
Seorang wanita cantik yang sedari tadi berdiri di luar ruang kerja tuan Andhito dibuat kalang kabut setelah mendengar perdebatan keluarga wilantara, tubuhnya bergetar hebat pun bibirnya yang langsung terkatup rapat, "Ba-bagaimana Dev bisa tahu aku sering berhubungan dengan kekasihku?" gumamnya menelan salivanya dengan kasar.
"A-aku harus melakukan sesuatu, aku tidak mau kehilangan Dev." Meraih ponselnya dan menghubungi seseorang seraya berjalan meninggalkan ruangan kerja calon mertuanya itu.
Sementara itu, sekertaris Kim yang baru saja tiba di apartemen Dev, segera menyuruh Agya untuk masuk ke dalam apartemen tersebut.
"Jangan pernah membuka pintu jika bukan tuan Dev ataupun saya yang datang nona." ujar sekertaris Kim dengan raut wajah dinginnya.
Agya mengangguk paham, perasaannya semakin tidak enak, apalagi tadi ia sempat mendengar Dev menelpon dan menyuruh sekertaris Kim untuk mengirimkannya bukti. Entah bukti apa Agya tidak tahu.
"Masuklah nona."
"Ehm, tuan Kim. Apa tuan Dev baik-baik saja?" tanyanya cemas.
"Tuan Dev baik-baik saja nona. Akan semakin baik jika nona menuruti perkataan saya barusan."
Melihat raut wajah dingin segertaris Kim membuat Agya menelan salivanya, sekertaris Kim benar-benar terlihat menyeramkan.
"Ba-baik tuan Kim, saya akan masuk sekarang." ucap Agya segera melangkah masuk ke dalam apartemen Dev. Mengunci pintu apartemen tersebut dengan sangat rapat.
"Nona Alenaa." sekertaris Kim medengus, kedua tangannya menggepal kuat, dengan langkah panjang ia berjalan meninggalkan apartemen tersebut. Masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi namun sebelum itu ia memeriksa bukti aksi jala* Alena yang akan Dev tunjukan ke tuan Andhito dan juga nyonya Valerie.
***
"Dev!" suara teriakan tuan Andhito yang begitu tiba-tiba dan menggelegar langsung membuat Dev bungkam begitu juga dengan nyonya Valerie.
"Kenapa pa?" Dev berucap dengan mata yang sudah semakin panas dan memerah "Apa papa tidak ingin melihatku bahagia? Apa aku harus menjadi boneka Mama dan Papa terus? Aku bukan anak kecil lagi Pa, aku ingin hidup bebas." serunya meninggikan suaranya.
"Kau mau hidup bebas? Tinggalkan rumah ini sekarang!!"
"Pa." Nyonya Valerie menggeleng kepalanya, tidak setuju dengan ucapan suaminya barusan. "Papa tidak berhak mengusir Dev, dia anakku juga." cetusnya, sebelum kemudian ia menoleh ke arah Dev, menatap anak bungsunya itu dengan tatapan senduh.
"Ceraikan istrimu sekarang nak."
Dev tersenyum getir ia pikir mamanya akan membelanya namun ternyata sama saja.
"Dengarkan aku Ma. Aku lebih memilih dibuang dari keluarga ini dari pada menceraikan istriku! Aku lebih memilih untuk hidup miskin dan kehilangan semua yang aku miliki sekarang dari pada kehilangan wanita yang aku cintai. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah meninggalkan Agya ataupun menceraikannya."
Plakk
Kedua mata Dev langsung terpejam, merasakan hawa panas dan juga rasa perih yang menjalar di wajahnya saat mamanya melayangkan sebuah tamparan keras di pipinya itu.
"Dev, mama--." Nyonya Valerie menarik tangannya, matanya membola lebar, sangat terkejut degan apa yang dilakukannya baru saja.
"Tidak apa-apa Ma." Dev menyeka sudut bibirnya yang tampak menitihkan setitik darah, "Mama bisa menamparku dan melukaiku sesuka hati Mama. Tapi ingat, aku tidak akan tinggal diam jika kalian melukai istriku."
"Dev." Nyonya Valerie menjatuhkan air matanya, hendak memeluk anak bungsunya tersebut namun Dev langsung menghindar.
"Tidak perlu Ma, aku tidak pantas untuk dipeluk oleh Mama lagi. Aku akan meninggalkan rumah ini sekarang!!"
"Pergilah, papa tidak membutuhkan anak tidak tahu diri sepertimu!!" timpal tuan Andhito mencengkram ujung meja kerjanya, menahan rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dadanya.
"Dev." Nyonya Valerie langsung memeluk tubuh Dev saat anaknya tersebut hendak meninggalkan ruang kerja papanya.
"Jangan tinggalkan mama nak, mama tidak ingin kehilangan anak mama lagi, mama mohon."
"Aku lelah Ma, aku lelah menjadi boneka Mama dan Papa. Aku ingin hidup bahagia dengan wanita yang aku cintai, bukan dengan wanita yang aku nikahi karena balas jasa." cetus Dev melepas pelukan ibunya secara paksa.
"Biarkan saja Valerie, biarkan dia pergi. Dia akan kembali dan memohon pada kita setelah mengetahui betapa susahnya kehidupan di luar sana." seru tuan Andhito tersenyum sinis.
