
Agya sama sekali tidak merespon, wanita itu fokus mengunyah makanannya seraya menatap lurus ke depan, memandangi seorang pria tampan yang berprofesi sebagai seorang dokter yang juga tengah menatapnya.
"Sayang, apa kau marah karena Alenaa memelukku?" tanya Dev melingkarkan kedua tangannya di pinggang Agya lalu mengecup bahu istrinya itu lembut, berusaha melunakan hati Agya kembali.
"Dev, ini tempat umum. Jangan melakukan hal aneh di sini." celetuk Agya. Moodnya benar-benar berantakan sekarang, melihat Dev membujuknya seperti ini membuatnya semakin merasa kesal.
"Hal aneh? Apa salah aku mencium istriku sendiri?"
"Tentu saja salah, ini tempat umum Dev. Banyak anak kecil di sini."
"Ya sudah kita pulang sekarang." ujarnya beranjak dari duduknya, namun Agya tidak menghiraukannya.
"Hah, kau benar-benar menguji kesabaranku Agya. Aku tidak ingin marah padamu, jadi jangan memancing amarahku seperti ini!" cetus Dev berkacak pinggang seraya menghembuskan napas kasar dari mulutnya, matanya tampak melirik tajam ke arah dokter yang duduk tak jauh dari mereka, pria yang sedari tadi memandangi Agya dengan tatapan maniak.
"Apa cuma kau yang berhak marah? Aku juga berhak marah padamu Dev!" Emosi Agya ikut terpancing, ia meletakan sisa makanannya di atas piringnya dengan kasar lalu beranjak pergi dari sana dengan langkah panjang.
"Hah shittt." umpat Dev ikut melangkahkan kakinya mengikuti langkah kaki istrinya yang bergerak meninggalkan kantin.
"Agyaa. Cara ini tidak akan menyelesaikan masalah kita." cetus Dev menarik tubuh Agya dan membawanya masuk ke salah satu ruangan di rumah sakit itu.
"Bicarakan baik-baik dan katakan apa yang membuatmu marah agar aku bisa memperbaikinya!"
"Kau sudah dewasa bukan, lari dari masalah bukanlah solusi yang baik." seloroh Dev, menatap lekat wajah Agya yang berada dalam cekalan tubuhnya.
"Yaa melarikan diri memang bukan solusi yang baik, tapi itulah cara yang terbaik bagiku dari pada berbicara dengan pria tidak peka dan tidak berperasaan sepertimu!!" celetuk Agya berusaha melepas cekalan Dev, namun pria itu semakin menghimpit tubuhnya pada dinding hingga membuatnya tidak bisa bergerak.
"Kau marah karena Alenaa memelukku? Jawab!!"
"Iyaaa, aku marah karena itu! Kau selalu mengatakan jika tubuh ini milikku tapi--" Agya menghentikan ucapannya, ia memejamkan matanya seraya menghela napas singkat, sebelum kemudian ia memukul dada bidang Dev dengan begitu keras hingga membuat Dev memekik kecil.
"Kau bilang hanya aku yang berhak memeluk dan menyentuhmu. Tapi tadi, di depan mataku kau membiarkan wanita lain memelukmu. Oh tidak hanya itu, lebih menyakitkan lagi setelah aku tahu jika wanita itu adalah tunanganmu. Kau menipuku Dev, kau seorang penipuu!" seru Agya tersenyum getir bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya tanpa diminta.
Gleg,
Dev tertegun seraya menelan salivanya dengan kasar, menatap Agya dengan tatapan lekat, "Apa yang sudah mamiku katakan padamu?" tanyanya merendahkan suaranya.
"Semuanya Dev, semuanya tentangmu di lima tahun terkahir ini!"
Lagi-lagi Dev dibuat tercengang dengan ucapan Agya, "Mamii." decaknya kesal, tidak seharusnya maminya menceritakan semuanya pada Agya sekarang, apalagi dalam kondisi seperti ini.
"Sayang, maafkan aku. Aku tidak--."
"Jangan menyentuhku." sentak Agya menepis kasar tangan Dev yang hendak menyeka air matanya,
"Aku mau pulang sekarang!!"
"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau mendengar penjelaskanku. Kau sudah sangat salah paham padaku." Dev menarik tubuh Agya dan mendekapnya kembali ke dinding, napas pria itu tampak berembus dengan sangat cepat.
"Apa yang harus aku dengarkan Dev? Berhenti menciptakan kebohongan untuk menutupi kebohongan lainnya!!" Air mata Agya semakin menetes deras, ia membenci air mata ini, air mata yang menunjukan betapa lemahnya dirinya di hadapan Dev.
"Maafkan aku." ucap Dev dengan bibir yang bergetar, menangkup wajah Agya dengan kedua tangannya seraya menyatukan dahinya dan dahi istrinya itu.
"Maafkan aku Agya. Aku sama sekali tidak berniat membohongimu. Aku akan menjelaskan semuanya padamu sekarang, semuanya yang telah membuatmu salah paham seperti ini." ujarnya.
Tadi saat mendengar penuturan Nyonya Valerie tentang Dev dan Alenaa membuat hati Agya terasa sesak namun sebisa mungkin ia tersenyum di hadapan mertuanya itu. Ia tidak menyalahkan nyonya Valerie karena mertuanya itu pasti tidak tahu kalau selama ini Dev menutupi hal itu darinya.
