
Pagi setelahnya, langit Korea masih tampak begitu gelap, beberapa bintang masih memancarkan cahayanya namun seorang pria dengan tubuh tegap dan kekarnya dipaksa untuk meninggalkankan tempat tidurnya. Pria yang tak lain adalah sekertaris Kim kini tengah mengemudi mobilnya menuju Gwanak-gu, setelan jas berwarna hitam tampak membalut tubuh kekarnya dengan begitu rapi. Namun tak bisa dipungkiri bahwa rasa kantuk dan lelah masih melekat di wajahnya.
"Kau di mana sekarang Kim?" tanya seseorang di balik telepon sesaat setelah sekertaris Kim menekan earphone di telinganya.
"Saya sedang dalam perjalan ke apartemen nona Agya, tuan."
"Baiklah, segera selesaikan urusanmu di sana dan datanglah kemari. Aku dan Agya akan kembali ke Seoul hari ini."
"Baik tuan."
"Jangan lupa untuk membawakan pakaianku."
"Baik tuan, pakaian tuan sudah berada di dalam mobilku. Setelah memindahkan barang-barang nona Agya ke rumah tuan, saya akan langsung berangkat ke Daegu."
"Baiklah, lakukan semuanya dengan baik." ujar Mr. Dev memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak.
Sesaat kemudian, sekertaris Kim langsung melepas earphonenya dari telinganya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak menduga tuan mudanya membangunkannya sepagi itu hanya untuk menyuruhnya memindahkan barang-barang milik Agya ke rumahnya, dan semua itu harus rampung sebelum Agya kembali ke Seoul. Tidak hanya itu, saat ini asisten dan para pelayan di rumah Mr. Dev sedang kelimpungan dan kebingungan setelah mendapat kabar jika tuan muda mereka akan membawa istrinya ke rumah. Berbagai macam pertanyaanpun mulai tumbuh di benak mereka.
"Tuan muda akan membawa istrinya?"
"Sejak kapan tuan muda menikah dan memiliki istri? Bukankah tuan muda baru saja bertunangan dengan nona Alena?"
"Apa nona Alena lah yang akan di bawah ke big house? Tapi kalau nona Alena, kenapa harus dibuatkan sambutan seperti ini? Bukankah nona Alenaa sudah biasa datang di sana tanpa harus disambut?"
Dan masih banyak lagi spekulasi-spekulasi yang bermunculan dan menghebokan terkait nyonya baru yang akan di bawa oleh Mr. Dev di big house nanti siang.
Ting.
Sebuah notif pesan yang masuk di ponsel sekertaris kim, mengalihkan perhatian pria itu dari kemudinya. Kini potret seorang wanita yang tengah berciuman dengan seorang pria di club menjadi sasaran sorot mata tajam sekertaris Kim.
"Sudah ku duga jika dia akan melakukan hal ini lagi." gumamnya. Meletakan ponselnya kembali ke atas dashboar sebelum kemudian ia menambah laju mobil yang dikemudinya.
Setibanya di apartemen Agya, sekertaris Kim langsung keluar dari dalam mobil, merogoh saku celananya untuk mengambil kunci apartemen milik nyonya mudanya itu. Entah dimana ia temukan kunci tersebut.
Langkah kaki sekertaris Kim terhenti tatkala dirinya berada di depan pintu, sedikit merasa bingung saat kunci apartemen itu tidak dapat diputar, sepertinya terkunci dari dalam. Namun setelah beberapa kali mencoba, akhirnya pintu itu terbuka juga.
Dengan sedikit tergesah-gesah sekertaris Kim melangkah menuju kamar Agya yang berada di ruang keluarga sesuai clue yang di berikan oleh Mr. Dev.
"Akhhppp." Teriakan seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar mandi, mengejutkan sekertaris Kim. Pria itu langsung memutar tubuhnya membelakangi Della yang tengah memperbaiki handuknya.
"Sial." dengus sekertaris Kim, hendak berlalu dari sana, namun suara teriakan Della menghentikan niatnya.
"Apa yang kau lakukan di sini??!! Dasar priaaa mesu*." cercah Della meninggikan suaranya hingga beberapa burung yang masih tertidur di pohon yang berada di samping apartemen Agya langsung berterbangan pun sekertaris Kim yang langsung memutar tubuhnya. Menghampiri Della lalu membekap mulut wanita itu dengan telapak tangannya yang lebar.
