Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Ingin bahagia



"Kita kembali ke Seoul sekarang." ujar Dev beranjak dari duduknya hendak meninggalkan ruangan tersebut namun ucapan sekertaris Kim menghentikan niatnya.


"Tuan, saya belum memberitahu tuan tentang pengajuan kandidat baru untuk calon presidir." Sekertaris Kim ikut beranjak dari duduknya, "Besok akan ada rapat dewan besar di Wilantara Group, tuan Lee mengajukan tuan Daven sebagai calon presidir."


"Kak Daven?" Kening Dev tampak berkerut dalam, sedikit terkejut mendengar kakaknya akan menjadi bagian dari Wilantara Group lagi setelah hampir 5 tahun Daven dikeluarkan dari Wilantara Group bahkan dicoret dari silsila keluarga wilantara hanya karena kakak laki-laki Dev itu memilih menikahi kekasihnya dari pada menikahi anak tuan Brian--Kerabat kerja tuan Andhito yang sangat berpengaruh di Korea kala itu. Akibat penolakan Daven tersebut, Wilantara Group mengalami kerugian besar, beberapa anak cabang perusahaan harus di paksa berhenti beroperasi.


"Bukankah itu kabar yang sangat bagus?Sudah seharusnya kak Daven yang menjadi presidir bukan aku."


"Tapi tuan, tuan Andhito menolak keras dan masih tetap menjadikan tuan sebagai calon presidir."


"Apa maksud Papa? Apa Papa ingin aku bersaing dengan kakak? Hah ini sungguh gila." sungut Dev.


"Tuan Andhito masih sangat membenci tuan Daven, tuan. Itu sebabnya tuan Andhito tetap mengajukan tuan sebagai calon presidir karena tuan Andhito tidak ingin tuan Daven yang mengambil alih Wilantara Group yang sudah kembali stabil setelah mengalami kehancuran beberapa tahun lalu."


"Hah, aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran papa. Kak Daven hanya memilih menikahi wanita yang dicintainya tapi papa malah mengeluarkan kakak dari Wilantara Group." Dev menggeleng-geleng kepalanya, masalah yang ia anggap sepele tapi malah diperbesar oleh papanya. Merasa kasihan dengan Daven yang harus hidup dalam keterpurukan beberapa tahun belakangan ini karena papanya mendaftarhitamkan namanya disemua perusahaan hingga Daven harus membuka toko kecil untuk menghidupi keluarga kecilnya.


"Apa kau tahu di mana keberadaan kakak sekarang?" tanya Dev setelah cukup lama terdiam.


"Iyaa tuan, tuan Daven tinggal di Itaewon. Tuan Daven membuka toko baru di sana karena toko lamanya di rusak oleh suruhan tuan Andhito."


"Astaga papaa." Dev memijat kepalanya, sebenci itukah papanya terhadap Daven hingga sudah dalam keadaan terpurukpun papanya masih ingin menghancurkannya.


"Segera siapkan mobil, kita kembali ke Seoul. Aku akan menemui kakak setelah bertemu Papa."


"Baik tuan." Sekertaris Kim menganggukan kepalanya, lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut.


***


"Sayang." Dev yang baru saja masuk ke dalam kamarnya langsung mendaratkan tubuhnya di tepi tempat tidur, menepuk-nepuk lembut wajah istrinya untuk membangunkannya.


"Hem." Agya menggeliat, hendak mengeratkan selimutnya namun kecupan hangat yang ia rasakan di bibirnya membuatnya terbangun.


"Sayang. Kau tidak tidur?" tanyanya seraya mengerjab-ngerjabkan matanya, menyesuikan dengan cahaya lampu yang begitu silau.


"Bangunlah, kita harus kembali ke Seoul sekarang." ujar Dev mengusap lembut wajah Agya, kembali membenamkan ciuman hangat di kening istrinya itu. Entahlah perasaannya begitu tidak enak dengan kepulangannya ke Seoul kali ini.


"Tengah malam seperti ini?" Agya beranjak bangun dari tidurnya, rasa kantuk yang semula menyelimuti wajahnya kini langsung menghilang.


