Mr. Dev (CEO of Seoul)

Mr. Dev (CEO of Seoul)
Keguguran?



Tak butuh waktu lama, mobil yang dikemudi oleh sekertaris Kim tiba di AMC Hospital. Setibanya di sana, Dev langsung berlari masuk ke dalam rumah sakit itu seraya membawa Agya ke dalam gendongannya. Kekhawatiran semakin memenuhi wajahnya saat melihat istrinya tersebut yang terus-terus merintih kesakitan, pun cairan berwarna merah yang entah dari mana telah memenuhi paha dan kaki Agya.


"Letakan nona Agya di sini tuan Dev." Dokter Chyntia segera menyambut Dev lalu menyodorkan brankar dorong di hadapan pria itu. Ia takala terkejutnya saat menerima telpon dari nyonya Valerie beberapa menit yang lalu dan mengabarkan jika Agya mengalami pendarahan.


"Chyntia, tolong selamatkan istriku." ujar Dev sesaat setelah meletakan tubuh lemah Agya di atas brankar, ia menatap dokter Chyntia dengan tatapan memohon. Sungguh kekhawatiran dan ketakutannya semakin menjadi-jadi.


"Sus, segera bawa nona Agya ke emergency room."


"Baik dok." jawab beberapa perawat bersamaan lalu mereka segera mendorong brankar Agya menuju ruang IGD. Pun Dev yang ikut membawa istrinya tersebut seraya menggenggam erat tangannya.


"Devhh." Agya meringis bersamaan dengan kelopak matanya yang terpejam, ia tak sanggup menahan rasa sakit diperutnya yang sepuluh kali lipat lebih sakit dari sebelumnya.


"Kau akan baik-baik saja. Bertahanlah sayang." ucap Dev lembut, mengeratkan genggaman tangannya. Sungguh, Dev tak dapat membendung air matanya lagi, beberapa kali ia menengadahkan wajahnya ke atas agar air matanya tak terjatuh.


"Silahkan tunggu di luar tuan." ucap seorang perawat saat mereka tiba di depan pintu emergency room.


"Sus, tolong selamat istriku. Selamat dia dan juga bayinyaa. Ku mohon." Dev mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya, matanya menatap nanar pintu ruang emergency yang baru saja ditutup rapat.


"Kami akan berusaha semaksimal mungkin untuk istri tuan." ucapnya mengkahiri percakapannya, sebelum kemudian ia berlalu masuk ke dalam ruang emergency.


"Aghht shittt." teriak Dev megusap wajahnya gusar seraya menyandarkan tubuhnya ke dinding, jantungnya berdetak kencang, sungguh ia sangat takut.


"Dev." Dari arah timur, tampak nyonya Valerie dan tuan Andhito yang berjalan tergesah-gesah menghampiri Dev.


"Bagaimana keadaan Agya nak?"


"Dokter masih memeriksanya." Dev menatap kedua orang tuanya dengan tatapan dingin. Terbesit rasa kesal dalam dirinya.


"Kenapa mama tak memberitahuku tentang kehamilan Agya? Kenapa kalian menyembunyikannya dariku!!" serunya, menyeka air matanya dengan kasar. Ia membenci situasi ini, situasi dimana dirinya terlihat lemah dan tak berdaya.


"Jawab aku Maa!!"


"Dev, tenanglah." pinta tuan Andhito.


"Tenang? Bagaimana aku bisa tenang disaat nyawa istri dan anakku sedang dalam bahaya?!"


"Sa-sayang. Maafkan Mami, sungguh Mami tak bermaksud menyembunyikan kehamilan Agya darimu. Mami dan Agya berencana untuk memberitahumu malam ini sebagai hadiah ulang tahunmu, tapi ternyata tuhan bekehandak lain."


"Shitttt." umpat Dev, lagi ia mengusap kasar wajahnya. Membiarkan air matanya mengalir begitu saja.


"Lalu apa yang terjadi dengan Agya sekarang Ma? Dia kesakitan, bahkan aku melihat darah yang entah dari mana memenuhi pahanya. Ma, apa kami akan kehilangan bayi kami? Aku tak ingin itu terjadi.


"Sayang, Agya akan baik-baik saja begitu juga dengan bayinya." ucap nyonya Valerie, meraih tubuh rapuh Dev ke dalam pelukannya.


"Aku takut Ma." Dev mengeratkan pelukannya. Ia tak pernah takut pada apapun, kecuali situasi yang dihadapainya kini.


Suara pintu ruang IGD yang terbuka mengalihkan perhatian Nyonya Valerie dan Tuan Andhito, terutama Dev. Pria itu langsung melepaskan tubuhnya dari pelukan maminya dan segera menghampiri dokter Chyntia.


"Chyntia, bagaimana keadaan istri dan bayiku? Mereka baik-baik saja kan Dok. Katakan padaku jika tidak terjadi apa-apa pada mereka!!"


