
Saat ini, Agya dan Dev masih belum berpindah posisi sedikitpun. Sepasang suami istri tersebut masih saling berpelukan satu sama lain seperti perangko.
"Dev."
"Hm." jawab Dev pelan dengan mata yang terpejam, sedangkan tangannya sibuk mengusap-usap lembut perut Agya.
"Dev, aku lapar. Aku mau makan."
"Kau serius?" Agya mengangguk, menatap Dev yang juga sedang menatapannya.
"Aku akan membuatkan makanan untukmu. Kau ingin makan apa hm?" tanya Dev antusias bersamaan dengan kedua sudut bibirnya yang mengembang lebar.
"Emm sup rumput laut."
"Sup rumput laut?" Dev mengerutkan dahinya, "Bukankah kau tidak menyukainya?"
"Sebenarnya aku tidak menyukainya, tapi aku ingin memakannya, aku ingin mencobanya."
"Gyaa, Kau tidak sedang mempermainkanku kan?! Bagaimana jika aku sudah membuatnya tapi kau malah tidak memakannya."
"Aku akan memakannya. Sungguh."
Dev terdiam, mencoba membaca raut wajah Agya. Memastikan jika wanita itu benar-benar serius dengan ucapannya.
"Baiklah, tunggulah di sini. Aku akan ke dapur untuk membuatkanmu sup rumput laut terenak yang pernah ada." ujar Dev bergegas turun dari atas tempat tidur.
"Aku mau ikut denganmu."
"Tidak, kau duduk diam saja disini."
"Aku mau ikut ke dapur." Agya kembali memelaskan wajahnya, hingga membuat Dev tak tega.
"Baiklah, ayo kita ke dapur sekarang."
"Gendong." ujar Agya merentangkan kedua tangannya. Lalu dengan senang hati, Dev meraih dan menggendong tubuh istrinya itu seperti bayi.
"I love youu."
"I love you more. Cup."
Setelah menerima kecupan hangat di bibirnya, Agya langsung tersenyum. Ia mengeratkan pelukannya di tubuh Dev, seraya membenamkan kepalanya di ceruk leher suaminya tersebut.
*
"Duduklah di sini dan jangan mengangguku." pinta Dev sesaat setelah ia mendaratkan tubuh Agya di atas kursi.
Agya mengangguk lalu menopang dagunya dengan kedua tangannya. "Baik Chef." jawabnya tersenyum. Pun Dev yang langsung ikut tersenyum seraya mengusap puncak kepala Agya gemas.
"Pergilah, aku sudah sangat lapar."
"Iyaa sayang, cerewet sekali." gerutu Dev, mencubit hidung Agya singkat lalu melangkah ke arah kulkas untuk memeriksa bahan-bahan yang bisa ia gunakan untuk membuat sup rumput laut.
Setelah memastikan bahan-bahan tersebut, Dev langsung menggulung lengan kemejanya hingga ke sikunya, sebelum kemudian ia memgambil bahan-bahan tersebut dan memindahkannya ke atas meja. Sesekali ia melirik ke arah Agya seraya tersenyum.
"Dev, apa masih lama?"
"Tidak, tunggulah beberapa menit lagi."
"Aku sudah sangat lapar. Hoam." Agya mengucek matanya yang berair, selain lapar ia juga sudah merasa mengantuk.
30 menit berlalu, Dev masih sibuk dengan aktifitasnya, pria itu terlihat sedang menuangkan sup rumput laut ke dalam dua mangkok yang ada di hadapannya.
"Sudah siap." ujarnya, meraih nampan dan meletakan mangkok sup rumput laut di sana. Sesaat ia mengendus aroma sup rumput laut yang masih mengeluarkan asap tersebut.
"Sup rumput laut untuk Nyonya Dev Wilantara." Meletakan sup tersebut dia atas meja, tepat dihadapan Agya.
"Ehm, sepertinya enak."
"Bukan enak, tapi sangat enak."
"Iyaa Chef Dev. Bolehkan aku mencobanya?"
"Boleh, cobalah." Dev menyodorkan sendok dan juga sumpit kepada Agya, kemudian ia ikut mendaratkan tubuhnya di kursi yang berada di samping Agya.
Tanpa basa basi, Agya langsung menyantap sup rumput laut itu.
"Eum, ini sangat enak sekali."
"Kau suka?"
Agya mengangguk, kembali memasukkan sendok berisi kuah sup rumput laut itu ke dalam mulutnya.
"Tiuplah dulu, supnya masih sangat panas, itu bisa menyakiti lidahmu."
"Tidak panas." celoteh Agya, kembali menyantap sup rumput laut itu dengan lahapnya hingga membuat Dev menggeleng-geleng kepalanya heran.
"Apa enak sekali? Aku pikir kau tidak akan menyukainya."
"Sangat enak. Mungkin karena kau yang membuatnya."
"Hei. Makanlah dengan hati-hati." Demi apapun Dev dibuat terkejut akan Agya yang meminum kuah sup rumput laut itu dari mangkoknya.
