
Tak terasa langit sudah berubah menjadi gelap, beberapa bintang mulai bermuncul dengan malu-malu, pun lampu-lampu gedung yang sudah terlihat menyinari sekelilingnya, namun tidak dengan salah satu unit yang berada di Hannam The Hill. Apartemen yang ditinggali oleh Agya, kini terlihat sangat gelap bak tak berpenghuni. Entah sudah selemah apa tubuh penghuni apartemen tersebut, ia sampai tak bisa beranjak dari atas tempat tidur, bahkan untuk mengambil remote dan menyalakan lampu pun tak bisa ia lakukan. Sedari tadi, wanita itu terus memuntahkan isi perutnya hingga benar-benar kosong, ia bahkan tak bisa mencium aroma yang menyengkat sedikitpun
"Dev. Aku merindukanmu." Agya bergumam pelan bersamaan dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya. Ia sungguh sangat merindukan suaminya, namun apa yang bisa ia lakukan? Menghubungi Dev dan menyuruhnya untuk datang ke apartemen? tidak mungkin. Mereka sudah berjanji untuk tinggal di tempat yang berbeda selama beberapa bulan ke depan. Oh, apakah Agya akan sanggup? Tentu saja tidak, baru beberapa jam ditinggal oleh Dev, ia sudah sangat merindukan suaminya itu. Apalagi ditinggal beberapa bulan, mungkin Agya akan mati jika itu benar terjadi.
"Perut dan hidungku kenapa sangat aneh sekali? Mereka seolah mengajakku bermusuhan." gerutu Agya dalam tangisnya, ia meraih selimut dan menutupi seluruh tubuhnya namun tiba-tiba ia merasakan sentuhan lembut tepat di atas perutnya. Sontak Agya langsung membuka selimutnya, matanya terpejam singkat saat cahaya lampu terasa menelisik bola matanya.
"Sayang, kenapa kau tak menyalakan lampu hm?"
Deg. Agya tercengang, tunggu sebentar. Apa pria yang duduk di tepi tempat tidur tepat sampingnya saat ini adalah Dev?
"Ka-kau kemari? Aku tidak sedang bermimpi kan?"
"Mimpi? Kau pikir aku bisa hadir dalam imajinasimu dalam bentuk fisik seperti ini?" gerutu Dev mengerutkan kedua alisnya.
"Jadi aku tidak sedang bermimpi?" tanyanya yang langsung di jawab dengan anggukan kepala oleh Dev. Seketika Agya langsung beranjak bangun dan memeluk tubuh Dev dengan sangat erat.
"Aku sangat merindukanmu. Dev, a-aku sungguh merindukanmu. Kau tahu, aku merasa sangat bosan di sini, aku juga menunggumu pulang walaupun aku tahu jika kau tak mungkin bisa pulang."
Mendengar ucapan Agya, kedua sudut bibir Dev langsung mengembang lembar. Tumben sekali Agya mau mengakui semuanya secara terang-terangan seperti ini.
"Kau pikir hanya kau yang merindukanku, aku juga sangat merindukanmu." Dev membalas pelukan Agya, lebih erat dari wanita itu. Namun sesaat kemudian, Agya langsung melepas pelukannya saat lagi-lagi perutnya kembali terasa di aduk-aduk.
"Hoek."
"Sayang ada apa?" tanya Dev, membulatkan matanya saat cairan berwarna kuning keluar dari mulut wanita itu.
"Antar aku ke kamar mandi sekarang." pinta Agya segera menutup mulutnya saat hendak memuntahkan isi perutnya lagi.
Dengan segera, Dev menggendong tubuh Agya lalu membawa istrinya itu ke kamar mandi dengan langkah panjang.
"Hoek.. Hoekk." Agya bergedik, tenggorokannya terasa perih kini, tak ada lagi yang keluar dari mulutnya selain cairan kuning yang terasa sangat pahit.
"Sayang, apa kau keracunan makanan? Apa yang kau makan tadi?"
"Aku tidak tahu. Aku belum makan sejak pagi."
"Kau belum makan?" Agya mengangguk lemah seraya berbalik dan memeluk tubuh Dev.
"Aku tak berselerah makan, setiap kali aku mencium aroma makanan aku pasti akan muntah. Sepertinya perutku sedang memusuhiku." Agya tersenyum, menyelipkan candaan dalam ucapannya saat melihat Dev yang sudah sangat mencemaskannya.
"Jangan bercanda! Kau sedang sakit. Aku akan memanggilkan dokter untukmu."
"Tidak perlu Dev. Aku tidak sakit, aku hanya merindukanmu saja. Mungkin akan sembuh setelah kau memelukku."
"Kau yakin? Jika itu bisa menyembuhkanmu, aku akan memelukmu sepanjang hari."
