Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Macan Gila



Agya bergidik ngeri seraya memejamkan matanya tatkala Dev menceritakan suasana tembak menembak yang terjadi di Beltroom tadi. Ia tak dapat membayangkan jika tuan Robert terlambat menemui Dev, mungkin Dev akan benar-benar lenyap karena lebih dulu ditembak oleh bodyguard tuan Alden.


Sama halnya dengan nyonya Valerie, ia tak dapat mengeluarkan sepata kata apapun dari mulutnya, bola matanya tampak berkaca-kaca. Ia hampir saja kehilangan anaknya.


"Dev." Kedua bibir Agya bergetar, terlihat sangat jelas guratan ketakutan di wajahnya. Meskipun Dev sudah bersamanya kini, namun ia masih mencemaskan suaminya tersebut.


"Aku baik-baik saja." ucap Dev mengusap lembut puncak kepala Agya, mencoba menenangkannya.


"Kau sangat hebat Dev." Tuan Andhito yang sedari tadi mencerna cerita anaknya dengan seksama langsung memberikan tepukan tangan seraya tersenyum lebar. Tak menyangka Dev bisa melumpuhkan Tuan Alden, seorang pembunuh kelas kakap.


"Aku memang sangat hebat, papa saja yang tidak pernah menyadarinya." Seperti biasa, Dev selalu membanggakan dirinya sendiri.


"Kenapa kau tidak memberitahu recanamu pada kami sayang? Mama sangat merasa bersalah karena memaksamu berpura-pura untuk melanjutkan hubunganmu dengan Alena."


"Apa mama akan mendukungku? Aku yakin mama tidak akan setuju dengan recanaku." cetus Dev, wajahnya yang semula bahagia kini berubah dingin.


"Mama minta maaf." Nyonya Valerie menundukan kepalanya, ia benar-benar menyesali semuanya.


"Tidak perlu meminta maaf Ma, yang terpenting keluarga kita sudah terbebas dari kekangan tuan Alden. Saat ini, berita penangkapan tuan Alden sudah beredar di media dan juga stasiun TV, dan besok Wilantara Group pasti akan dipenuhi parah reporter untuk menanyakan kebenarannya. Papa harus mempersiapkan semuanya untuk menjawaban pertanyaan para reporter itu." tutur Dev, "Dan satu lagi, papa tidak perlu memikirkan saham tuan Alden di Wilantara Group karena perusahaan kita telah menemukan investor baru. Sekalipun tuan Alden menarik sahamnya, perusahaan kita tak akan merugi."


"Siapa investor itu Dev?"


"Tuan Darwin Wardana, besan Papa."


"Tuan Darwin."


"Hm. Semalam Tuan Darwin menghubungiku dan mengatakan untuk menjadi investor Wilantara Group."


"Kenapa tuan Darwin tiba-tiba mau menjadi investor perusahaan kita? Apa dia mendengar kekacauan di Wilantara Group?"


"Kekacauan Wilantara Group sudah bukan rahasia lagi. Aku rasa tuan Darwin mengetahuinya dari media dan mungkin dari istriku." Dev menoleh ke arah Agya yang duduk di sampingnya, menatap istrinya itu dengan tatapan tak terbaca.


"Ti-tidak, aku tidak memberitahu papaku." ujar Agya menggeleng kepalanya. "Aku bahkan baru tahu jika Papaku mau menjadi investor di Wilantara Group."


"Apapun itu, papa sangat berterima kasih atas kerja kerasmu Dev dan juga tuan Darwin. Akhirnya, setelah sekian lama kita tak terikat lagi dengan tuan Alden." Tuan Andhito beranjak dari duduknya, lalu ia melangkah ke arah sofa yang diduduki Dev. Pun Dev yang juga ikut beranjak dari duduknya, sebelum kemudian anak dan ayah tersebut saling berpelukan. "Papa sangat bangga padamu. Maafkan keegoisan papa selama ini." ucap tuan Andhito melepas kaca matanya, cairan bening tampak mengalir dari sudut matanya.


"Aku sudah memaafkan Papa" ucap Dev melepas pelukannya, "Aku memiliki keberanian menjalankan misi ini karena dukungan istriku. Jika dia tidak mengataiku macan gila mungkin aku akan selalu menjadi anak ayam yang tak bisa berbuat apa-apa ditengah gurun pasir."


"Macan gila." Tuan Andhito tersenyum seraya menoleh ke arah Agya. "Kemarilah nak." pintanya, sontak Agya langsung beranjak berdiri.


"Terima kasih sudah hadir dalam kehidupan anakku. Maafkan Papa yang pernah memaksa kalian untuk berpisah."


