
"Agya, kau dari mana saja? Aku mencarimu dari tadi. Kau membuatku khawatir." ucap Darrel, mengatur napasnya yang saling memburuh, sejak tadi ia mencari wanita itu hingga ke semua sudut hotel, kecuali kamar.
"Gyaa, kau kenapa?" tanyanya menyadari jika wanita yang tengah berdiri di hadapannya dengan kepala tertunduk itu tengah menangis.
"A-aku mau pulang Darrel."
Kening Darrel berkerut dalam, matanya menatap Agya lekat dan penuh selidik, menerka-nerka apa yang tengah terjadi pada wanita itu, "Ba-baiklah, aku akan mengantarmu pulang." Darrel hendak meraih lengan Agya, namun wanita itu langsung melangkah mundur seraya menggeleng kepalanya, "Ti-tidak usah Darrel, aku akan pulang sendiri. Kau tetaplah di sini, acara penikahan kakakmu belum selesai. Maaf telah membuatmu khawatir."
"Tidak Agya, kau datang bersamaku. Aku yang menjemputmu di rumahmu, jadi aku jugalah yang harus membawamu pulang."
"Ta-tapi Darrel, a-aku tidak ingin merepotkanmu. Biarkan aku pulang sendiri, ku mohon." Agya mengangkat kepalanya, hingga menampakkan wajahnya yang basah akan air matanya.
"Apa yang sebenarnya terjadi Agya? Kenapa kau menangis seperti ini? Apa ada yang menyakitimu? Katakan." Wajah Darrel berubah menjadi sedih, merasa bersalah karena tidak bisa menjaga Agya dengan baik, hingga wanita itu menangis seperti ini. Ya, walaupun ia tidak tahu penyebab wanita itu menangis. Rasanya ia ingin menyeka air mata Agya namun ia kembali teringat akan phobia yang dimiliki wanita itu
"Darrel." Terdengar suara seorang wanita dari lobby hotel. Sontak Darrel dan Agya langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah wanita tersebut. Wanita yang tengah melangkah menghampiri mereka.
"Siapa dia sayang?" tanya wanita itu menggandeng lengan Darrel seraya menyandarkan kepalanya di bahunya. Sorot matanya menatap tidak suka ke arah Agya.
"Eh, di--."
"A-aku permisi dulu Darrel, terima kasih atas ajakanmu." ucap Agya berlalu pergi dari sana.
"Gyaa." Darrel melepas pelukan tangan mantan kekasihnya dengan kasar hendak mengejar Agya, namun terurungkan tatkala Maminya memanggilnya.
"Ahhh shitt." Darrel mengumpat, menatap kesal ke arah mantan kekasihnya, lalu ia melangkahkan kakinya menuju ke arah Maminya yang tengah menunggunya di dekat lift.
"Darrel akan tetap menjadi milikku sampai kapanpun." ucap wanita tersebut, melipat tangannya ke atas dadanya seraya menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman tipis.
***
Agya melangkahkan kakinya dengan langkah panjang, menyusuri jalan raya yang tampak ramai akan lalu lalang kendaraan. Air matanya semakin menetes deras, dadanya terasa sesak pun hatinya yang juga terasa sakit karena baru saja patah. Pria yang selama ini ia cintai secara diam-diam ternyata telah memiliki kekasih. Malam itu benar-benar malam yang sangat menyedihkan untuk Agya, hatinya baru saja dipatahkan oleh dua orang pria sekaligus. Lebih sialnya lagi, ponsel dan juga tasnya hilang hingga ia tidak memiliki uang sepersenpun untuk memesan taksi ataupun menghubungi Della untuk minta dijemput.
"Ahhh." teriaknya mengusap kasar wajahnya, "Kenapa aku harus sesial ini?" Mengusap kasar air matanya lalu membuka high hellnya yang baru saja patah lalu membuangnya di pinggir jalan.
"Tuhaann bisakah kau mengirimkan pria baik untukku? Aku lelahh." teriaknya memandang langit yang terlihat begitu hitam pekat, tidak ada satupun bintang di atas sana. Tidak seperti biasanya.
Tak berselang lama, Agya merasakan titik air hujan membasahi tubuhnya hingga membuatnya semakin menangis,"Akuu meminta pria baik, kenapa malah hujan yang datang?" ucapnya menyeka air matanya, kakinya sudah terasa sakit dan terluka karena berjalan dengan kaki telanjang, menempuh perjalan yang sangat jauh.
Titik air hujan semakin deras dan lebat bersamaan dengan angin dan juga petir yang menyambar-nyambar di atas sana, namun tak membuat Agya gontai ataupun berteduh. Wanita itu terus melangkah, menyusuri jalan yang mulai terlihat sepi, tinggal beberapa meter lagi ia sudah sampai di apartementnya.
*
"Huh." Agya menjatuhkan tubuhnya yang basah ke atas sofa ruang tamu apartementnya, merasa sangat lelah. Hidungnya mulai terasa sakit dan berair, pun matanya yang sembab karena menangis sedari tadi.
Cukup lama wanita itu berdiam diri di sana, menatap kosong langit-langit ruang tamu, meratapi nasib sialnya dan kemalangannya. Seharusnya ia mengikuti kata hatinya tadi untuk tidak pergi ke acara pernikahan itu.