"Mohon maaf tuan Dev, kami sudah berusaha semaksimal mungkin namun kami tak dapat menyelamatkan bayi yang ada di rahim nona Agya. Nona Agya mengalami keguguran."


"Tidak! Itu tidak mungkin. Kau pasti salah memeriksanya! Katakan padaku yang sebenarnya Chyntiaa!" teriak Dev, air matanya semakin mengalir deras.


"Dev." Sentuhan lembut nyonya Valerie di bahu Dev membuat pria itu membuyarkan lamunannya. Ia masih bergeming di tempatnya. Tak berani menghampiri dokter Chyntia yang baru saja keluar dari ruang IGD. Ia takut lamunannya beberapa wakru lalu menjadi nyata.


"Dokter Chyntia, bagaimana keadaan Agya dan bayinya?" tanya tuan Andhito menatap penuh dokter Chyntia.


"Nona Agya baik-baik saja tuan begitu juga dengan bayinya."


"Syukurlah." ucap Nyonya Valerie dan tuan Andhito bersamaan, keduanya langsung menghembuskan napas legah. Begitu juga dengan Dev.


"Apa kami boleh menemui Agya?"


"Untuk saat ini, nona Agya belum bisa ditemui. Dia masih dalam tahap pemulihan. Tuan dan nyonya bisa menemui nona Agya setelah kami memindahkannya ke ruang rawat."


"Baik dok. Terima kasih."


"Sama sama Nyonya." ucap dokter Chyntia tersenyum. Sebelum kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Dev, menatap pria itu dengan tatapan dingin dan kesal, "Tuan Dev, bisakah kita berbicara di ruanganku sebentar?"


***


"Kenapa kau memanggilku ke sini?" gerutu Dev mendaratkan tubuhnya pada kursi yang berada di depan meja dokter Chyntia. Ia menatap sepupunya tersebut dengan tatapan dingin seperti biasanya.


"Kau masih saja berbuat sesukamu!"


"Berbuat sesuaku? Memangnya apa yang aku lakukan?"


"Dev, kau tahu. Istrimu hampir saja kehilangan bayinya karenamu."


Glek, Dev langsung terdiam, ia menelan salivanya dengan kasar. Kedua bola matanya membulat bersamaan dengan kepalanya yang menggeleng pelan.


"Hubungan intim yang berlebihan menjadi penyebab nona Agya mengalami pendarahan seperti tadi. Kenapa kau masih melakukannya disaat kau tahu istrimu sedang hamil muda? Ah, aku benar-benar tak bisa memahami jalan pikiran kalian."


Bayangan-bayangan permainan kasar Dev tadi sore terhadap Agya langsung memenuhi kepala pria itu.


"Ehm, Dev. Bisakah kau melakukannya dengan lembut."


"Dengan lembut? Ah, itu bukan permainanku."


"Dev." Agya memelaskan wajahnya.


"Baiklah-baiklah, aku akan melakukannya dengan lembut."


"Oh apa karena itu Agya memintaku untuk melakukannya dengan lembut? Tapi aku malah tidak mengindahkan permintaannya."


"Bahkan istrimu sudah menyuruhmu untuk berhati-hati tapi kau---."


"Apa masih ada yang ingin kau katakan? Aku mau menemui istriku sekarang."


"Berhentilah mengajak Agya untuk berhubungan intim selama beberapa hari kedepan Dev. Dia membutuhkan istrahat yang cukup, usia kandungannya baru menginjak 8 minggu, masih sangat rentan dan lemah. Jika kau terus memaksa dan tidak menghilangkan egomu, maka bersiaplah untuk kehilangan bayimu."


"Chyntiaa!"


"Aku mengatakan yang sebenarnya. Dev, kau masih belum berubah, kau masih Dev yang sama. Keras kepala dan hanya mementingkan egomu."


"Shitt, kenapa kau malah menceramahiku." dengus Dev, memijat pelipisnya.


"Ah, keluarlah. Seharunya aku tak mengajakmu berbicara." gerutu dokter Chyntia.


"Segeralah menikah. Bertahun-tahun sendiri membuatmu menjadi wanita pemarah."


"Shitt Dev." umpat Chyntia kesal.


"Pergilah dari ruanganku. Dan ingat apa yang aku katakan tadi, aku tidak akan membantumu jika nona Agya mengalami hal yang sama."


"Yaa, kau tak perlu membantuku lagi karena aku tak akan membiarkan kejadian ini terulang lagi."


"Bagus. Pergilah, berlama-lama melihat wajahmu membuatku muak."


"Baiklah. Terima kasih Chyntia bitc*


"Dev." teriak Chyntia melempar tasnya ke arah Dev, namun pria itu sudah menghilang di balik pintu terlebih dahulu. Sepertinya ia tak akan pernah bersahabat baik dengan sepupunya itu.


.


.


.


.


.


.


Bersambung...