"Diamlah wanita bodoh!! Kau bisa membangunkan orang lain!!" cetus sekertaris Kim, menajamkan matanya hingga membuat Della bergeming. Namun sejurus kemudian, ia menghempas kasar tangan laki-laki itu.
"Tolonggg!!" teriaknya keras.
"Huh astaga, wanita ini." Lagi sekertaris mendengus, menyumpal kembali mulut Della seraya menghimpit dan mengunci tubuh wanita itu di dinding
"Aku tidak berselerah melihatmu seperti ini, aku ke sini bukan untuk berbuat buruk, kau mengerti?! Berhentilah berteriak!!" serunya, tatapan matanya semakin terlihat tajam dan dingin hingga membekukan Della.
Perlahan ia melepas dekapan tangannya di mulut Della seraya melangkah menjauh, keluar dari kamar Agya. Sedangkan Della, ia masih bergeming di tempatnya dengan mata yang membola lebar. Tatapan mata sekertaris tadi benar-benar mampu membekukan dirinya tapi tak membuatnya takut sedikit pun.
"Apa tujuannya datang ke apartemen Agya sepagi ini?" gumam Della, menghembuskan napas singkat, lalu berlari ke arah lemari untuk mengambil pakaiannya.
**
"Aku mau mengambil barang-barang nona Agya." ucap sekertaris Kim, berdiri di depan kamar Agya, menatap Della dengan tatapan dingin.
"Ha? Barang-barang Agya? Untuk apa?"
"Apa selain barbar dan suka teriak, kau diciptakan untuk ingin tahu urusan semua orang?"
"Siapa yang ingin tahu? Aku hanya bertanya?!" Seru Della, menghunuskan tatapan tajamnya, bersaing dengan tatapan dingin pria yang ada di hadapannya saat ini. "Ah, astaga. Apa ini perintah dari tuan mudamu yang brengsek itu? Apa dia sudah menemukan Agya?!" ucap Della tertegun. "Apa Mr. Dev sudah menemukan keberadaan Agya?" tanyanya kembali.
"Minggirlah, kau terlalu banyak bicara." sinis sekertaris Kim, menerobos masuk ke kamar Agya.
"Heii, tidak sopan sekali. Apa yang ingin kau ambil?" Della mengekori sekertaris Kim yang berjalan ke arah nakas.
"Semua barang-barang Agya."
"Kau mau mencurinya? Ya, kau pencuri. Tolo---." teriakan Della terhenti saat sekertaris Kim membungkam mulutnya dengan bibirnya. Sontak kedua bola mata Della langsung melebar, hampir lepas dari tempatnya. Sangat terkejut menerima aksi dadakan sekertaris Kim yang mengejutkannya.
"Diamlah sehari saja!!" seru sekertaris Kim, Kembali melanjutkan niatnya untuk membuka nakas, mengambil dua bingkai foto Agya dan orang tuanya. Lalu pergi dari sana tanpa mengatakan sepata kata apapun lagi, meninggalkan Della yang berdiri mematung di tempatnya.
"Ha? se-sekertaris sialan itu mencium bibirku?" gumam Della memegangi bibirnya, masih sangat terkejut.
***
Di tempat lain, tepatnya di kota daegu. Lagi-lagi Agya harus terkena imbas kemarah Dev. Sedari tadi wanita itu duduk di sofa dengan kepala yang tertunduk, sedangkan Dev duduk di sampingnya dengan tatapan mata yang menghunus tajam.
"Huh, aku sudah melarangmu keluar dari kamar, tapi kau masih tetap keluar. Apa karena ada Darrel di luar? Kau pasti sedang mencari-cari perhatiannya. Dasar wanita---." Dev tidak melanjutkan ucapannya, pandangannya menoleh ke arah lain, wajahnya terlihat begitu kesal. Pasalnya saat bangun tadi ia tidak mendapati Agya di sampingnya. Dan ternyata wanita itu berada di dapur dan sedang bercakap-kacap dengan Darrel dan juga nenek Gamri.
"A-aku tidak tahu kalau Darrel ke sini." ucap Agya pelan, matanya memerah karena menahan tangis, sudah berapa ratus umpatan yang ia dengar keluar dari mulut Dev, bahkan borgol yang sempat ia lepas tadi pagi kembali melingkar di tangannya.
"Wah benarkah? Lalu kenapa kau tidak kembali ke kamar setelah tahu dia ada di sini. Dasarnya saja kau ingin menggodanya dengan menjual tampang jelekmu ini." cetusnya.
