
"Apa kau yakin keberadaan Della sudah sangat aman?"
"Sudah tuan. Hanya dokter Cha dan asistennya yang mengetahui keberadaan nona Della. Alenaa dan Jio juga tidak akan mencurigai kita. Mereka pasti telah mempercayai ucapan bodyguarku."
"Bahwa Della telah meninggal?"
"Kurang lebih seperti itu."
"Kenapa mereka sudah menjadi bodoh sekarang? Semudah itu mereka percaya."
"Entahlah." jawab sekertaris Kim, kembali fokus akan kemudinya. Sedangkan Dev, pria itu memilih untuk membuang pandangannya keluar jendela. Entah kenapa ia tiba-tiba mengkhawatirkan Agya.
"Apa yang dilakukan wanitaku sekarang? Dia pasti merasa bosan seharian di rumah." batin Dev.
"Kita sudah sampai tuan." Seketika lamunan Dev buyar tatkala Sekertaris Kim membukakan pintu mobil untuk tuannya tersebut saat mereka sudah tiba di parkiran Wilantara Hospital.
"Ehm, baiklah." Dev bergegas turun dari dalam mobil, merapikan jasnya seraya memakai kaca mata hitamnya.
"Di mana ruangan wanita itu."
"Di VVIP A2 tuan, ada nyonya Valerie juga di sana."
"Hah sial." Tanpa basa basi, Dev langsung melangkahkan kakinya dengan langkah panjang masuk ke dalam Wilantara Hospital. Rasanya ia ingin menghilang dari sana namun ia tak memiliki kekuatan untuk itu.
"Sayang kau sudah tiba." Setibanya di ruangan rawat Alenaa, Dev langsung di sambut oleh Nyonya Valerie, sebuah pelukan hangatpun tak luput diterima oleh Dev dari maminya tersebut.
"Bagaimana kabarmu sayang. Apa kau baik-baik saja?" tanya nyonya Valerie melepas pelukannya.
"Bagaimana menurut mami? Apa aku terlihat baik-baik saja?" ucap Dev dengan raut wajah datarnya. Tangannya bergerak melepas kaca mata hitamnya. Hingga kini, tatapan matanya yang tajam, mengarah ke arah Alenaa yang sedang bersandar di atas ranjang rumah sakit dengan perban yang melingkar di kepalanya.
"Aku datang ke sini karena papa memaksaku."
"Dev!"
"Bukankah seperti itu Pa? Kenapa kalian sangat percaya dengan wanita berbulu domba ini?" cetus Dev, tatapan mata tajamnya belum berpaling dari Alenaa.
"Dev, omong kosong apa ini?" seru tuan Andhito, segera memutus ucapan Dev tatkala Tuan Alden dan Nyonya Helena masuk ke dalam ruang rawat Alenaa.
"Mami. Kepalaku tiba-tiba sakit lagi." Alenaa memegang pelipisnya tempat lukanya berada.
"Sayang. Kenapa ini bisa terjadi nak? Apa benar Dev yang melakukannya?" Nyonya Helena segara menghampiri anak kesayangannya. Seumur hidup Alenaa, baru kali itu ia terluka.
"Maafkan Dev, Alenaa." ucap tuan Andhito.
"Pa, itu bukan kesalah Dev, apalagi papa. Kenapa papa meminta maaf?"
"Dev, berhentilah membuat pembelaan. Meminta maaflah dengan tulus kepada calon istrimu."
"Iyaa nak. Meminta maaflah pada Alenaa, kau yang membuatnya menjadi seperti ini." timpal nyonya Valerie, sontak Dev langsung menoleh ke arah maminya tersebut dengan wajah yang tercengang. Ia tidak percaya dengan apa yang baru saja maminya katakan.
"Mami mendukung Alenaa?" batin Dev
"Tante, ini bukan kesalahan Dev. Aku yang salah, Dev mendorongku karena aku mengatai mantan istrinya sebagai wanita murahan. Bukankah memang dia wanita murahan tante? Sepertinya Dev masih menyayangi mantan istrinya."
"Tidak Alenaa, kau telah salah paham. Dev tidak menyayangi mantan istrinya lagi. Hubungan mereka sudah berakhir, tidak ada cinta lagi diantara mereka." ucap tuan Andhito meyakinkan Alenaa.
