Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Pulang



"Besok aku akan mengantarmu check up." ujar Sean menatap Agya yang berjalan di depannya.


"Hm. Semoga bayiku baik-baik saja." Agya mengusap lembut perutnya seraya mengulaskan senyuman hangat. Ia sangat bahagia bisa mempertahankan kedua bayinya sampai saat ini. Kemarin saat check up terakhir di Berlin, kedua bayi itu tumbuh dengan sehat di dalam rahimnya, namun ia tak dapat melahirkan kedua bayi itu secara normal, bahkan kelahirannya akan dipercepat tiga minggu dari usia normal melahirkan.


"Kau tak ingin makan sesuatu?" Sean kembali berbicara sebelum mereka masuk ke halaman mansion miliknya.


"Tidak."


"Sup rumput laut?"


Deg


Tiba-tiba Agya menghentikan langkah kakinya, suara itu? suara khas seseorang yang sangat familiar di telingnya. Agya langsung menoleh, mencari si pemilik suara tersebut. Namun tak ada siapapun di sana kecuali dirinya dan Sean.


"Ada apa?" Sean ikut mengedarkan pandangannya, mengikuti arah pandang Agya.


"Ehm, tak ada." ucapnya memejamkan matanya singkat, lalu kembali melanjutkan langkah kakinya.


"Aku baru saja menawarkanmu sup rumput laut? Apa kau ingin aku membuatkannya untukmu?"


"Tidak Sean. Terima kasih." Mendadak Agya merasa hatinya terenyuh, pertanyaan Sean barusan adalah pertanyaan yang sering kali ditanyakan Dev padanya. Sungguh, ia sangat merindukan suaminya itu. Ah, bagaimana kabar pria itu? Apa dia baik-baik saja? Apa semua pekerjaannya berjalan lancar? Apa dia menemukan dasinya dan bisa memakainya sendiri? Apa dia masih terus mencariku?


"Hah." Agya menghembuskan napas seraya memejamkan matanya singkat, ia merasa begitu egois dan tidak adil pada Dev. Pria itu seharusnya tahu tentang kondisinya dan juga kedua bayinya saat ini.


"Gya. Kau baik-baik saja?" secepat kilat Sean menopang tubuh Agya yang tiba-tiba kehilangan keseimbanganya.


"Sean. Kakiku sangat kram, aku tak bisa berpijak." rintihnya. Seketika Sean langsung menggendong tubuh Agya dengan kedua tangan kekarnya dan membawanya masuk ke dalam rumah. Bukan kali pertamanya Agya merasakan kram di kakinya, ia selalu merasakan itu hampir tiap hari.


*


"Beristirahatlah. Aku akan menyuruh Bi Aya untuk memijat kakimu." ujar Sean sesaat setelah ia merebahkan tubuh Agya di atas tempat tidur.


"Terima kasih Sean, maaf telah merepotkanmu."


"Merepotkan? Aku sama sekali tak merasa direpotkan olehmu. Gya, aku sudah menganggapmu adikku, aku senang bisa membantumu seperti ini."


"Terima kasih." ucap Agya menatap Sean dengan tatapan senduh. Saat ini hanya kata itu yang bisa ia ucapkan untuk Sean, pria itu sangatlah baik dan telah banyak membantunya.


"Sama-sama. Aku keluar dulu, take a rest Gya." seulas senyuman hangat terbit dari bibir Sean, sebelum kemudian pria itu beranjak keluar dari kamar Agya seraya merogoh ponselnya.


***


Pagi menyambut, seperti biasa Agya selalu duduk di kursi taman untuk menikmati biasan matahari yang baru saja terbit. Membiarkan wajahnya dijamah oleh matahari hingga mengeluarkan peluh di sana.


Sementara Sean, ia hanya akan memantau dari jauh sembari menyeruput kopi hangat, memberikan kebebasan kepada Agya untuk menikmati waktunya.


"Sayang."


Dahi Agya menyernyit dalam, matanya kembali terpejam, apakah ia berhalusinasi lagi? Kemarin suara Dev yang ia dengar dan sekarang suara ibunya.


"Aku sangat merindukan mereka." gumamnya beranjak berdiri, mengakhiri aktifitas berjemurnya. Ia hendak melangkahkan kakinya ke arah mansion Sean namun terurungkan tatakala melihat bayang seorang wanita. Tunggu sebentar, Agya segera menoleh untuk memastikan pemilik bayangan tersebut. Dan...


