Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Wanita pendendam



Deg, mendengar ucapan dokter Chyntia air mata Agya langsung menetes.


"Do-dok, kau tidak sedang bercandakan. Aku hamil? Aku akan menjadi seorang ibu."


"Iyaa nona Agya." Dokter Chyntia mengusap lengan Agya seraya mengulaskan senyuman hangat di bibirnya.


"Sayang. Mama akan menjadi seorang nenek." kini nyonya Valerie yang berbicara, wanita setengah baya itu langsung memeluk erat menantunya.


"Iyaa Ma." Agya membalas pelukan ibu mertuanya, air matanya semakin tak terbendung.


"Selamat nyonya Valerie."


"Terima kasih Chyntia."


"Sama-sama nyonya." Senyum di bibir dokter Chyntia masih menggembang lebar, ia ikut merasakan kebahagiaan keluarga nyonya Valerie. "Mulai sekarang nona Agya harus menjaga kesehatan nona, makan dengan teratur dan jangan banyak pikiran."


"Baik dok. Terima kasih."


"Baiklah. Kalau begitu saya permisi dulu."


"Silahkan dokter Chyntia, aku akan mengantar dokter ke depan." ucap nyonya Valerie yang langsung dibalas anggukan oleh dokter Chyntia. Sebelum kemudian kedua wanita itu bergerak meninggalkan kamar Agya.


Beberapa menit kemudian, Agya masih terpaku di atas tempat tidur seraya mengusap-usap lembut perutnya, ia sama sekali tak menyangka jika di dalam perut mungilnya tersebut telah hadir kehidupan baru, buah cintanya dengan pria yang amat sangat ia cintai.


"Ahh aku harus segera memberitahu Dev." Dengan sangat tergesah-gesah Agya meraih ponselnya, membuka lockscren ponselnya tersebut lalu mencari nama kontak Dev.


My handsome husband, membaca nama kontak tersebut membuat Agya tersipu malu. Ia kembali mengingat awal pernikahan mereka dulu. Yaa, siapa yang akan menyangka jika hubungannya dengan Dev yang semula hanyalah sebuah balas dendam kini berakhir manis seperti ini. Pernikahan yang mulanya dianggap kutukan oleh Agya karena sikap tempramen dan keras kepala Dev kini membuatnya ingin terus berada dalam kutukan tersebut. Dev benar-benar berhasil membuat dirinya jatuh cinta berkali-kali lipat.


"Hallo."


"Sayang, ada apa hm?"


"Sayang..." Suara pria yang terus memanggil-manggil dari balik telpon membuyarkan lamunan Agya. Perhatian wanita itu langsung terpusat pada layar ponselnya.


"Sayang.." Sekali lagi Dev kembali memanggil Agya, suaranya terdengar cemas saat tak mendapatkan respon apapun.


Tutt..tut.. tut...


"Shittt." umpat Dev tatkala sambungan telponnya tiba-tiba terputus. Ia kembali mengutak-atik ponselnya dan menghubungi Agya namun ponsel wanita itu berada di luar jangkauan bagitu juga dengan ponsel nyonya Valerie.


"Kemana mereka? Kenapa ponsel mereka tidak dapat dihubungi?" Dev merasa frustasi kini, ditengah-tengah padatnya manusia yang berdatangan ke rumah duka, ia harus dibuat panik seperti ini.


"Pa, aku harus kembali ke apartemenku sekarang." bisik Dev tepat di samping papanya, wajah pria itu terlihat sangat cemas.


"Kenapa tiba-tiba? Jenazah Alenaa belum dimakamkan."


"Aku tak perduli, aku mencemaskan istriku. Dia baru saja menghubungiku dan memutuskan sambungan telponnya tiba-tiba---."


"Kau tinggal menghubunginya kembali." ucap tuan Andhito dengan wajah dinginnya.


