
"Mami." Agya beranjak dari duduknya tatkala melihat ibu mertuanya yang baru saja keluar dari ruang rawat tuan Andhito.
"Sayang, kenapa kau tidak ikut masuk?" tanya Nyonya Valerie memeluk singkat menantunya tersebut.
"Ehm, a-aku tidak berani bertemu tuan Andhito. Aku takut."
"Kau takut pada papa mertuamu?" Agya mengangguk polos, sungguh ia benar-benar takut pada pria paru baya itu, mengingat ucapan Alenaa kala itu.
"Kau tahu kenapa tuan Andhito masuk ke rumah sakit? Semua itu karena kau Agya. Kaulah penyebab kahancuran di keluarga Wilantara."
"Tuan Andhito pria yang sangat tegas, dia tak akan pernah merestuimu. Dia sama sekali tak menyukaimu, dia sangat membencimu."
"Kenapa kau takut sayang? Dia tak memiliki tanduk. Wajahnya juga masih terlihat tampan walaupun di beberapa bagian sudah mengkerut."
"Bu-bukan itu. Aku hanya tidak ingin menjadi penyebab pertengkaran antara Dev dan tuan Andhito lagi."
"Astaga istrinya Dev ini." Nyonya Valerie menghela napas seraya bersedekap.
"Katakan pada Mami, siapa yang bilang jika kau penyebab pertengkaran Dev dan papanya hm? Biar kujahit mulutnya." cicit nyonya Valerie. "Berani sekali dia menuduh menantuku."
"Mami. Jangan marah."
"Aku tak akan marah jika kau masuk ke dalam ruang rawat mertuamu sekarang!"
"Tapi---."
"Agya." Tatapan nyonya Valerie terlihat tak ramah kini, hingga membuat Agya sedikit takut. Buru-buru ia melangkahkan masuk ke ruang rawat papa mertuanya, walaupun jantungnya sudah hampir meledak.
Sementara nyonya Valerie, ia langsung mengekori Agya dengan senyum yang mengembang lebar di bibirnya.
"Paa, lihatlah menantumu ini, dia takut padamu padahal kau tak memiliki tanduk."
Dev menoleh, menatap Agya dengan tatapan tak terbaca, "Iyaa lihatlah Pa, dia pikir papa adalah pria jahat." Dev ikut menimpali ucapan nyonya Valerie. Menyudutkan Agya yang kini hanya tertunduk dalam, seperti anak kucing kebasahan.
"Hei, kalian berdua ini. Berani sekali kalian menganggu menantuku, dia tak mungkin takut padaku. Kemarilah sayang." ucap tuan Andhito lembut seraya mengulurkan tangan kirinya.
Sesaat Agya terdiam seraya menelan salivanya dengan kasar. Keringat dingin tampak memenuhi wajah kini. Ia merasa seperti tersangka kejahatan yang siap di sidang.
"Mendekatlah." ujar tuan Andhito saat Agya tak merespon.
"Sayang." Dev ikut bersuara, ia beranjak dari duduknya lalu menghampiri istrinya itu.
"Kau masih takut hm?" tanya Dev yang langsung di jawab anggukan pelan oleh Agya, seketika tuan Andhito dan Nyonya Valerie tertawa sambil menggeleng-geleng kepala mereka.
"Sepertinya image papa terlihat sangat buruk di mata menantuku."
"Yaa, semua ini salah papa. Jadi jangan menyalahkan istriku jika dia takut padamu tuan Andhito Wilantara."
"Dev, kau tak sopan." tegur Agya menyikuk perut Dev hingga membuat pria itu mengadu kesakitan, padahal Agya hanya menyikuknya pelan.
"Mau sampai kapan kau mengabaikan papa mertuamu sayang? Tangan papa sudah terasa pegal." keluh tuan Andhito menatap tangannya yang masih menggantung di udata.
"Pergilah. Dia tak akan memakanmu." ujar Dev mengusap lembut puncak kepala Agya.
Agya mengangguk, ia memegangi dadanya yang masih berdegub kencang, lalu melangkah ke arah ranjang tuan Andhito.
"Apa kalian baru selesai berpesta? Kau memakai gaun yang sangat cantik."
"Jiwa buayanya kembali muncul." cicit nyonya Valerie.
"Suami mama."
"Salahkah aku memuji menantuku? Dia memang sangat cantik hingga Dev tergila-gila padanya."
"Ya, istriku memang sangat cantik. Aku tak pernah salah memilihnya."
"Astaga."
"Agya Wardana. Anak tuan Darwin Wardana?"
"Iyaa. Aku anak Darwin Wardana."
"Apa kau mencintai anakku?"
"Ehm, i-iyaa."
"Kau mau tahu sesuatu tentang suamimu?" tanyanya, seketika Agya langsung menoleh singkat ke arah Dev.
