Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Ingin hidup normal



Mobil yang dikemudi oleh sekertaris Kim melaju dengan kecepatan sedang menuju bandara, terlihat Agya yang tengah menyandarkan kepalanya di bahu mamanya seraya memeluknya erat. Duduk di belakang kursi kemudi, bersama Mama dan Papanya.


Sedari tadi mata Dev tak berpindah, pria yang duduk di kursi depan tepat di samping kursi kemudi itu, menatap lekat wajah istrinya dari kaca spion. Terbesit perasaan bersalah, karena memperlakukan Agya dengan buruk padahal wanita itu diperlakukan bak ratu oleh kedua orang tuanya.


"Kita sudah sampai tuan." ujar sekertaris Kim menoleh ke arah tuan mudanya yang tengah sibuk dengan lamunannya.


"Ehm." Dev berdehem, memperbaiki jasnya lalu keluar dari dalam mobil.


"Mama." Agya yang baru saja keluar dari dalam mobil kembali menghambur ke dalam pelukan ibunya, tak segan ia menumpahkan air matanya lagi.


"Sayang. Kenapa kau menangis?" Mama Inaya melepas pelukannya, menyeka air mata Agya dengan kedua ibu jarinya seraya tersenyum hangat.


"Anak Papa." Tak kuasa melihat Agya menangis, Papa Darwin mengambil alih tubuh anaknya itu lalu memeluknya erat. Mengecup puncak kepalanya berkali-kali.


"Papa, Gyaa akan merindukan Papa." Menangis terisak, tidak perduli dengan tatapan Dev kepadanya.


Perpisahan ini mengingkatkan Agya akan perpisahan minggu lalu dengan kedua orang tuanya, namun kali ini sangat berbeda dan sangat menyedihkan. Ia kembali ke Korea bukan hanya menjadi mahasiswi lagi melainkan menjadi seorang istri dari Deva Andriano Wilantara--Ah tidak bukan seorang istri melainkan kacung dari pria itu.


"Papa juga akan sangat merindukanmu sayang. Papa sedikit lebih legah melepaskanmu sekarang, papa tidak akan mengkhawatirkanmu lagi karena sudah ada yang menjagamu." Melepas pelukannya, menangkup wajah Agya seraya tersenyum.


"Jaga anak kami ya Dev." ujar Mama Inaya menatap Dev yang berdiri tak jauh di belakang Agya.


Dev tersenyum seraya menganggukan kepalanya pelan. Sepertinya tujuan utama menikahi Agya akan sedikit berubah setelah melihat besarnya kasih sayang orang tua Agya terhadap wanita yang telah menjadi istrinya itu.


"Baiklah Pa, Ma. Kami akan berangkat sekarang."


"Tunggu." Agya memotong ucapan Dev, ia kembali memeluk papanya dan kembali menangis, hingga membuat Dev menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.


"Astaga, manja sekali." Decaknya dalam hati.


"Ayoo sayang kita berangkat sekarang!" Dengan rasa kesalnya, Dev langsung menarik tubuh Agya melingkarkan tangannya di pinggang wanita itu seraya tersenyum hangat ke arah Mama Inaya dan Papa Darwin.


Agya terhenyak hendak menepis tangan Dev di pinganggnya namun Dev malah semakin mengeratkannya. "Bersikap manislah jika kau tidak ingin aku menghukummu nanti." bisiknya penuh penekanan tepat di telinga Agya.


"Ehm, Ma, Pa. Gyaa berangkat sekarang ya." ucap Agya menerbitkan senyuman di bibirnya. Senyum yang terkesan terpaksa.


"Baiklah, jaga dirimu ya nak. Hubungi Mama jika kalian sudah sampai."


"Iyaa Ma."


"Kami permisi dulu Pa." Dev melepaskan tangannya dari pinggang Agya lalu berlaih memeluk papa mertuanya singkat.


"Jaga Gyaa ya nak."


Dev mengangguk seraya meraih tubuh Agya kembali sebelum kemudian mereka masuk ke dalam bandara, diikuti oleh sekertaris Kim dibelakangnya.


***


Setelah 8 jam mengudara, akhirnya jet pribadi milik Mr.Dev landing juga di Seoul Incheon International airport. Keadaan di dalam jet tersebut terlihat sangat mencekam, sedari tadi Dev tidak mengeluarkan sepata katapun dari mulutnya. Pria itu hanya duduk diam dan memandangi Agya selama 8 jam. Hal itu tentunya membuat Agya tidak nyaman, dan berkali-kali menegug salivanya, tidak bisa membaca arti tatapan mata Dev padanya.


"Kita akan pergi secara terpisah, ikutlah bersama sekertaris Kim. Dia akan membawamu ke apartemenmu." ujar Dev beranjak dari duduknya lalu keluar dari jet pribadinya.


Agya mengangguk pelan seraya menghela napas singkat, memerhatikan punggung belakang Dev yang bergerak menuruni anak tangga jet tersebut. Kepalanya dipenuhi pertanyaan-pertanyaan akan sikap dingin Dev padanya. "Aku akan pulang ke apartemenku? Kenapa? Bukankah dia akan menjadikanku pelayannya di rumahnya?"


"Nona Agya." sapa sekertaris Kim seraya menundukan kepalanya singkat.


"Ehm, apa tuan akan mengantarku pulang sekarang?"


"Iyaa nona."


"Baiklah." Mengambil tasya yang tergelak di kursi sebelahnya lalu bangun dari duduknya.


"Pakailah ini nona." ujar sekertaris Kim menyodorkan masker untuk istri tuannya itu sebelum mereka masuk ke dalam bandara.


