
"Dev. Apa yang terjadi?" Tuan Darwin yang lebih dulu masuk ke dalam ruang rawat Agya langsung mencecerkan pertanyaan pada Dev saat ia melihat Agya yang menangis terseduh-seduh di atas kursi rodanya.
"A-aku--."
"Dev, kenapa Agya menangis? Apa yang kau lakukan padanya?!" kini Nyonya Valerie yang bersuara, ia segera mendekati Agya dan menjauhkannya dari Dev.
"Sayang? Apa yang Dev lakukan padamu? Apa dia memukulmu?" tanya Nyonya Inaya, kilasan akan hukuman yang diberikan Dev jika Agya tidak menghabiskan makanannya menjadi dugaan sementara keributan yang terjadi antara anak dan menantunya itu.
"Ma, aku--." Dev menghela napas panjang, sebelum kemudian ia melanjutkan ucapannya, "Aku tak sengaja membentaknya."
"Shitt Dev. Kau membentak istrimu? Apa ini yang disebut suami? Kau benar-benar---."
"Aku tak sengaja pa. Aku salah, aku mengakui kesalahanku." cercah Dev semakin frustasi, ia terasa dikekang kini, tak ada satupun yang membelanya.
"Sayang, maafkan aku." Tatapan mata senduh Dev kini tertuju pada Agya, wajahnya terlihat memelas. Berharap Agya segera memaafkannya.
"Ma, aku mau tidur." Agya menengadahkan wajahnya menatap ibunya yang berdiri di belakangnya.
"Sayang."
"Biarkan istrimu beristirahat Dev." pinta Tuan Darwin, mencegah Dev yang hendak menghampiri Agya.
"Tapi masalah kami belum selesai Pa. Dia belum memaafkanku."
"Agya sedang hamil, jangan menekannya dan membuatnya stress. Dia akan memaafkanmu jika moodnya membaik." ujar Nyonya Inayah mendorong kursi roda Agya ke arah ranjang. Pun Tuan Darwin yang langsung menggedong tubuh Agya dan memindahkan anaknya tersebut dari kursi rodanya ke atas ranjang.
"Shittt." Lagi Dev hanya bisa mengacak-acak rambutnya. Tanpa banyak bicara ia melangkah keluar dari ruangan tersebut dengan langkah panjang. Tak ada satupun yang memerdulikannya.
"Sayang, apa Dev membentakmu dengan keras?" tanya Nyonya Valerie, "Maafkan anak mami yaa sayang." bujuknya, namun Agya hanya terdiam dan menatap bayangan Dev yang perlahan menghilang dari balik pintu.
Entah apa yang terjadi dengan dirinya, ia benar-benar sangat emosional dan mudah terbawa perasaan, ia tak sanggup mendengar suara tinggi Dev lagi. Padahal sebelum-sebelumnya telinganya sudah terbiasa dengan nada tinggi yang setiap kali dilontarkan oleh Dev. Tapi kenapa sekarang berbeda, ia sangat membenci Dev, sangat membencinya.
"Ma, aku mau tidur." ucap Agya setelah beberapa saat bungkam.
"Baiklah, beristirahatlah sayang." Nyonya Valerie mengusap lengan Agya singkat seraya memperbaiki selimut yang menutupi menantunya itu.
Tak ada yang menuntut Agya untuk berbicara ataupun mengatakan kejadian yang sebenarnya yang membuat Dev membentaknya. Yaa, mereka memaklumi Agya yang sedang hamil, emosinya tidak stabil, moodnya juga kadang berantakan.
"Suasana hatinya akan membaik setelah bangun nanti." ucap Nyonya Inaya menoleh ke arah Tuan Darwin dan juga Tuan Andhito.
"Syukurlah. Kasihan Dev." Tuan Darwin mendaratkan tubuhnya di atas sofa, menghadapi perubahan mood wanita benar-benar sangat melelahkan. Semoga Dev dapat melewatinya dengan lapang dada.
Ohh ini baru perubahan mood, namun sepasang suami istri itu sudah saling mengadu? Bagaimana dengan ngidam aneh yang akan dialami Agya kedepannya? Ah semoga Agya tak mengalaminya atau Dev akan menjadi korbannya lagi. Kesabaran Dev benar-benar akan diuji disini. Apakah ini bisa disebut sebagai sebuah karma atas perlakuannya pada Agya diawal pernikahan mereka? Yaa kurang lebih begitu. Selamat menikmati hasil perbuatanmu Deva Andriano Wilantara~
***
"Sekertaris Kim, bagaimana keadaan Della? Apa aku bisa menemuinya sekarang?" pertanyaan yang diajukan Dev membuat sekertaris Kim mengerutkan dahinya. Pria itu segera beranjak dari duduknya.
