Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Bayi besar



Satu bulan kemudian...


Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, dan kini Dev disibukan dengan persiapan pelantikannya menjadi Presidir Wilantara Group menggantikan posisi ayahnya. Tak hanya itu, untuk sampai ke posisi ini Dev mau tidak mau harus bersaing dengan kakak angkatnya. Persaingan yang sangat sengit hingga kedua kakak beradik itu terlihat seperti musuh.


Sebenanrya, Dev tak menginginkan posisi ini. Posisi yang membuatnya menjadi sangat sibuk hingga ia tak memiliki banyak waktu untuk istrinya. Yaa seperti saat ini, ia baru saja tiba di rumah pukul 4 pagi, wajahnya terlihat sangat kelelahan. Namun rasa lelah itu seketika menghilang saat dirinya melihat wajah teduh Agya yang tengah tertidur pulas.


Dev meletakan tas kerjanya di atas sofa, lalu melepas jas dan juga sepatunya, sebelum kemudian ia bergegas naik ke atas ranjang. Sebuah kecupan hangat mendarat di bibir dan wajah Agya. Oh betapa ia sangat merindukan istrinya itu.


"Sayang." ucap Dev membelai lembut wajah Agya hingga membuat istrinya itu terbangun.


"Kau sudah pulang." senyuman hangat menyambut Dev kini.


"Hm, seperti yang kau lihat. Bagaimana kabarmu sayang? Apa dua bayi ini masih menyusahkanmu? Apa mereka meminta yang aneh-aneh lagi?" tanyanya berunut.


"Tidak daddy. Kami tidak menyusahkan mommy." Agya menjawab, menirukan suara anak kecil, hingga membuat Dev terkekeh gemas.


"Awas saja jika mereka merepotkan istriku." Dev masihlah Dev yang sama, ia begitu bermusuhan dengan kedua bayi yang dikandung Agya. Pasalnya selama satu bulan terkahir ini, ia dibuat kelipungan dengan ngidam aneh istrinya, wanita itu memintanya untuk pergi ke Gangneung hanya untuk memakan bungeoppang yang berada di dekat Pantai Gyeongpo. Tidak hanya itu, Agya juga merengek ingin melihat senja dan bermain pasir di sana. Hal itu membuat Dev sakit kepala, mana mungkin ia membiarkan Agya bermain pasir di tengah hamparan salju yang terus menghujan.


"Bagaimana pekerjaanmu? Apa semuanya berjalan lancar?" tanya Agya mengalihkan topik pembicaraan mereka.


"Sangat lancar, dan itu membuatku sangat kelelahan. Bisakah kau memberiku ciuman hangat untuk mengembalikan kekuatan tubuhku?"


"Tentu saja." tanpa basa basi Agya langsung mengecup bibir Dev singkat yang membuat pria itu tersenyum lebar.


"Hari ini, hari pelantikanku. Semua media akan meliputku dan menayangkannya ke semua statisun televisi nasional. Dan kau wajib menontonku."


"Kenapa aku tak ikut saja ke Wilantara Group untuk melihat pelantikanmu secara langsung."


"Tidak, diluar sangat dingin. Aku tak ingin kau dan bayi kita kenapa-napa."


"Baiklah. Padahal aku sangat ingin ke Wilantara Group."


"Kau akan ke sana nanti. Aku akan lebih sering mengajakmu jika kau sudah benar-benar sangat baik." ucap Dev, menggerakan tangannya ke dalam selimut yang menutupi tubuh istrinya.


"Ahhh, Devhh." Agya mendesa* tertahan saat tangan Dev mengusap lembut intinya.


"Apa aku boleh menjengkuk bayi kita?" tangan Dev terus bergerak liar hingga membuat Agya mendesa* tanpa henti.


"Ka-kau tak lelah?"


"Aku tak akan lelah jika menyangkut hal yang satu ini." ucapnya tersenyum maniak seraya menindih tubuh Agya..


"Lakukanlah dengan hati-hati Dev." Agya menatap Dev dengan penuh peringatan, tak ingin kejadian buruk yang menimpanya beberapa waktu lalu terulang lagi.


Dev hanya menjawab dengan anggukan, ia segera menanggalkan pakaiannya dan juga pakaian Agya. Ah, kapan terkahir mereka melakukan ini, rasanya Dev begitu haus akan kehangatan tubuh istrinya.