"Apa yang ingin papa katakan? Jangan berbicara sembarang Pa." gerutu Dev, menghunuskan tatapan permusuhan pada papanya.
"Sedikit tentang perjuangan anakku untuk meyakinkanku bahwa dia sangat mencintai istrinya."
"Papa tak perlu memberitahunya, dia sudah tahu."
"Tidak, aku belum tau." bantah Agya.
"Baiklah, duduklah sebentar. Aku akan bercerita banyak." Agya mengangguk lalu ia mendaratkan tubuhnya di kursi segera.
"Ma, sudah hampir pukul 12 malam. Bukankah Papa harus beristirahat? Agya juga sudah mengantuk."
"Tidak, aku belum mengantuk." celetuk Agya menolehkan kepalanya, menatap Dev yang kini menatapnya dengan tatapan memohon. Ia tak ingin papanya menceritakan kejadian memalukan itu.
"Maa." Tak mendapat perhatian Agya, kini Dev meminta dukungan Maminya. "Buatlah papa beristirahat. Aku dan Agya juga ingin pulang."
"Kenapa cepat sekali? Kalian baru saja tiba."
"Maa." Dev menggaruk kepalanya frustasi, "Aku dan Agya ingin membuatkan cucu untuk Mami. Bukankah Mami menginginkannya? Tolong bujuk papa agar dia segera beristirahat." bisik Dev lembut, ia sengaja tak mengeraskan suaranya agar Agya tak perlu mendengarnya. Ia yakin wanita itu masih kesal dengan kejadian panas yang tertunda tadi. Ah apakah Agya masih mau melanjutkannya nanti di rumah?
"Oh jadi bekas merah yang ada di leher istrimu masih sangat baru?"
"Mami melihatnya?" Dev melebarkan matanya.
"Tentu saja, bahkan semutpun bisa melihat sebanyak apa kau meninggalkan bekas keganasanmu di leher istrimu itu." celetuk nyonye Valerie seraya menggeleng-geleng kepalanya, "Dasar anak nakal, kau tak membiarkan istrimu beristirahat?"
"Tidak. Aku sangat tergila-gila padanya." ucap Dev terang-terangan.
"Hah dasar Deva Wilantara, kau tak jauh beda dengan papamu."
"Jangan samakan aku dengan Papa, aku masih sedikit memiliki perasaan dibanding tuan Andhito."
"Dev!"
"Aku hanya bercanda, hehe." kekeh Dev mengusap leher belakangnya saat melihat Maminya yang menghunuskan tatapan tajam padanya.
"Ceritalah Pa, aku sudah siap mendengarnya." ucap Agya mengukirkan senyum manis di bibirnya.
"Sayang. Papa baru saja siuman, dia masih membutuhkan istrahat yang banyak." Nyonya Valerie menghampiri Agya kini, mengusap lembut puncak kepala menantunya tersebut.
"Ehm, baiklah. Papa beristirahatlah, besok Agya akan ke sini lagi untuk mendengar cerita papa tentang suamiku."
"Astaga wanita ini, kenapa dia begitu penasaran dengan cerita papa." dengus Dev dalam hati.
"Iyaa nak. Kau juga harus beristirahat, sepertinya Dev tidak membiarkanmu tidur dengan nyeyak akhir-akhir ini."
"Karena kami membutuhkan waktu yang banyak dan juga usaha yang keras untuk menghasilkan penerus Wilantara Groub bukan? Jadi aku tak akan pernah membuat istriku tidur dengan nyeyak." cerocos Dev. Sontak Agya langsung menolehkan kepalanya ke arah suaminya seraya melototkan matanya.
"Hahaha, papa sudah tak sabar menantikan hasil kerja kerasmu."
"Mungkin bulan depan bibit unggul dariku sudah akan tumbuh di rahim istriku."
"Dev." Kedua bola mata Agya semakin melotot tajam, pun wajahnya yang sudah memerah menahan malu. Bagaimana bisa Dev berkata seperti itu di hadapan kedua orang tuanya?
"Mami juga sudah tak sabar menantikan kabar gembira itu. Semoga kalian segera diberikan momongan." ucap nyonya Valerie mengulaskan senyuman di bibirnya seraya melangkah ke arah Agya dan langsung memeluk tubuh mungil menantunya tersebut.
"Tenang saja Ma. Benihku perenang yang handal. Aku yakin mereka sedang berlomba untuk--."
"Dev cukup! Kau membuatku malu." gerutu Agya, ia tidak bisa membayangkan wajahnya semerah apa sekarang. Ia sungguh tidak percaya dengan ucapan Dev yang begitu terang-terangan.
"Hahah." Seketika tuan Andhito langsung terbahak, "Aku percaya padamu Dev. Keturunan Wilantara memang tak bisa diragukan lagi jika menyangkut binis apalagi membuat anak manusia."
