Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Alasan menghilang



Lethbridge, Canada.


Sore itu, terlihat Agya yang tengah duduk di kursi taman, menikmati senja yang menyelimuti Nikka Yuko Japanese Garden. Taman yang sangat indah dengan berbagai macam pohon dan bangunan yang bernuansa Jepang, suasana taman yang dingin nan sejuk mengingatkan Agya akan negaranya yang sudah lama ia tinggalkan.



"Agya." suara seseorang yang memanggil namanya membuat Agya membuyarkan lamunannya, wanita itu langsung menoleh, dilihatnya seorang pria yang berdiri di belakangnya dengan senyum yang mengembang lebar.


"Apa yang kau pikirkan?" pria itu ikut mendaratkan tubuhnya tepat di samping Agya seraya menyodorkan satu cup es cream.


"Terima kasih Sean." Agya mengambil alih es cream tersebut dengan wajah yang begitu girang. Tenggorokannya terasa kering, itu sebabnya ia meminta kepada Sean untuk membelikannya es cream.


Tak banyak bicara, Agya langsung menyantap es cream tersebut. "Manis." katanya, mengembangkan senyuman yang takkala manis di bibirnya.


Semenatara Sean, ia hanya berdiam diri, sedari tadi tatapan matanya tak berpindah dari wajah Agya.


"Kau tak merindukan keluargamu?" Hampir setiap hari Sean melontarkan pertanyaan itu, dan jawaban Agya selalu sama.


"Tidak." Seolah tak peduli, Agya kembali menyantap es creamnya seraya memandang lurus ke depan.


"Kau tak bisa menyangkal lagi Gya. Aku tahu kau sangat merindukan keluargamu." Bukan tanpa alasan Sean berkata demikian, ia bisa melihat dengan jelas kerinduan yang sangat besar di mata wanita itu.


"Sean, aku tak ingin membahasnya."


"Ck." Sean mendengus, ia beranjak dari duduknya, melempar pandangannya pada danau kecil yang ada di hadapannya "Kau tak kasihan pada suamimu?" imbuhnya menoleh.


Dan lagi jawaban Agya masih sama, wanita itu menggeleng pelan. "Aku hanya ingin membiasakannya hidup tanpaku sebelum aku benar-benar pergi semakin jauh."


"Kenapa kau begitu putus asa Gya? Kau akan sembuh!"


"Sembuh?" Agya tersenyum masam, bagaimana bisa ia sembuh dari penyakit ganas yang dideritanya? Ia bahkan tak melakukan tindakan apapun terhadap penyakitnya ini hanya untuk melindungi dua bayinya. "Aku bisa mati kapan saja Sean. Aku tak ingin membuat mereka sedih."


"Tapi Gya, sudah 5 bulan kau pergi. Seharusnya kau menikmati hidupmu bersama keluargamu, bukan lari seperti ini dan menyembunyikan penyakitmu."


"Kau tak mau merawatku lagi?"


"Huh." Sean mendengus, ia tak tahu harus dengan cara apalagi ia membujuk Agya agar mau kembali.


"Ku mohon, jangan usir aku Sean. Setidaknya sampai dua bayiku lahir." Agya memelaskan wajahnya, menatap kedua manik mata Sean dengan penuh permohonan.


"Huh. Ayo kita pulang, taman ini sudah mau tutup."


"Hm, baiklah." Seulas senyuman kembali terbit di bibir Agya tatkala permohonannya kembali diterima oleh Sean.


Sebenarnya Agya sangat merindukan keluarganya, termaksud Dev. Walaupun ia kecewa pada pria itu, bukan berarti ia tak perduli lagi padanya. Ia juga tak berniat pergi dari rumah hanya karena masalah sepele itu. Melainkan karena penyakit ganas yang dideritanya kini, penyakit yang tiba-tiba menyerang tubuhnya dan menjadi penyebab ia pingsan di malam itu.


.


Flashback on


Sayup-sayup Agya mendengar percakapan dua orang pria yang tidak begitu jelas di telinganya, perlahan ia membuka kelopak matanya, menatap nanar langit-langit sebuah ruangan yang begitu asing di ingatannya.


"Dev." gumamnya, namun seseorang tiba-tiba menghampirinya dan menyapanya dengan senyum hangat. Seorang pria yang sudah lama tak ia jumpai.


"Sean."


Pria itu mengangguk, masih merekahkan senyuman hangat di bibirnya. "Bagaimana kondisimu? Apa kau sudah merasa baik?"


"Sean, aku dimana?" tanyanya, mengedarkan pandangannya ke sekelilingnya, "Kenapa aku berada di rumah sakit?"


"Tadi kau pingsan di jalan, untuk itu aku segera membawamu ke rumah sakit. Aku belum mengabari keluargamu ataupun suamimu karena aku tak memiliki nomor ponsel mereka. Apa kau mengingat nomor ponsel suamimu? Kau bisa meminjam ponselku untuk menghubunginya."


