
Setibanya di rumah sakit, Dev langsung memindahkan tubuh Agya dari gendongannya ke atas brankar, lalu dengan segera ia mendorong brankar tersebut dengan langkah panjang menuju ruang ICU bersama beberapa perawat. Mata pria itu terlihat memerah akibat air matanya yang terus mengalir, ketakutan semakin memenuhi wajahnya kini.
"Silahkan tunggu di luar." Langkah kaki Dev terhenti, perlahan tangannya melepas genggaman tangan Agya dan membiarkan istrinya itu masuk ke dalam ruang ICU agar segera menerima tindakan penanganan. Pun dirinya yang langsung menghubungi mertuanya untuk memberitahu keadaan Agya.
"Apa yang terjadi dengan istriku Della, kenapa dia tiba-tiba pingsan dan mengeluarkan darah di hidungnya?!" Tatapan Dev beralih pada Della dan sekertaris Kim yang baru saja menghampirinya. Terlihat wajah Della yang masih dipenuhi ketakutan bahkan air matanya masih mengalir deras.
"Tenanglah tuan." ujar sekertaris Kim.
"Bagaimana aku bisa tenang saat istriku berada di dalam sana Kim?!" serunya menatap tajam pada sekertarisnya.
"Apa yang sudah kau lakukan pada istriku Della?!" Dev kembali meneriaki Della yang hanya diam dan tak meresponnya. Wajah pria itu memerah akibat sekelebat amarah yang memenuhinya, ia menyalahkan Della atas apa yang terjadi pada istrinya saat ini.
"Tuan tenanglah!!" seru sekertaris Kim, tak terima dengan perlakuan Dev terhadap kekasihnya.
"Della sama sekali tak bersalah. Dan kau tak pantas menyalahkannya!!" imbuhnya. Seketika Dev langsung terdiam, perhatian pria itu berpindah pada dokter wanita yang baru saja keluar dari ruang ICU.
"Dok, apa yang terjadi dengan istriku? Bagaimana kondisinya sekarang? Apa dia baik-baik saja dok?" tanya Dev menghampiri dokter wanita tersebut.
"Apa tuan suami pasien?"
"Iya dok, saya suaminya."
"Kondisi pasien semakin melemah, sel kanker sudah menyebar di beberapa organ tubuhnya termaksud rahimnya, kecil kemungkinan untuk bisa bertahan hidup. Dan operasi besar akan segera dilakukan untuk menyelamatkan bayi yang dikandung pasien."
Deg
"Kanker?" Dev mengulangi ucapan dokter wanita itu dengan mata yang melebar, "Dok, apa kau tak salah? Istriku tak mengidap penyakit apapun." bantah Dev.
"Apa tuan sama sekali tak tahu? Pasien mengidap kanker darah stadium akhir."
Dev mengeleng kepalanya bersamaan dengan air matanya yang kembali menetes. "Tidak mungkin. Dok, kau pasti salah mendiagnosa. Sebelumnya istriku baik-baik saja, mana mungkin penyakit itu tumbuh di tubuhnya---."
"Tuan, dokter tak salah mendiagnosa. Nona Agya benar-benar mengidap kanker darah." ujar sekertaris Kim menepuk pelan bahu tuan mudanya tersebut.
"Tidakk." teriak Dev menjatuhkan kedua lututnya di lantai, ia menutup wajahnya dengan salah satu tangannya, membiarkan air matanya terus mengalir. Kenapa? Kenapa penyakit itu harus tumbuh di tubuh Agya? Kenapa?!!
"Tuan. Bayi nona Agya harus segera diselamatkan." ucap sekertaris Kim memegang bahu tuan mudanya tersebut, ia juga sangat terkejut saat mendengar cerita Della tentang penyakit yang diderita Agya. Sungguh ia sama sekali tak menyangkah Agya akan menderita penyakit ganas ini.
Dev bergeming, tubuhnya terasa lumpuh, kekuataannya tiba-tiba hilang. Pun jantungnya yang ia rasa berhenti berdetak.
"Tuan."
"Aku tak bisa melakukan apapun Kim."
"Tuan, masih ada dua malaikat kecil yang ingin segera melihat dunia. Apa tuan tak memikirkan mereka? Tak ada pilihan lain tuan, jika kita tak segera melakukan tindakan, tuan akan kehilangan tiga orang sekaligus." tutur sekertaris Kim, mencoba membangun kekuatan Dev.
"Silahkan ikut saya untuk mendatangani persetujuan operasi tuan. Kita tak memiliki banyak waktu." ujar dokter wanita tersebut, ia merasa kasihan melihat suami pasiennya yang begitu terpukul.
"Saya akan menemanimu tuan." Sekertaris Kim berucap, menatap Dev yang berusaha bangkit.
"Tak perlu. Tetaplah di sini, mertuaku tak lama lagi akan datang, aku tak bisa menjelaskan apapun pada mereka." ucapnya menyeka air matanyanya, sebelum kemudian ia mengikuti langkah kaki dokter wanita tersebut ke ruangannya.
Tak berselang lama, Nyonya Inayah dan Tuan Darwin datang ke ruang ICU tersebut dengan langkah yang tergopoh-gopoh, kekhawatiran memenuhi wajah keduanya.
"Dimana Agya? Bagaimana kondisinya sekarang?" Belum sempat mengatur napasnya, tuan Darwin langsung menanyakan kabar anak semata wayangnya tersebut pada Sekertaris Kim. Ia sama sekali tak tahu apa yang terjadi. Tiba-tiba Dev menelponnya dan memberithau jika Agya dilarikan ke rumah sakit.