"Eum. Enak sekali." ucap Agya meletakan mangkok sup rumput laut yang sudah terlihat kosong.
"Apa kau tidak memakan sup rumput laut milikmu?" tanyanya saat melihat sup rumput laut milik Dev yang belum tersentuh sedikitpun.
"Kau mau?"
"Boleh?"
"Ambillah." Dev menyodorkan sup rumput laut tersebut ke hadapan Agya.
"Terima kasih."
"Makanlah dengan hati-hati, bajumu sampai kotor karena kuah sup rumput laut."
"Heheh, maaf."
"Seperti anak kecil saja." Dev kembali meraih mangkok sup rumput laut miliknya, mengambil sendok yang di pegang Agya, lalu dengan telaten ia menyuapi istrinya tersebut.
***
Seusai makan dan membantu Agya mengganti pakaiannya. Kini, Dev duduk di atas ranjang dengan salah satu tangan yang bergerak mengusap-usap puncak kepala Agya. Wanita itu sudah tertidur pulas di atas pangkuan Dev
"Kenapa kau sangat aneh sekali hari ini?" gumam Dev menatap lekat wajah teduh Agya. Ya, Dev benar-benar merasa aneh, dengan sikap dan tindakan Agya. Sesuatu yang sebelumnya tidak disukai oleh wanita itu, mendadak ia sukai.
"Kau dimana?" tanya Dev, sesaat setelah menerima panggilan telepon.
"Saya sudah berada di apartemen tuan."
"Tunggulah aku di ruang kerjaku." pinta Dev memutuskan sambungan teleponnya. Sebelum kemudian, ia bergerak memindahkan Agya di sampingnya, menarik selimut dan menutupi tubuh istrinya tersebut.
"Jangan pergi." gumam Agya, memeluk erat lengan Dev saat pria itu hendak meninggalkannya.
"Tidurlah."
"Jangan pergi." Kini Agya menatap wajah Dev dengan mata sayunya. Tidak ingin Dev meninggalkannya walaupun sebentar saja.
"Baiklah, aku tidak akan pergi." Dev ikut merebahkan tubuhnya di samping Agya, lalu menarik istrinya itu masuk ke dalam dekapannya. Pun Agya yang langsung membenamkan wajahnya di dada bidang Dev yang hanya terbalut kaus berwarna putih, ia mengendus aroma tubuh itu dalam-dalam, aroma tubuh yang sudah menjadi candu baginya.
*
Pukul 01.00 pagi. Dev baru beranjak dari tempat tidurnya. Menidurkan Agya benar-benar terasa susah kali ini, wanita itu selalu menyadari jika Dev akan meninggalkannya.
"Bagaimana? Apa Tuan Robert mau bekerja sama dengan kita?" tanya Dev mendaratkan tubuhnya di sofa yang berada di ruang kerjanya.
"Iyaa tuan. Tuan Robert menyetujui rencana kita dan mau bekerja sama."
"Kerja yang bagus." Dev tersenyum tipis, "Kita akan lihat sampai dimana kemampuan tuan Alden kali ini." sambungnya menggepalkan kedua tangangannya.
"Tapi tuan, rencana tuan kali ini sangat beresiko. Jika tidak berhasil, tuan akan mendapat masalah besar."
"Aku siap dengan resiko itu. Aku ingin terbebas dari keluarga kepara* itu."
"Tuan Alden bisa saja memutar balikan keadaan."
"Kita hanya akan menjebaknya dengan membeli senjata illegal miliknya. Tuan Robert sudah menyetujui rencana ini, itu artinya kita sudah memiliki backingan yang kuat dan aman. Aku yakin rencana ini pasti akan berhasil. Tuan Alden dan segala usaha haramnya akan lenyap ditangan kita." ucap Dev kembali tersenyum tipis.
"Aku sudah menyuruh seseorang untuk membeli senjata ilegall itu. Dan besok lusa tuan Alden akan menyerahkan senjata itu pada calon pembelinya."
"Bagus, dimana tempatnya?" tanya Dev.
"Di Beltroom. Gedung tua yang ada di ujung kota Seoul."
"Persiapkan semuanya mulai dari sekarang. Tuan Alden sudah masuk ke dalam perangkap kita. Setelah rencana ini berhasil, kita akan memikirlan cara lagi untuk menyingkirkan Alenaa."
"Baik tuan."
"Oh iyaa, bagaimana keadaan Della?"
"Ehm, aku belum menemuinya. Tapi tuan Cha mengabariku bahwa kondisi Della sudah lebih baik dari sebelumnya."
"Baik, pulang dan beristirahtlah. Jangan ada yang menemuiku besok, aku ingin menghabiskan waktuku bersama istriku."
"Baik tuan."
"Dan ingat, jangan sampai rencana kita bocor." ujar Dev beranjak dari duduknya, sebelum kemudian ia melangkah meninggalkan ruang kerjanya tersebut. Begitu juga dengan sekertaris Kim.
.
.
.
.
Bersambung...