"Tidak mungkin. Jika dia tidak mencintai mantan istrinya lagi, dia tidak akan membelanya dan mendorongku hingga seperti ini." tutur Alenaa, memelaskan wajahnya.
Mendengar semua ucapan Alenaa, membuat rahang Dev mengeras, pun kedua tanganya yang sudah menggepal kuat. Ingin rasanya ia meluncurkan bogem besar ke mulut wanita itu.
"Kau sudah membuat anakku terluka. Meminta maaflah padanya Dev, kau sudah membuatku kecewa." ucap tuan Alden dengan wajah datarnya. Terlihat guratan amarah di wajah pria paru baya itu.
"Dev."
"Maafkan aku Alenaa. Tak seharusnya aku mendorongmu." ucap Dev. "Seharusnya aku langsung membunuhmu tadi." sambungnya dalam hati."
"Aku tidak mau memaafkanmu sebelum kau menuruti permintaanku."
"Apa yang kau inginkan?" celetuk Dev menaikan salah satu alisnya.
"Kau harus merawatku hingga sembuh. Kau juga harus selalu berada di sampingku setiap saat dan melakukan semua apa yang ku perintahkan."
"Aku bukan asistenmu. Aku bisa mencarikanmu asisten jika kau membutuhkannya."
"Tapi aku mau kau yang merawatku, Dev."
"Tidak."
"Mami, Papi. Dev tidak mau--."
"Shut up!! Berhenti membodohiku, aku bukan pembantumu. Kau tidak berhak memerintahku, kau mengerti!!"
"Dev. Kau--."
"Ada apa Pa? Papa mau membelanya lagi? Sampai kapan kita mengikuti permainan bodoh ini? Aku tidak akan menuruti perkataan wanita murahan ini."
Plak
"Pa." teriak nyonya Valerie, saat tuan Andhito tiba-tiba menampar Dev dengan sangat kerasnya. Sedangkan Alenaa, dibuat tercengang dengan aksi tuan Andhito.
"Diam! Papa tak pernah mendidikmu seperti ini."
"Cihhh." Dev tersenyum miring, kemudian ia menoleh ke arah Tuan Alden.
"Tuan Alden yang terhormat. Apa kau tahu kelakuan busuk apa yang telah dilakukan oleh anak kesayanganmu ini? Apa kau tidak tahu jika dia telah menjadi pelacu* selama ini?"
"Berani sekali kau mengatai anakku seorang pelacur!!" Bentak tuan Alden, mencengkram kerak jas Dev seraya menghunuskan tatapan tajam.
"Haha. Rupanya kau belum tahu apapun tuan Alden. Kau telah menjadi ayah yang sangat gagal. Kau tak berhasil mendidik anakmu."
Plak, lagi Dev merasakan perih di wajahnya saat tuan Alden mendaratkan telapak tangannya di sana.
"Hanya sampai di sini kemampuanmu?" Dev kembali tersenyum miring, dengan kasar ia melepas cengkraman tangan tuan Alden.
"Dev." panggil nyonya Valerie menggeleng-gelengkan kepalanya, ia tidak ingin Dev melakukan tindakan yang merugikan mereka. Bukan rencana seperti ini yang mereka inginkan.
"Aku sudah lelah Ma. Biarkan aku membongkar semuanyaa."
"Tidak Dev."
"Biar kutunjukan tuan Alden. Sejauh mana kau ingin melihatnya hm?"
"Dev cukup!!" Seru tuan Andhito.
"Omong kosong apa yang kau buat. Pergilah, dari sini. Kau sedang mabuk!" Dengan segera tuan Andhito menarik kasar Dev keluar dari ruang rawat Alenaa.
"Sekertaris Kim, bawa Dev pergi dari sini." pinta tuan Andhito pada sekertaris Kim yang berdiri di dekat pintu keluar.
"Paa, kenapa kita tidak berkata jujur saja."
"Kau bisa merusak semuanya Dev."
"Aku tidak perduli."
"Kau juga bisa membahayakan nyawa istrimu."
Glek, Dev langsung tertegun, "Apa maksud Papa?"
"Kau tidak akan pernah mengerti. Pergilah, jangan menemui tuan Alden selama beberapa hari. Papa akan berbicara dengannya untuk meluruskan kesalah pahaman yang telah kau perbuat." seru tuan Andhito berlalu masuk ke dalam ruang rawat Alena.
"Pa."
"Tuan, sebaiknya kita pergi dari sini." ujar sekertaris Kim.