"Iyaa sayang. Ada pekerjaan mendadak yang harus aku selesaikan."


"Ehm, baiklah. Aku akan bersiap-siap sekarang." ujarnya hendak beranjak turun dari atas tempat tidur namun tertahan takkala Dev tiba-tiba menarik dan mendekapnya ke dalam pelukannya.


"Tetap seperti ini dulu." Agya mengangguk, merasakan pelukan ditubuhnya yang semakin erat. Perlahan ia ikut membalas pelukan Dev seraya mengusap-usap punggung belakang suaminya itu.


*


"Kau akan pulang bersama sekertaris Kim, dia akan mengantarmu ke apartemenku, untuk sementara waktu kau akan tinggal di sana. Apa kau tidak keberatan?" tanyanya menatap lekat wajah Agya yang berdiri di hadapannya.


Untuk beberapa saat Agya terdiam, merasa aneh sekaligus bingung dengan ucapan Dev. Kenapa dirinya harus tinggal di apartemen? Bukankah ia akan tinggal di rumah Dev?


"Ehm baiklah. Tapi kau akan menemuiku lagi di apartemenmu kan."


"Tentu saja. Apa kau tidak bisa jauh dariku lagi?" ujarnya tersenyum menggoda, lalu mengecup bibir Agya lagi.


Agya mengangguk, "Iyaaa." membenamkan tubuhnya di pelukan Dev, mengendus aroma tubuh suaminya itu.


Dev menghela napas singkat, mengeratkan pelukannya lagi, seraya mengecup puncak kepala Agya, rasanya ia tidak ingin melepaskan pelukan itu, pelukan yang membuat hatinya merasa nyaman.


"Apa kau mau kita berpelukan sampai pagi?" Dev melonggarkan pelukannya seraya tersenyum.


"Iyaa bila perlu tidak usah di lepas selamanya." celetuk Agya.


"Hahaha, sayang. Kalau begini terus kita tidak akan sampai di Seoul."


"Bagaimana kalau kita tidak bertemu lagi?" Agya mendongakan kepalanya, tiba-tiba hatinya merasa resah dan begitu tidak enak dengan perpisahan mereka malam ini, apalagi mereka akan naik mobil yang terpisah. Takut terjadi sesuatu yang buruk terhadap suaminya itu.


"Hei, memangnya siapa yang mau memisahkan kita? Tidak akan ada sayang, kecuali kau sendiri yang kabur dariku lagi."


"Tidak, aku tidak akan kabur lagi kalau kau memperlakukanku dengan baik."


"Hahah." Dev tertawa kesal, menyentil dahi istrinya itu hingga membuat Agya menggerutu.


"Sakit tahu." gerutunya mengusap-usap dahinya yang tampak memerah.


"Sini biar ku sembuhkan." Dev kembali tersenyum, menangkup wajah Agya lalu mengecup dahi istrinya itu.


"Apa aku hanya dia anggap debu di sini?" gumam sekertaris Kim menggeleng-gelengkan kepalanya, menyaksikan adegan romantis antara sepasang suami istri yang tengah di mabuk cinta itu hingga merasa dunia milik mereka.


"Apa kau yakin akan mengemudi sendiri?" tanya Agya sesaat setelah dirinya berada di dalam mobil sekertaris Kim. Mencemaskan Dev yang akan pulang ke Seoul seorang diri.


"Iyaa sayang, kau tidak perlu cemas seperti ini."


"Baiklah, hati-hati di jalan. Aku akan menunggumu di apartemen."


Dev mengangguk seraya mengulaskan senyuman di bibirnya, mengusap puncak kepala Agya lembut, "Kau juga hati-hati." ujarnya.


"Sekertaris Kim, jaga istriku baik-baik awas saja kalau istriku terluka."


"Saya hanya membawa nona Agya pulang tuan, bukan mengajaknya ke medan perang." gumam sekertaris Kim dalam hati.


"Sekertaris Kim, apa kau mendengarku?!"


"Dengar tuan, saya akan menjaga nona Agya dengan baik."