"Iyaa, terima kasih tuan Kim." Agya tersenyum, mengambil alih masker tersebut dari tangan sekertaris Kim dan langsung memakainya. Pandangan wanita itu tampak mengedar ke sekelilingnya mencari sosok pria yang mungkin sudah tidak berada di sana?


"Silahkan nona." Sekertaris Kim kembali mempersilahkan Agya untuk melanjutkan langkah kakinya ke arah pintu keluar bandara yang terlihat begitu ramai. Bahkan terlihat banyak reporter di sana, hingga membuat Agya ketakutan, kembali mengingat Big problem di kota itu.


Agya memegangi dadanya tempat jantungnya berada, merasakan debaran kuat dari sana. Perlahan ia melangkahkan kakinya, berjalan di belakang sekertaris Kim, pun bibirnya yang tidak berhenti bergumam.



**


Setelah berhasil keluar dari bandara, sekertaris Kim langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan maksimal, berharap para wartawan tidak mengenali wajahnya. Begitu juga dengan Agya, wanita itu langsung bernapas legah seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


"Tuan Kim." Tiba-tiba Agya berucap dengan mata yang membulat, "Di-dimana tuan Dev? Apa para wartawan itu tahu jika hari ini tuan Dev akan berada di bandara?" tanyanya menatap punggung belakang sekertaris Kim yang tengah fokus dengan kemudinya


"Iyaa nona."


"Ha? Kenapa bisa?"


"Nona Agya tidak perlu khawatir, tuan Dev sudah pulang ke rumahnya."


"Secepat itu? Bagaimana caranya dia menghindari wartawan sebanyak tadi?" batin Agya, kepalanya tampak menggeleng tidak percaya. Apa salah satu alasan Dev menyuruhnya pulang terpisah untuk menghindari wartawan? Ah tentu saja karena itu, mengingat ucapan Dev semalam jika hubungannya dengan pria itu tidak berarti apa-apa, pun statusnya sebagai istri yang tidak diakui dan tidak boleh diketahui oleh siapapun.


Embusan napas berat keluat dari mulut Agya dengan kasar, membuang pandangannya ke luar jendela seraya menyandarkan kepalanya di sandaran kursi. Lelehan cairan bening tiba-tiba keluar dari kedua pelupuk matanya. Memikirkan jalan hidupnya yang sangat berantakan.


*


"Silahkan nona." ucap sekertaris Kim membukakan pintu untuk nona mudanya sesaat setelah mereka tiba di depan apartement Agya.


Agya bergeming, membuyarkan lamunannya seraya menyeka sisa-sisa air matanya, lalu keluar dari dalam mobil.


"Terima kasih tuan Kim." ujarnya tersenyum dan membungkuk singkat.


"Sama-sama nona." Sekertaris Kim menjawab dengan wajah datarnya, menutup kembali pintu mobilnya.


"Tuan Kim, a-apa aku boleh bertanya?" tanya Agya ragu-ragu.


"Silahkan."


"Tuan, apakah aku bisa menjalani hidupku dengan normal seperti biasanya? Aku sangat tidak mengerti alur pernikahanku dengan tuan Dev. Aku tahu dia menikahiku hanya untuk menjadikanku pelayannya. Tapi bisakah aku tetap hidup terpisah dengannya seperti ini? Aku ingin tetap tinggal di apartemenku, menjalani hidupku dengan normal, dan kembali kuliah bagitu juga dengannya."


"Tuan Kim, duniaku dan dunia tuan Dev sangat berbeda jauh, aku memang pantas menjadi pelayan di kehidupannya, aku hanya akan datang menemuinya disaat dia membutuhkanku sebagai pelayannya. Aku ingin kami hidup terpisah seperti ini."


"Masuklah nona, sudah hampir petang, udara di sini juga sangat dingin." ucap sekertaris Kim mengalihkan pembicarannya, sama sekali tidak berniat untuk menjawab pertanyaan Agya.


"Tidak, ku mohon jawab pertanyaanku dulu tuan Kim." Memelaskan wajahnya, menginginkan kejelasan akan alur hidupnya.


"Masuklah nona."


"Tidak tuan Kim. Ku mohon---." Wajah Agya semakin memelas, kedua tangannya mengatup rapat di depan dadanya. Memamdangi wajah dingin sekertaris Kim dengan tatapan senduh.


"Nona Agya bisa menjalani kehidupan normal nona selama satu minggu ke depan. Tuan Dev tidak akan datang ke sini ataupun mencampuri kehidupan nona dalam satu minggu ini, jadi nona bisa hidup bebas dan normal. Tapi setelah itu, tuan Dev akan menjemput nona untuk tinggal di rumahnya."


"Hanya satu minggu? Tuan Kim bukan itu yang aku maksud."


"Ini keputusan dari tuan Dev, tidak ada yang bisa membantahnya. Silahkan nona menjalani hidup dengan normal dan bebas, tapi berhati-hatilah nona." ucap sekertaris Kim.


Agya langsung terdiam, tidak berani membatah ataupun mengajukan pertanyaan dan permohonan lagi. Apa yang bisa ia lakulan sekarang? Dirinya akan benar-benar menjadi kacung dari Mr. Dev? Ah sungguh menyedihkan sekali.


"Silahkan masuk nona Agya." Sekertaris Kim membungkukan badannya singkat lalu berpamitan pergi dari sana namun sebelum itu ia memastikan nona mudanya sudah masuk ke dalam apartemennya.


"Tetaplah berjaga disekitar apartement nona Agya." ucap sekertaris Kim, menekan earphone yang berada di telinganya, sebelum kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan halaman apartement Agya.


.


.


.


.


.


Bersambung...