
Dev masih belum melepas pelukannya dari tubuh Agya, air matanya terus mengalir, pun dadanya yang terasa sesak. Sungguh ia sama sekali tak menginginkan kejadian ini.
"Sayangg bangunlahh." Lagi Dev kembali berucap, ia terus mengecup tangan Agya, menatap wanitanya dengan tatapan senduh.
Sementara dokter dan perawat yang ada di sana, perlahan mereka mulai melepas satu persatu alat yang terhubung dengan tubuh Agya mulai dari infus, selang oksigen dan terakhir alat pemeriksaan rekam jantung. Namun saat hendak melepas elektrokardiogram, perawat tersebut dibuat terkejut dengan grafik yang kembali berdetak normal di layar monitor.
"Dok, jantung pasien kembali berdetak."
"Segera pasang kembali oksigen dan juga infusnya." pinta dokter tersebut, ia berjalan mendekat dan segera memeriksa tubuh Agya terutama jantung dan nadi wanita itu.
Dev terhenyak, menatap dokter tersebut dengan tatapan tak percaya, "Dok? Apa istriku masih hidup? Apa dia benar-benar kembali?"
"Tunggu sebentar tuan, saya akan memastikan kondisi pasien." ujarnya, melanjutkan aktivitasnya untuk memeriksa detak jantung Agya menggunakan stetoskop. Dan benar saja, jantung pasien kembali berdetak normal.
"Lanjutkan penanganan terhadap pasien. Pasien masih hidup."
Deg
Demi apapun, mulut Dev langsung terbuka lebar antara percaya dan tidak percaya. Apakah ini keajaiban tuhan? Agya masih hidup, Agya kembali padanya lagi.
"Dok, istriku benar-benar masih hidup?" tanyanya menatap penuh dokter tersebut.
"Iyaa tuan."
"Do-dok, segera berikan penanganan terbaik untuk istriku, aku akan membayar mahal demi keselamatannya." ujar Dev mengatupkan kedua tanganny, memohon dengan sangat.
"Kami akan berusaha semaksimal mungkin tuan."
"Silahkan menunggu di luar tuan, kami akan melanjutkan penanganan terhadap pasien dan segera memindahkannya ke ruang rawat."
Dev menganggukan kepalanya, ia kembai menatap Agya dengan senyum tipis di bibirnya, memeluk dan mengecup wajah wanita itu berulang kali sebagai wujud rasa syukurnya, "Bertahanlah sayang, demi aku dan anak-anak kita. Aku sangat mencintaimu, ku mohon jangan tinggalkan aku." bisiknya pelan, sebelum kemudian ia bergegas keluar dari dalam sana agar Agya segera diberi penanganan lanjutan.
*
"Dev--." Melihat Dev yang baru saja keluar dari ruang operasi membuat Nyonya Inayah terisak, ia segera menghampiri menantunya tersebut, "Devh. Apa Agya sudah tiada? Apa dia benar-benar meninggalkan kita?"
Dev menggeleng, seulas senyuman terbit dari bibirnya bersamaan dengan air matanya yang bercucuran, "A-Agya berhasil melewati masa kritisnya, dia masih hidup Ma."
Seketika pandangan Tuan Darwin, Della, dan sekertaris Kim tertuju pada Dev, terutama Nyonya Inayah. Wanita setengah baya itu terlihat begitu terkejut dengan kedua bola mata yang melebar.
"Agya masih hidup?"
"Iyaa Ma."
"Pa, Agya masih hidup." Nyonya Inayah menoleh, menatap suaminya dengan senyum di bibirnya, pun air matanya yang kembali mengalir. Bukan air mata kesedihan lagi, melainkan air mata kebahagiaannya. Setidaknya Agya masih bertahan sejauh ini.
"Agyaa." Della berucap, ia takkala terkejutnya dengan yang lain. Agya tak benar-benar meninggalkan mereka.
"Tuhan masih memberi kita kesempatan untuk hidup bersama Agyaa." ucap Dev, menyeka air matanya dengan ibu jarinya.
Sedangkan Tuan Darwin, ia masih belum mengucapkan sepata kata apapun dari mulutnya, ia masih amat sangat terkejut.