"Baik tuan." sekertaris Kim mengangguk singkat, sebelum kemudian ia melajukan mobilnya meninggalkan Dev yang baru saja memasuki mobil sedan miliknya.


.


***


Dua jam berlalu, setibanya di rumah orang tuanya, Dev langsung bergegas keluar dari dalam mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah.


"Apa yang kau lakukan di Gangneung?!" Baru beberapa langkah Dev memasuki ruang kerja papanya, namun ia sudah disuguhkan dengan tatapan tajam papanya.


Dev tidak menjawab, ia mengatur napasnya sejenak, merasa lelah dengan perjalan panjangnya dari Gangneung barusan.


"Jawab papa, Dev!!" sentak tuan Andhito berkacak pinggang. Wajahnya dipenuhi amarah yang meledak-ledak.


"Aku sedang mengurus pekerjaanku Pa." jawab Dev semakin menundukan kepalanya.


"Kau pikir papa bisa dibohongi olehmu? Kau tidak pintar berbohong Dev." Tuan Andhito menarik salah satu sudut bibirnya membentuk senyuman sinis seraya melangkah mendekat ke arah anak bungsunya tersebut, "Siapa Agya?! Kau membawanya ke sana dan bermalam dengannya di Cloe hotel!!"


Kedua bola mata Dev langsung membulat sempurna tatkala mendengar ucapan papanya yang begitu mengejutkannya.


"Kau menyewa wanita jalan* untuk kau tiduri?!"


"Paa." Dev mengkat kepalanya, meneriaki papanya dengan begitu kerasnya, tidak terima harga diri Agya direndahkan oleh papanya.


"Dia istriku!" tegas Dev penuh amarah, terpaksa harus mengakuinya sekarang karena ia merasa sakit hati ketika istrinya dikatakai wanita jalan*.


"Istri?" Nyonya Valerie yang baru selangkah masuk ke ruangan kerja suaminya langsung dibuat tercengang dengan pengakuan Dev barusan.


"Wanita jalan* itu istrimu? Kapan kau menikahinya Dev? Apa kau sudah gila? Tunanganmu adalah Alena bukan wanita yang sudah merusak harga dirimu itu!!" seru nyonya Valerie melototkan matanya.


"Dia bukan wanita jalan*. Jangan pernah menyebutnya seperti itu ataupun merendahkannya. Dia istriku Ma, menantu Mama." Sentak Dev meninggikan suaranya hingga membuat Nyonya Valerie terhenyak.


"Kau berani meneriaki Mama, Dev?!" cetus nyonya Valerie mencengkram kemeja Dev.


"Aku tidak akan meneriaki mama kalau mama berkata sopan terhadap istriku. Ma, aku mencintai gadis itu, dia bukan wanita murahan* seperti yang mama maksud!Kejadian di hotel saat itu hanyalah jebakan untuknya." Amarah Dev tak dapat dibendung lagi, merasa jengah dengan sikap kedua orang tuanya yang semena-mena.


"Meskipun itu jebakan tapi dia sudah merugikan perusahaan kita dan merusak pamormu sebagai pemilik Wilantara Group! Sampai kapanpun Mama tidak akan pernah menerimanya. Kau menikahinya secara diam-diam dan tanpa sepengetahuan kami, ceraikan dia sekarang dan kembalilah kepada Alena!" serunya.


"Maa, aku tidak mencintai Alenaa. Calon menantu mama yang mama damba-dambakan itulah yang seorang jalan*, dia bertunangan denganku tapi dia menjalin hubungan dengan pria lain untuk memuaskan napsunya."


"Jaga ucapanmu Dev. Alenaa berasal dari keluarga terhormat! Dia tidak mungkin melakukan hal serendah itu!" Kini tuan Andhito yang mulai mengangkat bicara, tatapan matanya semakin menghunus tajam.


Dev tersenyum getir, sudah menduga Papa dan Mamanya akan bereaksi demikian.


"Dev, kau akan menjadi presidir di Wilantara Group, jangan merusak pamormu hanya karena masalah ini!"