Deg


"Mama." Agya bergeming dengan kedua bola mata yang melebar. Menatap wanita setengah baya yang kini berdiri di hadapannya. Pun papanya yang juga berdiri tak jauh dari mereka.


"Sayang."


"Mama." Seketika Agya langsung memeluk ibunya tersebut bersamaan dengan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.


"A-aku merindukan mama."


"Mama juga sangat merindukanmu nak." Nyonya Inayah mengeratkan pelukannya seraya mengecup kepala anak kesayangannya tersebut.


"Kenapa kau meninggalkan mama?"


"Jika kau memiliki masalah dengan suamimu, kau bisa datang pada mama dan cerita pada mama. Kenapa kau malah pergi sejauh ini?"


"Maafkan aku Ma." Agya melepas pelukannya, kini ia menatap lekat wajah ibunya dengan air mata yang masih terus mengalir.


"Bagaimana kondisi bayimu? Apa mereka baik-baik saja?" tanyanya beralih mengusap lembut perut Agya.


"Ehm, me-mereka baik-baik saja." Agya mengalihkan tatapannya seraya memejamkan matanya singkat, ia tak sanggup menceritakan yang sebenarnya.


"Kau tak merindukan papa?" Kini tuan Darwin yang berbicara setelah cukup lama membisu. Ia melangkahkan kakinya menghampiri anak dan istrinya yang tengah melepas rindu.


"Maafkan aku Pa." Agya menyambut pelukan papanya tersebut dan kembali menangis sejadi-jadinya. "Maafkan aku Pa." katanya berulang-ulang.


"Kau tak perlu meminta maaf. Kau tak salah." ucap tuan Darwin mengecup puncak kepala Agya, sebelum kemudian ia melepaskan pelukannya.


"Papa datang untuk menjemputmu. Kita pulang ke Indonesia sekarang."


"Pulang?" Agya mengalihkan tatapannya ke arah Sean yang baru saja menghampiri mereka. Apakah Sean yang memberitahu keberadaannya? Pria itu mengingkari janjinya?.


"Sudah saatnya kau pulang Agya." seulas senyuman terbit di bibir Sean, mencoba menyembunyikan kesedihannya.


"Kau yang memberitahu mereka tentang keberadaanku?!"


Sean mengangguk, "Maafkan aku. Aku tak dapat memegang janjiku lagi. Gya, aku tak bisa melihatmu begini terus. Kau harus pulang dan menghabiskan waktumu bersama orang-orang yang kau cintai."


"Apa kau menceri---."


"Itu bukan tanggung jawabku. Kau yang akan menceritakannya sendiri pada keluargamu." Lagi Sean mencoba untuk mengulaskan senyuman di bibirnya. "You deserve better Gya. Try to spend the rest of your time with the people you love."


Agya bergeming, air matanya semakin mengalir deras mendengar penuturan Sean barusan. Apa yang dikatakan Sean ada benarnya.


"Bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya Sean?"


"Sure." Sean merentangkan kedua tangannya seraya tersenyum, dan menyambut Agya ke dalam pelukannya.


"Kau akan sembuh, percayalah." bisiknya, mengeratkan pelukannya, "Kau harus bisa melawannya, demi kedua bayimu nanti."


Agya mengangguk, lalu ia melepaskan pelukannya. "Terima kasih banyak Sean."


"Sama-sama. Mulai hari ini, tak boleh ada air mata lagi oke. " ujarnya menyeka air mata Agya.


"Terima kasih Sean. Terima kasih sudah menjaga Agya dengan baik." Nyonya Inayah berucap, mentap Sean dengan tatapan senduh.


"Aku tak berbuat apa-apa. Agya lah yang menjaga dirinya sendiri dengan sangat baik hingga kita masih melihat senyumannya sampai saat ini." Sean menoleh ke arah Agya seraya tersenyum.


Hingga Agya membalas senyuman hangat pria itu meskipun air matanya masih bercucuran.


"Kami akan membawa Agya pulang ke Indonesia sekarang. Sekali lagi, terima kasih sudah menjaga putri dan kedua cucuku dengan baik." ucap tuan Darwin menepuk bahu Sean.


Sementara Sean, ia hanya bisa mengulaskan senyuman. Mencoba untuk menebar keceriaan disuasana yang sangat menyedihkan ini.


"Sampai jumpa lagi Agya."


.


.


.


.


Bersambung.....