Agya tidak menjawab, tuduhan yang di cecerkan Dev benar-benar menyakitinya. Melakukan pembelaanpun rasanya percuma.
"Aku mau mandi sekarang." ujar Dev beranjak dari duduknya. Pun Agya yang ikut beranjak berdiri, karena tangannya terikat borgol dengan tangan Dev.
"A-aku akan menyiapkan air hangat untukmu."
"Tidak usah, aku bisa menyiapkannya sendiri." Sinis Dev, memutar kran bath up. Meraih aroma terapi lalu menuangkan ke dalam bath up tersebut sebanyak mungkin.
"Lepas pakaianmu dan masuklah ke dalam bath up."
"Ha?" Agya melongo, menatap wajah dengan dengan tatapan kebingungan.
"Cepatlah!!"
"Tu-tuan Dev. Aku--."
"Keluarlah jika kau tidak mau!" kekesalan semakin memenuhi wajah Dev, pun sorot mata tajamnya yang menakutkan.
"Keluarlah!!" bentakan yang keluar dari mulut Dev membuat Agya tertegun, tanpa ia sadari tetesan cairan bening sudah menggenang di pipinya.
Dengan sedikit kasar Agya melepas pakaiannya, tidak perduli lagi dengan rasa malu dan kehormatannya, sungguh ia semakin membenci pria yang ada di hadapannya saat ini. Sampai kapanpun ia akan tetap membencinya.
Dev menggerakan tangannya di wajah Agya, hendak mengusap air mata istrinya itu namun Agya langsung menepisnya.
"Keluarlah, aku akan mandi sendiri!" ujar Dev melepas borgol di tangannya. Sebenarnya ia tidak akan melakukan semua ini pada Agya, namun karena rasa cemburunya pada Darrel membuat Dev murka seperti ini.
Untuk pertama kalinya ia melihat Agya tersenyum hangat, senyum yang bukan diberikan untuknya melainkan pada pria lain. Pria yang menjadi musuh buyutannya.
"A-aku akan tetap berada di sini." ujar Agya tertunduk dalam, menyeka air matanya dengan kasar.
Dev terdiam, ia ikut menanggalkan pakaiannya sebelum kemudian ia masuk ke dalam bath up, disusul oleh Agya dengan penuh keterpaksaan.
*
Senyum tipis di bibir Dev tidak berhenti mengembang, pria itu berdiri di depan cermin seraya menatap beberapa kissmark yang berada di leher dan juga dadanya. Kissmark yang dibuat oleh Agya walaupun penuh keterpaksaan namun Dev tetap menyukainya. Ah, membayangkan wajah malu-malu Agya membuat Dev ingin menerkam tubuh wanita itu namun sebisa mungkin ia tahan, takut Agya akan kabur lagi karena hal itu.
"Katakan jika kau milikku." seru Dev menenggelamkan kepalanya di ceruk leher wanita itu seraya mengecup-ngecup kecil pundak telanjang Agya. Pun tangannya yang melingkar di perut polos istrinya itu.
"Cepat katakan!!"
"I-iyaa, a-aku milikmu, tuan Dev." Agya menjawab pasrah, tubuhnya terasa gerah padahal mereka sedang berendam di dalam bath up yang terisi air.
"Katakan sekali lagi." ujar Dev, mengecup kuat ceruk leher Agya hingga meninggalkan bekas merah keunguan di sana.
"A-aku milikmu tuan Dev, a-aku milikmu."
"Ya, kau memang milikku. Hanya milikku, aku tidak akan membiarkan satu pria manapun mendekatimu, sekalipun pria itu berasal dari surga. Apalagi Darrel yang hanya aku anggap sebagai upik abu. Ketampanannya berada jauh di bawahku." Bisiknya lembut namun penuh penekanan.
"Berbaliklah, aku ingin melihat wajah jelekmu itu."
"Jelek? Ah ya, aku benar-benar sangat jelek hingga kau terus memperlakukanku seperti ini." seru Agya dalam hati, ingin mencercah Dev namun tidak ia lakukan karena nyalinya sudah ciut dari tadi. Ia hanya bisa mengikuti apa yang dikatakan oleh suaminya itu, termaksud mengecup leher dan dada pria itu, sungguh ini sangat gila dan memalukan.
.
.
.
.
.
Bersambung...