"Masalah apa Ma? Masalah pernikahanku?" Dev memotong ucapan Mamanya, "Aku menikahinya karena aku mencintainya, aku menikahinya secara diam-diam agar pamorku tetap terjaga. Aku berjanji tidak akan pernah mengungkapkannya di hadapan publik Ma."


"Dev, kau benar-benar sudah gila. Sebaik apapun kau menyembunyikannya, semuanya akan terbongkar. Bagaimana jika keluarga Alena tahu? Kau akan semakin mempermalukan keluarga kita."


"Tinggalkan dia! Fokuslah dengan pekerjaanmu dan pemilihanmu sebagai calon presidir. Papa tidak ingin pernikahan ilegalmu itu sampai tercium ke media, apalagi ke dewan besar perusahaan." cetus tuan Andhito, kedua tangannya masih berada di pinggangnya pun wajahnya yang masih diselimuti amarah yang meledak-ledak.


Melihat kemarahan di wajah suaminya, perlahan Nyonya Valerie mendekati Dev, memanggil anaknya tersebut dengan suara yang terdengar melunak.


"Tinggalkan wanita itu nak, Mama tidak ingin kau bernasip sama dengan kakakmu. Mama tidak ingin kehilangan putra Mama lagi." ucapnya menatap lekat wajah dingin Dev.


"Kau juga sudah bertunangan dengan Alenaa, kalau kau ingin menikah kau bisa menikahinya. Pamormu tidak akan rusak karena menikahi Alena."


"Tapi Ma--."


Nyonya Valerie langsung memotong ucapan Dev dengan menggeleng-geleng kepalanya, "Tidak ada wanita yang baik untukmu selain Alena, keluarganya sangat berjasa untuk kita. Kalau bukan keluarga Alena yang membantu perusahaan kita 5 tahun lalu, mungkin sekarang kita tidak akan seperti ini, kita akan jatuh miskin Dev. Tolong mengertilah, jangan bertindak gegabah dan merusak semua yang sudah kita bangun dengan susah payah." ucapnya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Maa." Air mata yang sedari tadi dibendung oleh Dev kini tumpah begitu saja tanpa seizinnya. "Aku mencintai istriku Ma, aku baru menikahinya satu minggu yang lalu. Bagaimana aku bisa menceraikannya Ma?!"


"Tidak ada jalan lain lagi nak, kau harus segera menceraikannya." ucap Nyonya Valerie, melirik singkat ke arah suaminya yang tampak duduk di kursi kerjanya seraya memijat-mijat kepalanya yang terasa pening.


"Kau tidak ingin mengecewakan Papa kan. Apa kau tidak lihat betapa besar perjuangan papamu untuk membesarkan nama perusahaan kita? Dan sekarang kau mau menghancurkannya hanya karena seorang wanita?"


"Maa, sejak kecil aku belum menemukan kebahagiaanku. Hidupku selalu di atur oleh Mama dan Papa, bahkan aku harus mengubur cita-citaku dan mengikuti semua keinginan Mama dan Papa. Apa kali ini aku harus menuruti Mama lagi? Apa aku tidak boleh bahagia sedikit saja?" Dev menyeka air matanya, hatinya terasa begitu sakit. Mana mungkin ia meninggalkan Agya sedangkan dirinya sudah sangat mencintai gadis itu, sangat mencintainya.


"Bukan seperti itu sayang. Hanya saja jalan yang kau ambil ini sangat salah, kau menikahi wanita lain secara diam-diam sedangkan kau memiliki tunangan. Apa kau pikir reputasi keluarga kita akan baik-baik saja setelah media tahu tentang scandalmu ini?" celah Nyonya Valerie, mengusap wajah Dev, "Masih belum terlambat untuk menutupi scandal ini. Ceraikan istrimu itu nak."


"Maa--."


"Dev!" suara teriakan tuan Andhito yang begitu tiba-tiba dan menggelegar langsung membuat Dev bungkam begitu juga dengan nyonya Valerie.


.


.


.


.


.


Bersambung...


Lumayan berat pembahasan kali ini, gak sanggup mau lanjutin, bernapas sejenak dulu yahh😌