Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Menghabiskan waktu



Biasan sinar mentari pagi yang masuk melalui sela-sela tirai jendela membuat Dev semakin memejamkan matanya begitu juga dengan Agya. Rasanya mereka ingin tetap berada di posisi ini, saling memeluk dan begitu enggan untuk melepaskan satu sama lain.


"Aku mencintaimu." Seperti biasa, kalimat itu selalu menjadi pembuka pagi untuk kedua manusia yang tengah dimabuk cinta itu. Dev bergerak mengusap bareface Agya yang begitu teduh, lalu membenamkan kecupan singkat di bibirnya.


"Jam berapa sekarang?" perlahan kelopak mata Agya terlepas hingga kini wajah Dev memenuhi pandangannya, seulas senyuman hangat menyambutnya.


"Jam 7 pagi."


"Oh." Agya menganguk-anggukan kepalanya, menatap lekat wajah Dev sebelum kemudian ia memberanikan diri untuk mengajukan sebuah pertanyaan yang sebenarnya sudah ia tahu jawabannya, "Ehm Dev, apa kita benar-benar akan tinggal di tempat yang terpisah?"


"Kita sudah membahas hal ini semalam dan kau sudah menyetujuinya sayang. Jangan merusak pagiku dengan membahas itu-itu saja."


Agya langsung terdiam, ia tak berani mengeluarkan sepata katapun lagi dan lebih memilih untuk membenamkan wajahnya di dada bidang Dev yang tak tertutupi sehelai benang, mengendus aroma tubuh suaminya yang telah membuatnya candu. Apakah hari ini pertemuan terakhir mereka? Apakah Dev benar-benar tak bisa tinggal bersamanya lagi? Semuanya terasa sesak jika dibayangkan.


Pria yang selalu menyambut paginya dengan senyuman hangat dan kata cinta tak akan pernah ditemuinya lagi? Apakah ia tak akan mendapat dekapan kehangatan dari pria yang sangat dicintainya? Kenapa? Kenapa takdir selalu mempermainkan hubungan mereka seperti ini?!


Kedua mata Agya kembali terpejam kuat tatkala obrolan mereka semalam kembali menghantui ingatannya.


"Wilantara Group sedang membutuhkanku, banyak orang-orang yang ingin menjatuhkan bahkan merebutnya dariku dan Papa, termaksud pamanku dan juga tuan Alden. Gyaa, sebenarnya aku tak ingin semua ini terjadi. Aku tak ingin mengorbankanmu dan pernikahan kita, tapi aku tak memiliki pilihan lain."


"Aku mengerti Dev. Aku menyetujui semua rencana papamu, aku akan pergi darimu jika memang itu yang bisa aku lakukan untuk mempertahakan karirmu dan juga Wilantara Group."


"Astaga, bukan itu yang aku maksud!" dengus Dev frustasi, "Kita hanya berpisah tempat tinggal untuk sementara waktu, dan bukan berarti kita tak akan bertemu selamanya."


"Iyaa aku mengerti."


"Apa yang kau mengerti? Kau selalu menyalah artikan ucapanku, dasar gadis bodoh." celetuk Dev menyentil dahi istrinya tersebut hingga membuat Agya mengadu.


"Maaf jika aku menjadi suami yang egois." Dev melanjutkan ucapannya, ia meraih tubuh Agya lalu mendekapnya, "Aku tak bermaksud untuk menyembunyikanmu tapi aku harus melakukan itu sekarang. Aku harus mengikuti saran Papa dengan melakukan semua ini, berpura-pura jika kita telah berpisah untuk menarik simpati tuan Alden agar dia benar-benar memilihku untuk menjadi presidir."


"Itu artinya kita akan terus berpura-pura tak memiliki hubungan lagi sampai kau terpilih menjadi presidir." Agya mendongakan wajahnya, menatap Dev dengan tatapan sendu.


Dev mengangguk, "Hanya beberapa bulan ke depan, setelah itu kita akan kembali bersama selamanya. Tak akan ada lagi yang menganggu hubungan kita, Alenaa sekalipun."


"Bagaimana jika rencanamu tak berhasil? Bagaimana jika setelah kau diangkat menjadi presidir, tuan Alden akan langsung menikahkanmu dengan Alenaa?"


"Sayang." Dev menangkap kedua tangan Agya yang hampir lepas dari pelukannya. Lalu ia bergerak menangkup wajah sendu istrinya, "Itu tak akan terjadi, aku dan papa sedang berusaha mengumpulkan bukti-bukti untuk membuktikan kebusukan tuan Alden. Dia sudah banyak merugikan perusahaan, tapi dia begitu cerdas menghilangkan jejak tindakannya, hingga kami tak bisa menututnya."


"Lalu apa yang bisa kalian lakukan untuk membuktikan itu Dev? Aku takut, aku takut kau tak berhasil. Aku takut kau meninggalkanku." Agya terisak, ia sangat membenci ini.


"Ssttt sayang." Seketika Dev langsung mendekap tubuh Agya, membelai rambut wanitanya dengan lembut. Membiarkan Agya menangis untuk meluapkan perasaannya.


Jangan tanya sefrustasi apa Dev sekarang. Jika bukan karena ingin menyelamatkan Wilantara Group dan juga Maminya, ia tak akan mau mengikuti rencana papanya ini.