"Kemari, dan duduklah. Aku akan menjelaskan semuanya padamu." ujar Dev senduh, menarik tangan Agya lalu menuntunnya untuk duduk di atas ranjang rumah sakit.
Pun Agya yang langsung menurut, ia benar-benar ingin mendengar semuanya dari Dev, mencocokan penjelasan suaminya itu dengan pernyataan nyonya Valerie di kantin tadi.
"Aku dan Alenaa--." ucapan Dev terhenti saat Agya tiba-tiba memalingkan wajahnya. Semarah ini? Baiklah, Dev akan berbicara dengan hati-hati dan menjelaskan dari awal agar istrinya itu mau memahaminya.
"5 tahun lalu, perusahaan papaku mengalami kebangkrutan dan Wilantara Groub hampir gulung tikar, tapi untungnya tuan Alden-- papanya Alenaa datang dan mengulurkan tangannya pada kami. Dia mau membantu Wilantara Groub hingga Wilantara Groub kembali bangkit dan berkembang seperti sekarang." tutur Dev menatap intens wajah Agya.
"Gyaa, hubunganku dengan Alenaa karena balas jasa papaku pada tuan Alden. Aku sama sekali tidak mencintai Alenaa meskipun kami sudah berpacaran selama 5 tahun."
"Omong kosong! 5 tahun bukanlah waktu yang singkat Dev, tidak mungkin kau tidak mencintainya. Jangan coba menipuku lagi." seru Agya menyeka sisa-sisa air matanya dengan kasar.
"Aku benar-benar tidak mencintai Alenaa. Bahkan sedikitpun aku tidak menyimpan rasa padanya"
"Lalu kenapa kau tetap menjalani hubungan selama itu dengannya? Bahkan kalian sampai bertunangan. Dev kau melukai hatiku! Kau menjadikanku sebagai wanita perebut dalam hubungan kalian. Aku juga seorang wanita Dev, aku bisa merasakan apa yang Alenaa rasakan. Aku sudah merebut tunangannya, tidak seharusnya aku melakukan itu!"
"Tidak ada yang menjadi perebut. Aku yang memilih untuk menikahimu, ya walaupun di awal niatku menikahimu hanya untuk membalaskan dendamku, tapi semua itu berubah setelah aku mengenalmu lebih jauh tentangmu."
"Kau ingat malam di mana aku datang ke apartemenmu dalam keadaan mabuk? Kau ingat malam di mana aku menidurimu? Gyaa, aku melakukan semua di malam itu secara sadar, aku tidak terpengaruh alkohol sama sekali. Aku melakukan itu karena aku mencintaimu, aku ingin kau segera mengandung anakku, selain karena aku ingin terikat denganmu selamanya, aku ingin terlepas dari Alenaa dan dari kekangan kedua orang tuaku! Tolong mengertilahh.. " ucap Dev meneteskan air matanya yang sedari tadi tertampung di kedua pelupuk matanya. Tidak peduli dengan harga diri dan ketampanannya lagi sekarang. Ia hanya takut Agya meninggalkannya karena kesalah pahaman yang tidak berdasar ini.
"Gyaaa. Aku bersumpah aku tidak mencintai Alenaa, aku memang pernah mencoba untuk mencintainya dulu tapi tetap saja tidak bisa. Aku hanya mencintaimu, aku sangat mencintaimu Agya Wardana." ucap Dev menyeka air matanya dengan punggung tangannya seraya menatap Agya dengan tatapan memelas. Ia hendak memeluk tubuh mungill istrinya namun Agya langsung menghindar.
"Berikan aku ruang Dev. Masalah ini terlalu berat bagiku, aku tidak mungkin mencintai pria yang juga dicintai wanita lain." ucapnya tanpa menatap wajah Dev.
Seketika Dev langsung terdiam, matanya terpejam singkat, merasakan sesuatu yang menyesakkan di hatinya. Ia memang sangat salah dalam hal ini, ia sudah banyak berbohong dan menyakiti Agya. Karena keegoisan dan kepentingan pribadinya, ia melukai dua hati wanita sekaligus. Belum memutuskan hubungannya dengan Alenaa tapi sudah menjerat Agya kedalam ikatan pernikahan.
"Aku mau pulang." ucap Agya sesaat setelah keheningan melingkupi keduanya. Ia beranjak turun dari ranjang rumah sakit, seraya merapikan pakaian dan menyeka sisa-sisa air matanya.
Sementara Dev, pria itu berlalu masuk ke kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Membasahi rambut dan juga kepalanya yang terasa panas.
Ruang seperti apa yang diminta Agya? Apa wanita itu tidak akan mengizinkannya untuk menyentuhnya? Atau Agya meminta untuk tidak berbicara dan bertemu dulu untuk sementara waktu? Tidak, Dev tidak bisa memberikan ruang itu kepada Agya. Ia tidak bisa hidup tanpa istrinya itu sekarang, akan segila apa dirinya tanpa wanita itu.
.
.
.
.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya kaks reasders.
Jangan lupa vote supaya novel ini bisa naik rank dan nambah viewers hehe.. Supaya Author semangat juga nulisnya..
Terima kasih ❤🤗