"Nona Agya masih berada di ruang ICU, untuk kondisinya---." Sekertaris Kim tak melanjutkan ucapannya, pria itu menghela napas, ia tak sanggup untuk memberitahu kondisi Agya pada kedua orang tuanya.
"Apa yang terjadi dengan Agya?"
"Operasi besar akan dilakukan untuk menyelamatkan bayi nona Agya."
"Lalu bagaimana dengan Agya?" Tuan Darwin terus mendesak sekertaris Kim. Tak ada satupun jawaban pria itu yang menjawab pertanyaannya.
"Pa, Agyaa." Nyonya Inayah menutup mulutnya, bersamaan dengan cairan bening yang mulai bercucuran di wajahnya.
"Apa Agya tak memberitahumu?" tanya tuan Darwin, ia berusaha untuk terlihat tegar. Padahal jauh di dalam sana, perasannya sedang terkoyak.
Nyonya Inayah menggeleng, "Agya tak meneceritakan apapun." isaknya.
"Pa, apa Agya akan meninggalkan Kita seperti kakaknya? Apa kita akan kehilangan anak kita lagi? A-aku tak mau Pa."
"Sayang." Tuan Darwin meraih tubuh istrinya tersebut dan langsung memeluknya, pun tangisannya yang ikut pecah. Tak ada satupun manusia yang tak akan menangis ketika menerima kabar duka seperti ini.
"Semuanya akan baik-baik saja." imbuhnya, mengecup puncak kepala istrinya.
Sebelum kemudian perhatian Nyonya Inayah dan Tuan Darwin beralih pada Dev yang berjalan ke arah mereka dengan mata yang memerah.
"Nak." tak banyak bicara, nyonya Inayah langsung memeluk tubuh menantunya tersebut. Sama halnya dengan dirinya, pasti Dev jauh lebih terpukul.
"Aku tak siap kehilangan istriku." Dev melepas pelukannya, menatap ibu mertuanya dengan tatapan senduh. Sungguh ia sama sekali tak siap kehilangan Agya, ia tak mau itu terjadi.
"Tak ada yang pernah siap dengan kehilangan nak." ujar tuan Darwin.
"Tapi kenapa harus Agya Pa, kenapa harus dia yang menderita? Dia berhasil menyembunyikan penyakit ini dari kita. Kenapa dia menyembunyikannya?!"
"Kita tak pernah tahu alasan Agya menyembunyikan penyakitnya. Kita akan berusaha untuk menyelamatkannya, setelah bayi kalian berhasil diselamatkan."
Dev mengangguk, "Sebentar lagi Agya akan dioperasi, tapi--." kedua mata Dev terpejam, ucapan dokter yang menangani Agya kembali memenuhi kepalanya.
"Operasi itu sangat beresiko dan besar kemungkinan nyawa Agya tak dapat di selamatkan." ujarnya mengusap pangkal hidungnya seraya menyeka air matanya. Dadanya terasa sesak kini, apakah dirinya akan benar-benar kehilangan wanita yang sangat ia cintai? Kenapa tuhan memberi cobaan sebesar ini?
"Tuan Dev, pasien akan segera di pindahkan ke ruang operasi." ujar dokter wanita itu menghampiri Dev dan keluarganya.
Dev menoleh, "Dok, apa saya bisa menemui istri saya sebelum dipindahkan ke ruang operasi? Saya ingin bertemu dengannya walaupun hanya satu menit." ucapnya.
"Bisa tuan, tapi hanya satu orang yang bisa masuk."
"Masuklah Dev." pinta nyonya Inayah yang langsung dijawab anggukan oleh Dev. Pria itu segera berlari masuk ke dalam ruang ICU diikuti oleh dokter wanita itu dibelakangnya.
Lagi mata Dev kembali terpejam singkat, dadanya semakin terasa sesak tatkala melihat Agya yang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang oksigen di mulutnya yang membantunya bernapas.
"Sa-sayang." Bibir Dev bergetar, air matanya semakin bercucuran dengan deras. Ia meraih tangan Agya lalu mengecupnya cukup lama.
"Kenapa ini harus terjadi sayang? Bukankah kau sudah berjanji untuk tidak meninggalkanku lagi? Apa kau tak kasihan padaku? Gyaa, apa kau lelah mengurusku?" Air mata Dev semakin tak terkendali, pria itu beralih menatap wajah Agya yang begitu pucat, sebelum kemudian ia mendaratkan kecupan kedua kelopak mata istrinya tersebut.
"Kau bilang kau sangat mencintaiku bukan? Kenapa kau mau meninggalkanku dan menyerah begitu saja? Dimana cinta itu Gyaa. Tunjukan padaku jika kau sangat mencintaiku. Aku tak mau tahu, kau harus bisa melewati ini Gyaaa. Aku menunggumu, aku menunggu kau bangun dan bisa tersenyum lagi padaku." Bak orang gila, Dev terus berbicara pada istrinya tersebut, hingga tak terasa air mata mengalir membasahi wajah istrinya.
"Tuan, nona Agya harus dipindahkan sekarang." ujar dokter wanita itu.
Dev mengangguk, melepas genggaman tangan Agya secara perlahan, namun sebelum itu ia membisikan sesuatu di telinga istrinya tersebut.
"Aku akan menunggumu di luar, kau harus kembali padaku dalam keadaan baik-baik saja dan aku akan menyambutmu dengan pelukan."
.
.
.
.
Bersambung.....