"Dev, a-aku benar-benar takut, aku sangat mencintaimu Dev, aku tak mau kehilanganmu." Agya terus terisak, rasanya ia ingin membawa Dev pergi ke sebuah kota yang tak berpenduduk agar tak ada satupun orang yang mengusik hubungan mereka, tapi ia tak boleh egois. Keluarga dan perusahaan yang membesarkan nama suaminya sedang membutuhkannya sekarang.


"Apa kau ingin pulang ke Indonesia? Kau bisa tinggal dengan kedua orang tuamu untuk sementara waktu, dengan begitu kau akan merasa lebih tanang."


"Tidak." Agya melepas pelukannya seraya menggeleng pelan, "Aku tak mungkin meninggalkanmu dalam kondisi seperti ini, walaupun kau tak bisa menemuiku setiap saat tapi setidaknya kau bisa menemuiku disaat kau membutuhkanku. Tapi jika aku di Indonesia, kau tak akan bisa menemuiku sama sekali." ucapnya menyeka air matanya.


"Kau yakin?" Agya mengangguk.


"Aku sangat mencintaimu sayang." ucap Dev mengecup kening Agya lalu memeluknya kembali.


"Apa mulai besok kita tak akan serumah? Kalau begitu aku mau kembali ke apartemenku saja."


"Tidak, kau akan tetap berada di sini, aku akan tinggal di Big House. Aku akan datang ke sini sesekali untuk menemuimu."


"Tapi, bagaimana jika seseorang melihatmu? apalagi para wartawan? Mereka pasti akan semakin heboh dan membuat timeline sembarangan seperti hari ini, dan mungkin mulai besok mereka akan selalu membuntuti kemanapun kau pergi. Oh satu lagi, kau pasti akan bersama Alenaa sepanjang hari bukan." Agya mengerucutkan bibirnya, ia benar-benar tidak suka Dev menghabiskan waktunya bersama Alenaa. Namun itu yang akan terjadi selama beberapa bulan ke depan.


"Makan saja. Aku sangat siaap disantap olehmu." ucap Agya memincingkan matanya, seolah menantang.


*


"Sayang, apa yang kau pikirkan hm? Kenapa kau melamun?" Dev membelai wajah Agya saat istrinya itu tak merespon ucapannya beberapa kali.


"Eh, tidak ada."


"Apa kau memikirkan tentang kita?" tanyanya menatap lekat wajah Agya seraya mengusap-usap lembut pipi istrinya.


Agya mengangguk, kedua bola matanya terlihat berkaca-kaca kini, "Dev, apa kita bisa berlama-lama dulu di sini? Kita tidak akan bertemu lagi nanti sore."


"Mendekatlah." ujar Dev, seketika Agya langsung menggeser tubuhnya lebih mendekat ke sisi Dev, lalu ia kembali masuk ke dalam dekapan hangat suaminya tersebut.


"Batalkan semua jadwalku pagi ini, aku akan ke kantor nanti siang."


Seusai mengirim pesan singkat tersebut kepada Sekertaris Kim, Dev langsung meletakan ponselnya di atas nakas, sebelum kemudian ia kembali mengecup puncak kepala Agya seraya memeluk kembali tubuh mungil itu dengan sangat erat.


Biarkan mereka menghabiskan waktu lebih lama sebelum mereka benar-benar menghirup udara yang berbeda.


***


"Di mana Dev?!" Alenaa yang baru saja keluar dari ruang kerja Dev langsung menghampiri Sekertaris Kim saat dirinya tak menemukan calon suaminya itu di sana.


"Saya tidak tahu nona." jawab Sekertaris Kim menunjukan raut wajah dinginnya.


"Kau tak tahu? Jangan membohongiku Sekertaris sialan!"


"Aku tak pandai berbohong seperti nona. Maukah anda mengajariku untuk itu?"


Glek,


Alenaa tertegun. Sialan, Sekertaris Kim baru saja mengeluarkan kalimat menohoknya.


"Dev pasti sedang bersama wanita jalan* itu. Katakan padaku, di mana mereka tinggal?"


"Nona Alenaa, sepertinya anda membutuhkan cermin. Apa cermin di rumah nona sangat kecil? Saya bisa membelikan cermin yang lebih besar untuk nona agar selain pori-pori nona terlihat, sikap kotor nona juga bisa anda lihat setiap saat."


"Tutup mulutmu! Berani sekali kau mengataiku. Aku akan melaporkanmu pada Dev agar dia memecatmu, dia tak butuh Sekertaris sialan seperti dirimu."


"Silahkan." Sekertaris Kim menyunggingkan senyuman tipis dari sudut bibirnya. "Bagaimana jika aku yang melaporkanmu nona, jangan pikir jika aku tak tahu apa yang anda lakukan di Daegu semalam." bisiknya tepat di telinga kiri Alenaa, hingga membuat wanita itu merinding dengan mata yang membola lebar.


Sekertaris Kim benar-benar sebuah ancaman besar baginya. Tunggu sebentar, apa Sekertaris Kim juga tahu tentang kematian Della? Tidak, dia tidak boleh tahu.


"Kenapa nona terkejut hm? Seharusnya nona lebih berhati-hati lagi dalam melakukan sesuatu."


"Bajingan." cetus Alenaa mendorong dada bidang Sekertaris Kim agar menjauh darinya, sebelum kemudian ia berlalu pergi dari sana dengan langkah gontai dan kondisi jantung yang tidak baik-baik saja. Ia harus segera menghubungi Jio untuk memberitahu pria itu jika Sekertaris Kim mengetahui tentang mereka semalam.


.


.


.


.


Bersambung...