"Hah shittt." dengus Dev, melangkahkan kakinya meninggalkan ruang rawat terkutuk itu.
***
"Sekertaris Kim. Siapa tuan Alden sebenarnya? Kenapa papa begitu takut padanya?"
"Tuan Alden, pemilik saham terbesar di Wilantara Group." jawab sekertaris Kim, menatap singkat ke arah kaca spion, sebelum kemudian ia kembali fokus akan kemudinya.
"Aku tahu itu. Aku yakin papa tidak akan setakut itu, jika kehilangan pemilik saham terbesarnya. Pasti ada alasan lain, tapi apa?!" Dengus Dev, hampir saja ia terbebas dari Alenaa. Yaa, jika dia mengatakan keburukan Alenaa di depan tuan Alden, apakah hubungan mereka akan berakhir? Pasti itu yang akan terjadi bukan.
"Papa juga mengancamku akan keselamatan Agyaa. Apakah tuan Alden akan membunuh Agya jika aku salah dalam bertindak?"
"Apa yang telah tuan lakukan?"
"Ehm, aku hampir mengatakan kebusukan Alenaa pada papanya."
"Tuan tidak mengikuti rencana tuan Andhito?"
"Tidak, aku sangat muak dengan rencana itu."
"Tuan, sebaiknya tuan terus mengikuti rencana tuan Anhito, jangan bertindak gegabah hingga merugikan tuan dan keluarga tuan."
"Kau mendukung papaku?"
"Karena itulah yang terbaik tuan. Kita sedang mengumpulkan bukti-bukti untuk menjebloskan tuan Alden dalam kasus penyuapan dan tindak korupsinya. Jika tuan salah bertindak, usaha kita akan sia-sia." ucap sekertaris Kim.
"Tuan Alden tidak pernah kalah dan tidak mau kalah dalam bernisinis. Jika itu terjadi, dia akan melakukan segala cara untuk mencapai tujuannya."
"Termaksud cara kotor?"
"Iyaa tuan. Sebelumnya tuan Alden telah memiliki riwayat pembunuhan berantai terhadap reval bisnisnya. Dia membunuh pemilik Reagans Company."
"Ha? Jadi tuan Reagans meninggal dunia karena dibunuh tuan Alden?"
"Iyaa tuan. Tapi kasus ini langsung ditutup begitu saja, kasus kematian tuan Reagans dan keluarganya juga tidak diketahui oleh publik. Hanya kerabat bisnis tuan Alden aaja yang tahu."
"Termaksud Papa? Astaga."
"Iyaa tuan. Tuan Alden selalu mengancam kerabat bisnisnya dengan ancaman yang sama seperti yang dia lakukan pada keluarga Reagans. Itu sebabnya tuan Andhito tidak pernah menolak permintaan tuan Alden, termaksud menjodohkan tuan dengan nona Alenaa."
"Kenapa kau tidak memberitahu bodoh!! Bagaimana jika tindakanku di rumah sakit tadi membuat Mama dan Papaku celaka?! Ahh shittt." umpat Dev menarik rambutnya kebelakang.
"Semoga tuan Alden mau memdengarkan penjelasan tuan Andhito."
"Astagaaa."
"Oh iyaa tuan, terkait rekaman CCTV rumah sakit tindak kekerasan nyonya Valerie terhadap Alenaa sudah terhapus dan tidak tersebar kemanapun termaksud ke tuan Alden."
"Tapi kenapa papa--"
"Tuan Andhito sengaja menjadikan itu alasan agar tuan mau mengikuti rencananya."
"Kenapa papa tidak mengatakan yang sebenarnya padaku?"
"Mungkin tuan Andhito tidak ingin membebani tuan."
"Shitttt. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku ingin terbebas dari Alenaa dan keluarganya."
"Ikuti saja alur rencana tuan Andhito tuan. Saya masih berusaha untuk mengumpulkan bukti kejahatan tuan Alden. Begitu juga dengan nona Alenaa."
"Lakukanlah yang terbaik, aku percaya padamu Kim."
"Baik tuan."
"Hah." Dev menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi mobil seraya memijat-mijatnyaa. Rasanya kepalanya ingin pecah karena permasalahan yang ia hadapi sekarang.
"Antar aku ke apartemenku, aku merindukan istriku."
"Baik tuan."
.
.
.
.
.
Bersambung...