"Ahhh." Agya bangkit daru duduknya, melangkah menuju kamarnya untuk membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya.
Air hangat yang bercucuran dari shower yang baru saja menyala membasahi tubuh polos Agya. Wanita itu kembali menangis, masih membayangkan kejadian pahit yang terjadi di hotel tadi. Ia menyentuh bibirnya, bibir yang sudah tidak suci lagi karena telah direnggut oleh pria brengsek itu.
Entahlah, apa yang harus dilakukannya sekarang, jika bisa ia ingin menghilang dari bumi atau masuk ke dalam tanah, tidak ingin menampakan wajahnya lagi kepada siapapun.
Busah sabun yang begitu banyak menempel di bibir Agya, mengusap-usapnya dengan kasar, menghapus jejak ataupun bekas ciuman Mr.Dev tadi.
"Ah, menyebalkan!!" Decak Agya, ia ingin menghapus pikiran dan ingatannya juga yang masih menampakan kilasan-kilasan adegan ciuman mereka di kamar hotel itu.
***
"Gyaa, Gyaaa, Gyaaa. Bukaa pintunyaa Gyaa." Suara teriakan dan gedoran pintu yang berasal dari luar apartement, membuat Agya terbangun, kelopak mata wanita itu bepisah, mengerjab-ngerjab saat cahaya matahari yang masuk melalui sela-sela ventilasi jendela membiasi wajahnya.
"Gyaa, bukaa pintunyaa." teriak wanita itu lagi, wanita yang tak lain adalah Della. Sepagi itu dia kemari.
"Hoam." Agya menguap seraya merentangkan tangannya, merenggangkan otot-ototnya yang masih terasa kaku. Sebelum kemudian ia beranjak turun dari atas tempat tidur. Melangkah keluar dari kamarnya menuju pintu utama apartementnya, membukakan pintu untuk Della yang sedari tadi tidak berhenti menggedor-gedor pintu tersebut.
"Gyaa, apa kau baik-baik saja?" tanya Della memeluk sahabatnya tersebut.
"Ehm, a-aku baik-baik saja. Ada apa?" Melepas pelukannya.
"Ayoo masuk dulu, ada berita yang sedang viral tentangmu." ucapnya mengajak Agya untuk masuk ke dalam rumah, lalu ia mengunci rapat pintu apartement Agya.
"Ada apa?" tanya Agya sesaat setelah tubuhnya berhasil mendarat di atas sofa.
"Gyaa, katakan padaku. Apa yang terjadi semalam? Apa kau bertemu Mr.Dev di pesta pernikahan kakaknya Darrel? Apa kau masuk ke kamar Mr. Dev juga?" Pertanyaan-pertanyaan yang dicecerkan oleh Della membuat kedua mata Agya membelalak. "Ba-bagaimana kau bisa tahu?"
"Ahh astaga, sudah ku duga jika wanita itu adalah kamu." ucap Della, wajahnya berubah takut dan cemas. Memikirkan nasib Agya karena terlibat dalam masalah Mr.Dev
"Ada apa? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu." Agya menatap Della dengan tatapan kebingungan, sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.
"Lihatlah Gyaa, wanita ini kamu kan." Menyodorkan ponselnya ke hadapan Agya, menunjukan sebuah foto dengan kualitas rendah. Foto seorang wanita yang keluar dari kamar hotel bersama pria yang tengah bertelanjang dada.
"Astaga." Kedua bola mata Agya membola, sangat terkejut melihat foto tersebut.
"Ba-bagaimana bisa kau memiliki foto ini?" tanyanya mengalihkan pandangannya ke arah Della.
"Gyaa, apa kau belum memeriksa ponselmu? Foto ini sedang viral. Banyak media yang sedang memberitakan dan membicarakannya."
"Kau tau Gyaa, foto ini termaksud scandal Mr.Dev. Beberapa media menulis judul berita ini dengan kata-kata buruk dan kotor terhadap Mr.Dev." ujar Della, menunjukan portal berita yang sedang menjadi trending topik di pagi itu.
"CEO dari Wilantara Grub tidur bersama seorang wanita penghibur di salah satu hotel bintang lima miliknya."
"Mr.Dev keluar dari kamar hotelnya tanpa busana bersama seorang wanita."
Demi apapun, setelah membaca judul dan isi berita itu. Agya langsung menelan salivanya dengan kasar, ketakutan kembali menghantuinya. Kenapa kejadian semalam bisa tersebar seperti ini?
"Dell, be-berita ini tidaklah benar. A-aku tidak tidur bersama Mr.Dev. Ini hanya kesalahpahaman." ucap Agya menatap Della dengan mata yang berkaca-kaca, bagaimana ia harus menjelaskan kepada Della kejadian yang sebenarnya.
"Ceritakan semuanya padaku Agya, Apa yang terjadi semalam? Kenapa kau bisa berada di kamar Mr.Dev?" Mengusap punggung belakang Agya, berusaha menenangkan sahabatnya itu yang sedang ketakutan. Ia yakin jika masalah ini tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Mr.Dev, karena semua ini menyangkut nama baiknya. Bisa saja Mr.Dev membalik alur berita itu dan menyalahkan Agya sepenuhnya, seperti kasus-kasusnya sebelumnya.
.
.
.
.
Bersambung..