Agya mengangguk, kembali mengukirkan senyuman manis di bibirnya. "Aku tidak keberatan, tubuhku adalah milikmu sekarang."
"Benarkah? Aku bisa melakukan apa saja atas kepemilikanku ini?"
"Eh tidak boleh." Tatapan mata Agya yng semula sayu kini memelotot tajam saat kedua tangan Dev sudah menjalar kemana-kemana.
"Haha, aku hanya bercanda. Aku tidak mungkin melakukan hal itu disaat kau sakit seperti ini. Aku sangat menyayangimu."
"Aku tidak sakit. Aku hanya merindukanmu."
"Iyaa aku tahu. Cup."
"Lagii."
"Apa?"
"Ini." Agya mengerucutkan bibirnya seraya memejamkan matanya, siap untuk menerima ciuman Dev berikutnya.
"Jangan menggodaku." seru Dev, meraih tubuh Agya kedalam gendongannya.
"Aku akan membuatkanmu makanan, kau bisa meminta apapun yang ingin kau makan."
"Tapi aku tidak ingin makan."
"Mau makan udang goreng? Steak wagyu? Sup rumput laut? Ayam panggang"
"Tidak."
"Aku tak tahu. Aku hanya ingin dipeluk olehmu."
"Kau tidak akan kenyang dengan itu."
"Kau belum mencobanya."
"Hah astaga." dengus Dev.
"Peluk aku." pinta Agya merentangkan kedua tangannya seraya tersenyum lebar.
"Aku belum mandi seharian."
"Aku tidak perduli."
"Hah baiklah. Kemarilah." Dev menyambut Agya ke dalam pelukannya lalu mengecup puncak kepala istrinya itu.
"Kenapa kau tiba-tiba pulang? Bukankah kau harus berada di Big House sekarang dan menemani Alenaa di sana."
"Jangan menyebut nama wanita itu dengan mulutmu."
"Kenapa? Aku hanya menyebutnya saja."
"Tetap saja tidak boleh."
"Lalu? Aku harus mengganti namanya dengan Dev's Honey." ucap Agya memainkan kancing kemeja Dev.
"Aku sedang tidak ingin berdebat."
"Siapa yang mengajakmu berdebat. Aku hanya bertanya. Baiklah jika kau tak suka, aku akan diam."
"Aku sukaa. Bertanyalah sesukamu." cetus Dev, saat Agya hendak melepaskan pelukannya.
"Ehm, Dev. Apa kau tidak memiliki rencana lain selain mengikuti rencana Papa? Aku tidak tahu apa yang terjadi denganku hari ini, aku membatalkan persetujuanku terhadap rencana Papa. Aku tak ingin kau berhubungan lagi dengan Alenaa, aku merasa cemburu jika kau bersamanya setiap hari, aku ingin aku yang menggantikan posisi Alenaa. Aku ingin bersamamu sepanjang hari, memelukmu seperti ini, dan mengajakmu berdebat sesekali. Aku ingin hanya aku satu-satunya yang bisa memilikimu. Dev bisakah kau membuat rencana baru?" tanya Agya memelaskan wajahnya.
Dev terdiam, ia memandangi wajah Agya kini, "Aku sedang memikirkannya."
"Kenapa harus memikirikannya? Seharusnya kau bisa langsung mengambil keputusan. Dulu saja kau bisa mengambil keputusan hanya dalam 3 detik untuk menikahiku. Kenapa sekarang kau tidak melakukan hal yang sama?"
"Aku sudah memutuskannya." ucap Dev dengan wajah dinginnya. Merasa tertampar dengan ucapan Agya barusan. Ya, kenapa ia menjadi lemah sekarang? kenapa ia sesulit ini untuk menakhlukan masalah yang dihadapinya sekarang.
"Ah benarkah? Lalu apa rencana barumu? Aku mau tahu."
"Masih rahasia, kau tak boleh mengetahuinya."
"Yaahhh. Baiklah, jika itu rencana yang sangat baik aku akan mendukungmu."
"Mendukung hanya dengan kata-kata? Aku tidak---."
Cup, ucapan Dev terhenti tatkala Agya mendaratkan kecupan hangat di bibir tipisnya.
"Lagi."
"Baiklah, akan kuberi kecupan manis untuk suamiku yang sangat tampan." Agya kembali mendaratkan kecupan hangatnya, tidak hanya di bibir, melaikan pipi, hidung dan juga kedua mata Dev.
Dan lihat sudah semerona apa wajah Dev sekarang. Jika dukungan seperti ini yang ia dapatkan setiap hari, ia yakin rencana baru yang ia susun saat ini akan berjalan dengan sangat lancar. Tunggulah.
.
.
.
.
.
.
Bersambung.....