"Tidak perlu meminta maaf, papa sama sekali tidak bersalah."


"Tidak bersalah? Gya, Papa menyuruhku untuk meninggalkanmu. Apa itu bukan tindak kejahatan? Seharusnya kau tidak memaafkannya dengan mudah." cetus Dev.


"Dev." Agya menggeleng kepalanya, tidak suka dengan ucapan suaminya barusan.


"Ehm, seharusnya kau meminta setengah saham Wilantara Group." ucapnya terbahak, sontak suasana yang semula terasa mencekam kini kembali mencair.


"Hahaha." Tuan Andhito ikut terbahak, "Akan ku berikan saham Wilantara Group jika kalian memberikan Papa dan Mama cucu."


"Yaa, mama setuju dengan ucapan Papa." timpal nyonya Valerie tersenyum.


"Tenang saja Pa, sedangkan aku usahakan. Aku akan memberikan Mama dan Papa cucu yang banyak, kan sayang." Dev melingkarkan tangannya di pinggang ramping Agya seraya menatapnya dengan senyum maniak khas miliknya.


"Eh, i-iyaa."


"Setelah masalah tuan Alden selesai, aku akan menunjukan Agya pada publik. Mereka harus tau siapa sebenarnya wanita yang aku cintai."


"Tidak masalah, Papa juga ingin publik tau jika Papa memiliki menantu yang sangat cantik dan cerdas."


"Iyaa sayang, publik harus tau tentang pernikahan kalian. Dan Alenaa, katakan saja jika kau sudah tak memiliki hubungan apapun lagi dengannya. Sebenarnya mama sangat muak dengan wanita jalan* itu."


"Oh iya Pa. Kita masih harus ke markas Marinir tapi aku mau membersihkan tubuhku dulu."


"Baiklah."


"Ma, bisakah mama menemani Agya di sini?"


"Tentu saja."


"Apa aku dan mama tidak bisa ikut?" tanya Agya, rasanya ia tak ingin jauh-jauh dari Dev. Ia ingin mengikuti kemanapun suaminya itu pergi.


"Tidak bisa sayang. Udara diluar sangat dingin, aku tak ingin kau sakit lagi."


"Ehm, baiklah."


"Mama dan Papa bisa beristirahat dulu di kamar. Aku dan Papa akan pergi ka markas maritim setelah makan malam."


"Baiklah sayang." ujar Nyonya Valerie mengusap lengan Dev, sebelum kemudian ia dan tuan Andhito melangkah ke kamar tamu. Begitu juga dengan Dev dan Agya.


***


"Sayang." Dev menarik tubuh Agya ke dalam pelukannya sesaat setelah mengunci pintu kamarnya. "Apa kau tak ingin memberiku hadiah?" ucapnya melonggarkan pelukannya seraya tersenyum tipis.


"Hadiah?" Dahi Agya berkerut dalam, terlihat begitu bingung.


"Ya hadiah, aku sudah bekerja keras atas misiku. Aku bahkan hampir mat---." Ucapan Dev terputus tatkala Agya membenamkan bibirnya di bibir tipis Dev.


"Aku sangat mencintaimu. Terima kasih atas kerja kerasmu Dev, aku sangat bahagia. Sungguh." Agya menatap lekat kedua bola mata Dev, begitu juga dengan Dev.


"Aku juga sangat mencintaimu. Aku akan memberitahu pada dunia jika aku sangat mencintaimu." ucap Dev menangkup wajah Agya dengan kedua tangannya, sebelum kemudian ia kembali mengecup dan mencium bibir Agya.


"Dev." Agya melepas tautan bibirnya, seraya mengatur napasnya.


"Aku menangih janjimu."


"Apa?" tanya Agya bernapas terengah-engah.


"Apalagi kalau bukan membuatkan cucu untuk mama dan papa kita. Sudah saatnya kita mewujudkan keinginan mereka."


"Kau tak lelah? Kau baru saja---."


"Tidak, aku tak pernah lelah jika menyangkut hal ini." ucap Dev tersenyum lebar hingga menampakan giginya.


"Tapi kita tak memiliki banyak waktu. Mama dan Papa pasti akan menunggu kita untuk makan malam."


"Mereka akan memahaminya."


Agya menghela napas, "Baiklah tuan Deva Wilantara, aku menerima tawaranmu dengan senang hati."


"Ah kau memang sangat baik." Tanpa basa basi lagi, Dev langsung menggedong tubuh Agya dan membawa istrinya itu ke atas ranjang.


Dev benar-benar macan gila, tubuh Agya sudah menjadi candu baginya. Setiap saat ia menginginkan tubuh itu untuk disantap


.


.


.


.


Bersambung....