perusahaan nak?


"Sejauh ini perusahaan masih baik-baik saja. Aku rasa Alena tidak memberitahu papanya terkait hubungan kami yang sudah selesai."


"Syukurlah."


.


.


.


.


Bersambung...