"Papa." tegur nyonya Valerie. "Sudah, jangan membahas apapun lagi. Sebaiknya kau beristirahat."
"Dan kau Dev, buatlah istrimu beristirahat. Jangan menyerangnya terus jika kau ingin segera di beri keturunan. Awas jika kesehatan menantuku memburuk, Mami tak akan memaafkanmu."
"Iyaa Maa." ucap Dev dengan wajah datarnya, "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak menyerang istriku setiap malam." sambungnya dalam hati.
"Ehm, kalau begitu aku dan istriku akan pulang sekarang. Mami juga jangan lupa untuk beristirahat dan menjaga kesehatan Mami, besok pagi aku akan menemui dokter Cha untuk menanyakan kondisi papa."
Nyonya Valerie mengangguk, lalu ia memeluk Agya singkat saat menantunya itu ikut berpamitan, "Jaga Dev dengan baik ya sayang." ucap nyonya Valerie.
"Iyaa Ma."
"Dev. Awas jika kau tak penuhi peringatan Mami."
Dev tidak menjawab, pria itu segera menarik Agya dari pelukan Maminya dan membawa istrinya itu pergi dari sana.
"Astaga anak itu." Nyonya Valerie berdecak seraya mengeleng-geleng kepalanya.
***
"Dev, kenapa kita pulang sangat cepat? Aku masih ingin berbicara pada Papa dan Mamimu."
"Papaku membutuhkan istrahat yang banyak dan aku juga membutuhkanmu. Masih ada pekerjaan yang belum kita selesaikan."
"Pekerjaan apa?"
"Kau lupa?" Dev menghentikan langkah kakinya. Kini kedua manik mata coklatnya menatap penuh wajah Agya.
"Ehm, ya-yaa. Aku lupa, aku tak mengingat apapun. Aku ingin pulang dan tidur dengan nyeyak, bukankah begitu seharusnya?"
Dev terdiam, tatapan matanya semakin melisik ke dalam manik mata Agya. "Aku ingin melanjutkan pekerjaan kita yang tertunda tadi."
"Tapi aku tak menginginkannya lagi, aku sudah sangat mengantuk dan ingin segera tidur. Hoaam." Agya membuka lebar mulutnya, berpura-pura menguap seraya mengusap matanya yang berair.
Seketika wajah Dev langsung berubah datar, wajahnya terlihat frustasi kini.
"Hahaha lihatlah wajah memelas ini. Apa dia sangat menderita dengan penolakanku? Biarkan saja, dia juga membuatku menderita tadi. Menghentikan permainannya saat aku hampir mencapai puncak." batin Agya.
"Kau serius tak ingin melanjutkannya lagi?"
"Hm." Agya menjawab dengan sangat singkat, lalu ia melanjutkan langkah kakinya keluar dari rumah sakit.
"Kau yakin?"
"Sangat yakin."
"Kau tak akan menyesal?" Dev terus melangkahkan kakinya mengekori Agya yang berjalan satu meter di depannya.
"Tak akan pernah."
"Padahal aku baru akan memberikan se* terbaik yang pernah ada."
"Aku tak akan terbuai dengan gombalan basimu." celetuk Agya menutup pintu mobil dengan kasar.
"Basi kau bilang?"
"Yaa, kau selalu mengucapkan kata-kata itu setiap kali kita bercinta, tapi pada kenyataannya kau menerkamku dengan sangat kasar."
"Itu bagian dari kerja kerasku. Bukankah kau menyukainya."
"Tidak!"
"Tidak menyukainya tapi kau selalu mendesah dengan sangat keras hingga semut diluar apartemenku mendengarnya."
"Dev!" Agya menolehkan kepalanya, menatap tajam Dev yang sudah duduk di kursi kemudi.
"Hahaha, jangan galak-galak sayang. Kau semakin membuatku ingin menerkammu di tempat ini."
"Dasar pria mesum!!" celetuk Agya menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya saat melihat tatapan Dev yang mulai menggelap, ia takut Dev menyerangnya tiba-tiba di dalam mobil? Yang benar saja.
"Haha, tak usah takut sayang. Aku tidak akan melakukan itu di sini. Tempat ini sangatlah sempit aku tidak leluasa menyentuhmu."
"Dev cukup. Kita pulang sekarang." cetus Agya memalingkan wajahnya yang sudah memerah bak kepiting rebus.
"Kau tak ingin memberiku kecupan hangat untuk malam yang dingin?" goda Dev mengukir senyuman tipis di bibirnya, ia sangat senang melihat wajah memerah Agya. Ah rasanya ia ingin menyerang istrinya itu sekarang tapi tunggulah, akan lebih nikmat jika dilakukan di rumah, haha.
.
.
.
.
.
Bersambung...
Wkwkwk, tidak ada scene plus2 yaaa.
Anyway, selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang menjalankan ❤❤