Pria itu mulai menjalankan aksinya, menciun dan meluma* kasar bibir Agya, mengabsen deretan gigi istrinya seolah mengais kenikmatan yang ada di dalam sana. Ciuman Dev terus berpindah, dari bibir, telinga, leher dan berakhir pada dua gundukan sintal milik Agya. Pria itu tersenyum, menatap nanar gundukan nikmat yang membusung di depan wajahnya. Ia tak akan melewatkan kenikmatan ini, menguasai dua gundukan itu sebelum berpindah ahli ke tangan anak-anaknya nanti.


"Ahhh." Agya meringis, saat Dev sengaja mengigit puti*nya yang membengkak.


Dev benar-benar sangat liar, ia terus menyerang tubuh Agya, menciptakan tanda kepemilikannya di setiap inci tubuh istrinya itu.


"Devhhh." Lagi Agya mendesa* tertahan saat Dev mengecup intinya.


"Kau sudah siap?" tanya Dev menengadahkan wajahnya, menatap wajah Agya yang berkeringat.


"Iyaa sayang." Dengan senyum yang mengembang lebar, Dev meperbaiki posisinya seraya membuka lebar paha Agya sebelum kemudian ia melakukan penyatuan yang membuatnya mendesis nikmat. Ah, tubuh Agya benar-benar sangat nikmat, tubuh itu sudah menjadi candunya.


Tak butuh waktu lama Dev langsung menumpahkan kepuasaanya bersamaan dengan Agya, kini napas keduanya terdengar saling berkejaran.


"Terima kasih sayang." bisik Dev, merebahkan tubuhnya di samping istrinya, tak lupa ia mengecup kening, hidung dan bibir wanita itu sebegai penutup kegiatan panas mereka.


Agya hanya menjawab dengan anggukan, ia begitu sangat kelalahan mengimbangi birah* Dev yang begitu besar. Ah sungguh ia sangat lelah dan ingin segera tidur.


***


Sepanjang pagi itu, senyum di bibir Dev terus mengembang lebar, energinya seolah kembali terisi penuh setelah pergumulan panas tadi. Ia tak henti-henti menatap bekas kepemilikan yang ditinggalkan Agya di lehernya.


"Aku sudah menyiapkan pakaianmu." Agya berjalan keluar dari walking closet hanya dengan memakai cardigan berwarna pink dan juga celana pendek berwarna senada. Ia tak memerdulikan belahan dada dan juga perut besarnya yang terekspos akibat cardigan yang tak memiliki kancing itu.


"Kau masih belum mandi juga?" gerutunya melihat Dev yang berdiri di depan cermin dengan tubuh yang tak tertutupi sehelai benang apapun. "Astaga."


"Aku menunggumu."


"Dev. Sekarang sudah jam 8. Kau sudah sangat terlambat!"


"Aku tak perduli." dengan sangat cepat Dev menarik tubuh Agya dan memeluknya dari belakang. Kini tubuh keduanya terpampang dengan sangat jelas di depan cermin kaca setinggi Dev.


"Kau harus menonton siarang langsung pelantikanku. Awas saja jika kau tak menontonnya." ucapnya mengecup leher Agya tepat di bekas kepemilikan yang ia letakan semalam.


"Iyaa, aku akan menontonya. Tapi bagaimana aku akan menontonya jika pemeran utama yang akan di sorot nanti masih berada di sini."


"Aku masih mau memelukmu seperti ini." Dev mengeratkan pelukannya seraya menyandarkan kepalanya di ceruk leher istrinya itu.


"Hah astaga Dev, berhentilah membuatku pusing. Papa terus menelponmu sejak satu jam yang lalu." dengus Agya menatap pantulan wajah Dev dengan tatapan kesal.


"Baiklah-baiklah. Aku akan mandi sekarang." Dev melepaskan pelukannya, lalu ia bergerak masuk ke dalam kamar mandi.


30 menit berlalu, Dev sudah siap dengan balutan jas berwarna hitam yang membungkus tubuhnya. Rambutnya sudah tampak rapi, pun dasinya yang sudah mengantung indah di lehernya. Jika bukan karena bantuan Agya, mustahil dasi itu akan berada di tempatnya.


"Masih ada yang kau butuhkan?" tanya Agya meletakan lipblam di atas meja riasnya.


"Masih."


"Apa?"


"Sebuah kecupan darimu."


"Hah astaga." Agya berbalik seraya memutar kedua bola matanya.


"Mendekatlah." ujarnya, seketika Dev langsung menurut dengan penuh senyum.


Setelah usai dengan ***** bengek Dev yang tak ada habisnya. Akhirnya Agya bisa bernapas legah sembari menatap mobil mercy c200 berwarna hitam yang dikemudi oleh Sekertaris Kim membawa pergi Dev ke Wilantara Group. Ah, ia benar-benar sangat kelelahan menghadapi bayi besar itu.


.