"Tuan ingin menemui nona Della?"
"Apa kau tidak mendengar?"
"Dengar tuan. Tapi, untuk saat ini nona Della belum bisa ditemui oleh siapapun. Dia belum sepenuhnya sembuh dari traumanya. "
"Ah shitttt. Aku harus bagaimana sekarang?" Untuk kesekian kalinya Dev mengacak-acak rambutnya, penampilannya terlihat kusut, pun wajahnya yang semakin frustasi.
"Apa telah terjadi sesuatu tuan?"
"Agya telah mengetahui semua tentang Della. Dia menanyakan keberadaan sahabatnya padaku dan memaksaku untuk mempertemukan mereka." tutur Dev sebelum kemudian ia menceritakan semuanya pada sekertaris Kim. "Dan kau tahu Kim, saat ini Agya sedang marah padaku, dia mengusirku dan tak ingin melihat wajahku. Apa ketampananku telah memudar dan tak tidak memikat hatinya lagi? Kenapa dia bisa mengusirku seperti tadi?! Jika saja dia tidak sedang mengandung, aku pasti akan menghukumnya lagi." gerutunya.
"Shitt. Apa ini wajahku? Kenapa menjadi buruk rupa seperti ini?" umpat Dev menatap wajahnya pada kaca yang kini berada di hadapannya, ia segera merapikan rambutnya yang begitu acak-acakan.
"Usia 30 tahun membuat tuan menjadi seperti ini."
"Berhentilah membuat lolucon kuno itu." gerutu Dev, melirik tajam sekertaris Kim.
"Segera cari solusi terbaik agar Agya mau memaafkanku." ujarnya melangkah ke arah kursi tunggu lalu mendaratkan tubuhnya di sana.
"Harga diriku benar-benar tak berarti di hadapan Agya. Untung saja dia berhasil mebuatku jatuh cinta padanya, jika tidak sudah ku bawa dia ke mars."
"Bukan saat yang tepat untuk membuat lolucon tuan." ucap sekertaris Kim dengan wajah datarnya. Ia sedang berpikir keras mencarikan solusi untuk tuannya itu, tapi pria itu malah sibuk membahas planet mars? Yang benar saja.
"Ah yaaa. Apa kau sudah menemukannya?" Sekertaris Kim menggeleng, jika saja yang ia cari solusi untuk mengatasi masalah perusahaan mungkin sudah ia temukan. Tapi kali ini sangat berbeda, ditambah lagi dengan dirinya yang minim pengetahuan akan wanita, semakin membuatnya berpikir keras.
"Bagaimana dengan sebuah buket mawar, bukankah nona Agya menyukai mawar?"
"Cara yang sangat kuno." tolak Dev. "Jalan satu-satunya hanya dengan mempertemukan Agya dan Della."
"Tapi tuan."
"Kita belum mencobanya. Mungkin jika Della bertemu Agya dia melupakan traumanya. Kau tahu sendirikan jika mereka bersahabat dekat jauh sebelum kehadiran kita di tengah-tengah mereka."
"Saya tau tuan."
"Lalu apa masalahmu? Kau tak ingin ketenangan kekasihmu di usik?"
"Dia bukan kekasihku tuan."
"Ya sudah pertemukan saja mereka. Aku ingin istriku memaafkanku."
"Tapi tuan, kesehatan nona Agya masih belum membaik. Bagaimana jika nona Agya ikut terpuruk setelah mendengar kisah sulit yang dihadapi nona Della? Begitupun sebaliknya tuan, saya hanya ingin menjaga perasaan nona Della, dia akan bersedih dan kembali mengingat bayinya jika dia tahu nona Agya sedang mengandung."
Penuturan sekertaris Kim barusan membuat Dev terdiam. Ucapan sekertarisnya itu ada benarnya, tapi bagaimana dengan dirinya? Sampai kapan Agya marah dan tak ingin menemuinya.
"Huh. Aku akan mencari cara lain." ucapnya beranjak dari duduknya. "Segera temui Della dan pastikan jika dia baik-baik saja. Beritahu dokter Choi untuk mencarikan Della dokter psykolog. Dia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihannya."
"Baik tuan." sekertaris Kim menganggukan kepalanya.
"Semoga nona Agya segera memaafkan tuan."
"Hm." Dev mejawab singkat sebelum kemudian ia pergi dari sana.
.
.
.
.
.
.
Bersambung....
Dev lagi diuji guyssss. Tidak boleh ada yang kasihan padanya🤣