"Dev, apa kau ingin melihat wajah anak-anakmu? Mereka sedang berada di ruang inkubator sekarang."
Dev mengangguk, karena rasa paniknya tadi ia tak sempat melihat wajah kedua anaknya tersebut.
Setibanya di ruang inkubator, Dev langsung menghampiri tabung dimana anak-anaknya berada. Kedua bayi itu terlihat tengah tertidur pulas.
Tak terasa air mata Dev kembali mengalir, mengingat perjuangan dan tekat Agya yang begitu besar untuk melahirkan kedua bayi itu.
"Apa kalian menunggu Mommy? Saat ini Mommy belum bisa menemui kita, tapi tak lama lagi dia akan bangun dan memeluk kalian." ucapnya pelan seraya mengusap tabung kaca tersebut. Tatapan matanya sama sekali tak berpindah dari wajah dua bayinya itu.
"Ma, apa mereka akan baik-baik saja di sini? Apa mereka tak bisa menemui Agya? Mungkin Agya akan siuman setelah mendengar suara mereka."
"Mereka baik-baik saja di sini. Mereka akan menemui Agya setelah Agya dipindahkan ke ruang rawat."
"Baiklah. Semoga dengan itu, Agya bisa segera siuman."
***
Hampir menjelang sore, Agya baru saja dipindahkan ke ruang rawat, namun wanita itu belum siuman. Pun selang oksigen yang masih menempel dimulutnya, yang membantu wanita itu untuk bernapas.
Terlihat Nyonya Valerie dan Tuan Andhito yang juga sudah berada di sana seraya menggendong cucu mereka masing-masing. Keduanya baru saja tiba dari Korea satu jam yang lalu.
Sementara Dev, pria itu kini berada di ruangan dokter. Menanyakan cara untuk menyembuhkan Agya dari penyakitnya. Perbincangan panjang terjadi begitu serius antara Dev dan dokter yang menangani Agya.
"Saat ini penyakit nyonya Agya sudah pada tingkatan kanker yang paling parah. Pada tingkat ini, penyembuhan memang sangat sulit untuk dilakukan. Namun, perawatan tetap bisa dilakukan untuk memperpanjang angka harapan hidup dan meredakan gejala yang terjadi."
"Apakah tak ada kesempatan untuk bertahan hidup?"
"Setiap jenis kanker memiliki angka harapan hidup yang berbeda-beda. Angka harapan hidup juga dapat berbeda tiap pasiennya, meski jenis kanker yang diderita sama. Demikian juga halnya dengan tingkat keparahannya."
"Jadi apa yang bisa kami lakukan dok?"
"Pasien dapat menjalani kemoterapi dan radioterapi, atau transplantasi sumsum tulang belakang. Namun untuk transplantasi sumsum tulang belakang ini, kita harus mendapatkan pendonor yang cocok. Sumsum tulang belakang yang cocok dengan pasien hanyalah sumsum tulang belakang saudara kandungnya. Jika pasien memiliki saudara kandung mintalah untuk mendonorkan sumsum tulang belakangnya."
Dev menggeleng, "Suadara kandung istri saya sudah meninggal karena penyakit yang sama." ucapnya, "Apakah hanya saudara kandungnya yang bisa mendonorkan sumsum tulang belakangnya? Bagaimana dengan orang tuanya dok?"
"Kecocokam sumsum tulang lebih besar antara saudara kandung, dari pada antara orangtua dan anak. Perbandingan kesuksesannya adalah 25% antara saudara kandung dan kecocokan sumsum tulang antara orangtua dan anaknya hanya sekitar 0,5% persen saja. Jika dipaksakan untuk menerima sumsum tulang belakang yang tidak cocok, ini akan menimbulkan risiko masalah lainnya yang dapat membahayakan kondisi pasien."
Dev tertegun, menelan salivanya dengan kasar. Ia terlihat frustasi kini.
"0,5 %. Apakah kita bisa mencobanya dok?"
"Tentu, tapi kita harus siap dengan risiko besar yang akan terjadi pada pasien."
"Aku akan membicarakan masalah ini dengan keluargaku dulu. Terima kasih dok." ucap Dev beranjak berdiri seraya mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan dokter tersebut.
.
.
.
.
Bersambung....