"Hahaha, aku tidak akan pernah kembali dan menginjakan kaki di rumah ini apalagi memohon pada Papa!"
"Pergilah, papa akan lihat siapa yang akan menang. Kau sudah melihat penderitaan kakakmu, dan tidak lama lagi kau akan sama sepertinya."
Dev terbahak lebih keras dari sebelumnya, "Seharusnya aku mengikuti apa yang dilakukan kakak dari dulu. Walaupun kak Daven hidup susah dan memiliki harta yang tidak banyak tapi dia bisa hidup bahagia dikelilingi orang-orang yang mencintainya. Bukan seperti ku yang terus dijadikan boneka oleh Papa dan Mama, tinggal bersama orang-orang yang hanya memikirkan dan memetingkan ego tanpa mempedulikanku sedikit saja."
"Angkat kakimu dari rumah ini sekarang!!" serunya menunjuk Dev seraya melototkan matanya.
"Baiklah, aku akan pergi dengan senang hati, tapi sebelum itu, aku akan mengirimkan sesuatu di ponsel Mama dan Papa." Dev meraih ponselnya dari saku celananya, lalu mengirimkan video slur Alena.
Tingg..
"Tuan Andhito dan Nyonya Valerie, kalian boleh memeriksa pesan masuk yang baru saja aku kirim." ujar Dev tersenyum tipis lalu ia berlalu pergi dari sana.
"Mari kita lihat apa yang akan mereka lakukan setelah ini." gumamnya dalam hati menutup kasar pintu ruang kerja Papanya.
Dev sengaja tidak menunjukan bukti video itu di awal karena ia ingin melihat seberapa keras kepala kedua orang tuanya. Ia ingin memperlihatkan pada papanya jika dirinya bisa hidup tanpa harus menjadi boneka kedua orang tuanya itu.
"Paa--." Kedua bola mata Nyonya Valerie membola dengan sempurna, ia menutup mulutnya dengan salah satu tangannya, sangat terkejut melihat video dan juga foto Alena yang berhubungan badan dengan pria yang berbeda-beda.
Pun tuan Andhito yang tidak kala terkejutnya, pria itu mencengkram dadanya saat rasa sakit yang bersumber pada jantungnya menyerangnya tiba-tiba.
"Paaa." Nyonya Valerie menjatuhkan ponselnya, menahan tubuh suaminya yang hendak terjatuh di lantai.
"Deeeev." teriaknya meminta bantuan saat tuan Andhito kehilangan kesadarannya. Namun Dev tidak mendengarnya lagi, karena pria itu sudah meninggalkan rumah terkutuk itu beberapa menit lalu.
***
Ting tong..ting tong.. ting tong..
Agya yang baru saja menganti pakaiannya dengan piyama dibuat terkesiap akan suara bell yang terus berbunyi. Ia menelan salivanya dengan kasar, sangat takut untuk membuka pintu apartemennya mengingat ucapan sekertaris Kim tadi.
"Apa sekertaris Kim melupakan sesuatu?" gumamnya melangkah keluar dari kamarnya, "Eh, tapi bagaimana jika itu penjahat?" Agya bergidik, tiba-tiba bulu kuduknya merinding tak karuan.
Ting tong..ting tong..ting tong...ting tong..
Suara bell kembali berbunyi lebih banyak dibanding sebelumnya hingga terpaksa Agya membuka pintu apartemennya tersebut dengan perasaan takut dan ragu-ragu.
"Kenapa kau lama sekali?!"
Agya terhenyak, sedikit terkejut melihat siapa yang berdiri di hadapannya sekarang, "Sa-sayang, bukankah kau harus mengerjakan pekerjaanmu? Kenapa kau cepat kembali?" tanyanya menatap Dev yang tengah menampakan raut wajah kesalnya.
"Kau tidak suka aku kembali?!" cetusnya.
"Bukan seperti itu, tentu saja aku senang. Apa pekerjaanmu sudah selesai?" Dev mengangguk seraya merentangkan kedua tangannya, "Peluk aku." ujarnya memelaskan wajahnya.
"Mendektalah." Dev langsung menurut, mendekatkan tubuhnya lalu merasakan pelukan hangat istrinya itu. Mengecup dan menenggelamkan wajahnya di leher Agya. Saat ini hanya Agya tempat ternyamannya, ia tidak akan merasa tertekan atau lain sebagainya ketika bersama Agya.
"Apa kau baik-baik saja?" tanya Agya mengeratkan pelukannya seraya menepuk-nepuk lembut punggung Dev.
"Hem."
"Ayo kita masuk, di sini sangat dingin." Dev mengangguk, lalu membawa masuk tubuh istrinya itu tanpa melepaskan pelukannya.
Menjatuhkan tubuh Agya di atas sofa sebelum kemudian ia menindih dan memeluknya kembali, "Jangan bergerak ataupun melepas pelukanmu. Kau mengerti."
"Iyaaa." jawab Agya memperbaiki posisinya, lalu mengusap-usap kepala Dev yang berada di atas dadanya.
"Apa telah terjadi sesuatu hingga Dev menjadi seperti ini?" gumamnya dalam hati.
.
.
.
.
Bersambung...