"Aku sudah menghubunginya Pa, tapi ponselnya juga tidak aktif, begitu juga dengan ponsel mama. Kemana perginya mereka? Kenapa ponsel mereka tidak dapat dihubungi dalam waktu yang bersamaan!!" dengus Dev kesal. Entalah, semenjak kejadian buruk yang menimpa keluarganya akhir-akhir ini ditambah dengan kematian Alenaa yang tragis membuat Dev begitu paranoid.


"Tenanglah. Jangan bersikap berlebihan seperti ini. Tegakkan kepalamu dan lihatlah siapa yang datang." ucap tuan Andhito pelan seraya memusatkan perhatiannya kepada seorang pria yang baru saja keluar dari dalam mobil dengan pakaian tahanan dan juga borgol yang melingkar di kedua tangannya.


"Tuan Alden." gumam tuan Andhito saat bertemu pandang dengan tuan Alden. Ia dapat melihat dengan jelas bola mata tuan Alden yang memerah, namun dibalik itu tersirat amarah yang berkobar.


"Ternyata kau juga datang tuan Andhito. Apakah tujuanmu kesini untuk melihat kehancuranku? Ya, aku rasa begitu. Tapi ingatlah semuanya belum berakhir. Aku akan membalaskan dendamku, kau akan merasakan apa yang aku rasakan saat ini. Hidupmu tidak akan tenang tuan Andhito, aku akan selalu menjadi bayang-bayang dikeluargamu." seru tuan Alden dengan senyum tipis nan licik yang tersemat di bibirnya


"Lakukan apa yang bisa kau lakukan tuan Alden. Aku hanya berharap kau tidak menjadi gila." tuan Andhito membalas ucapan tuan Alden dengan tidak kalah menantangnya.


"Hahahaha." Seketika perhatian para pelayat terpusat pada tuan Alden yang tengah tertawa terbahak-bahak.


"Kau akan segera merasakan penderitaanku tuan Andhito. Tunggulah." ucap tuan Alden dengan sisa-sisa tawanya. Sebelum kemudian pria itu membawa dirinya masuk ke dalam rumahnya untuk melihat jenazah anak semata wayangnya.


"Dev, apa kau percaya dengan ucapannya?" Tuan Andhito menoleh ke arah Dev yang berdiri di sampingnya.


"Ehm. Te-tentu saja tidak, tuan Alden tak memiliki kekuatan apapaun lagi sekarang."


"Kau yakin?" tanya tuan Andhito tersenyum, rasanya ia ingin menertawai Dev yang telah memasang raut wajah cemas dan takut. Ia takut tuan Alden melukai Agya dan...


"Aku mau menemui Agya sekarang." ucap Dev. Tanpa basa basi, ia segera berlalu pergi dari sana dengan langkah panjang. Tak perduli dengan suasana haru yang baru saja terjadi, ia hanya sedikit mendengar suara teriakan dan tangisan tuan Alden.


***


30 menit berlalu, Dev baru saja tiba di parkiran apartemennya. Dengan sangat tergesah-gesah ia keluar dari dalam mobil dan berlari menuju lift yang langsung tembus ke dalam kamarnya, kekhawatir belum memudar dari wajahnya.


"Sayang." panggilnya mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, dengan langkah panjang ia masuk ke dalam kamarnya, mencari keberadaan istrinya di sana namun ia tak menemukan siapapun.


"Agyaaaa." teriak Dev, jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ucapan tuan Alden kembali menghantuinyaa. Ia semakin panik dan frustasi.


"Hahaha, tadinya aku ingin menghubunginya untuk memberitahu kabar baik ini. Tapi setelah mengingat perlakuan buruknya padaku dulu, aku jadi tak ingin berbicara dengannya." ucap seseorang mengusap ekor matanya yang berair, wanita itu terlihat sangat bahagia.


"Hahaha, Agya ternyata kau wanita pendendam."


"Sama seperti anak Mami, dia juga pria pendendam, hahahah. Dia pasti mencemaskanku sekarang. Ah, aku tak sabar melihat wajah cemasnya yang sangat lucu itu."