"Tidak perlu." Agya menggeleng kepalanya saat sekelebat foto dinner keluarga Dev dan Teressa kembali memenuhi kepalanya. Sebenarnya, ia ingin pergi menemui Dev di restoran sekaligus untuk menjamba* Teressa. Namun siapa sangka ia akan pingsan dijalan dan berakhir di rumah sakit seperti ini.


"Kenapa kau bisa menemukanku Sean?" tanyanya kemudian.


"Ehm." Sean berdehem, mendaratkan tubuhnya di kursi yang ada di samping ranjang Agya. "Aku sengaja ingin menemuimu di rumah suamimu. Sudah lama kita tak bertemu bukan, dan kebetulan hari ini aku ke Korea untuk mengikuti tender di Wings hotel."


"Kau juga mengikuti tender itu?"


"Kata dokter kau sedang hamil."


Agya mengangguk singkat, seolah tak ingin membahas hal itu.


"Apa aku sudah boleh pulang? Aku ingin pulang sekarang."


"Tunggu sebentar Gya. Dokter Choi ingin menemuimu dan memberitahu sesuatu tentang penyakitmu."


Deg


"Penyakit?" kedua bola mata Agya membulat, bersamaan dengan jantungnya yang berdetak kencang.


"Penyakit apa? Bukankah aku hanya pingsan biasa karena kelelahan?"


"Aku tak bisa menjelaskannya padamu. Tunggulah, dokter Choi akan segera ke sini." ujar Sean, ia meraih tangan Agya dan menggenggamnya saat wanita itu terlihat ketakutan.


*


"Apa nona Agya belum mengetahui ini sebelumnya?" tanya dokter Choi saat melihat reaksi Agya yang begitu syok setelah mengetahui dirinya mengidap kangker leukimia.


Agya menggeleng, tak percaya. Penyakit yang membunuh saudara kembarnya kini bersarang di tubuhnya juga?


"Agya."


"Se-Sean." Agya tak kuasa menahan air matanya, ia mendekap tubuh pria yang dulu pernah dekat dengannya itu dan menangis sejadi-jadinya. Kenapa? Kenapa penyakit itu harus datang disaat seperti ini?


"Bagaimana dengan kondisi bayinya dokter? Apa Agya bisa mempertahankan janinnya meskipun mengidap penyakit ini?" Kini Sean yang berbicara, mewakili apa yang ingin ditanyakan Agya sedari tadi. Namun wanita itu tak bisa berkata apapun lagi, ia hanya bisa menangis untuk mewakili rasa sakitnya.


"Tuan Sean, penyakit ini sangat beresiko dan membahayakan nona Agya dan bayinya jika diteruskan. Proses perkembangan janin juga akan terganggu sehingga janin mengalami perlambatan tumbuh dan kembang di dalam kandungan. Satu-satunya jalan adalah dengan dilakukannya aborsi."


"Tidak!" teriak Agya histeris, "Aku tak mau bayiku diaborsi." serunya.


"Agya tenanglah." Sean mengusap lembut punggung Agya. "Jika kau mempertahankan bayimu, nyawamu yang akan menjadi taruhannya."


"Aku tak mau menggugurkannya Sean, aku menyayangi mereka."


"Kau tidak bisa mengambil keputusan sepihak Agya. Keluargamu harus ikut andil dalam hal ini, terutama suamimu."


"Tidak. Jangan memberitahu Dev, dia tak boleh tahu." Agya melepas pelukan Sean seraya menggeleng kepalanya.


"Dia akan menyuruhku untuk menggugurkannya Sean. Sejak awal Dev tak mau dua bayi ini menyakitiku."


"Jika aku di posisi Dev, aku akan melakukan hal yang sama. Gya ini untuk keselamatanmu." bujuk Sean, menatap kedua manik mata Agya. Berharap Agya bisa mengambil keputusan yang lebih bijak. Namun siapa sangka wanita itu justru bersih keras ingin mempertahankan kandungannya. Dan memohon pada Sean untuk tidak memaksanya lebih jauh.


"Jika nona Agya memilih untuk melanjutkan kehamilan nona. Nona Agya bisa melakukan kemoterapi tetapi ini sangat beresiko dan harus pengawasan yang ekstrim pada perkembangan janin."


Flashback off


.


"Huh." Hembusan napas berat keluar dari mulut Agya saat mengingat kembali saran dari dokter Choi. Saran yang membuat dirinya memilih untuk meninggalkan Dev dan ikut pergi bersama Sean. Ia tak ingin Dev terpuruk setelah tahu dirinya mengidap penyakit kangker yang sempat menjadi ketakutan pria itu.


Sebenarnya, Sean juga tak mau membawanya pergi kala itu. Namun ia memaksa dan memohon dengan sangat hingga mau tidak mau Sean menuruti perkataannya. Ia juga berharap suatu saat nanti, saat bayinya lahir dan disaat dirinya tiada. Sean bisa membawa dua bayi ini kembali kepada ayahnya..


.


.


Bersambung...


Btw Sean ini bukan tokoh baru ya, dia pernah muncul wktu pernikahan Agya dan Dev, kalau ada yang ingat🙃


Sean Luxor