"Hahaha sayang, kau benar-benar sangat cerdas. Biarkan dia mencemaskanmu, "


"Oh, jadi kalian mengerjaiku?"


Deg.


Nyonya Valerie dan Agya langsung menoleh ke arah pintu dapur. Terlihat Dev yang tengah berdiri dengan kedua tangan yang bersedekap.


"De-Dev. Kau sudah pulang." Tawa Agya langsung memudar tatkala melihat tatapan tajam Dev. Buru-buru ia menyembunyikan kotak berisi bukti kehamilannya di dalam nakas.


"Kau sengaja mengerjaiku." Dev melangkah masuk ke dalam dapur dengan raut wajah datarnya.


"Eh, ti-tidak. Kau telah salah paham."


"Benarkah?"


Gleg, Agya menelan salivanya seraya memalingkan pandangannya, ia tak sanggup melihat tatapan tajam Dev.


"Dev."


"Jangan membelanya mami." cetus Dev, tanpa menatap nyonya Valerie, ia terus melangkah ke arah Agya.


"Maaf. A-aku tidak---." ucapan Agya terhenti tatkala Dev tiba-tiba menarik tubuh istrinya tersebut ke dalam pelukannya.


"De-dev, kau tidak marah?"


Dev menggeleng, ia membenamkan kepalanya ke ceruk leher Agya seraya mengeratkan pelukannya.


"Jangan membuatku khawatir seperti ini. Kau tahu, aku hampir ditabrak tronton karena mencemaskanmu."


"Ehm, aku tidak bermaksud melakukannya."


"Ditabrak tronton? Berlebihan sekali." hardik nyonya Valerie seraya menggeleng-geleng kepalanya.


"Berikan Agya pada mami. Kami belum selesai mengobrol, dasar penganggu."


"Memberikannya untuk mami? Tidak!" cetus Dev, menjauhkan tubuhnya dan tubuh Agya dari jangkaun maminya. "Dia milikku, dia akan menghabiskan waktunya bersamaku sekarang."


"Tapi Dev, aku dan mami sedang sibuk menyiapkan makan malam." ucap Agya pelan. Bukan sibuk menyiapkan makan malam melainkan menyiapkan kejutan untuk suaminya itu.


"Kau lebih memilih Mami dari pada aku?"


"Dev. Bukan seperti itu." Agya menghela napas panjang seraya mengusap peluh yang bercucuran di dahinya. Ia merasa kelelahan kini.


"Baiklah-baiklah, jika kau masih ingin tetap berada di sini. Aku akan berada di sini juga dan memelukmu seperti ini." Dev kembali memeluk Agya lalu mengecup bibir pucat wanita itu.


"Astagaa. Pekerjaan mami dan Agya tidak akan selesai jika kau bergelantungan pada Agya seperti bayi." cetus nyonya Valerie, "Sudah mau memiliki bayi tapi masih bersikap seperti bayi." sambungnya dalam hati.


"Agya, bawalah penganggu ini ke dalam kamar. Biar mami yang mengurus semuanya.


"Mami yakin?" tanya Agya tak tega.


"Iyaa sayang."


"Lihatlah sayang, mamiku sangat pengertian, dia tahu apa yang aku butuhkan sekarang. Ayo kita kembali ke kamar kita." Dev tersenyum lebar, dengan segera ia menggendong tubuh Agya dan membawa pergi istrinya tersebut dari dapur.


Nyonya Valerie menggeleng-geleng kepalanya, ia tak menyangka Dev akan sebuncin itu pada Agya. Oh astaga, bagaimana nanti jika anak mereka lahir, apa Dev akan tetap sama, tak mau membagi Agya dengan siapapun? Atau justru mereka akan saling berperang untuk merebutkan Agya. Ah entalah, itu urusan mereka.


.


.


.


.


.


.


Bersambung